“Ayahku Pulang”: Fenomena Fatherless dan Anak-Anak yang Perlu Kasih Sayang

Peresensi: Luvita Dyaningsih

Kelompok Pementas : Teater Buih Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro

Bentuk Pementasan : TeaterWaktu Pementasan : pukul 20.30 – selesai

Tempat Pementasan : Kantor Kelurahan Srondol Wetan

Pementas : Anggota Teater Buih

Gunarto : diperankan oleh Safrudin Ilhami

Pak Saleh : diperankan oleh Irvandika Rheza Dhevanda

Ibu Tina : diperankan oleh Khaula Hasna Fadiya

Maimun : diperankan oleh Reisya Alayda Ma’ruf Mintarsih : diperankan oleh Marbun, Valentina

Sekilas Cerita

Kondisi ekonomi keluarga Bu Tina tidak baik-baik saja. Setelah 20 tahun ditinggal suami, Pa Saleh, Bu Tina serta anak-anaknya terpaksa harus hidup serba berkecukupan. Bu Tina memiliki 3 orang anak, Gunarto, Maimun, dan Mintarsih. Gunarto, disebut juga Narto, mencintai ibu dan adik-adiknya. Sebagai anak tertua, Narto harus menjadi tulang punggung keluarga ketika sang ayah meninggalkan mereka. Segala perkerjaan dilakoni Narto agar adik-adiknya bisa mendapat kesempatan hidup lebih baik.

Maimun anak yang cemerlang. Sebagai anak kedua, ia berusaha semaksimal mungkin membantu Narto memperbaiki perekonomian keluarga. Atas kerja kerasnya dan bantuan dari sang kakak, Maimun berhasil mengenyam pendidikan tinggi dan banyak menorehkan berbagai prestasi. Mintarsih tumbuh dengan kasih sayang dari ibu dan kedua kakaknya. Oleh karena itu, demi memperbaiki ekonomi keluarga pula, ia rela membantu ibunya mengantarkan jahitan di sela-sela kegiatan mengenyam pendidikan.

Bagi Narto, Pa Saleh bagaikan pahlawan yang image-nya sudah rusak. Berada pada usia 8 tahun ketika ditinggal Pa Saleh cukup menjadikan tindak-tanduk ayahnya itu masih menempel di kepala Narto. Bagi Maimun dan Mintarsih, Pa Saleh merupakan seorang karakter yang sering diceritakan ibunya. Tidak sekalipun Mintarsih pernah melihat rupa Pa Saleh. Maimun sendiri hanya dapat mengimajinasikan rupa sang ayah dalam gambaran kabur dari memori-memorinya kala balita.

Dua puluh tahun berlalu, Bu Tina masih sering bercerita terkait Pa Saleh. Tentang bagaimana sosok yang asalnya terpandang harus jatuh ke dalam lembah kemiskinan karena perilakunya, lalu pergi meninggalkan keluarga. Begitu pula di malam sebelum lebaran tahun itu. Ketika takbir raya Idul Fitri terus diucapkan, Bu Tina merapal kembali cerita Pa Saleh sambil berbincang dengan Narto. Narto terus bersabar mendengarkan cerita ibunya itu.

Maimun pulang agak telat. Begitu pula dengan Mintarsih. Ketika pulang, Maimun menceritakan semua informasi yang diterimanya dari dunia di luar sepengetahuan ibu dan kakaknya. Ia bercerita tentang kabar tetangga rumah, kejadian-kejadian di kantor, hingga pernyataan kenalan di pasar yang melihat seseorang menyerupai sosok ayah Maimun, Pa Saleh. Walaupun melewati kegiatan yang berbeda dengan Maimun, Mintarsih merasakan momen serupa tetapi lebih nyata. Ia melihat seorang laki-laki tua di pertigaan jalan dekat kediaman mereka. Laki-laki itu tampak memandangi rumah Bu Tina sedari tadi. Sontak seisi rumah kaget dan berusaha mendekat ke jendela rumah. Namun, orang tersebut menghilang di tengah gelapnya malam.

Bu Tina, Narto, Maimun, dan Mintarsih kemudian melanjutkan percakapan mereka kembali. Tidak lama berselang, terdengar suara ketukan pintu. Saat dibuka, terlihat seorang laki-laki tua sedang menunggu. Bajunya lusuh dan mukanya kusam. Itulah Pa Saleh. Ayah yang baru kembali setelah 20 tahun menghilang dari kehidupan Bu Tina dan anak-anaknya. Karena masih ada rasa sayang dan iba, Bu Tina mempersilahkan Pa Saleh masuk dan duduk di sofa. Dengan penuh keraguan, Pa Saleh mengikuti arahan istrinya itu. Maimun dan Mintarsih menyambut ayahnya dengan bahagia. Seorang ayah yang belum pernah mereka temui secara langsung, setidaknya belum ada memori tentang Pa Saleh dalam ingatan mereka. Namun, Narto tak seperti kedua adiknya. Ia marah. Kekesalan yang ia pendam dalam-dalam selama 20 tahun mulai muncul ke permukaan. 

Pa Saleh menceritakan semua hal yang ia lalui ketika Bu Tina bertanya padanya. Tentang bisnisnya di Singapura yang bangkrut, kehidupan yang luntang-lantung, serta utang yang melilitnya. Ketika selesai bercerita, Pa Saleh terbatuk. Ia meminta Narto mengambilkan air jika berkenan. Karena tidak merespon, Maimun akhirnya melakukan permintaan sang ayah. Namun, belum juga air itu sampai ke tangan Pa Saleh, Narto meledak. Amarahnya tak sanggup ia bendung lagi. Kebobrokan sang ayah dan kasih sayang yang tidak pernah diterimanya lebih mendominasi daripada rasa iba melihat seorang lelaki tua yang lusuh. Pa Saleh beringsut ketakutan. Rasa salah juga menyelimuti hatinya. Maimun tak setuju dengan kakaknya. Bagaimana pun juga, Pa Saleh tetap orang tua mereka. Pa Saleh tetap harus dihormati dan dijaga kala masa tuanya. Narto dan Maimun berdebat panjang setelah itu. Berbagai seruan kecang serta otot leher yang menegang menjadikan suasana rumah di malam hari raya kala itu semakin panas.

Pa Saleh paham posisinya. Ia lalu memutuskan untuk pergi. Maimun tak bisa menahan kepergian Pa Saleh. Sambil diiringi hujan, Bu Tina berseru, “Malam hari raya, ia pergi lalu datang untuk pergi kembali!”. Maimun bertengkar dengan Narto. Seakan mempertegas keputusannya, Narto berkata, “Jika memang kita punya seorang ayah, lantas mengapa kita banting tulang selama ini?”, “Kita besar dalam rasa sengsara. Rasa gembira di dalam hati sekalipun tidak ada!”, “Aku sanggup jadi orang yang berharga meskipun tanpa kasih sayang seorang ayah!”, dan, “Gunarto yang sekarang adalah Gunarto yang dibentuk dari dirinya sendiri. Aku merdeka semerdeka-merdekanya, Bu!”.

Sadar tak bisa mengalahkan kakaknya, Maimun pergi berlari mengejar sang ayah. Ketika ia kembali, hanya kopiah dan kemeja lusuh yang mampu ia bawa. Kedua barang itu ditemukannya di bawah kolong jembatan dekat sungai. Seketika Narto sadar. Di malam hari raya, ayahnya, ayah Maimun, dan ayah Mintarsih kembali pergi. Namun, kali ini, kepergian sang ayah adalah untuk selamanya.

Aspek Bentuk

Pementasan “Ayahku Pulang” melibatkan pemain sejumlah 5 orang. Jumlah tersebut proporsional dengan kondisi cerita. Alhasil, kesan awal yang diberikan pementasan “Ayahku Pulang” adalah sederhana dan intens. Selain itu, latar tempat pementasan ini hanya berada di rumah Bu Tina. Keberadaan satu latar tersebut menambah citra sederhana atas cerita yang dipentaskan.

Aspek Isi

Isi pementasan “Ayahku Pulang” sangat sesuai dengan fenomena fatherless country saat ini. Masyarakat Indonesia seharusnya aware dengan fenomena fatherless karena Indonesia sendiri menempati posisi ketiga sebagai negara fatherless di dunia . Karena itu, pementasan ini telah membantu penyebaran awareness tersebut. Selain memberikan pesan terkait awareness terhadap fenomena fatherless, pementasan ini juga memberikan pesan bahwa hal yang akan terjadi di masa depan merupakan buah dari perbuatan yang dilakukan di masa sekarang. Bagaimana pada awalnya Pa Saleh berfoya-foya seenak hatinya lalu harus jatuh dan melara hingga akhir hayatnya serta bagaimana kekesalan Narto yang sangat masif berujung pada kehilangan sang ayah untuk selama-lamanya merupakan contoh dari pesan tersebut.

Kelebihan

Para pemain pementasan “Ayahku Pulang” patut diberikan apresiasi tinggi. Mereka mampu membangun emosi penonton, sehingga tidak jarang ditemui para penonton yang terharu ketika pementasan berakhir. Emosi para pemain terlihat natural dan tidak dipaksa-paksakan walaupun hanya berlatih selama 1 bulan. Dengan tambahan manajemen lighting/pecahayaan yang baik, pementasan ini terasa sangat relevan dengan kehidupan. Meskipun di awal hingga pertengahan pementasan dialog antarpemeran terkesan mengulang-ulang, dialog tersebut rupanya penting dalam membangun dasar-dasar cerita yang harus diketahui penonton.

Kekurangan

Dalam pementasan “Ayahku Pulang”, kekurangan yang muncul murni karena risiko dari diterapkannya teknik-teknik pementasan. Kekurangan pertama yang dimaksud ialah suara para pemain belum terdengar jelas apabila diperhatikan dari belakang. Hal tersebut wajar mengingat pementasan menerapkan teknik suara langsung, bukan seperti kabaret yang menggunakan dubbing. Kekurangan kedua ialah ruang pementasan yang langsung diatur gelap ketika penonton memasuki ruangan. Saat pementasan berlangsung, ruangan memang cocok untuk diatur gelap total. Namun, ketika persembahan-persembahan di awal, ada baiknya ruangan diatur redup agar memudahkan penonton menikmati acara secara keseluruhan karena belum perlu fokus ke satu titik panggung yang sama.

Kesatuan

Kesatuan pementasan “Ayahku Pulang” tidak perlu diragu. Pencahayaan dan tata panggung menjadikan pementasan ini tergambar dengan baik. Kedua hal tersebut juga saling melengkapi kekurangan yang ada. Contohnya, walaupun hanya menggunakan 1 latar, cahaya sorot dengan warna berbeda menjadikan panggung memberi banyak makna.

Keseluruhan

Ekspresi pemain yang tidak neko-neko dan tetap terukur menjadikan pesan pementasan tersampaikan secara maksimal. Oleh karena itu, keseluruhan pementasan “Ayahku Pulang” dapat dikatakan baik.

Keragaman

Walaupun mendiami rumah yang sama, karakter Bu Tina, Narto, Maimun, dan Mintarsih memiliki keunikannya masing-masing. Ibu selalu terlihat anggun tetapi memendam rasa kecewa atas perilaku suaminya juga keadaan keluarga saat ini. Narto harus terlihat kuat karena menjadi kakak tertua dalam keluarga yang belum sepenuhnya mendapatkan kasih sayang seorang ayah. Maimun memiliki semangat tinggi atas keinginan dan keyakinannya. Mintarsih menjadi anak yang penyayang karena mendapat perhatian dari ibu dan kedua kakaknya. Maimun dan Mintarsih tumbuh menjadi anak yang lebih terbuka karena walaupun belum pernah bertemu Pa Saleh, peranan ayah sudah mampu diemban oleh sang kakak, Narto. Tak luput pula, karakter Pa Saleh sebagai ayah yang tiba-tiba hadir kembali setelah 20 tahun pergi meninggalkan keluarga. Semua keunikan karakter itu berkolaborasi dan akhirnya mampu membawakan warna beragam dalam pementasan “Ayahku Pulang”.

Intensitas

Topik yang diangkat dalam pementasan “Ayahku Pulang” sangat relevan dengan permasalahan di masyarakat saat ini. Pesan tersirat dari cerita pun, yaitu penyebaran awareness atas fenomena fatherless dan peningkatan pemahaman “bagaimana ditanam, begitulah dituai”, sudah tergambar dari tiap-tiap adegan yang dipentaskan.

Kesimpulan

Walaupun “Ayahku Pulang” menjadi pementasan pertama bagi Teater Buih setelah dikembalikannya metode perkuliahan secara luar jaringan, pementasan ini sudah mampu menjadi karya yang baik jika dilihat dari aspek bentuk, isi, kesatuan, keseluruhan, keragaman, dan insensitas. Itulah salah satu faktor yang menjadikan banyaknya penonton pementasan “Ayahku Pulang”. Karena hal tersebut, pementasan ini dapat dikatakan sudah bagus dan sangat menghibur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *