Selama Lambang Garuda di Dada, Kami Akan Tetap Setia

Sumber: PSSI

Oleh: Qosim

Timnas sepakbola Indonesia asuhan coach Shin Tae-yong berhasil mencetak sejarah dengan melaju ke babak 3 kualifikasi piala dunia 2026. Prestasi ini mampu mengangkat popularitas sepakbola Indonesia yang sudah tinggi menjadi semakin tinggi. Salah satu faktor keberhasilan timnas Indonesia untuk meraih pencapaian tersebut adalah melalui program naturalisasi. Naturalisasi di era kepemimpinan Erick Thohir dianggap berhasil oleh para pecinta sepakbola tanah air. Nama-nama seperti Thom Haye, Jay Idzez. Ivar Jenner, Sandy Walsh, Ragnar Oratmangoen, dan yang lainnya berhasil menciptakan kegembiraan di dalam hati pecinta sepakbola tanah air ketika mereka bermain.

Tampil dalam perhelatan terbesar di dunia sepakbola tentu menjadi mimpi jutaan manusia di Nusantara. Meskipun hampir tidak mungkin, lolosnya timnas Indonesia ke babak 3 kualifikasi berhasil menjaga agar asa tetap ada untuk tampil pada pesta sepakbola terbesar. Dalam sejarah, sebenarnya Indonesia pernah sekali berpartisipasi dalam ajang piala dunia. Tepatnya pada tahun 1938, Indonesia yang masih dalam pangkuan kolonial berhasil mengikuti ajang piala dunia dengan membawa nama Hindia Belanda. 

Untuk mewujudkan mimpi tersebut, federasi sepakbola dalam negeri memiliki kewajiban untuk menemukan talenta-talenta berbakat yang kemudian disatukan menjadi kesatuan terhebat. Dari Sabang sampai Merauke, dari ujung kalimantan sampai ke ujung pulau jawa, bahkan hingga ke negeri nan jauh disana, selama mereka memiliki darah Indonesia dan bersedia bersumpah setia kepadanya. Talenta tersebut merupakan aset berharga yang akan mengharumkan nama bangsa.

Datangnya banyak pemain diaspora yang dinaturalisasi menuai banyak pro kontra di kalangan penikmat sepakbola Indonesia. Federasi melakukan naturalisasi tentu dengan niat untuk menambah kekuatan tim nasional dalam ajang internasional. Kelompok yang pro terhadap program naturalisasi menganggap bahwa cara ini efektif mengingat kualitas pemain sepakbola lokal masih dibawah standar untuk bersaing di kancah internasional. Berbeda lagi dengan kelompok kontra, dalam kasus ini mereka memiliki argumen jika datangnya pemain naturalisasi ini dapat mengurangi kesempatan pesepakbola lokal untuk bersaing mendapatkan tempat di tim utama. Ada beberapa juga yang beranggapan bahwa pemain diaspora hanya bermain untuk pamor dan uang belaka, bukan bermain untuk membela sang garuda.

Perdebatan tersebut kerap terjadi di media sosial. Ketika pemain naturalisasi mendapatkan performa buruk, maka kaum kontra akan menghujat pemain naturalisasi dan membanggakan pemain lokal. Sebaliknya jika pemain naturalisasi mendapatkan performa yang apik, kaum pro akan membanggakan naturalisasi dan menjatuhkan pemain lokal. Kedua kondisi tersebut sangat tidak dapat dibenarkan. Pemain yang dinaturalisasi maupun pemain lokal mereka sama-sama membawa satu bendera yaitu merah putih. Jika mereka bermain bagus maka harus kita apresiasi dan jika mereka bermain buruk maka harus kita beri kritik sewajarnya dan kita beri semangat tanpa harus membedakan.

Terlalu banyak perdebatan tidak penting yang terjadi di kalangan penikmat sepakbola Indonesia. Harusnya mereka sadar bahwa yang mereka debatkan tidak akan memberikan pengaruh besar terhadap kemajuan sepakbola negeri ini. Hadirnya pemain diaspora seharusnya membuat semangat pemain lokal untuk bersaing mendapatkan tempat di tim utama. Pengalaman yang ada dalam pemain diaspora juga bisa diturunkan kepada pemain-pemain muda yang akan merintis karirnya. Lebih bagusnya lagi ketika kedua kelompok pendukung saling menjatuhkan, para pemain justru saling menyokong tanpa harus membedakan

Entah darimana asalnya, siapa ayah dan ibunya, dimana dia dilahirkan, semua itu tidak ada kaitannya. Selama mereka bersumpah setia untuk memberikan segalanya pada sang garuda. Tidak ada istilah pemain naturalisasi atau pemain lokal, mereka hanya membawa satu nama yaitu Indonesia. Kami akan selalu disini untuk meraih mimpi kita bersama. Siapa kita? INDONESIA!

Misteri Petualangan Dunia Paralel

Sumber: Shofwhere.com

Oleh: Tanaya An Nafi’ K

Judul Buku : Bumi

Penulis : Tere Liye

Tebal buku : 440 Halaman

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : 2014

ISBN :  978-602-033-295-6

Bumi merupakan novel fiksi karangan Tere Liye yang menceritakan tentang persahabatan antara Raib, Ali, dan Seli. Masing-masing dari mereka memiliki keunikan. Misalnya Raib yang sejak kecil menyimpan rahasia bahwa dirinya bisa menghilang dibalik telapak tangannya, Seli dapat mengeluarkan petir dari kedua tangannya, sedangkan Ali si biang kerok pemalas di sekolah justru memiliki kekuatan yang baru ia ketahui dalam perjalanan mereka disini.

Di suatu siang yang normal, terdapat kejadian di sekolah mereka yang menjadi awal dari perjalanan buku ini. Tiang Listrik yang roboh, membuat mereka bertiga terkurung di lapangan basket sekolah, hingga kemudian menggiring peristiwa yang mengejutkan semuanya. Salah satunya adalah guru paling garang di sekolah tersebut tiba-tiba mengetahui kekuatan dari masing-masing siswanya, khususnya Raib, Ali, dan Seli.

Tragedi tiang listrik yang roboh berlanjut dengan pertarungan antara mereka melawan penjahat dari pintu klan lain. Pertarungan berlangsung sengit sekaligus membingungkan bagi Raib, Ali, dan Seli tentang apa yang sebenarnya terjadi. Akhir dari pertarungan ini justru merupakan awalan dari kisah mereka yang sesungguhnya.

Novel ini memiliki tingkat deskripsi yang detail, sehingga pembaca bisa seolah-olah berada langsung dalam latar cerita tersebut. Semua dapat digambarkan dengan jelas, mulai dari karakterm suasana, hingga peristiwa yang dapat terasa seperti sungguhan. Tere Liye mengemas cerita Bumi ini dengan sangat baik. Walaupun fiksi, tetapi tidak berarti semuanya tidak masuk akal. Penjelasan yang diberikan sistematis, sehingga pembaca pun bisa amengingat dan memahami dengan mudah bagaimana aturan dalam dunia fiksi ini.

Selain itu, novel Bumi memberikan wawasan mengenai kehidupan. Misalnya tentang pentingnya persahabatan, dukungan dari keluarga adalah hal utama dan harus terus dijaga, hingga bagaimana menyelesaikan masalah diantara ribuan masalah lainnya. Tak hanya wawasan mengenai kehidupan, novel Bumi juga memberikan beberapa ilmu pengetahuan karena basis novel ini yang berupa fiksi ilmiah.

Kelebihan lain yang bisa diunggulkan adalah tentang kreativitas dari penulis. Adegan yang diceritakan dalam novel adalah sesuatu yang tidak biasa. Sehingga dapat menarik perhatian pembaca untuk bisa segera menyelesaikan akhir dari novelnya.

Cerita ini adalah karya bersambung yang dilanjutkan ke dalam novel-novel berikutnya. Hal ini dapat menghambat seseorang yang tidak memiliki budget lebih untuk terus membeli karya setelahnya. Totalnya mencapai 15 buku. Hal ini dapat menjadi boomerang karena pembaca merasa cerita ini sangat bertele-tele, hingga akhirnya mereka tak lagi melanjutkan membaca novel lanjutan dari serial Bumi.

Resensi Buku Novel “Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” Karya Tere Liye

Sumber: Pinterest

“Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” adalah salah satu karya terkenal dari Tere Liye, penulis asal Indonesia. Buku ini pertama kali diterbitkan pada tahun 2010 dan sejak itu telah mendapatkan banyak perhatian dari pembaca di berbagai kalangan. Cerita dalam novel ini mengisahkan tentang perjalanan hidup seorang gadis bernama Tania dan perjuangannya dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.

Novel ini diawali dengan pertemuan tak sengaja antara Tania, seorang gadis kecil yang hidup dalam kesederhanaan dan keterbatasan yang tinggal di pinggir jalan , bertemu dengan seorang pria bernama Danar. Danar, yang pada saat itu masih muda dan penuh ambisi, berperan sebagai penyelamat bagi Tania dan keluarganya. Pertemuan ini menjadi awal dari hubungan yang rumit dan mendalam antara keduanya. Tania melihat Danar sebagai sosok pahlawan, sementara Danar melihat Tania dan keluarganya sebagai sebuah tanggung jawab.

Cerita berkembang seiring bertambahnya usia Tania dan perubahan-perubahan dalam hidupnya. Tania tumbuh menjadi gadis remaja yang cerdas dan berbakat, namun tetap memiliki rasa terima kasih yang mendalam kepada Danar. Sementara itu, Danar, yang terus mengejar mimpinya, mulai merasakan beban dari tanggung jawab yang ia pikul. Konflik batin antara perasaan dan kewajiban menjadi tema sentral dalam hubungan mereka. Tania yang semakin dewasa mulai menyadari bahwa perasaannya terhadap Danar bukan sekadar rasa terima kasih, tetapi cinta yang tulus.

Tere Liye menulis dengan gaya bahasa yang sederhana namun penuh makna. Setiap kalimat terasa mengalir dengan indah, membawa pembaca masuk ke dalam dunia Tania dan merasakan setiap emosi yang ia alami. Penulis juga berhasil menggambarkan latar belakang kehidupan Tania dengan sangat baik, memberikan gambaran yang jelas tentang kerasnya kehidupan yang harus dihadapi oleh Tania dan keluarganya. Penggambaran karakter yang kuat membuat pembaca dapat merasakan perjuangan dan konflik batin yang dialami oleh Tania dan Danar.

Tema utama dari novel ini adalah tentang penerimaan dan keikhlasan. Dengan Judul “Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” sendiri merupakan metafora yang menggambarkan sikap hidup Tania yang menerima setiap kejadian dalam hidupnya dengan lapang dada. Tania, seperti daun yang jatuh, tidak pernah menyalahkan angin yang membuatnya jatuh. Ia menerima setiap cobaan dan tantangan dengan hati yang ikhlas, tanpa rasa dendam atau kebencian. Ini adalah pelajaran hidup yang sangat berharga yang disampaikan oleh Tere Liye melalui karakter Tania.

Selain itu, novel ini juga menyentuh tema cinta dan pengorbanan. Cinta yang digambarkan dalam cerita ini bukan hanya cinta romantis, tetapi juga cinta dalam bentuk rasa terima kasih, pengorbanan, dan tanggung jawab. Hubungan antara Tania dan Danar menunjukkan bahwa cinta yang sejati adalah cinta yang mampu menerima kekurangan dan kesalahan, serta bersedia berkorban demi kebahagiaan orang yang dicintai.

Secara keseluruhan novel “Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” adalah novel yang menggugah hati dan penuh inspirasi. Tere Liye berhasil menyampaikan pesan-pesan moral yang dalam melalui cerita yang sederhana namun menyentuh. Pembaca diajak untuk merenungkan tentang arti penerimaan, keikhlasan, dan pengorbanan dalam hidup. Novel ini sangat cocok dibaca oleh siapa saja yang mencari cerita yang menghangatkan hati dan memberikan pelajaran hidup yang berarti.

Bersamamu

Oleh: Alvaro Siahaan

Alunan merdu ombak menabrak karang
Bunyi Falsetto laut menuntun jalanku
Menuju kenangan bersamamu
Di tempat spesial kita

Kehangatan yang dulu kurasa
Kini membanjiri sanubari
Semua ingatan yang dulu gugur
Untuk sesaat mekar mewangi

Jadi, ditampi di dalam oleh nafas yang penuh, 
Yang diketahui jiwaku pada tahun - tahun itu,
Dengan kegairahan yang kupikir sudah kulupakan,
Aku mencoba mengingat raut wajahmu
di kala itu.
 

Dari sekian raut wajah manismu
Terbesit pula raut wajah gundah dan lelah
Mengisyaratkan matinya api romansa
Yang menjadi akhir dari kisah kita

Betapa cinta kita itu membunuh
Dibutakan gairah romansa,
Dibutakan oleh api cemburu,
Dibutakan oleh insekuritas,

Kita saling mendekap erat
Hingga tak sadar saling menyakiti
Kita saling memendam emosi
Sehingga rasa tak hendak mengalir

Apa yang tersisa darimu?
Di mana mawar di pipimu?
Bibir mu yang tersenyum dan matamu yang bersinar?
Sungai air mata yang mendidih
Telah hangus membakar semuanya.

Mungkin memang kita tak menjadi
Tetapi hadirmu tetap membekas
Rasa terimakasih kan selalu ada
Untukmu yang menemani jejak langkahku

Aparat Tutup Mata, Keadilan Kemana

Oleh : Aldo

Sejauh mata memandang, masa ini sudah terlampau jauh dari kata KEADILAN. Kata Keadilan disini merujuk pada bagaimana kita mendapat porsi masing-masing. Apakah bisa membayangkan realita dari kata Keadilan itu bagi sebuah negara? Apakah keadilan akan dibagi sesuai porsi atau sama rata atau bahkan tidak mengenal rasa keadilan sama sekali? Memang keadilan mengundang banyak tanya bahkan sila pancasila ke 5 yang berbunyi “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” Membahas nilai keadilan sosial. Lantas siapakah yang perlu bertanggung jawab atas keadilan ini?

Dari rasa kekurangan, kebutuhan, hingga hukuman semuanya perlu keadilan. Pada bulan april lalu kita melihat beberapa berita menyiarkan korupsi timah sebesar 271T, pada bulan juni ini banyak kasus pelecehan hingga anak kecil di baubau sulawesi utara dicabuli 26 pria, dan polisi melanggar kode etik pada bulan ini juga karena menangani tawuran dengan kekerasan. Apakah ini keadilan? Keadilan untuk yang berkuasa. Padahal banyak sekali masyarakat membutuhkan dukungan, keamanan kerja, lingkungan yang baik tapi apabila keadaan pertahanan dalam negeri diabaikan, negara maju sekalipun akan tumbang secara internal. Pejabat dan aparat masih sering bertindak secara eksklusif, keadilan sesungguhnya hanya milik tuhan semata.

Banyak di mata pejabat dan petinggi negara ingin mewujudkan hal sesuai keinginan dan ketamakan tapi mengerucut kepada aparat kepolisian juga tidak jauh dari kata tamak, menjadi seorang mafia. Menguasai jalannya sendiri sebagai diktator demi mewujudkan dunia yang diinginkan. Kasus Ferdi Sambo membunuh bawahan sendiri demi memuaskan hasrat yang diinginkan, psikopat berdarah dingin yang ingin mendapatkan kebenaran atas kesalahannya sendiri.

Satu per satu negeri ini mulai melihatkan sisi gelap pada pejabat dan aparatur negara, kegelapan itu sendiri akan melahap tokoh dibalik semua ketamakan yang diperbuat pada sebuah negara. Keadilan memang segalanya, tapi hierarki dapat merubahnya. Mulai dari berbagai kecurangan, kasus berbahaya, hingga buronan selama memiliki kekuasaan hal tersebut (keadilan) akan lenyap seketika. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin, ini merupakan salah satu contoh dari “survival of the fittest” apakah ini adil? Bisa jadi benar, karena hukum dunia semakin banyak orang memakan ketamakan maka dia akan tertelan oleh ketamakan tersebut.

“Indonesia Emas 2045” sebuah kalimat visioner untuk Indonesia menjadi negara maju, baru sebuah kalimat, apakah realisasinya sudah berjalan? Belum. Pendidikan masih dipersulit dengan anggaran, kebutuhan pokok masyarakat belum terpenuhi, pembangunan tidak merata. Bagaimana kita bisa melihat Indonesia tenggelam dalam ekspektasinya sendiri tanpa melakukan perubahan. Keadilan kemana? Apakah kata keadilan hanya sebuah kata yang tertulis dan terucap untuk meyakinkan bahwa negara kita ini adil? Pejabat atau aparat apabila masing-masing masih tidak memiliki rasa iba pada suatu hal yang menyeleweng sungguh akan pedih balasan tersebut. Logikanya saja Indonesia ingin maju secara realistis tapi apabila masih terdesak kasus-kasus besar yang belum terselesaikan, apakah realisasinya mungkin akan gagal? Kemungkinan besar hal tersebut bisa terjadi apabila pemikiran yang salah masih dipelihara secara nyata.

Apabila ingin mewujudkan negara yang tertata, baik secara ekonomi dan pendidikan, negara ini tidak boleh dikuasai orang asing, keamanan tidak boleh melemah, kita sebagai masyarakat bisa membelah lautan ketamakan dari para tokoh berdasi yang hanya menikmati kesengsaraan. Wujudkan “Indonesia Emas” sebagaimana telah dicanangkan. Harapan seluruh masyarakat hanya butuh satu, keadilan secara menyeluruh. Ingat, keadilan sesungguhnya bukanlah sama rata, namun sesuai dengan porsi yang kita butuhkan masing masing. 

Resensi Buku Berani Tidak Disukai

Oleh: Siti Nur Laela Yuni Sahara

Sumber: Gramedia

Judul Buku  : Berani tidak disukai

Penulis        : Ichiro Kishimi & Fumitake Koga

Penerbit       : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Tahun Terbit : 2019

Buku ini termasuk dalam kategori buku non-fiksi yang isinya dikemas menyerupai buku fiksi, di mana dalam buku ini berisi dialog antara seorang filsuf dan seorang pemuda yang saling beradu argumen. Sang filsuf mengajarkan bahwa dunia ini sederhana dan bahwa kebahagiaan dapat diraih dalam sekejap mata oleh setiap manusia, sementara si pemuda mendapati dunia ini sebagai gumpalan kontradiksi yang carut-marut, dan di matanya yang gelisah, gagasan apa pun tentang kebahagiaan adalah hal yang sangat tidak masuk akal. Keduanya kemudian terus-menerus melakukan dialog selama beberapa kali sehingga pada akhirnya mereka pun menganggap satu sama lain sebagai kawan seperjuangan.

Secara garis besar, buku ini banyak membahas kehidupan manusia dari perspektif teori psikologi Adler. Ada beberapa hal penting yang disampaikan dalam buku ini, yaitu yang pertama mengenai perbedaan antara aetiologi (studi tentang hubungan sebab-akibat) dan teleologi (ilmu yang mempelajari tujuan dari suatu fenomena tertentu, ketimbang penyebabnya).

Dalam teori psikologi Adler, manusia tidak digerakkan oleh pencetus di masa lalunya, namun bergerak menuju tujuan yang mereka tetapkan sendiri, hal ini sesuai dengan pandangan teleologi. Selain itu, berdasarkan teori psikologi Adler ketidakbahagiaan kita tidak bisa disalahkan pada masa lalu atau lingkungan kita, dan bukan berarti kita tidak punya kemampuan, kita hanya kurang berani untuk menjadi bahagia. Yang kedua, buku ini membahas mengenai hubungan interpersonal yang menjadi sumber utama dari semua persoalan hidup. Kemudian, yang ketiga disampaikan dalam buku ini bahwa kita tidak boleh mengintervensi tugas-tugas orang lain dan harus fokus pada apa yang menjadi tugas kita. Di sini juga disinggung agar kita menjalani hidup bukan demi memenuhi ekspektasi orang lain, melainkan untuk kebebasan diri kita sendiri. Di mana untuk mencapai kebebasan itu, salah satu konsekuensinya adalah kita harus siap untuk dibenci orang lain. Yang terakhir, buku ini mengajarkan kita untuk jangan pernah berfikir bahwa kita adalah pusat dunia, kita juga harus hidup dengan sungguh-sungguh di masa saat ini, bukan hanya memikirkan masa lalu atau masa depan saja. Alih-alih demikian, kita perlu melihat bahwa masa saat ini bukanlah persiapan kita menuju masa depan, melainkan kesempatan bagi kita untuk menikmati setiap momen berharga di masa kini yang tidak akan bisa diulang kembali.

Salah satu yang menjadi keunggulan dari buku ini adalah isinya yang sangat relate bagi kebanyakan orang yang mungkin belum merasa puas dengan hidupnya dan terus memiliki hasrat untuk diakui oleh orang lain, sehingga menjadikan kehidupannya terasa tidak bahagia. Setiap dialog yang disajikan dalam buku ini, membuat pembaca bisa merasakan kebimbangan yang juga dirasakan oleh si pemuda ketika beradu argumen dengan sang filsuf. Namun, untuk beberapa orang buku ini mungkin terasa berat karena banyak mengandung istilah teknis, terutama dalam bidang psikologi. Meskipun demikian, istilah teknis tersebut selalu disertai dengan penjelasan yang cukup mudah untuk dipahami bagi pembaca.

Buku ini cocok bagi mereka yang merasa bimbang dalam menentukan arah hidupnya atau mereka yang merasa belum puas dengan hidupnya dan ingin membangun keberanian untuk mengubah hidupnya. Melalui buku ini, kita diberikan perspektif baru mengenai bagaimana kita memaknai peristiwa dalam hidup kita, dan kita dituntun untuk bebas dari belenggu trauma masa lalu serta beban ekspektasi orang lain.

26 Tahun Reformasi: Regresi Demokrasi Menuju Autokrasi

Mahasiswa menduduki gedung DPR pada saat reformasi. (Sumber: Kesbangpol)

Oleh: Rayhan Riza

Bulan Mei sering dikaitkan dengan momentum reformasi. Beberapa peristiwa penting seperti Tragedi Trisakti pada tanggal 12 dan jatuhnya Presiden Soeharto dan rezim Orde Baru dari kekuasaan pada 21 akibat krisis moneter 1997 menjadi alasan mengapa Mei sering disebut sebagai “Bulan Reformasi”, sebab rangkaian peristiwa kunci reformasi terjadi di bulan ini tepat 26 tahun lalu. Apalagi seiring dengan Hari Kebangkitan Nasional pada tanggal 20, menjadi pengingat filosofis bahwasanya gerakan reformasi seperempat abad silam adalah hasil perjuangan sebagai bentuk kebangkitan nasional baru.

Satu kata yang menjadi kunci cita-cita reformasi: Demokrasi. Mengapa? Karena kondisi bangsa saat itu yang baru merdeka dari tirani setelah hampir 40 tahun. Sejak Dekrit Presiden 1959 dan seterusnya, Indonesia harus berlutut dibawah otoritarianisme sang Presiden. Sehingga peristiwa reformasi empat dekade kemudian menjadi langkah besar bagi bangsa Indonesia yang berani melawan sistem tua yang represif terhadap kemerdekaan, dimana demokrasi dan kesejahteraan menjadi tema besar dari gerakan tersebut.

Demokrasi yang ideal mampu menjawab berbagai tantangan sosial yang dihadapi, terutama kesejahteraan ekonomi dan juga berbagai aspek kehidupan lainnya yang mencakup hajat hidup masyarakat luas. Namun bagaimana progres kita dalam menuntaskan tujuan reformasi? Apakah situasi hari ini sudah mencapai kata “cukup” untuk menggambarkan kondisi ideal yang dicita-citakan? Apa kabar reformasi?

Setidaknya dua yang menjadi pekerjaan reformasi yang harus dituntaskan pada hari ini: Demokratisasi dan kesejahteraan. Pekerjaan demokrasi lahir dari ketidakpuasan publik terhadap sistem pemerintahan yang represif dan kesejahteraan akibat dari situasi ekonomi yang sedang dilanda krisis pada saat itu. Kedua hal itu berkaitan erat satu dengan yang lainnya: Kesejahteraan sebagai dimensi politik dan politik sebagai alat mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Kedua hal itu pula yang masih menjadi masalah yang kompleks di negeri ini.

Gini Ratio yang mengukur tingkat kesenjangan pendapatan di berbagai wilayah mencatat Indonesia berada di angka 0,388 pada tahun lalu, meningkat dari 0,295 pada 2000 yang mengindikasikan adanya peningkatan kesenjangan pendapatan dari tahun ke tahun. Benar bahwasanya pendapatan rata-rata masyarakat meningkat, benar bahwasanya semakin banyak proporsi populasi Indonesia yang masuk kedalam kategori menengah, tapi hal yang perlu diingat adalah PDB per kapita tidak bisa menjawab tantangan kesenjangan pendapatan antar populasi. Mengapa hal itu belum tuntas? Apakah sistem demokrasi memang tidak bisa menjawab? Atau kualitas demokrasi kita yang perlu dipertanyakan?

Indeks Demokrasi oleh The Economist mengukur kualitas demokrasi di 160 negara di dunia sejak 2006, dan menggunakan lima kategori yang menjadi tolak ukur: Proses pemilu dan pluralisme politik, kebebasan sipil, keberjalanan pemerintahan, partisipasi politik, dan budaya politik. Alhasil, Indonesia berada di peringkat ke-56 dari 160 negara dan termasuk kedalam kategori “Demokrasi Cacat (Flawed Democracy)” pada tahun lalu. Sejak survei pertama kali dikeluarkan, posisi Indonesia cenderung stagnan: Tidak ada peningkatan maupun penurunan kualitas yang signifikan.

Mudah rasanya untuk memaklumi data tersebut, mengingat proses demokrasi yang berjalan selama 26 tahun ini masih menghadapi tantangan umum di negara dengan Rule of Law yang lemah. Budaya politik yang masih terikat dengan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Budaya tua yang kemudian mencoreng kualitas proses pemilu di berbagai tingkat yang tak lepas dari segala aspek kotor politik mulai dari politik uang, sensasionalisme, hedonisme dalam proses politik dan kemudian berujung pada pengkultusan individu yang sedang marak. Dan dari pengkultusan tersebut yang kemudian dimanfaatkan pejabat untuk mengekang kebebasan sipil untuk kepentingan individu, namun karena adanya justifikasi yang kuat, mempermudah mereka untuk terus berbuat zalim.

Iklim kebebasan sipil yang kian hari semakin memburuk akibat banyaknya perundang-undangan dan peraturan yang jauh dari substansinya. Kasus pelanggaran HAM yang belum tertuntaskan, bahkan bertambah banyak, menjawab pertanyaan mengapa ketimpangan ekonomi masih dirasakan sampai sekarang, yaitu karena tidak semua bisa menyuarakan penderitaannya. Tidak heran hampir semua indeks yang mengukur kualitas politik dan ekonomi menempati kita pada kategori negara yang problematik. Jika tren ini terus berlanjut, maka tidak menutup kemungkinan kita akan berakhir di barisan negara autokrasi pada masa mendatang.

Menyambut 100 tahun kemerdekaan Indonesia, seharusnya sekarang menjadi momentum kita untuk merefleksi kembali nilai-nilai perjuangan dan kemerdekaan yang dicita-citakan oleh pendahulu. ‘Indonesia Emas’ tidak hanya didefinisikan oleh kuantitas penduduk muda tapi juga kualitas dari mereka yang akan meneruskan estafet kepengurusan bangsa. Mereka yang harus sadar kalau hanya dengan demokrasi dan keadilan sosial negara ini akan selamat dari segala tantangan yang dihadapinya. Mereka yang harus sadar bahwa demokrasi itu bukan hanya sekedar memasukkan surat ke kotak suara, melainkan sebuah proses berbangsa dan bernegara secara komprehensif dengan menegakkan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan diatas segalanya.

“…bahwa demokrasi dengan segala kesalahan dan kekurangannya jika ditafsirkan dan dijalankan sebagaimana mestinya, menentukan masa depan dunia”.

~ Wilson (1944)

Resensi How to Make Millions Before Grandma Dies

Pat Boonnitipat | 127 menit | Nilai: 5/5

Sumber : IMDb

Oleh : Rifqy Abdul Aziz

Film ini bermula dengan premis yang cukup unik dalam mendukung alur ceritanya, yakni di sebuah kuburan, tepatnya di kuburan Agong (mendiang suami Amah). Dalam adegan tersebut, karakter-karakter utama diperkenalkan: M, seorang remaja yang memutuskan untuk keluar dari sekolah dan menjadi streamer gim; Chew, ibu M yang bekerja di supermarket dan seorang single mother; Kiang, anak sulung Amah yang sibuk dengan pekerjaannya dan memiliki keluarga harmonis dan kaya; dan Soei, anak bungsu Amah yang memiliki kesulitan dalam mengatur dirinya.

Dialog demi dialog pun berlanjut hingga terjadi sebuah insiden yang mengharuskan Amah untuk dibawa ke rumah sakit. Keluarga Amah terkejut mengetahui kondisi kesehatan Amah yang ternyata sudah lama memburuk, yang memaksa mereka untuk lebih sering merawatnya. Namun, kenyataannya berbeda. Konflik mulai muncul karena masing-masing anak Amah disibukkan dengan kehidupan mereka sendiri.

M, yang awalnya tertarik dengan harta Amah karena melihat keberhasilan sepupunya, Mui, yang menjadi pewaris harta kakeknya, mencoba mendekati Amah dengan harapan menjadi orang kesayangannya. Hari demi hari, hubungan M dan Amah semakin dekat. Kisah jenaka, suka dan duka mereka terus berlanjut hingga berbagai ketegangan pun tiba. Kondisi Amah yang semakin memburuk dan konflik saudara antara Kiang, Chew, dan Soei membuat film ini penuh haru di setiap detiknya.

Film ini berhasil mengeksplorasi konflik internal dan eksternal yang hadir dalam keluarga Amah. Ketika Amah jatuh sakit, pertarungan untuk membagi perhatian di antara anak-anaknya menjadi sorotan utama yang membangkitkan ketegangan dan keharuan. Kisah yang awalnya didorong oleh ambisi finansial M berubah menjadi sebuah perjalanan emosional yang mendalam.

Secara keseluruhan, kekuatan film ini terletak pada alur cerita yang terstruktur dengan apik bahkan detail terkecil pun memiliki kesinambungan dalam ceritanya, serta kemampuannya menyampaikan pesan tentang nilai keluarga, dan pengorbanan. Sinematografi yang memukau serta musik latar yang pas, berhasil memperkaya setiap adegan dan menambah dimensi emosional bagi para penonton.

Sangat layak untuk ditonton.

Resensi Buku Filosofi Teras

Buku Filsofi Teras (Sumber : TheJakartaPost)

Oleh : Fitra Dya

Stoisisme atau Filosofi Teras, merupakan buku yang memaparkan konsep ‘Stoikisme’ atau ‘Stoa’ sebagai panduan permasalahan yang dialami oleh orang-orang zaman sekarang, khususnya anak muda. Dengan penekanan pada gaya bahasa yang sederhana, Henry Manampiring selaku penulis sukses mengemas konsep filosofi yang sering dianggap rumit dan berat menjadi sesuatu yang mudah dicerna bagi kaum awam. Dia memaparkan ajaran-ajaran tokoh-tokoh Stoik seperti Marcus Aurelius, Seneca, dan Epictetus dengan cara yang praktis dan relevan bagi kehidupan pembaca masa kini. Misalnya, pada bagian awal, dia mengajarkan tentang pentingnya membedakan antara hal-hal yang bisa kita kendalikan dan hal-hal yang berada di luar kendali kita. Misalnya, semua pemikiran, persepsi, dan pertimbangan pribadi merupakan suatu hal yang bisa dikendalikan. Prinsip ini jika diresapi dapat mengarahkan kita untuk hanya berfokus pada sesuatu yang dapat dikontrol oleh diri, sehingga menghindarkan kita dari kecemasan-kecemasan yang tidak perlu. 

Salah satu kekuatan yang ditonjolkan dari buku ini adalah penyajian contoh-contoh konkret dan aplikatif. Henry Manampiring memberikan banyak ilustrasi dari kehidupan sehari-hari yang membuat pembaca lebih mudah memahami bagaimana prinsip-prinsip Stoisisme dapat diterapkan. Bab tentang “Dikotomi Kendali” dan “Negative Visualization” secara pribadi memberikan kesan yang mendalam bagi saya. Latihan refleksi diri yang diajarkan dalam buku Filosofi Teras ini juga membantu dalam merefleksikan tindakan dan keputusan yang diambil dalam kehidupan sehari-hari.

Buku ini juga ditulis dengan bumbu humor dan cerita-cerita menarik yang membuat pembaca merasa terhibur sekaligus tercerahkan. Pendekatan ini membuat Filosofi Teras tidak hanya informatif tetapi juga menyenangkan untuk dibaca. Misalnya, cerita tentang bagaimana Manampiring mencoba menerapkan Stoisisme di tengah kemacetan lalu lintas Jakarta benar-benar mengena dan memberikan tawa ringan di tengah pembelajaran serius.

Secara keseluruhan, Filosofi Teras adalah buku yang sangat berguna bagi siapa saja yang ingin menemukan cara hidup yang lebih bijaksana dan tenang. Dengan memadukan ajaran filsafat klasik dengan konteks kehidupan modern, Henry Manampiring berhasil memberikan petunjuk  yang dapat membantu kita menjalani hidup dengan lebih bermakna. Buku ini cocok dibaca oleh semua orang yang ingin memahami diri sendiri dan dunia dengan lebih baik. Menurut saya, buku ini menjadi panduan yang berharga dalam menghadapi tantangan hidup sehari-hari.

Patriarki dan Perubahan Sosial : Mencari Solusi atas Ketidaksetaraan Gender

Perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan Pekerjaan (Sumber : Pribadi)

Oleh : Shafa Amalia

Sistem patriarki mendorong pemikiran bahwa laki-laki merupakan pihak yang lebih utama (superior) di banding perempuan. Memberikan laki-laki dominasi dan keunggulan dalam struktur sosial. Dari hubungan keluarga hingga kekuasaan politik, dampak dari patriarki menciptakan ketidaksetaraan yang merugikan terutama bagi perempuan.

Adanya kekeliruan dalam penafsiran agama menjadi salah satu alasan patriarki mengakar dalam budaya dan kehidupan masyarkat hingga saat ini. Banyak laki-laki yang meyakini bahwa dominasi mereka adalah perintah dari agama. Namun, ajaran agama, pada intinya, menekankan nilai-nilai seperti keadilan, kasih sayang, dan penghormatan terhadap sesama.

Dalam sistem patriarki, perempuan sering kali ditekan untuk memenuhi harapan-harapan yang ditetapkan oleh laki-laki, salah satunya dalam hal kesempatan dan akses. Diskriminasi gender dalam dunia kerja sering kali terjadi, di mana perempuan diberi gaji yang lebih rendah daripada laki-laki untuk pekerjaan yang sama, atau dianggap kurang kompeten untuk posisi-posisi tertentu.

Bahkan dalam kasus di mana wanita menjadi korban pelecehan seksual, sebagian publik justru mempertanyakan pakaian apa yang dikenakan oleh korban, apakah korban keluar pada malam hari, bagaimana cara berjalannya, dan lebih fokus menyalahkan korban dibanding mengecam perbuatan pelaku. Padahal banyak kasus di mana perempuan sudah berpakaian tertutup tetapi masih mengalami pelecehan. Sebagai sesama manusia yang hidup bermasyarakat, perempuan memiliki hak untuk bepergian tanpa rasa takut akan risiko yang tidak diinginkan, tanpa memedulikan waktu kapan mereka keluar rumah. Kekerasan seksual tidak akan terjadi apabila pelaku tidak menjadikan tubuh perempuan sebagai objek seksual.

Meskipun sering kali kurang disadari atau dibahas, patriarki juga memiliki dampak yang merugikan bagi laki-laki. Patriarki menciptakan tekanan untuk memenuhi standar yang mengharuskan laki-laki untuk selalu tampil kuat, tidak menunjukkan emosi, dan menjadi pencari nafkah utama. Tekanan untuk memenuhi standar maskulinitas ini dapat menyebabkan beban mental dan emosional yang berat bagi laki-laki. Selain itu, meskipun perempuan lebih sering menjadi korban kekerasan dalam sistem patriarki, laki-laki juga dapat menjadi korban. Norma patriarki yang mendukung kekerasan sebagai cara untuk menunjukkan kekuatan atau dominasi dapat meningkatkan risiko terjadinya kekerasan, baik sebagai korban atau bahkan sebagai pelaku.

Melihat dari dampak negatif yang tidak hanya merugikan perempuan saja tetapi juga merugikan laki-laki, maka sudah sepantasnya kesetaraan gender diperjuangkan. Memperjuangkan kesetaraan gender bukanlah tindakan melawan laki-laki atau memecah belah masyarakat. Sebaliknya, memperjuangkan kesataraan adalah upaya untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil dan aman bagi semua individu, tanpa memandang jenis kelamin.

Hal yang bisa dilakukan untuk mendukung kesetaraan gender pada masa sekarang adalah dengan meningkatkan kesadaran tentang stereotip gender dan ketidaksetaraan yang masih ada di masyarakat. Bagaimana patriarki memengaruhi kehidupan sehari-hari, baik dalam pendidikan, pekerjaan, maupun hubungan interpersonal. Selanjutnya, dengan mendorong pembentukan dan penegakan kebijakan serta undang-undang yang mendukung kesetaraan gender, seperti undang-undang yang melindungi perempuan dari kekerasan dan diskriminasi, dan kebijakan yang mendorong partisipasi perempuan dalam berbagai bidang. Kesetraan juga dapat ditegakkan dengan memberikan akses yang setara bagi perempuan dalam bidang ekonomi, seperti kesempatan kerja dan pemberian upah yang setara. Bahkan dalam tindakan sehari-hari, kita juga dapat mengubah norma patriarki. Dengan mendukung perempuan dalam mencapai tujuan mereka, menolak perilaku seksis, atau mengambil peran aktif dalam memerangi ketidakadilan gender, kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih adil dan inklusif bagi semua individu, tanpa memandang jenis kelamin.