Oleh: Siti Nur Laela Yuni Sahara

Judul Buku : Berani tidak disukai
Penulis : Ichiro Kishimi & Fumitake Koga
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tahun Terbit : 2019
Buku ini termasuk dalam kategori buku non-fiksi yang isinya dikemas menyerupai buku fiksi, di mana dalam buku ini berisi dialog antara seorang filsuf dan seorang pemuda yang saling beradu argumen. Sang filsuf mengajarkan bahwa dunia ini sederhana dan bahwa kebahagiaan dapat diraih dalam sekejap mata oleh setiap manusia, sementara si pemuda mendapati dunia ini sebagai gumpalan kontradiksi yang carut-marut, dan di matanya yang gelisah, gagasan apa pun tentang kebahagiaan adalah hal yang sangat tidak masuk akal. Keduanya kemudian terus-menerus melakukan dialog selama beberapa kali sehingga pada akhirnya mereka pun menganggap satu sama lain sebagai kawan seperjuangan.
Secara garis besar, buku ini banyak membahas kehidupan manusia dari perspektif teori psikologi Adler. Ada beberapa hal penting yang disampaikan dalam buku ini, yaitu yang pertama mengenai perbedaan antara aetiologi (studi tentang hubungan sebab-akibat) dan teleologi (ilmu yang mempelajari tujuan dari suatu fenomena tertentu, ketimbang penyebabnya).
Dalam teori psikologi Adler, manusia tidak digerakkan oleh pencetus di masa lalunya, namun bergerak menuju tujuan yang mereka tetapkan sendiri, hal ini sesuai dengan pandangan teleologi. Selain itu, berdasarkan teori psikologi Adler ketidakbahagiaan kita tidak bisa disalahkan pada masa lalu atau lingkungan kita, dan bukan berarti kita tidak punya kemampuan, kita hanya kurang berani untuk menjadi bahagia. Yang kedua, buku ini membahas mengenai hubungan interpersonal yang menjadi sumber utama dari semua persoalan hidup. Kemudian, yang ketiga disampaikan dalam buku ini bahwa kita tidak boleh mengintervensi tugas-tugas orang lain dan harus fokus pada apa yang menjadi tugas kita. Di sini juga disinggung agar kita menjalani hidup bukan demi memenuhi ekspektasi orang lain, melainkan untuk kebebasan diri kita sendiri. Di mana untuk mencapai kebebasan itu, salah satu konsekuensinya adalah kita harus siap untuk dibenci orang lain. Yang terakhir, buku ini mengajarkan kita untuk jangan pernah berfikir bahwa kita adalah pusat dunia, kita juga harus hidup dengan sungguh-sungguh di masa saat ini, bukan hanya memikirkan masa lalu atau masa depan saja. Alih-alih demikian, kita perlu melihat bahwa masa saat ini bukanlah persiapan kita menuju masa depan, melainkan kesempatan bagi kita untuk menikmati setiap momen berharga di masa kini yang tidak akan bisa diulang kembali.
Salah satu yang menjadi keunggulan dari buku ini adalah isinya yang sangat relate bagi kebanyakan orang yang mungkin belum merasa puas dengan hidupnya dan terus memiliki hasrat untuk diakui oleh orang lain, sehingga menjadikan kehidupannya terasa tidak bahagia. Setiap dialog yang disajikan dalam buku ini, membuat pembaca bisa merasakan kebimbangan yang juga dirasakan oleh si pemuda ketika beradu argumen dengan sang filsuf. Namun, untuk beberapa orang buku ini mungkin terasa berat karena banyak mengandung istilah teknis, terutama dalam bidang psikologi. Meskipun demikian, istilah teknis tersebut selalu disertai dengan penjelasan yang cukup mudah untuk dipahami bagi pembaca.
Buku ini cocok bagi mereka yang merasa bimbang dalam menentukan arah hidupnya atau mereka yang merasa belum puas dengan hidupnya dan ingin membangun keberanian untuk mengubah hidupnya. Melalui buku ini, kita diberikan perspektif baru mengenai bagaimana kita memaknai peristiwa dalam hidup kita, dan kita dituntun untuk bebas dari belenggu trauma masa lalu serta beban ekspektasi orang lain.

