Tekad Menembus Jarak

Oleh: Annisa Zahi As Zahira

Kupijak jalan yang asing dan jauh,

Dengan sebuah tas penuh doa dari rumah.

Langit kota tak sesyahdu langit kampung,

Tapi mimpi membuatku terus melangkah.

Setiap malam, rindu mengetuk hati,

Teringat hangatnya peluk ibu.

Tapi air mata kubiarkan jatuh diam-diam,

Agar semangat tak ikut luruh.

Di balik letih yang tak selalu terlihat,

Ada tekad yang terus kugenggam kuat.

Karena aku tahu, perjuangan ini bukan sia-sia,

Ada masa depan yang sedang kucipta.

Biar jarak dan waktu membentang ribuan hari,

Aku percaya, semua ini akan berarti.

Dan ketika pulang nanti…

Aku ingin membawa bangga, bukan hanya hadir kembali.

Cuaca Tak Menentu di Akhir Mei 2025: Musim Kemarau Belum Merata, Hujan Lebat Masih Mengancam 

Memasuki akhir Mei 2025, sebagian besar wilayah Indonesia masih dihadapkan pada kondisi cuaca yang sulit diprediksi. Meskipun secara klimatologis periode ini seharusnya menjadi masa transisi dari musim hujan ke musim kemarau, kenyataannya hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih sering terjadi di berbagai daerah, bahkan kerap disertai petir dan angin kencang yang berpotensi menimbulkan kerusakan serta mengganggu aktivitas masyarakat. 

Pola Peralihan Musim: Kemarau Datang Lebih Lambat 

Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sekitar 57,7% wilayah Indonesia atau 403 Zona Musim (ZOM) diprediksi akan memasuki musim kemarau pada periode April hingga Juni 2025. Wilayah Nusa Tenggara menjadi yang paling awal mengalami kemarau. Secara keseluruhan, musim kemarau tahun ini diprediksi datang bersamaan atau bahkan lebih lambat dari biasanya di 409 ZOM (59%) dengan puncak kemarau diperkirakan terjadi pada bulan Agustus dan berlangsung lebih singkat di 298 ZOM (43%). 

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa hingga dasarian II Mei 2025 baru sekitar 11% ZOM yang benar-benar memasuki musim kemarau sementara 73% ZOM masih berada pada musim hujan. Artinya, sebagian besar wilayah Indonesia masih berada di masa peralihan, sehingga cuaca pun cenderung berubah cepat, dari pagi yang cerah menjadi mendung dan hujan pada sore hingga malam hari. 

Penyebab Cuaca Ekstrem: Dinamika Atmosfer dan Fenomena Global 

BMKG menjelaskan, fenomena hujan lebat yang masih sering terjadi pada masa peralihan ini tidak hanya dipicu oleh mekanisme konvektivitas lokal, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh dinamika atmosfer berskala luas. Beberapa faktor utama yang berperan antara lain: 

  1. Kondisi atmosfer yang labil akibat interaksi suhu permukaan laut yang hangat, tekanan udara, dan kelembapan tinggi, memicu pembentukan awan konvektif seperti Cumulonimbus yang dapat menyebabkan hujan lebat, petir, angin kencang, hingga hujan es,
  2. Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang atmosfer tropis yang saat ini masih aktif melintasi wilayah Indonesia dan memicu pertumbuhan awan hujan secara signifikan, dan
  3. Gelombang atmosfer lain seperti gelombang Kelvin dan Rossby ekuatorial yang cenderung persisten di sebagian wilayah barat dan tengah Indonesia, semakin memperbesar potensi hujan lebat. 

BMKG juga menegaskan bahwa fenomena El Nino-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) saat ini berada dalam fase netral, sehingga tidak ada gangguan besar dari Samudra Pasifik maupun Hindia hingga semester II 2025. Namun, suhu muka laut di sekitar Indonesia yang cenderung lebih hangat turut berkontribusi pada tingginya kelembapan udara dan pembentukan awan hujan. 

Imbauan BMKG untuk Masyarakat 

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem dalam beberapa waktu ke depan. Berikut beberapa langkah yang disarankan:

  1. Gunakan pelindung seperti tabir surya saat beraktivitas di luar ruangan untuk menghindari paparan sinar matahari langsung, serta jaga kecukupan cairan tubuh
  2. Waspadai hujan lebat disertai petir dan angin kencang, hindari berteduh di bawah pohon atau bangunan yang rentan saat cuaca buruk
  3. Siapkan langkah evakuasi dan pahami jalur evakuasi jika terjadi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor
  4. Pantau informasi cuaca terbaru melalui kanal resmi BMKG dan tetap tenang serta siaga menghadapi perubahan cuaca ekstrem. 

Cuaca yang cepat berubah dan potensi hujan lebat di masa peralihan ini menjadi pengingat penting bagi seluruh masyarakat untuk selalu waspada dan mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan. 

Sumber: https://www.bmkg.go.id/

Penulis: Dyah Risma Ristanti

Sedia Kecewa Sebelum Hujan

Oleh: Royhan

Tadinya kupikir hidup itu neraka

Lalu aku terbangun, ternyata aku di surga

Namun, tak berlangsung lama

kembali ku dirundung nestapa

Setelahnya, aku diangkat ke nirwana

Lalu dijatuhkan kembali ke samsara

Aduhai, begitu terus seterusnya

Ternyata hidup ini dusta

Tapi tak mengapa punya asa

Seperti gemuruh hujan tak berperasaan

Petirnya, kilat menjilat di angkasa

Manusia berprasangka akan siksa

Tapi, ternyata pelangi terbentuk di angkasa

Namun, ingat ia pun hanya sementara

Tak ada yang selamanya

Jadi, selayaknya pepatah lama

Sedia kecewa sebelum hujan

Manis yang Menyesatkan

Oleh: Ana

Salsa duduk sendirian di pojok kamar kosnya yang sempit. Segelas teh tarik instan mengepul di meja kecil, ditemani dua bungkus biskuit krim cokelat yang sudah hampir habis. Di lantai, ada bungkus kue bolu keju murah dari warung belakang kos. Dia baru saja menyelesaikan tugas kelompok yang membuat kepalanya pusing seharian. Gula adalah penolong setianya.

Sejak merantau untuk kuliah dua tahun lalu, makanan manis adalah pelarian paling mudah. Murah, praktis, dan rasanya membuat hati terasa lebih ringan, seolah semua masalah hilang meski hanya sementara. Dari pagi yang berat, sore yang lesu, hingga malam yang sunyi, Salsa selalu punya alasan untuk mengunyah sesuatu yang manis.

Namun, akhir-akhir ini tubuhnya mulai memberontak. Ia sering merasa haus berlebihan, bahkan setelah minum sebotol penuh air mineral. Malam-malamnya terganggu karena harus bolak-balik ke kamar mandi. Kadang, matanya kabur saat membaca buku atau layar laptop. Yang paling membuatnya panik adalah berat badannya turun, tapi ia tidak merasa lebih sehat. Justru, Salsa sering merasa lemas dan cepat capek, padahal ia tidak melakukan aktivitas berat.

Awalnya, ia menyangkal semuanya, “mungkin karena kecapekan,” katanya. Tapi setelah pingsan di kelas saat presentasi, ia tidak bisa menunda lagi. Ia memeriksakan diri ke klinik kampus, dan hasilnya membuat jantungnya hampir copot: Salsa terkena diabetes tipe 2.

“Kamu masih muda, tapi pola makan kamu sangat buruk. Terutama konsumsi gulanya,” kata dokter waktu itu, “kalau tidak diubah, kondisimu bisa makin parah.”

Salsa menunduk saat mendengarnya. Untuk pertama kalinya, ia merasa manis bukan lagi teman, tapi musuh yang perlahan membunuhnya.

Teman sekelasnya, Nayla, adalah orang pertama yang tahu tentang kondisinya. Nayla memang berbeda sejak awal. Ia tinggal bersama orang tuanya di Jogja,\ dan keluarganya sangat peduli soal makanan. Nayla selalu membawa bekal sendiri, jarang jajan sembarangan, dan sering mengingatkan Salsa secara halus.

“Gula itu kayak racun pelan-pelan loh, Sal,” kata Nayla suatu siang, setahun lalu. Saat itu Salsa hanya tertawa, lalu menyeduh kopi instan sachetnya yang manis.

Kini, Nayla tidak menghakimi. Ia hanya berkata, “Pelan-pelan, kita bisa ubah kebiasaan kamu bareng-bareng.”

Kalimat itu lebih dari cukup. Dalam sepi dan rasa bersalah, Nayla menjadi cahaya kecil yang menuntun Salsa kembali.

Perjalanan memperbaiki pola hidup bukan hal mudah. Hari-hari pertama, tubuh Salsa seperti berontak. Ia gelisah tanpa camilan manis. Lidahnya kehilangan rasa saat mencicipi teh tawar. Ia nyaris menyerah.

Tapi Nayla hadir dengan solusi-solusi sederhana. Ia mengajak Salsa masak sendiri. Mulai dari oatmeal tanpa gula, infused water, hingga camilan berbahan dasar pisang dan gandum. Nayla juga mengenalkan Salsa pada aplikasi yang bisa melacak kadar gula dan kalori makanan.

Mereka berolahraga ringan bersama setiap pagi seperti jalan kaki keliling kompleks kos atau naik-turun tangga kampus. Kadang, mereka ikut kelas yoga online bersama. Dukungan itu membuat Salsa bertahan.

“Kenapa kamu peduli banget sama aku?” tanya Salsa suatu malam.

“Karena aku nggak mau kehilangan teman yang baik cuma karena teh tarik,” jawab Nayla sambil tersenyum.

Setelah enam bulan, hasil cek kesehatan menunjukkan perbaikan. Gula darah Salsa mulai stabil. Tubuhnya lebih bugar, pikirannya lebih jernih. Tapi yang paling penting, ia belajar bahwa kesehatan adalah tanggung jawab yang tidak bisa digantikan siapa pun.

Salsa mulai berbagi kisahnya lewat blog dan media sosial. Ia tahu banyak mahasiswa lain seperti dirinya—yang menjadikan gula sebagai pelarian dari stres. Ia ingin mereka sadar sebelum terlambat.

“Aku dulu merasa manis itu kebahagiaan,” tulisnya dalam salah satu unggahan. “Tapi ternyata, kebahagiaan yang sesungguhnya adalah saat tubuhmu sehat dan kamu bisa menikmatinya tanpa rasa takut.”

Kini, tiap pagi Salsa menyeduh teh tanpa gula sambil menikmati udara segar. Kadang, ia masih merindukan rasa manis berlebih itu. Tapi ia tahu, ia telah memilih sesuatu yang jauh lebih manis: hidup yang sehat dan penuh makna.

“Tubuh kita adalah rumah pertama dan terakhir. Jagalah ia, sebelum manis yang kamu nikmati hari ini menjadi pahit yang kamu sesali esok hari.”

Pergantian Pelatih Timnas Indonesia

Sumber: Merdeka.com

Pergantian pelatih Timnas Indonesia yang dilakukan pada awal tahun ini menjadi perhatian besar di kalangan pecinta sepak bola nasional. Tidak sedikit yang menilai keputusan ini cukup mengejutkan, mengingat pelatih sebelumnya, Shin Tae-yong, dinilai telah membawa banyak kemajuan bagi Timnas sejak mulai menangani skuad Merah Putih pada 2020.

Di bawah asuhan Shin Tae-yong, Timnas Indonesia menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan. Ia dikenal disiplin, berani memberi peluang pada pemain muda, dan mampu meningkatkan daya saing Timnas di level Asia Tenggara hingga Asia. Bahkan, dalam beberapa turnamen dan pertandingan uji coba, performa Timnas terlihat lebih terstruktur dan modern dibanding sebelumnya, serta chemistry antara Shin Tae-yong dengan para pemain timnas sudah terbentuk.

Namun, di sisi lain, PSSI selaku federasi tentu memiliki pertimbangan tersendiri. Keputusan mengganti pelatih bukanlah hal yang dilakukan tanpa alasan. PSSI tampaknya ingin mengambil langkah baru demi target yang lebih tinggi, yakni lolos ke Piala Dunia 2026. Untuk itu, mereka menunjuk pelatih baru asal Belanda yang bernama Patrick Kluivert membawa filosofi berbeda, serta dibantu oleh dua asistennya yaitu Alex Pastoor dan Denny Landzaat.

PSSI menyebut bahwa alasan mengganti Shin Tae-yong dengan pelatih baru adalah  adanya dinamika tim, tetapi isu yang beredar mengatakan bahwa masalah komunikasi dan perbedaan budaya menjadi salah satu pertimbangan penting. Masalah tersebut menjadi kendala dalam penyampaian strategi di lapangan. 

Pergantian pelatih ini membuat banyak orang bertanya tanya, pasalnya Timnas masih memiliki empat pertandingan penting dalam lanjutan putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia dan dua di antaranya akan berlangsung dalam waktu dekat. Situasi ini menuntut pelatih baru untuk cepat beradaptasi, mengenal karakter pemain, memahami kekuatan dan kelemahan skuad, serta membangun chemistry dengan seluruh elemen tim.

Sementara itu, publik terbelah dalam menyikapi keputusan ini. Sebagian mendukung, melihat pergantian ini sebagai bentuk ambisi dan langkah maju. Namun sebagian lagi ragu, karena proses adaptasi butuh waktu dan tidak bisa instan, apalagi dengan tantangan komunikasi, perbedaan budaya, dan tekanan ekspektasi yang besar dari publik.

Yang jelas ini adalah momen penting bagi sepak bola Indonesia. Di satu sisi, kita melihat bahwa ada keberanian dari PSSI untuk mengambil risiko. Di sisi lain, publik juga punya hak untuk mempertanyakan dan memberikan kritik. Tapi yang perlu diingat, kritik sebaiknya tetap disampaikan secara konstruktif, bukan sekadar emosi sesaat.

Timnas Indonesia adalah milik semua. Apa pun keputusan yang diambil federasi, pada akhirnya akan diuji di lapangan. Kita berharap pelatih baru bisa cepat menyatu dengan tim dan para pemain juga mampu beradaptasi dengan sistem yang diterapkan. Begitu juga PSSI, perlu terbuka dalam berkomunikasi agar kepercayaan publik tetap terjaga.

Proses pembangunan sepak bola nasional memang tidak mudah. Kadang perlu perubahan, kadang juga butuh konsistensi. Tidak ada jaminan satu pelatih pasti membawa sukses, sama halnya tidak semua pergantian selalu berakhir buruk.

Mari kita lihat hasilnya secara objektif. Waktu akan menjawab apakah keputusan ini tepat atau tidak. Sementara itu, sebagai pendukung, sudah sepatutnya kita terus memberikan dukungan dengan cara yang sehat. Karena sepak bola bukan hanya soal hasil akhir, tapi juga tentang perjalanan, kerja keras, dan semangat untuk terus menjadi lebih baik. Selain itu juga kita berharap pergantian pelatih ini bisa membuat timnas Indonesia menuju ke piala dunia 2026 dan mencetak sejarah baru untuk Indonesia.

Penulis: Tsaniya Zakiyatun Nufus

Dampak Puntung Rokok terhadap Manusia dan Planet Kita

Sumber: The Conversation

Puntung rokok merupakan salah satu jenis sampah yang paling banyak mencemari lingkungan. Meskipun ukurannya kecil, puntung rokok mengandung ribuan bahan kimia berbahaya yang dapat mencemari air, merusak ekosistem, dan bahkan membahayakan kesehatan manusia. Rokok merupakan salah satu produk yang paling umum dikonsumsi di dunia. Setiap tahun, miliaran batang rokok dikonsumsi, dan sebagian besar puntungnya dibuang sembarangan ke lingkungan. Berdasarkan penelitian, puntung rokok adalah benda yang paling banyak mengotori planet kita. Meskipun kecil dan berukuran sekitar 2-4 cm, puntung rokok mengandung zat kimia berbahaya yang dapat merusak ekosistem dan kesehatan manusia.

Puntung rokok mengandung lebih dari 7.000 zat kimia berbahaya, di antaranya terdapat nikotin, arsenik, timbal, kadmium, formaldehida, amonia, benzena, serta polonium-210 yang bersifat radioaktif. Nikotin sendiri merupakan senyawa adiktif yang dapat membahayakan organisme akuatik karena bersifat toksik. Arsenik dan timbal termasuk dalam kategori logam berat yang mampu mengganggu fungsi tubuh dan merusak sistem saraf. Kadmium dikenal sebagai zat karsinogenik yang dapat terakumulasi dalam tubuh makhluk hidup dan berpotensi menimbulkan efek jangka panjang terhadap kesehatan, khususnya pada organ ginjal dan tulang. Sementara itu, filter rokok yang berbahan dasar selulosa asetat menghasilkan mikroplastik yang dapat mencemari lingkungan.

Berbagai fakta menunjukkan bahwa sampah puntung rokok merupakan salah satu jenis sampah yang paling banyak ditemukan di lautan. Dan ketika puntung rokok mencapai perairan, mereka dapat membahayakan biota laut seperti ikan, kerang, dan organisme air lainnya. Satu filter rokok bahkan dapat mencemari hingga 40 liter air. Kontaminasi ini dapat mengganggu sistem pernapasan dan metabolisme organisme akuatik, serta meningkatkan angka kematian biota laut. Selain itu, pencemaran air oleh puntung rokok juga berpotensi membahayakan kesehatan manusia. Banyak masyarakat yang mengonsumsi ikan dan hasil laut lainnya yang mungkin telah terpapar bahan kimia dari puntung rokok.

Puntung rokok yang belum dipadamkan sepenuhnya juga menjadi salah satu penyebab utama kebakaran hutan. Saat dibuang sembarangan di area yang kering atau bervegetasi mudah terbakar, bara api dari puntung rokok dapat memicu kebakaran yang merusak ekosistem, mengurangi kualitas udara, dan mengancam kehidupan manusia. Kebakaran hutan juga memperparah krisis iklim, karena hutan yang terbakar akan kehilangan fungsi menyerap karbon dioksida dan justru menjadi sumber emisi gas rumah kaca. Proses pemulihan lingkungan pasca-kebakaran pun memakan waktu lama, serta memerlukan biaya besar untuk rehabilitasi lahan dan perlindungan habitat yang terdampak.

Selain mencemari air dan menyebabkan kebakaran, puntung rokok yang dibuang sembarangan juga berdampak pada kualitas tanah. Bahan kimia berbahaya dalam puntung rokok dapat merusak mikroorganisme tanah yang berperan penting dalam menjaga kesuburan. Tanah yang tercemar oleh puntung rokok dapat mengurangi produktivitas pertanian, dan menghambat pertumbuhan tanaman. Selain itu, filter rokok yang terbuat dari selulosa asetat membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk terurai, sehingga menyebabkan akumulasi sampah plastik di tanah. Selulosa asetat adalah jenis plastik sintetis yang dirancang untuk menahan panas dan menyaring partikel dari asap rokok. Meskipun berasal dari serat tumbuhan, proses kimia dalam pembuatannya membuat bahan ini menjadi sangat tahan terhadap pelapukan biologis. Akibatnya, ketika puntung rokok dibuang sembarangan ke lingkungan, terutama ke tanah, filter tersebut dapat bertahan selama 5 hingga 10 tahun atau bahkan lebih, tergantung pada kondisi lingkungan seperti kelembaban, paparan sinar matahari, dan aktivitas mikroorganisme.

Seringkali puntung rokok dianggap sepele dan dibuang sembarangan tanpa memikirkan dampaknya. Oleh karena itu, perlu ada langkah nyata untuk mengatasi permasalahan ini, seperti penyediaan tempat sampah khusus puntung rokok, edukasi masyarakat tentang bahaya sampah rokok, serta penegakan aturan yang melarang pembuangan puntung rokok sembarangan. Dengan demikian, permasalahan tentang puntung rokok dapat teratasi sedikit demi sedikit.

Penulis: Nisanuha Nabiha Najwa

Hujan dan Tembalang

Oleh: Musa M. Ramadhan

Sore ini hujan, seperti kemarin
Untungnya hari ini tidak mati lampu
Ya, sore ini hujan

Aku terduduk, masih terpaku pada layar
Terbesit Ebiet yang bertanya pada rumput bergoyang
Tapi sayangnya aku sedang di kamar
Hanya ada jaring debu di sudut langit

Kian hujan menjadi asing bagi ku
Aku yang menari tawa dalam kasih tuhan
Kini ku meringkuk dalam diam

Skandal LPEI : Kejaksaan Agung Usut Dugaan Korupsi dengan Kode Uang Zakat

Skandal korupsi yang melibatkan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) kembali mencuat ke permukaan, menambah deretan panjang kasus korupsi di tanah air. Baru-baru ini, Kejaksaan Agung (Kejagung) mengusut dugaan korupsi dengan kode “uang zakat” yang melibatkan direksi LPEI dan sejumlah debitur. Kasus ini tidak hanya mencoreng nama baik institusi keuangan negara, tetapi juga menimbulkan kerugian negara yang signifikan.

Modus Operandi: “Uang Zakat” sebagai Kode Suap
Dalam pengungkapan kasus ini, terungkap bahwa istilah “uang zakat” digunakan sebagaikode untuk menyamarkan praktik suap antara debitur dan direksi LPEI. Plh DirekturPenyidikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Budi Sukmo, mengungkapkan bahwa “uang zakat” merujuk pada fee yang diberikan oleh debitur kepada direksi LPEI sebagai imbalan atas persetujuan kredit. Besaran fee ini berkisar antara 2,5% hingga 5% dari total kredit yang disetujui. Penggunaan istilah “uang zakat” sebagai kode suap sangat ironis dan mencederai nilai-nilai moral serta keagamaan. Zakat yang seharusnya menjadi simbol kedermawanan dan kepedulian sosial justru disalahgunakan untuk menutupi tindakan korupsi. Hal inimenunjukkan betapa para pelaku tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga norma-norma etika dan agama.


Kerugian Negara yang Fantastis
Kasus korupsi di LPEI ini melibatkan pemberian fasilitas kredit kepada 11 debitur dengan total potensi kerugian negara mencapai Rp11,7 triliun. Salah satu debitur yang terungkap adalah PT Petro Energy, yang diduga memalsukan dokumen seperti purchase order dan invoice untuk mencairkan kredit dari LPEI. Dana yang seharusnya digunakan untuk bisnis bahan bakar solar, ternyata dialihkan untuk investasi di sektor lain tanpa sepengetahuan LPEI. Berdasarkan perhitungan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP), kerugian keuangan negara akibat kasus ini mencapai 60 juta dollar AS atau setara Rp900 miliar. Namun, angka ini baru mencakup sebagian dari total kerugian yang diperkirakan, mengingat masih ada debitur lain yang sedang dalam proses investigasi.


Peran Kejaksaan Agung dalam Pengusutan Kasus
Kejaksaan Agung menerima laporan dugaan tindak pidana korupsi terkait penggunaan dana di LPEI dari Menteri Keuangan Sri Mulyani pada Maret 2024. Laporan tersebut mencakup indikasi penyimpangan dalam pemberian fasilitas kredit kepada beberapa perusahaan yang bergerak di sektor kelapa sawit, batu bara, nikel, dan perkapalan. Menindaklanjuti laporan tersebut, Kejaksaan Agung melakukan penyelidikan dan menemukan adanya praktik suap yang disamarkan dengan istilah “uang zakat”. Pengungkapan ini menunjukkan keseriusan aparat penegak hukum dalam memberantas korupsi, terutama yang melibatkan institusi keuangan negara.

Dampak dan Tanggapan Publik
Terungkapnya skandal korupsi dengan kode “uang zakat” ini memicu kemarahan publik. Penggunaan istilah yang berkaitan dengan ibadah untuk menutupi praktik korupsi dianggap sebagai penghinaan terhadap nilai-nilai keagamaan. Tokoh-tokoh masyarakat dan netizen menyuarakan kegeraman mereka terhadap tindakan para pelaku yang dianggap tidak bermoral. Selain itu, kasus ini menambah daftar panjang skandal korupsi di sektor keuangan yang merugikan negara dan masyarakat. Kepercayaan publik terhadap institusi keuangan negara semakin tergerus, dan hal ini dapat berdampak negatif pada stabilitas ekonomi nasional.


Pentingnya Reformasi dan Pengawasan Ketat
Skandal LPEI ini menjadi momentum bagi pemerintah dan lembaga terkait untuk melakukan reformasi menyeluruh dalam tata kelola institusi keuangan negara. Pengawasan internal dan eksternal harus diperketat untuk mencegah terulangnya kasus serupa di masa depan. Selain itu, penegakan hukum yang tegas dan transparan diperlukan untuk memberikan efek jera bagi para pelaku korupsi. Pendidikan dan sosialisasi mengenai integritas dan etika kerja juga harus ditingkatkan di kalangan pegawai negeri dan pejabat publik. Dengan demikian, diharapkan muncul budaya kerja yang bersih dan profesional, yang pada akhirnya akan meningkatkan kepercayaan publik terhadap pemerintah dan institusi negara.

Penulis: Laila

PERTAMINA: Pertamax Oplosan, Masyarakat Merugi, Korupsi Meradang

Mantap! Kontribusi Pertamina Kepada Negara Capai Rp 126,7 T
Sumber: CNBC Indonesia

Masyarakat kini semakin memanas dengan kabar Pertamax adalah BBM oplosan. Kerusuhan semakin bertambah dengan kabar korupsi besar-besaran oleh orang-orang yang terlibat di dalam Pertamina. Kabar ini membuat kasus Pertamina masuk ke jajaran kasus korupsi terbesar di Indonesia.  

Isu yang semakin memanas, masyarakat yang hilang kepercayaan, dan negara semakin merugi merupakan kata-kata yang mewakili tentang keadaan Pertamina sekarang. Pertamina adalah salah satu perusahaan milik negara dibawah naungan BUMN yang bergerak dibidang Tata Kelola Minyak dan Gas Negara. Sangat disayangkan salah satu perusahaan besar milik negara ini tidak dikelola dengan baik dan malah dijadikan ladang korupsi. 

Isu besar selain korupsi adalah Pertamax oplosan. Sangat disayangkan jika ternyata benar adanya Pertamax yang dipakai selama ini oleh masyarakat adalah oplosan. Serugi apa masyarakat yang telah membeli Pertamax karena mereka mengikuti ketentuan negara untuk menggunakan BBM non-subsidi. Namun, dilain sisi isu ini belum memiliki kejelasan dan kebenaran yang valid. 

Dikutip dari merdeka.com., Pelaksana Tugas Harian (PTH) Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra, memastikan bahwa pihaknya tidak melakukan praktik upgrade blending atau pencampuran pada Pertalite dengan Pertamax. Dia memastikan bahwa produk yang diterima dan dijual di SPBU telah sesuai dengan spesifikasi. 

“Baik yang dari luar negeri maupun dari dalam negeri kami sudah menerima RON 92. Yang membedakan adalah meskipun sudah berada di RON 90 dan 92 itu sifatnya masih base fuel artinya belum ada adiktif yang kita terima di Pertamina Patra Niaga,” kata Ega dalam rapat bersama Komisi XII DPR RI, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (26/2).

Ega menjelaskan, Pertamina Patra Niaga melakukan pengolahan bahan bakar mulai dari terminal hingga ke SPBU. Sementara itu, untuk proses pengangkutan bahan bakar dari kilang ke terminal dilakukan oleh kapal milik Pertamina. “Tidak ada proses perubahan RON, tetapi yang ada itu Pertamax kita tambahkan adiktif. Jadi di situ ada proses penambahan adiktif dan proses penambahan warna. Proses inilah yang memberikan keunggulan perbedaan dalam produk,” jelasnya. Ega mengungkapkan, proses penambahan adiktif tersebut dikenal sebagai injection blending.

“Blending ini adalah proses yang common dalam produksi minyak yang merupakan bahan cair. Namanya ini bahan cair jadi pasti akan ada proses blending yang tujuannya adalah untuk meningkatkan value daripada produk tersebut,” ungkapnya. Menurutnya, setiap bahan bakar yang diterima, baik dari dalam maupun luar negeri, selalu melalui pengujian laboratorium sebelum dan sesudah bongkar muat.

Dari kutipan tersebut, dijelaskan bahwa adanya bantahan dari pihak Pertamina atas dugaan Pertamax oplosan ini. Namun, bukan berarti hal tersebut juga benar adanya, kita tetap harus waspada dan mengikuti perkembangan dan penyelidikan lebih lanjut. 

Kasus ini juga menyebabkan banyak masyarakat merasa resah dengan BBM di SPBU Pertamina. Dilihat dari laman Instagram Pertamina, banyak sekali masyarakat yang menuangkan segala keluh kesahnya kepada pemerintah juga Pertamina. Kini banyak masyarakat yang berganti linimasa pengisian BBM ke perusahaan swasta, yaitu SHELL. Hal ini merupakan wujud aksi masyarakat atas kehilangan kepercayaan kepada Pertamina.

Kejadian tersebut menjadi salah satu bukti kegagalan pemerintah dalam tata kelola perusahaan yang baik. Kasus ini semakin merusak citra lembaga naungan pemerintah yang seharusnya memiliki citra dan tujuan untuk melayani masyarakat. Kini pemerintah harus mengambil peran untuk membasmi pihak-pihak yang merugikan negara. Kasus ini harus menjadi pelajaran penting bagi pemerintah untuk menjaga kepercayaan masyarakat yang mulai menghilang. 

Penulis: Chesia Afrian Siahaan

Referensi

merdeka.com. (2025, 28 Februari). Penjualan BBM Pertamina Turun di Tengah Isu Pertamax Oplosan dan Korupsi, DPR Rayu Masyarakat. Diakses pada 28 Februari 2025 dari https://www.merdeka.com/uang/penjualan-bbm-pertamina-turun-di-tengah-isu-pertamax-oplosan-dan-korupsi-dpr-rayu-masyarakat-328869-mvk.html?page=2

Luka di Negeri Sendiri

Oleh: Alfina Eka Wardani

Di tanah subur, harapan tumbuh

Namun apa yang diperbuat tangan angkuh

Kini tanah ini menangis, langit berduka

Harapan ditelan tangan tangan durjana

Mereka duduk di kursi megah

Berselimut janji, seolah bijak

Namun dibalik senyumannya

Tersembunyi belati menghunus lemah

Jalan berlubang, sekolah runtuh

Rakyat menjerit

Lantas bagaimana dengan mereka?

Akankah mereka berpesta?

Jangan biarkan gelap yang menang

Jangan biarkan hati nurani hilang

Negeri ini milik kita

Bukan untuk mereka semata