KUPAS EKSTRA: Memperkenalkan Ekstra Kampus dan Pembentukan PIB

Reporter: Anisulfuad, Dewima

Kegiatan Kupas Ekstra oleh Badan Eksekutif Mahasiswa

FEB (10/09) – Bidang Kebijakan Publik Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip) mengadakan acara Kupas Ekstra dengan mengangkat tema “Ekstra untuk Apa?” bersama empat organisasi ekstra yaitu Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Acara yang diselenggarakan merupakan pengenalan masing-masing ekstra dan juga diskusi terbuka antara perwakilan ekstra dengan peserta.

Diselenggarakan di Gedung PKM FEB lantai 2, acara ini dihadiri oleh sekitar 40 orang, baik dari perwakilan keempat ekstra dan juga mahasiswa FEB. Alvo Ricardo selaku ketua panitia mengatakan bahwa tujuan acara ini adalah untuk menjalin silaturahmi antar ekstra dan juga organisasi intra yaitu BEM FEB itu sendiri. Selain berdiskusi dan bersilaturahmi, hasil dialog dalam acara ini juga akan di publikasikan kepada publik.

Masing-masing perwakilan ekstra diberi waktu sepuluh menit untuk menyampaikan perkenalan organisasi yang meliputi sejarah, perkembangan, ideologi, dan juga kegiatan di masing-masing ekstra yang dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Dalam perkembangannya, masing-masing ekstra juga mempunyai peran tersendiri dalam mengawal serta membuat suatu tujuan yang baik ke depannya. Selain membahas perkembangan, kaderisasi di setiap ekstra juga tak lepas dari sorotan karena masing-masing ekstra dikenal dengan kaderisasi yang baik. Perwakilan KAMMI menuturkan bahwa kaderisasi KAMMI mempunyai prinsip berbuat baik secara bersama-sama sehingga kekompakan dan kekuatan kaderisasi sangat diutamakan. KAMMI mengandalkan pengenalan dan ajakan secara persuasif yaitu dengan cara personal.

Sesi selanjutnya adalah sesi diskusi yang dipandu oleh Muthahary Hayyurahman (Ketua Bidang Kebijakan Publik BEM FEB Undip) dengan mengangkat topik pembentukan UKM PIB (Pembinaan Ideologi Bangsa). UKM PIB sendiri merupakan UKM yang terdiri atas berbagai ekstra yang didirikan dengan tujuan untuk menangkal bibit radikalisme yang ada di lingkungan kampus. Perwakilan HMI (Adiitya) beranggapan bahwa keberadaan UKM PIB ini sangat membantu keberadaan ekstra. Ekstra yang ada sudah tak lagi dianggap tabu dan sudah diakui oleh Menristekdikti sehingga keberadaan ekstra di lingkungan kampus bisa berkembang. “Acara ini merupakan terobosan yang bagus karena ekstra yang pada awalnya dianggap tabu sekarang sudah tidak dianggap seperti itu lagi,” kata Farhan (Perwakilan dari GMNI). Namun masih ada hal yang ditakutkan yaitu mengenai pencegahan pihak kampus dengan radikalisme yang dikhawatirkan akan ada pada ekstra. Padahal visi dan misi dalam organisasi ekstra sama sekali tidak mengandung unsur radikalisme. Hasil akhir dari diskusi tersebut adalah keempat organisasi ekstra sepakat dan setuju dengan UKM PIB dengan mengawal dan membersamai baik dalam maupun luar sistem pada UKM PIB, “Secara gagasan dan ideologi dengan UKM PIB kita sepakat, cuma jangan sampai ada monopoli ideologi Pancasila dan jangan sampai keberadaan PIB menjadi polisi moral di Undip,” Ujar Farhan (perwakilan GMNI).

Harapan Bidang Kebijakan Publik BEM FEB ke depannya adalah supaya bisa mengadakan kerjasama dengan cara berdiskusi bersama untuk membahas isu-isu di lingkungan kampus. Selain itu harapannya bagi mahasiswa FEB adalah supaya bisa lebih bisa paham dengan organisasi ekstra yang ada di Undip khususnya di FEB.

Penyuluhan Produk Hasil Olahan Jambu Biji Getas Merah, Strategi Pemasaran, dan Perizinan Usaha

Oleh: KKN PPM Tematik Tim II Desa Tlogowungu, Kec. Kaloran, Kab. Temanggung

Penyuluhan Produk Hasil Olahan Jambu Biji Getas Merah, Strategi Pemasaran, dan Perzinan Usaha di Pendopo Kantor Kecamatan Kaloran

Kaloran – Senin (19/08) lalu, mahasiswa KKN PPM Tematik Tim II Desa Tlogowungu melakukan penyuluhan mengenai produk hasil olahan jambu biji getas merah, strategi pemasaran, dan perizinan usaha yang bertempat di Pendopo Kantor Kecamatan Kaloran. Sasaran dalam penyuluhan ini adalah perangkat desa, pelaku usaha, dan masyarakat yang berasal dari  tujuh desa di Kecamatan Kaloran yakni Desa Tleter, Desa Getas, Desa Gandon, Desa Tlogowungu, Desa Kalimanggis, Desa Kwarakan, serta Desa Geblog.

Mahasiswa Berinovasi

Dalam penyuluhan tersebut mahasiswa menjelaskan kepada peserta mengenai berbagai macam olahan produk jambu biji getas merah menjadi produk yang bernilai jual tinggi serta jarang dijumpai sebelumnya. Diantaranya, kerupuk jambu, selai jambu, sirup jambu, cendol jambu, es kopi jambu, sabun jambu, manisan jambu, pestisida nabati, brownis kukus jambu, teh herbal daun jambu, dan toner jambu. Ide kreatif mengolah jambu biji getas merah menjadi berbagai macam produk pangan dan produk kecantikan muncul di karenakan masyarakat selama ini hanya menjual jambu dalam bentuk mentahan, dalam artian tidak di olah menjadi produk lain yang lebih bernilai secara ekonomis. Maka bila panen jambu telah tiba petani cenderung merugi karena harga jambu hanya mencapai Rp. 500/kg tidak sebanding dengan biaya perawatan dan pengairan yang selama ini dikeluarkan.

Produk Hasil Olahan Jambu Biji Getas Merah

Niat mahasiswa ini disambut baik oleh masyarakat dan peserta yang hadir saat penyuluhan, terbukti dengan banyaknya pertanyaan yang dilontarkan mengenai bagaimana cara pengolahan jambu biji getas merah menjadi produk yang bermanfaat di masyarakat serta laku dijual di pasaran.“Benar, selama ini banyak keterbatasan dalam mengolah jambu biji getas merah, saat panen tiba kami hanya bisa menjual jambu dalam keadaan mentah (tanpa diolah terlebih dahulu), adanya penyuluhan ini membuka pikiran kami bahwa ternyata jambu biji getas merah bisa diolah menjadi berbagai macam produk yang bernilai jual, sehat, dan memiliki banyak manfaat serta kandungan bagi tubuh,” ujar salah satu peserta penyuluhan.

Tidak hanya penyuluhan saja, sejumlah mahasiswa juga membawa produk yang telah dibuat di posko untuk di coba peserta yang saat itu hadir dalam penyuluhan lengkap dengan label dan packaging-nya. Selain itu, juga ada yang membuka stand produk olahan dari jambu biji getas merah yakni es kopi jambu dan teh herbal daun jambu yang langsung dibuat saat itu juga ketika ada yang ingin mencoba, istilahnya produk yang disajikan masih fresh karena dibuat secara langsung sesuai permintaan.

Perlunya Strategi Pemasaran yang Menarik

Disampaikan pula bagaimana strategi pemasaran yang tepat untuk produk hasil olahan jambu biji getas merah. Sebelum sampai di situ, ada mahasiswa yang memberikan penyuluhan mengenai bagaimana tata cara foto produk yang benar supaya lebih menarik dan sesuai dengan standar penjualan melalui media online dengan instrument studio foto produk yang dibuat dengan menggunakan kardus dan karton, sangat simpel, murah, dan siapa saja dapat membuatnya. Saat penyuluhan tersebut berlangsung, masyarakat juga mengeluhkan sulitnya memasarkan produk yang selama ini sudah di produksi.

Media online masih menjadi salah satu solusi paling efektif, karena di era globalisasi ini lebih banyak masyarakat yang tertarik untuk belanja online yang praktis, tidak perlu membuang waktu untuk datang ke tempat, bisa di akses dimana saja dan kapan saja, serta banyak potongan harga yang ditawarkan. Maka dari itu, penyuluhan mengenai pembuatan Google My Bussiness, Instagram Bisnis, dan Facebook Page juga dilakukan sebagai media pemasaran produk olahan jambu biji getas merah kedepannya. Minimnya pengetahuan masyarakat di Kaloran mengenai media online sebagai media pemasaran yang menarik, maka mahasiswa KKN akan memberikan pendampingan secara efektif dan berkala melalui Whatsapp Group.

Perizinan dan Rekomendasi Produk

Kepercayaan masyarakat mengenai kualitas produk masih menjadi suatu hal yang sangat penting, dari hal tersebut maka diperlukan perizinan produk sebelum di pasarkan. Saat ini mengurus perizinan sudah dipermudah, dimana pengusaha bisa langsung datang ke Kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, lalu mempersiapkan persyaratan yang ditetapkan, kemudian langsung bisa mendaftar izin usaha melalui sistem terpadu satu pintu yang disebut Single Sign On (SSO) melalui e-mail yang dibuat oleh pengusaha itu sendiri. Tidak perlu khawatir, industri kecil dengan omzet di bawah Rp.50.000.000 bisa mendaftarkan produk usahanya seperti halnya usaha besar atau pabrik. Saat semua syarat telah terpenuhi, pusat akan menyeleksi dan nantinya produk akan mendapat nomor P-IRT, pelaku usahanya pun akan diberikan keterampilan untuk menghasilkan produk yang berstandar guna di pasarkan.

Pendaftaran Izin Usaha di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kab. Temanggung

Tak berhenti sampai disitu, mahasiswa KKN PPM Tematik Tim II Jambu Merah juga memberikan rekomendasi kepada perangkat desa agar produk olahan jambu biji getas merah ini dapat menjadi produk unggulan dari BUMDesa. Setiap desa di tuntut untuk dapat menggali potensi yang dimiliki oleh desa tersebut, maka dari itu guna mewujudkan desa pintar atau smart village salah satunya harus memiliki pengelolaan BUMDesa yang baik dan produk unggulan yang menonjol dari desa tersebut.

Harapan kedepannya, semoga program KKN Tematik Tim II Jambu Merah ini dapat menjadi tumpuan masyarakat untuk mengembangkan produk olahan jambu biji getas merah yang mampu meningkatkan lapangan pekerjaan dan juga mendatangkan kesejahteraan masyarakatnya karena mampu menciptakan industri yang mandiri.

NGOPI AROMA GANJA: Diskusi Legalisasi Ganja dengan Ahli dari Berbagai Bidang

Suasana Acara NGOPI AROMA GANJA

Undip (31/08) – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Peduli Napza Universitas Diponegoro (Undip) menyelenggarakan acara “NGOPI AROMA GANJA (Ngobrol Pintar Argumen Mahasiswa Akibat Gundah Gulana Legalisasi Ganja)”. Acara ini mengangkat tema “Pesona Mariyuana Pengusik Kedamaian Negara”. Acara yang diselenggarakan merupakan acara diskusi yang membahas mengenai pro kontra legalisasi ganja di Indonesia yang perlahan mulai memudar akan tetapi masih menjadi topik hangat di masyarakat.

Bertempat di Ruang Teater Perencanaan Wilayah Kota (PWK) Undip, acara ini menghadirkan empat narasumber yang ahli pada bidang kenarkobaan, hukum, kesehatan serta Lingkar Ganja Nusantara. Narasumber tersebut adalah Susanto (Kepala Bidang Pemberantasan Dan Pemberdayaan Masyarakat BNNP Jawa Tengah), Leony Sondang Suryani (Juara Lomba Debat Konstitusi Nasional tahun 2018), Saebani (Dosen Toksikologi Forensik Undip), dan Yohan Misero (Komunitas Lingkar Ganja Nusantara – LGN). Diskusi ini dipandu oleh Muhammad Khairunaim dengan dihadiri kurang lebih 80 peserta yang berasal dari berbagai kalangan baik dari mahasiswa masyarakat umum serta organisasi-organisasi sosial di daerah Semarang dan bahkan dari mahasiswa luar kota.

Pada sesi pertama ini setiap pembicara memaparkan pandangan mereka mengenai tema yang diangkat dalam acara berdasarkan bidang masing-masing. Moderator memantik jalannya sesi pertama ini dengan meminta penjelasan pada bidang kesehatan. Kemudian moderator melempar pertanyaan mengenai pandangan terhadap isu kepada LGN. “Charlotte Fiqi seorang anak yang menderita sindrom yang penyembuhannya menggunakan tanaman ganja yang diprosuksi menjadi obat bernama Charlotte Swap. Dalam pelarangan tanaman ganja, dalam peredarannya maka orang akan tetap melakukan penyalahgunaan dengan menggunakan ganja sintetis yang jauh lebih berbahaya,” terang Yohan. “Dan penggunaan ganja disini dilihat dalam medis yang di Indonesia sendiri tidak diperbolehkan sedangkan dalam masyarakat ada penyakit yang memang disembuhkan dengan penggunaan tanaman ganja. Di Thailand dan Korea Selatan sudah dilegalkan tanaman ganja namun dengan administrasi dimana masyarakat menggunakan tanaman ganja lewat pemerintah yang mengatur. Negara bagian AS yang menggunakan ganja lebih sedikit dalam overdosis dalam penggunaan opioid dibandingkan negara yang melarang penggunaan ganja dikarenakan penggunaan ganja dan opioid bersamaan membuat kecenderungan overdosis opioid berkurang. Ganja medis sudah ada dipatenkan oleh suatu perusahaan farmasi yang digunakan untuk pasien epilepsi yang mungkin di Indonesia dapat dilaksanakan dalam tahun yang akan datang,” lanjut Yohan Misero.

Foto Bersama Panitia dan Pembicara

BNN sebagai pencegah penyalahgunaan narkoba juga memberikan pandangannya mengenai tema yang diangkat dalam acara ini. “Legalisasi ganja, dalam UU Nomor 35 Tahun 2009 dimana terjaminnya persediaan narkotika untuk medis dan melakukan pemberantasan terhadap penyalahgunaan zat narkotika. Legalisasi ganja dalam UU dimana memasukkan ganja dalam zat narkotika gol 1 yang termasuk kecanduaan golongan tinggi dimana siapapun yang melakukan penyalahgunaan akan di atur sesuai dengan UU pasal 127 dan rehab pasal 54 dan menentukan bentuk rehab dalam pasal 103,” terang Susanto. Menurut Susanto, Ganja di Indonesia penggunaannya terbesar dari negara lain. Di Indonesia, ganja dapat digunakan secara tepat guna dalam dunia kesehatan akan tetapi harus dibuktikan dengan penelitian. Di sesi kedua merupakan sesi diskusi, acara ini memiliki konsep diskusi dua arah yang dalam hal ini peserta juga dilibatkan untuk memberikan argumennya. Tujuannya agar para peserta yang hadir semakin bertambah wawasannya dengan berdiskusi dengan pakar. Sesi selanjutnya merupakan sesi tanya jawab, bagi peserta yang ingin menggali lebih dalam terhadap tema yang diangkat dalam acara ini menanyakan langsung dengan pembicara. Acara ditutup dengan closing statement dari masing-masing pembicara.

Notulensi diskusi dan materi dapat diunduh pada bit.ly/Notulendanmateringopiaromaganja2019

Public Hearing 3: Dari SSO, SIAP Hingga Anggaran Dana

Reporter: Kiki, Yunita

Dwi Cahyo Utomo sebagai Narasumber Public Hearing 3

FEB (2/9) – Bertempat di Hall Gedung C Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip), telah berlangsung acara Public Hearing 3 (PH 3) yang diadakan oleh Senat Mahasiswa (SM) FEB Undip. Acara tersebut merupakan rangkaian acara terakhir setelah beberapa waktu sebelumnya diadakan acara serupa, yaitu PH 1 tentang sarana dan prasarana, serta PH 2 tentang visi dan misi FEB kedepannya.

PH 3 kali ini mengangkat tema “Reformasi Digital Ekonomi Menuju FEB 4.0” dengan pokok bahasan terkait akademik dan kemahasiswaan. Pembahasan tersebut dibagi ke dalam dua sesi talkshow. Sesi pertama diisi oleh Dwi Cahyo Utomo selaku Direktur Keuangan Undip yang juga ditunjuk sebagai Komandan Pasukan Khusus Kontak IT yang mengurusi reformasi sistem informasi yang ada di Undip, dan sesi kedua diisi oleh Firmansyah selaku Wakil Dekan FEB Bidang Akademik dan Kemahasiswaan.

Pada sesi pertama difokuskan untuk pembahasan masa peralihan atau masa transisi sistem informasi khususnya di FEB, yaitu dari Simaweb ke Single Sign On (SSO) serta penggunaan sistem informasi akademik yang baru. Seperti yang diketahui sistem SSO yang digarap tim khusus sejak bulan Februari 2019 ini mulai diterapkan tahun ini pada angkatan 2019, dan akan diimplementasikan secara menyeluruh untuk civitas akademika Undip mulai 1 Januari 2020 mendatang. Sistem Informasi Akademik (SIA) juga sedang disempurnakan menjadi Sistem Informasi Akademik, Penelitian, dan Pengembangan, atau yang lebih dikenal dengan nama SIAP. Perlu diketahui bahwa SSO dan SIAP adalah dua hal berbeda. SSO merupakan sistem informasi terintegrasi dengan cakupan yang luas serta berbagai fasilitas didalamnya, seperti Wi-Fi, One Drive, Office 365, dan lain sebaginya. Sementara SIAP adalah sistem informasi akademik yang merupakan bagian dari pengembangan SSO.

Dikatakan oleh Dwi Cahyo Utomo bahwa adanya SSO bukanlah tanpa alasan. Beberapa tujuan dan alasan pengadaan SSO yaitu untuk membangun digital identity bagi semua civitas akademika Undip, membangun peradaban komunitas digital yang mana komunitas Undip tidak akan pernah lepas selamanya, sebagai salah satu langkah digitalisasi ekonomi dengan memanfaatkan komunitas tersebut, serta sebagai salah satu langah menuju World Class University. Sementara itu, adanya SIAP dimaksudkan agar sistem informasi akademik di Undip lebih terintegrasi.

Selama masa peralihan ini, sistem SSO dan bagian pengembangan dari SSO itu sendiri sedang terus mengalami masa pengembangan sehingga wajar jika belum maksimal atau masih banyak keluhan. Namun perbaikan terus dilakukan agar saat penerapan secara menyeluruh nanti sudah benar–benar siap digunakan. Kesulitan dalam penggunaan SSO maupun SIAP dalam masa transisi ini sebenarnya sudah dibantu dengan adanya video petunjuk dan contact person yang ada di dashboard saat log in SSO. Dengan adanya digitalisasi di berbagai bidang termasuk akademik tujuannya adalah untuk menciptakan sistem yang terintegrasi agar nantinya Undip mampu bersaing dengan perguruan tinggi kelas dunia.

Kemudian dalam sesi tanya jawab, kurang lebih dapat dirangkum terkait pengembangan SSO dan SIAP yaitu bahwa dalam masa transisi dan pengembangan ini, kedepannya otorisasi akan diikuti otentifikasi sehingga meminimalisir kecurangan seperti titip absen. Untuk pengisian Isian Rencana Studi (IRS) melalui SSO, diharapkan masalah server down seperti Simaweb tidak akan terulang kembali. Adanya SSO ini memberikan kepastian bahwa mahasiswa maupun dosen tidak mengalami jadwal yang bentrok. Terkait digitalisasi, adanya SSO juga sangat memungkinkan akan adanya kuliah online.

Kemudian di sesi kedua yang diisi oleh Firmansyah. Sesi ini fokus membahas mengenai hal-hal yang berkaitan dengan bidang akademik, seperti anggaran untuk PKM, PIMNAS, dan perlombaan lainnya.

Firmansyah sebagai Narasumber Public Hearing 3

Hal pertama yang dibahas adalah mengenai PKM. Saat ini untuk mencari data-data guna PKM-P pihak kampus sudah memfasilitasi mahasiswa dengan adanya Bloomberg. Bloomberg mempunyai manfaat yang sangat banyak. Tidak hanya untuk mahasiswa dan dosen, namun juga untuk umum. Namun untuk umum, kedepannya akan dikenakan biaya apabila meninginkan akses Bloomberg.

Terkait adanya keterbatasan akses karena banned yang sering dialami, Firmansyah mengatakan bahwa hal tersebut disebabkan oleh dokumen yang diunduh sudah melebihi batasannya. Sayangnya, sampai saat ini pihak pengelola Bloomberg belum mengetahui batasan tersebut. “Saya sudah berulang kali menanyakan hal ini namun pihak pusat tidak pernah menjawabnya,” Kata Firmansyah.

Rencana kedepannya, Bloomberg tidak bisa diakses setiap hari namun hanya hari-hari tertentu atau saat adanya pelatihan. Hal ini dilakukan agar keberlangsungan Bloomberg tetap berjalan. Namun untuk keperluan PKM, jam operasional Bloomberg akan ditambah.

Pembahasan selanjutnya terkait anggaran PKM, menurut Firmansyah, untuk tahun 2020 besaran anggaran PKM dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Semua kategori sudah ada porsinya masing-masing. Berikut adalah rinciannya: Delegasi seni, budaya, dan olahraga sebesar 51 juta ; Ormawa 315 juta ; Lomba proposal PKM yang lolos masing-masing 250 ribu untuk 100 kelompok ; Kegiatan persiapan yang dilakukan dua kali masing-masing 100 juta ; Delegasi kompetisi dalam dan luar negeri 74 juta.

Pembahasan selanjutnya adalah mengenai pergantian range nilai yang sebelumnya A, B, C dan seterusnya menjadi A, AB, B, dan seterusnya. Pihak fakultas menginginkan hal yang tersebut namun pihak universitas tidak menyetujuinya. Namun sampai saat ini pihak fakultas masih terus mengupayakannya.

Masalah lain yang dibahas adalah mengenai pemindahan gedung untuk magister managemen. Meskipun sudah terdapat anggaran, sayangnya rencana mengenai pembangunan dan pemindahan gedung saat ini belum disetujui pihak universitas.

Terakhir, terkait jam operasional Sekretariat Pusat Kegiatan Mahasiswa, yang semula hanya sampai pukul 17.00 kini diperkenankan sampai pukul 21.00. Perubahan ini sebagai bentuk dukungan fakultas kepada organisasi mahasiswa yang ada di FEB agar dapat meningkatkan soft skill mahasiswanya.

Mengenal Arti Penting Politik Luar Negeri Melalui Diplomatic Festival

Reporter: Marsha, Dhia

Menteri Retno Memaparkan Materi pada Acara Diplofest

Undip (30/8) – Bertempat di Gedung Prof. Soedarto, telah berlangsung Talkshow #MenluRetno yang merupakan salah satu rangkaian dari acara Diplomatic Festival (DiploFest) yang diadakan oleh Kementrian Luar Negeri (Kemenlu). DiploFest terdiri dari dua rangkaian acara, yaitu public lecturer corpbisnis substansi dan festival yang mendidik namun dikemas kedalam bentuk yang disukai oleh anak-anak milenial. Sebelumya, acara DiploFest telah diselenggarakan di lima kota yang berbeda, yaitu Yogyakarta, Surabaya, Makassar, Bandung, dan Padang. Kemenlu menyelenggarakan DiploFest ini dengan tujuan untuk membumikan semua ilmu yang dimiliki diplomat, semua ilmu yang dilakukan dalam diplomasi dan politik luar negeri Indonesia ke dunia sehingga masyarakat dapat menerima ilmu tersebut dan masyarakat bisa sekaligus memahami betapa beratnya dan betapa complicated-nya pelaksanaan sebuah politik luar negeri.

Talkshow ini dihadiri oleh Walikota Semarang, Sekretaris Daerah Semarang, Rektor Undip, Guru Besar Undip, beberapa Dekan Undip, dan jajaran kemenlu. Antusiasme peserta untuk mengikuti talkshow sangat tinggi. Hal ini terbukti dari jumlah peserta yang hadir melebihi kapasitas tempat duduk yang disediakan panitia, sehingga beberapa peserta yang tidak kebagian kursi  harus duduk di atas karpet. Hal menarik dari situasi tersebut yaitu ketika Menteri Retno ikut bergabung untuk duduk di karpet bersama para peserta.

Suasana dalam Acara Diplofest di Gedung Prof. Sudarto SH

Dalam Talkshow Diplofest, Menteri Retno menyampaikan empat isu yang diprioritaskan Indonesia dalam melaksanakan politik luar negeri. Isu yang pertama yaitu mengenai Ekosistem Perdamain. Menurut Menteri Retno, cara memperkuat ekosistem perdamaian yaitu dengan menyuburkan budaya damai. Cara ini berupa  penyelesaian masalah dengan cara damai  seperti berdialog dan negosiasi. Cara kedua yaitu dengan Penguatan Peace Keeping Operation (PKO). Sebagai negara sepuluh besar penyumbang PKO, Indonesia ingin menambah jumlah peace keepers perempuan, tidak hanya di Indonesia tapi dunia. Maksud dalam penambahan ini adalah karena secara kodrati, perempuan akan membawa suasana damai didalam lingkungannya. Sehingga harapannya peace keepers perempuan dapat me-recover korban pasca konflik yang mayoritas adalah anak-anak dan perempuan. Politik luar negeri Indonesia juga sangat gencar dalam mengangkat isu perempuan, hal itu dibuktikan dengan dukungan penuh terhadap isu Women Peace and Securate, yaitu dengan melakukan capacity building. Menteri Retno mengatakan “Kita ingin perempuan menjadi agen perdamaian, agen toleransi, dan agen  kesejahteraan. Hormati kemajemukan, hormati perbedaan, kuatkan toleransi”.

Isu kedua yaitu tentang Penguatan Organisasi Kawasan. Kawasan menjadi sangat penting artinya karena masing-masing kawasan selalu memiliki dinamika yang berbeda-beda. Jika kawasan kuat, maka organisasi dapat menyelesaikan masalah sebelum masalah tersebut berkembang. ASEAN sebagai organisasi negara-negara di kawasan Asia Tenggara, telah menumbuh kembangkan budaya damai diberbagai negara. Indonesia sebagai salah satu negara ASEAN, memiliki konsep inisiatif yang dikagumi oleh negara di kawasan Asia tenggara dan berbagai negara lain. Konsep ini adalah  IndoPacific. Konsep inisiatif tersebut menekankan pada budaya dialog, budaya damai, dan budaya kerjasama. Budaya kerjasama sendiri memiliki empat pilar, yaitu budaya maritim, konektivitas, SDGs 2030, dan kerjasama ekonomi lainnya. “Kita ingin IndoPacific stabil dan aman, karena akan menjadi kesejahteraan sehingga dapat menjadikan Asia aman,” ujar Menteri Retno.

Isu ketiga yang dibahas yaitu mengenai Negara Palestina. Politik Indonesia sangat mendukung Palestina, Indonesia konsisten untuk membantu rakyat Palestina sampai sekarang. Tantangan yang dihadapi Palestina semakin besar. Isu negosiasi dari dunia dengan Palestina terlepas satu persatu diantaranya yakni, status Yerussalem yang sekarang diubah menjadi Ibu Kota Israel, wilayah Palestina yang semakin lama semakin mengecil, dan bantuan yang diberikan kepada pengungsi semakin lama semakin berkurang. “Indonesia tetap akan bersama rakyat Palestina. Mendampingi dan membantu Palestina untuk memperjuangkan hak-haknya,” tegas Menteri Retno. Dalam hal ini Indonesia memberikan bantuan lebih banyak ke PBB untuk Palestina.

Menteri Retno Saat Menemui Media

Selanjutnya, isu yang dibahas yaitu mengenai Diplomasi Ekonomi. Diplomasi ekonomi menjadi salah satu prioritas politik Luar Negeri Indonesia. Diplomasi ekonomi diperkuat dengan memperkuat diplomat melalui pemberian ilmu ekonomi yang lebih dalam dan termasuk ilmu internasional lainnya. Diplomasi ekonomi ini merupakan longterm political invest dan dapat digunakan untuk meningkatkan kinerja ekonomi, pariwisata, politik dengan negara lain. Orientasi pada diplomasi ekonomi akan diperkuat dengan membuka pasar baru, salah satunya pasar Afrika. “Diplomasi ekonomi kedepan akan terus kita perkuat. The benefit of our diplomation must be felt of all of us,”  ujar Menteri  Retno sebagai penutup.

Dipenghujung pemaparan, Menteri Retno memberikan pesan kepada seluruh peserta yang hadir. “Indonesia ingin menjadi negara pemenang. Untuk menjadi pemenang tidak bisa dilakukan pemerintah sendiri melainkan kita semua,” tutup Menteri Retno.

Live In Kesmes 2019: Aksi Nyata, Kerja Kita, untuk Indonesia

Reporter: Yunita, Dewima

Kesmes Melakukan Acara Live In di Dusun Batur Kidul, Semarang

Semarang – Kelompok Studi Masalah Ekonomi dan Sosial (Kesmes) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip) mengadakan kegiatan Live In dengan tema “Ekonomi Pertanian” di Dusun Batur Kidul, Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang pada tanggal 23–25 Agustus 2019. Kegiatan ini merupakan program kerja dari Kesmes yang diadakan setiap tahunnya di tempat yang telah disurvei sebelumnya.

Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang merupakan salah satu desa yang terletak di kaki Gunung Merbabu. Desa tersebut adalah desa cukup terpelosok namun memiliki potensi yang cukup tinggi di sektor pertanian. Setelah survei di berbagai tempat, akhirnya terpilihlah desa tersebut sebagai tempat untuk diadakannya Live In.

Live In merupakan bentuk kegiatan sosial yang mana para pesertanya dapat berinteraksi sosial secara langsung dan merasakan bagaimana kehidupan masyarakat di tempat mereka tinggal untuk sementara tersebut. Live In Kesmes 2019 tersebut diadakan untuk menunjukkan kepada para mahasiswa bagaimana kehidupan di desa karena apa yang dipelajari di dunia perkuliahan belum tentu selaras dengan apa yang terjadi di desa. Adapun tujuannya adalah untuk saling berbagi ilmu, baik dari apa yang dipelajari di kampus yang mungkin bisa diterapkan di desa tersebut maupun sebaliknya.

Selama tiga hari dua malam, para peserta Live In yang terdiri dari panitia, anggota Kesmes, dan volunteer menginap di rumah–rumah warga Dusun Batur Kidul. Mereka melaksanakan berbagai kegiatan yang ditujukan untuk warga dusun, baik yang diisi oleh para peserta maupun dari partner yang didatangkan oleh panitia.

Hari pertama kegiatan dibuka dengan upacara pembukaan dilanjutkan mendatangi rumah warga yang telah dibagi untuk tiap kelompok. Para warga menyambut mereka dengan hangat dan ramah sehingga tidak membuat para peserta canggung. Kegiatan dilanjutkan dengan pemberian pelatihan kepada Kelompok Tani Ngudi Lestari dan Kelompok Tani Hijau Daun serta para peserta tentang pembuatan pupuk cair dengan memanfaatkan limbah sayur. Materi tersebut diisi oleh Bina Mitra.id yang kebetulan juga merupakan mahasiswa Undip. Malam harinya, diadakan kegiatan doa bersama dan acara Jagong Asik yang merupakan acara sharing atau berbincang hangat dengan warga dusun setempat.

Peserta Live In Kesmes Mengajar di Madrasah Ibtidaiyah

Hari kedua, para peserta Live In melakukan kegiatan mengajar di Madrasah Ibtidaiyah dan cek kesehatan warga dusun. Antusiasme para siswa sangat terlihat jelas saat para peserta Live In menggantikan guru mereka untuk mengajar. Dari kegiatan mengajar tersebut, diharapkan para siswa termotivasi untuk mengejar cita–cita mereka sehingga tidak putus sekolah.  Sementara itu, kegiatan cek kesehatan gratis diadakan oleh panitia yang bekerja sama dengan social volunteer dari Fakultas Kedokteran Undip juga diikuti warga setempat dengan antusiasme tinggi. Acara dilanjutkan dengan perlombaan ala tujuh belasan disiang hari dan pensi dengan warga setempat di malam harinya.

Di hari terakhir, peserta berkeliling di ladang untuk belajar bagaimana berladang dari petani langsung dan dilanjutkan dengan membersihkan lingkungan dusun. Upacara penutupan dilaksanakan di sore hari sekaligus sebagai tanda acara telah berakhir.

Kegiatan Live In tersebut memberikan banyak pelajaran bagi para peserta maupun para warga. Nuansa kekeluargaan antar warga yang sangat kental di dusun sangatlah jarang ditemukan di kehidupan saat ini, khususnya di daerah perkotaan. Gotong royong dan guyub rukun serta kesederhanaan dan keramahan mereka memberikan pengalaman baru yang sangat berarti. Begitu pula bagi warga desa, yang mana pelatihan dan kegiatan dari panitia tentu memberikan ilmu yang bermanfaat bagi mereka.

Dari adanya kegiatan tersebut, diharapkan kedepannya dusun tersebut semakin maju baik sektor pertanian, ekonomi maupun pendidikannya. Begitu pula bagi para volunteer dan peserta lainnya agar bisa mengambil pelajaran setelah mengikuti acara tersebut serta tetap menjalin komunikasi dan hubungan yang baik dengan para warga setempat.

Milenial Cinta Islam Bersama IMOT

Reporter: Difa, Camila

Pembukaan Acara IMOT oleh Akhmad Syakir Kurnia Didampingi oleh Perwakilan Unit Kegiatan Mahasiswa Kerohanian

Undip (24/08) – Islamic Motivation Training (IMOT)kembali hadir dengan tema “Aku Milenial, Aku Cinta Islam.” IMOT merupakan salah satu program kerja Mizan, salah satu unit kegiatan mahasiswa di Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip). Acara tersebut merupakan Pembukaan Kaderisasi Kerohanian Islam yang wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa baru yang beragama Islam. Bertempat di Laboratorium Kewirausahaan FEB Undip, acara IMOT mendapatkan tanggapan positif baik dari para mahasiswa maupun dosen.

Acara ini dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Undip serta tilawah oleh salah satu panitia. Mewakili Dekan FEB Undip, Akhmad Syakir Kurnia, memberikan sambutan terkait acara ini yang memperkenalkan topik ‘Toleransi Umat Beragama’ dengan menghadirkan anggota Pelayanan Rohani Mahasiswa Katolik (PRMK), Persekuan Mahasiswa Kristen (PMK), Mizan, dan Keluarga Mahasiswa Buddhis (KMB). Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki keberagaman budaya dan agama, sehingga topik tersebut sangat sesuai untuk dibahas pada acara kali ini.

Materi pertama yang mengangkat tema tentang “Generasi Cinta Islam” disampaikan oleh Ustadz M. Nur Sholeh, salah satu Dosen Teknik Sipil SV Undip. Memulai materi dengan penjelasan mengenai pentingnya perencanaan, beliau memberikan contoh bahwa sebuah rencana harus diikuti dengan adanya aksi nyata. Dengan perencanaan yang matang dan sebuah aksi nyata, mimpi dan hidup kita akan berjalan secara lebih terstruktur. Beliau menceritakan tentang peran penting pemuda dalam perjalanan perkembangan Islam di masa Rasulullah. Bercermin dari masa tersebut, beliau juga menghimbau para pemuda untuk mempersiapkan diri sebagai pemimpin di masa yang akan datang, sesuai target pemerintah tentang Indonesia Emas 2045. Kemudian, materi pertama ditutup dengan sesi tanya-jawab.

Guna menjadikan acara menarik dan tidak membosankan, panitia memberikan sebuah permainan kepada peserta. Hal ini bertujuan untuk membangun jiwa pemberani serta melatih kreativitas para mahasiswa. Untuk menimbulkan antusiasme peserta, panitia menyiapkan berbagai hadiah.   

Setelah ISHOMA, acara dilanjutkan dengan penyampaian materi kedua. Dalam kesempatan ini Ustadz Ahmed Dzakirin mengangkat tema “Pentingnya Mentoring sebagai Wujud Cinta Islam.” Materi ini disampaikan dengan harapan mahasiswa dapat menyambut antusias program mentoring yang merupakan agenda wajib akademik FEB Undip.

Pada akhir acara, diadakan pembagian kelompok mentoring untuk mahasiswa baru, serta pelantikan pe-mentoring. Diharapkan dengan adanya IMOT, mahasiswa dapat beradaptasi dengan iklim dakwah di lingkungan kampus.

Mahasiswa KKN Undip Melakukan Revitalisasi Bank Sampah di Desa Temon

Mahasiswa KKN Undip Desa Temon Bersama Perangkat Desa

GROBOGAN – Tim  II KKN Undip 2019 Desa Temon pada minggu ke empat menjalankan program multidisiplin berupa revitalisasi bank sampah yang diadakan di Balai Desa Temon dengan sasaran yaitu perangkat desa dan perwakilan warga Desa Temon. Kegiatan dimulai pukul 09.00 WIB dengan materi dari semua anggota tim berdasarkan bidang ilmunya masing-masing. Kegiatan ini juga di hadiri oleh sekretaris desa Temon, Eko selaku penanggungjawab untuk Tim KKN dari Desa Temon.

Revitalisasi bank sampah yang dilakukan oleh Tim II KKN Undip 2019 merupakan upaya mengatasi masalah sampah yang menjadi problem utama di Desa Temon. Selain itu produk yang menjadi icon dalam program ini yaitu akuaponik sebagai bentuk pemanfaatan sampah anorganik dan pupuk kompos sebagai bentuk pemanfaatan sampah organik. Adanya kedua produk tersebut diharapakan dapat menjadi contoh bagi masyarakat Desa Temon dalam memanfaatkan sampah anorganik dan organik serta dapat memilahnya dengan baik dan benar.

Akuaponik dibuat dengan memanfaatkan sampah gelas plastik bekas minuman dan juga ember bekas dengan budidaya sayuran bayam. Sedangkan pupuk kompos dibuat dari sampah organik yang diambil langsung dari Pasar Temon dengan jenis kompos yang dibuat yaitu jenis keranjang takamura yang lebih mudah dan sederhana sehingga mudah untuk diterapkan. Peserta yang mengikuti kegiatan acara ini sangat antusias dan tertarik terhadap produk unggulan dari program multidisplin Tim KKN Desa Temon.

Mahasisa KKN Undip Menyampaikan Materi Kepada Peserta yang Hadir

Materi lain dari kegiatan revitalisasi bank sampah ini yaitu adanya edukasi mengenai dampak sampah bagi kesehatan. Tujuan adalah untuk membuka wawasan dan kesadaran warga Desa Temon agar nantinya dapat mengelola sampah dengan baik dan benar. Selanjutnya materi mengenai edukasi pemilihan TPA (Tempat Pembuangan Akhir) di Desa Temon. Tak hanya itu saja, Tim KKN Undip juga memberi edukasi mengenai pemanfaatan kulit semangka sebagai manisan yang produk olahannya dapat secara langsung di nikmati oleh peserta kegiatan. Akhir dari kegiatan program ini dibagikan leaflet mengenai pengelolaan sampah yang baik dan benar serta pemanfaatannya. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini masyarakat Desa Temon mulai bijak dalam mengelola sampah sehingga tidak lagi menjadi masalah utama di Desa Temon. Selain itu juga meningkatkan kesadaran para warga agar lebih tertib dalam membuang sampah pada tempatnya dan tidak membakarnya kembali.

“Transformasi” Gemblong Menjadi Makanan Khas Kekinian Wujudkan Potensi Bisnis Desa Banding oleh Mahasiswa KKN Undip

Mahasiswa KKN Undip Desa Banding Mengikuti Expo KKN Kabupaten Semarang

Semarang – Maraknya berbagai macam makanan kekinian yang memadati industri kuliner serta ketatnya persaingan bisnis kuliner saat ini menuntut setiap pelaku bisnis dalam bidang tersebut untuk membuat inovasi dan kreasi tanpa menghilangkan ciri khas dari produk pangan itu sendiri. Di Desa Banding, Kecamatan Bringin terdapat potensi makanan khas berbahan dasar olahan singkong yang dikenal dengan istilah ‘Gemblong’. Namun kurangnya pengetahuan dan wawasan akan inovasi produk serta analisis bisnis membuat potensi makanan khas desa ini belum berkembang sejak puluhan taun silam dan justru semakin terabaikan. Hal tersebut yang mendorong Mahasiswa Tim II KKN Undip Desa Banding yang terdiri dari berbagai mahasiswi dengan latar belakang disiplin ilmu yang berbeda yaitu Ilma Nur Hayati (Fakultas Kedokteran), Citra Cahaya Yustika (Fakultas Pertanian), Dhita Yulianda (Fakultas Ekonomika dan Bisnis), Bella Annisa (Fakultas Hukum) dan Astri Kurniawati (Fakultas Ilmu Sosial dan Politik) untuk menyelenggarakan perencanaan pengembangan inovasi potensi makanan khas Desa Banding menjadi makanan khas yang dapat  dilirik oleh kalangan masyarakat modern saat ini.

Program yang ditujukan kepada semua lapisan masyarakat desa baik dari perangkat desa, petani, pengrajin gemblong dan pemuda karang taruna desa ini dilaksanakan pada hari Sabtu (10/8) pukul 20.00 WIB di Aula Balai Desa Banding. Pelaksanaan program perencanaan ini disambut dengan antusias oleh tiap kalangan peserta yang hadir dalam kegiatan sosialisasi tersebut. Sebab banyak pihak yang berharap potensi makanan khas desa ini dapat dioptimalkan dan di-branding sebagai salah satu produk pangan olahan singkong yang khas dari Desa Banding serta dikenal tidak hanya oleh warga sekitar, tetapi juga oleh masyarakat luar daerah maupun provinsi.

Inovasi Olahan Gemblong oleh Mahasiswa KKN Undip

Kegiatan perencanaan optimalisasi ini terdiri dari berbagai aspek sesuai dengan prioritas permasalahan yang didapat yakni, mulai dari penyuplaian bahan baku, pengorganisasian sumber daya manusia yang baik dan benar analisis bisnis marketing, perizinan produk pangan hingga pertimbangan kandungan nilai gizi dari produk pangan tersebut. Dimana setiap penjelasan aspeknya, dipaparkan oleh mahasiswi dengan disiplin ilmu berkaitan. Kegiatan tersebut juga dilanjutkan dengan percobaan pembuatan inovasi produk Gemblong dari kreasi varian rasa, segi pengemasan dan juga merek dagang yang akan digunakan. Hasil inovasi yang telah dibuat kemudian dipamerkan dalam program pameran Expo se-Kabupaten Semarang yang diselenggarakan pada hari Selasa (13/08). Acara tersebut melibatkan banyak pihak serta peserta KKN dari berbagai daerah di Kabupaten Semarang.

Mahasiswa KKN Membantu Penginputan Data PTSL

Pada hari Jumat, 2 Agustus 2019, mahasiswa Tim II KKN Undip 2019 membantu perangkat desa dalam penginputan data PTSL yang merupakan program lanjutan dari pengisian data PTSL sebelumnya. Mahasiswa dan mahasiswi dari Tim II KKN UNDIP di Desa Kambangan berpartisipasi dalam penginputan data pada program pemerintah yang berupa sertifikat massal ini.

Kegiatan ini bertempat di kediaman bapak sekretaris desa, Bapak Abidin. Kegiatan ini dibimbing oleh tenaga ahli, Bapak Azis, dengan memberikan pengarahan langsung kepada 11 mahasiswa dalam hal tata cara penginputan pada PTSL secara sesuai. Setelah pemberihan pengarahan tentang tata cara penginputan maka dilanjutkan dengan tindakan langsung oleh mahasiswa dan mahasiswi dalam hal penginputan menggunakan laptop dari para mahasiswa dan mahasiswi.

Kegiatan yang berlangsung selama dua jam dengan menghasilkan sekitar 40 lembar sertifikat yang sudah terinput pada Microsoft Excel yang sudah disiapkan. Diharapkan dengan bantuan dari mahasiswa dan mahasiswi dapat membantu cepat terselesaikannya program PTSL tersebut.