Sekolah Pasar Modal 2021: Be The Great Investor and Let The Capital Works

Oleh: Alam Suprobo

(FEB Undip 22/3) – Telah dilaksanakan Sekolah Pasar Modal (SPM) yang diselenggarakan oleh Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip). Event tahunan yang diselenggarakan oleh KSPM ini mengusung tema “Be The Great Investor and Let The Capital Works”. SPM merupakan salah satu rangkaian Diponegoro Capital Market Days (DCMD) 2021. Acara yang diselenggarakan melalui platform zoom ini dimulai pada pukul 08.40 WIB dan dihadiri juga oleh Hendrar Prihadi selaku Wali Kota Semarang. Tiga pembicara hebat dihadirkan dalam acara ini yaitu Akhmad Nuryanto (Trainer KP BEI Jawa Tengah I), Rendy Yudistira (Senior Educator PT Philip Sekuritas Indonesia), dan Frisca Devi Choirina (Co-Founder Ngertisaham). Dilangsungkannya acara ini bertujuan untuk mengedukasi peserta yang hadir agar berani berinvestasi di pasar modal melalui pembekalan materi yang disampaikan oleh ketiga pembicara. Tidak hanya mahasiwa Undip saja yang menghadiri acara ini melainkan juga ada mahasiswa dari berbagai universitas, kemudian ada juga dosen. Jadi acara ini bukan hanya ditujukan kepada mahasiswa Undip saja melainkan dari berbagai elemen yang ingin mengetahui lebih dalam mengenai investasi di pasar modal.

Pemaparan materi yang pertama disampaikan oleh Akhmad Nuryanto, di mana pemateri telah menjelaskan secara rinci mengenai definisi dari investasi, dan dasar-dasar pasar modal sehingga diharapkan dapat membuka pandangan peserta sebelum lanjut ke sesi berikutnya. Di akhir pemaparan materinya beliau memberikan tips melihat performa perusahaan agar mampu berinvestasi secara tepat kemudian disambung sesi tanya jawab. Pada sesi tanya jawab salah satu pertanyaan yang diajukan yaitu alasan dari adanya aturan auto reject atas investasi. Walaupun sedikit terkendala jaringan akhirnya Yanto (sapaan akrabnya) memberikan jawaban bahwasannya adanya aturan auto reject digunakan untuk keamanan investasi sehingga investor dapat terlindungi. Pemateri kedua yaitu Rendy Yudistira yang menyampaikan materi mengenai analisa teknikal. Di awal penyampaiannya beliau mengatakan, “Analisa teknikal digunakan untuk trading, trading artinya yaitu berdagang saham dalam jangka waktu yang bisa dibilang pendek”. Analisa ini juga digunakan untuk menentukan waktu yang tepat untuk membeli atau menjual saham. Analisa teknikal ini sendiri adalah analisa pergerakan harga kedepan. Dalam menganalisa pergerakan harga data yang digunakan adalah data harga masa lalu dan juga data volume masa lalu. Data harga kaitannya dengan data historis dari harga yang sudah terbentuk sebelumnya sementara data volume berkaitan dengan volume perdagangan yang terbentuk sebelumnya. Rendy juga menjelaskan asumsi dalam analisa teknikal (dow theory) yaitu market action discounts everything, price moves and in trends, dan history repeat itself. Setelah pemaparan materi selesai dilanjutkan sesi tanya jawab di mana peserta SPM sangat antusias sekali dalam bertanya.

Pemaparan materi yang ketiga disampaikan oleh Frisca Devi Choirina mengenai “Pentingnya Analisis Fundamental dan Analisis Teknikal”. Return (cuan) yang optimal akan didapatkan apabila bisa menggabungkan analisis teknikal dan analisis fundamental. Analisis teknikal identik dengan investasi jangka pendek sementara analisis fundamental identik dengan investasi jangka panjang. Belajar analisis fundamental digunakan untuk mengetahui alasan mengapa membeli saham suatu perusahaan, bisa berdasarkan kinerja yang bagus, dan lainnya. Sementara analisis teknikal membantu menentukan kapan waktu yang tepat untuk bisa mengoptimalkan return. Mince (sapaan akrabnya) menyampaikan, “Namanya aja pasar modal bukan pasar cuan jadi fokus kita lebih baik apa? Belajar manajemen resiko dan mengumpulkan modal, cuan itu anggep aja bonus pasti ngikut dengan sendirinya kalau kita udah punya modal yang kuat dan ilmu untuk memanajemen resiko tersebut”. Di akhir penyampaian materi Mince memberikan kalimat yang sangat bagus yaitu berani untung berani rugi juga. Sesi tanya jawab berlangsung sangat seru karena antusias peserta cukup tinggi akan tetapi karena waktu yang terbatas akhirnya dicukupkan. Setelah penyampaian materi dari ketiga pembicara selesai. Acara ini diakhiri dengan sesi kuis berhadiah sampai akhirnya ditutup oleh master of ceremony (MC).

Memaknai Kebangkitan Nasional Bangsa Indonesia

Oleh : Banindhia Shalfa Aisyahadani

Hari Kebangkitan Nasional setiap tahunnya selalu diperingati pada tanggal 20 Mei. Tujuan dari diperingatinya Hari Kebangkitan Nasional adalah untuk mengenang awal pergerakan pemuda di Indonesia. Selain itu, Hari Kebangkitan Nasional, atau yang biasa kita sebut sebagai Harkitnas ini diperingati bertepatan dengan berdirinya organisasi Budi Oetomo, yaitu pada 20 Mei 1908.

Pada awalnya, Boedi Oetomo merupakan sebuah organisasi yang didirikan akibat adanya kebijakan politik etis yang dicanangkan oleh van Deventer pada masa Belanda. Politik etis adalah pemikiran bahwasanya pemerintah kolonial Hindia Belanda memiliki tanggung jawab secara moral kepada pribumi yang telah membantu mereka mencapai kemakmuran dan kesejahteraan. Dalam perancangannya, politik etis ini memiliki tiga program utama atau trias politika, yang berfokus pada irigasi, emigrasi, dan edukasi. Organisasi Boedi Oetomo sendiri merupakan perwujudan dari salah satu program tersebut, yaitu edukasi, yang kemudian didirikan oleh Sutomo dan sejumlah mahasiswa STOVIA, sekolah kedokteran Jawa yang menjadi cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Seiring berjalannya waktu, Boedi Oetomo memiliki peran yang cukup penting dalam mempersatukan rakyat Indonesia sebagai upaya untuk meraih kemerdekaan Indonesia. Organisasi Boedi Oetomo ini menjadi pelopor organisasi pergerakan nasional yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia sehingga dijadikan landasan penetapan 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Kebangkitan nasional memiliki makna atau arti yang sangat dalam bagi bangsa Indonesia. Kebangkitan nasional merupakan titik awal mula bangkitnya rasa dan semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme. Selain itu, ini juga menjadi titik munculnya kesadaran masyarakat Indonesia untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia, yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan Belanda dan Jepang. Masa kebangkitan nasional ini ditandai dengan terjadinya dua peristiwa penting, yaitu berdirinya organisasi Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908 dan ikrar Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.

Kebangkitan nasional merupakan tonggak awal mula persatuan seluruh pemuda yang bersumpah atas nama Indonesia. Para pemuda Indonesia mengaku bertanah air, berbangsa, dan berbahasa satu, yaitu Indonesia. Indonesia merupakan satu kesatuan yang sama sekali tidak mengacuhkan adanya perbedaan suku, agama, ras, dan budaya. Kebangkitan nasional memberi isyarat bahwa para pendiri bangsa Indonesia ini menjadikan keberagaman yang ada sebagai salah satu kekuatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dengan bermodalkan kesadaran akan pentingnya persatuan dan kesatuan, akhirnya bangsa Indonesia mampu mengusir penjajah dan mengantarkan rakyat Indonesia ke gerbang kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Tujuan diperingatinya Hari Kebangkitan Nasional tiap tahunnya adalah untuk memelihara, menumbuhkan, dan menguatkan semangat gotong-royong kita sebagai landasan dasar dalam melaksanakan pembangunan Indonesia. Selain itu, tujuan diperingatinya Hari Kebangkitan Nasional ini adalah untuk mengenang kembali bagaimana semangat perjuangan bangsa Indonesia pada zaman dahulu. Dalam pelaksanaannya di masa sekarang, Hari Kebangkitan Nasional ini diharapkan dapat menjadi pengingat bagi bangsa Indonesia untuk terus meningkatkan semangat nasionalisme dalam mengisi kemerdekaan.

Di masa kini, adanya peringatan Hari Kebangkitan Nasional diharapkan dapat menjadikan masyarakat Indonesia sebagai masyarakat yang unggul dalam segala hal. Dengan begitu, bangsa Indonesia dapat mewujudkan pembangunan nasional yang optimal serta maksimal. Terlaksananya pembangunan yang optimal ini tentu menjadi harapan besar agar kelak negara ini dapat mencapai kesejahteraan dan kemakmuran bagi seluruh masyarakat Indonesia sesuai dengan salah satu tujuan didirikannya negara Indonesia seperti yang telah tertuang dalam pembukaan Undang Undang Dasar 1945, yaitu memajukan kesejahteraan umum. Pembangunan tersebut tentunya perlu dibersamai dengan semangat nasionalisme yang diharapkan terus meningkat setiap tahunnya. Namun, perlu diingat juga bahwa jangan sampai jiwa nasionalisme yang dimiliki alih-alih justru membuat masyarakat Indonesia menjadi ultranasionalis dan menjadi salah satu faktor yang menyebabkan disintegrasi bangsa.

Makna diperingatinya Hari Kebangkitan Nasional ini sebaiknya tidak dilihat hanya sebatas ritual untuk melakukan upacara rutin setiap tahunnya saja, melainkan setiap warga negara Indonesia diharapkan mampu membuktikan diri mereka melalui karya yang bisa mendukung kemajuan bangsa Indonesia. Seluruh bagian dari bangsa Indonesia hendaknya saling mengisi kemerdekaan dengan cara mempererat persatuan dan kesatuan yang akan menjadi landasan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Melalui peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang dilaksanakan tiap tahunnya, generasi penerus bangsa juga diharapkan dapat melanjutkan makna dan semangat kebangsaan yang telah diawali oleh para pendahulu bangsa. Sehingga generasi penerus bangsa juga dapat mengembangkan berbagai upaya untuk mengatasi tantangan kehidupan berbangsa dan bernegara di masa kini maupun di masa depan. (lth)

Guest Lecture sebagai Rangkaian Dies Natalis FEB UNDIP ke-61

Oleh: Anya

Penandatanganan Letters of Intent secara online

FEB Undip (04/05) – Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) telah mengadakan acara Guest Lecture dalam rangka Dies Natalis FEB Undip ke-61. Acara ini berlangsung sejak pukul 08.30 sampai pukul 10.15 WIB dengan menggunakan media Zoom Meeting. Guest lecturer pada acara ini merupakan Prof. Paul Cheung yang merupakan direktur Asia Competitiveness Institute (ACI) dan juga merupakan profesor Lee Kuan Yew School of Public Policy, National University of Singapore (NUS).

Acara ini mulai dibuka oleh Master of Ceremony (MC) sekitar pukul 09.00 WIB dengan kata sambutan. Kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, serta pengisian form attendance bagi para peserta acara ini. Setelah itu, MC mempersilakan Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro yaitu Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si. untuk memberikan pidato pembuka untuk acara ini.

Masuk ke agenda acara selanjutnya yaitu penandatanganan kesepakatan atau Letter of Intent (LoI) antara Universitas Diponegoro dan Lee Kuan Yew School of Public Policy, National University of Singapore. Dalam penandatanganan letter of intent yang dilakukan secara online ini, Universitas Diponegoro direpresentasikan oleh Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si. Sedangkan National University of Singapore direpresentasikan atau diwakili oleh Prof. Paul Cheung. Setelah selesai dalam sesi online signing ceremony kesepakatan (Letter of Intent) kedua instansi, acara memasuki agenda utama yaitu kuliah umum bersama Prof. Paul Cheung. Kuliah umum ini mengusung topik “Measuring Competitiveness in The Field of Human Resources: Asia Competitiveness Institute Approach”. MC memberikan kendali kepada moderator dalam sesi kuliah umum. Moderator pada sesi kuliah umum ini adalah Dr. Jaka Aminata, S.E., M.A yang merupakan dosen FEB Undip dan koordinator International Office, FEB Undip.

Dalam topik pembahasan “Human Resource, Economic Competitiveness, and Regional Development” yang dibawakan oleh Prof. Cheung, dapat didapatkan salah satu inti atau pokok pembahasannya adalah pentingnya pengembangan human resource dalam kemajuan ekonomi. Pekerjaan di masa mendatang pada Revolusi Industri 4.0 akan memiliki tingkat otomasi yang lebih tinggi, digitalisasi, skill-intensive dengan mobilitas pekerjaan yang tinggi. Maka, penting bagi Indonesia khususnya sebagai salah satu negara dengan populasi yang besar di dunia yang merupakan potensi besar ini, untuk meningkatkan kualitas human resources-nya dalam rangka memajukan perekonomian bangsa.

Dalam kuliah ini, Prof. Cheung  membahas tentang penilaian daya saing human resource di Indonesia dalam perspektif sub-nasional, dalam penilaian ini digunakan ACI Competitiveness Framework. Dalam assessment ini secara spesifik menyoroti Provinsi Jawa Tengah dibandingkan provinsi lainnya di Indonesia. Secara singkat, hasil peringkat daya saing secara keseluruhan adalah peringkat 3. Dalam aspek finansial, bisnis, dan kondisi tenaga kerja (manpower condition), Jawa Tengah berada di peringkat ke-3 dan dalam aspek kualitas kehidupan dan infrastruktur berada pada posisi ke-6.

Mengatur sumber daya manusia dalam rangka mendukung Making Indonesia 4.0, pemerintah Indonesia merilis Making Indonesia 4.0 Roadmap atau peta jalan terintegrasi untuk mengimplementasikan  strategi dalam memasuki era Industri 4.0 di Indonesia. Hal ini dilakukan pemerintah supaya Indonesia memiliki daya saing yang tinggi secara global dan tidak tertinggal negara lainnya. Selain itu, perlunya untuk merevitalisasi sektor industri di Indonesia, memanfaatkan digital leap, serta pentingnya menyadari bahwa populasi penduduk terbesar ke-4 di dunia merupakan aset bangsa yang sangat perlu untuk dimanfaatkan dan dikembangkan dengan baik. Dalam hal ini, perlu disadari bahwa human resources adalah elemen penting yang berperan dalam Making Indonesia 4.0 atau bahkan bagi perekonomian secara makro.

Hingga pada sesi tanya jawab, antusiasme peserta kuliah umum dalam rangka Dies Natalis FEB Undip ke-61 ini nampak dengan banyaknya pertanyaan menarik yang ditujukan untuk Prof. Cheung selaku guest lecturer. Pertanyaan-pertanyaan tersebut juga berhasil memancing jawaban dan pembahasan yang menarik. Setelah sesi tanya jawab usai, acara ditutup oleh pembawa acara dan selesai sekitar pukul 10.15 WIB.

Psychopreneur: Menilik Dunia Kewirausahaan dengan Kacamata Psikologi

Oleh: Putri Nurmalia dan Indah Sulistyo

UNDIP (2/5) – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Psikologi Universitas Diponegoro telah menyelenggarakan Webinar Nasional Psychopreneur “Menyelami Dunia Entrepreneur dengan Kacamata Psikologi” pada tanggal 2 Mei 2021. Webinar kali ini mengusung tema besar “Create a Business, Choose Your Happiness” dan membahas secara rinci topik tentang kewirausahaan dan hubungannya dengan psikologi manusia. Tujuan dari diadakannya acara ini yaitu untuk membangkitkan semangat para pengusaha muda yang baru berencana merintis bisnisnya. Acara ini menghadirkan pembicara ahli di bidangnya masing-masing, yaitu dosen Fakultas Psikologi Undip, Audrey Maximilian selaku Co-Founder Riliv, dan Mirja Rijal Auladi selaku Marketing Shopee Indonesia. Jalannya acara dipandu oleh Dinda Nabilah dan Salma Dienhaq sebagai moderator.

Memulai Usaha dalam Sudut Pandang Psikologi

Materi pertama diisi oleh Unika Prihatsanti, S.Psi., M.A., yang merupakan dosen Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro.  Materi yang disampaikan oleh Unika berfokus tentang peran psikologi dalam  sebuah usaha dan manfaat psikologi dalam usaha. Unika menyampaikan bahwa saat ini menjadi seorang wirausaha merupakan sebuah tren profesi baru di kalangan anak muda. Ia selanjutnya memaparkan bahwa peran psikologi dalam dunia usaha yaitu pelaku usaha dapat lebih memahami dan memberdayakan konsumen sebagai aset dalam memproduksi barang yang bisa mempengaruhi keputusan konsumen dalam membeli barang. Setiap konsumen memiliki value atau nilai tersendiri, apakah itu di harga atau gengsinya yang pada gilirannya mempengaruhi keputusan konsumen tersebut dalam membeli suatu barang/jasa. Psikologi dapat membantu pelaku usaha dalam mengetahui kebutuhan konsumen dan karakteristik pelaku usaha dalam menjalankan suatu usaha. Menurut Unika, karakteristik suatu wirausahawan yang paling utama dan penting yaitu sifat pantang menyerah karena jika tidak mempunyai kegigihan maka kita akan mudah menyerah sebelum waktuya kita sukses. Dalam konteks perusahaan rintisan (start up), psikologi memandang bahwa jika kita ingin berwirausaha atau berbisnis kita harus memulai usaha yang dekat dengan kita atau kita sukai. Kita harus pintar mengeksplorasi sesuatu dan tahu dengan betul apa kebutuhan masyarakat saat ini.

Start-Up dalam Psikologi

Materi kedua, dimoderatori oleh Salma Dienhaq dengan pembicara Audrey Maximillian Herli selaku Co-Founder RILIV.CO. Topik yang dibawa di materi kedua ini membahas tentang usaha start-up RILIV.CO. RILIV merupakan suatu platform untuk memberikan solusi komprehensif nomor satu di Indonesia untuk mengukur, memantau, dan meningkatkan kesehatan mental melalui aplikasi online. RILIV memberikan bentuan untuk healing dengan meditasi dan berbagi masalah yang dimiliki dengan adanya fitur konseling. Akhirnya, konsumen akan langsung berhubungan dengan pihak psikolog yang profesional sesuai dengan kemampuannya. Kedua, adanya fitur hening yang digunakan untuk relaksasi atau menenangkan diri dengan meditasi di mana pun dan kapan pun. Lalu, ada konten-konten jurnal yang sebagian besar berhubungan dengan kesehatan mental dan meditasi yang bisa membantu seluruh masyarakat Indonesia. Selain itu, terdapat juga layanan untuk para karyawan untuk membantu dalam bekerja. Platform ini sampai sekarang telah membantu kurang lebih 400.000 masyarakat di Indonesia

Membranding suatu Produk

Materi ketiga disampaikan oleh Mirja Rijal Auladi selaku Marketing Shopee Indonesia, masih dipandu oleh Salma Dienhaq. Topik yang dibicarakan berupa “Product Branding”. Membangun bisnis tidak hanya bertujuan untung uang saja, tetapi juga memberikan sebuah solusi bagi setiap pihak. Product branding adalah penggunaan nama, istilah, simbol, atau desain untuk memberikan identitas yang unik pada produk di pasar. Product branding harus sesuai dengan perkembangan waktu dan objek pasar yang dituju, sesuai dengan trend marketing milenial jika saat ini. Hal yang perlu diperhatikan berupa konten yang akan ditayangkan, personalisasi, tingkat partisipasi konsumen, serta brand puspose.

Kesimpulan

Pelajaran yang bisa diambil dari start-up RILIV.CO adalah idea is chap, menjadikan start-up yang dibuat adalah sebuah investasi di masa depan, serta be enthusiastic. Perlunya bersosialisasi dengan orang lain. Dapat dikutip dari Maxi, “Membangun start-up tidak hanya membangun bisnis, tetapi juga menciptakan solusi”. Dalam memulai start-up, bisa melihat objek pasar yang akan dituju. Sehingga apa yang akan diperjualbelikan akan sesuai dengan target pasar dan memiliki produk branding yang sesuai.

Kupas Tuntas Magang dan Karir bersama LPM OPINI

Oleh : Annisa Pratiwi R.

(UNDIP 1/5) – Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) OPINI dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro (FISIP UNDIP) telah menyelenggarakan web seminar dengan tema “Beyond Internship and Work”. Seminar ini mengupas topik seputar magang dan dunia kerja, serta tips and tricks dari dua pembicara hebat, yaitu Bryan Gunawan, VP of People Lemonilo dan Efrilia Wahyu Nur R., Associate Product Marketing Manager Traveloka. Seminar dibuka dengan sambutan hangat dari pemimpin LPM OPINI, Nur Laily Mucharomah dan jalannya acara juga dipandu oleh Rahma Kurniasari selaku moderator.

Internship : to Lead The Ship, Not be The Sheep

Materi pertama diisi oleh pembicara Bryan Gunawan. Selain menjadi VP of People, beliau juga menjadi HR Leader & Communication Coach. Materi yang dibawakannya ini berfokus pada magang dan bagaimana seseorang harus menjadi pemimpin, bukan hanya menjadi pengikut. Bryan memimpin seminar dengan banyak berinteraksi dengan para partisipan, melontarkan berbagai pertanyaan dan memancing bermacam-macam jawaban dari peserta seminar. Berbagai pembahasan seputar magang pun juga dikulik, mulai dari konsep magang itu sendiri hingga kepentingan untuk magang. Tidak lupa pula, sebagai pihak dari Lemonilo, tentu Bryan juga mengenalkan nilai-nilai dari Lemonilo yang patut ditanamkan, yaitu “Serving Others, be Great at What You Do, Do What is Right”. Mulai dari mimpi sederhana untuk menciptakan makanan sehat, Lemonilo kini memiliki titik penjualan lebih dari 100.000 di Indonesia. Selain mengenalkan tentang konsep magang, Bryan juga memberikan tips menghadapi interview kerja dan tips seputar penyusunan Curriculum Vitae (CV) dan Application Letter yang baik.

Persiapan Karir setelah Lulus Kuliah

Sesi materi kedua dibawakan oleh Efrilia Wahyu, yang saat ini menjabat sebagai Associate Product Marketing Manager Traveloka. Materi persiapan karir yang dibawakan oleh Efrilia ini dibuka dengan membahas mengenai pentingnya memiliki pemikiran berkembang. Pemikiran yang melihat suatu kegagalan sebagai ruang untuk tumbuh dan bagaimana seorang individu harus mempersiapkan dan mengembangkan dirinya. “In everything we do in life, it always requires a process. The process can be very long by cultivating growth mindset. Including when we face a failure. Its also a learning process”, pesan Efrilia. Tidak jauh berbeda dengan pembicara sebelumnya, Efrilia juga berbagi mengenai pengalaman-pengalamannya dalam berkarir dan juga memberikan tips seputar penyusunan CV yang menarik, bagaimana membangun profil LinkedIn, hingga tips untuk mendapatkan relasi kerja yang luas.

Antusiasme para peserta sangat terasa selama seminar berlangsung. Berbagai pertanyaan dilontarkan saat sesi tanya jawab, hingga waktu yang diberikan panitia pun dirasa tidak cukup untuk menampung semua pertanyaan para peserta. Seminar di akhir dengan sesi foto bersama peserta dan juga pembicara yang hadir.

Talks Today: Membongkar Berbagai Mitos dalam Kasus Kekerasan Seksual

Reporter : Annisa P.R. dan Fitri W.

(UNDIP 30/4) – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Diponegoro telah melangsungkan sebuah acara Talks Today dengan mengusung tema “Kilas Balik Kekerasan Seksual serta Langkah Solutif Terkait Pencegahan dan Penanganannya”. Kekerasan seksual dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk menguasai atau tindakan manipulasi kepada orang lain untuk memaksanya terlibat dalam aktivitas seksual baik secara lisan maupun perbuatan yang tidak dikehendaki. Saat ini, ada lebih dari 400.000 kekerasan seksual yang dilaporkan kepada Komnas Perempuan, artinya Indonesia sangat darurat kekerasan seksual. Hanya beberapa kasus yang mendapatkan penyelesaian secara optimal. Acara ini bertujuan untuk mengetahui lebih dalam mengenai kekerasan seksual yang terjadi dan mampu secara bersama-sama memberikan sikap secara nyata dalam melawannya agar tidak terulang kembali. Tiga perempuan inspiratif hadir sebagai pembicara pada acara tersebut, diantaranya ada Raini Maryke Hutabarat, selaku Komisioner Komnas Perempuan, dan Asfinawati, Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, serta Abigail Manumpil, Ketua Girl Up Semarang. Keseluruhan acara dipandu oleh Astrid Karina, sebagai moderator dan tidak lupa dibuka dengan sambutan dari Ketua BEM UNDIP tahun 2021, M. Chory Firdaus.

Kekerasan Seksual dari Masa ke Masa

Raini Hutabarat, sebagai pembicara pertama, memaparkan materi mengenai “Sejarah Perlawanan Perempuan Indonesia Terhadap Kekerasan Seksual”. Topik ini menyoroti kekerasan seksual perempuan dari masa ke masa dalam konteks sebuah konfliks, mulai dari era penjajahan bangsa Indonesia hingga era politik sekarang. Pada masa penjajahan oleh Jepang, pemerkosaan dan penyiksaan seksual dilakukan sebagai alat intimidasi terhadap penduduk, terutama perempuan, untuk dijadikan “target” dalam konfliks sosial dan perang. Penyangkalan pada rape culture telah dilakukan sejak dahulu bahkan hingga saat ini masih sering terjadi, banyak kecenderungan untuk menyalahkan korban kekerasan seksual, alih-alih menyalahkan para pelakunya. Mirisnya, kerap kali para korban kekerasan seksual disalahkan perihal masalah pakaian yang dikenakan. Pada masa penjajahan Jepang, para perempuan direkrut paksa untuk menjadi pekerja seks, dikenal dengan istilah Jugun Ianfu. Pada tragedi Mei 1998, terjadi pemerkosaan massal etnis Tionghoa. Seharusnya sudah menjadi tanggung jawab negara untuk penanganan kasus kekerasan seksual sebagai pelanggaran HAM, khususnya dengan memenuhi keadilan restoratif terhadap korban, memenuhi hak-hak korban, pemulihan, restitusi, dan dana kompensasi agar korban dapat melanjutkan masa depannya dengan lebih baik. Ada pun untuk memutus kekerasan seksual di lingkungan lembaga pendidikan yang dapat dilakukan civitas akademika, diantaranya dengan mendesak pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, mengeluarkan Mekanisme Pencegahan, Penanganan, dan Pemulihan Korban Kekerasan untuk menghapus rape culture di lingkungan kampus, serta kebijakan lain berupa pengajuan Pakta Integritas dalam organisasi intra kampus, pegawai, dan tenaga pengajar.

Mitos Wanita dalam Kekerasan Seksual maupun Gerakan Sosial

Kemudian, dilanjutkan oleh pembicara kedua yaitu Asfinawati. Diawal pemaparannya, Asfina mencoba mengingatkan audience kepada salah satu sosok inspiratif wanita yakni Marsinah. Tidak hanya itu, Asfina juga membongkar berbagai mitos perempuan dalam kasus kekerasan seksual maupun gerakan sosial yang selama ini telah beredar di masyarakat. Kasus kekerasan seksual yang beredar saat ini justru titik fokusnya bukan pada korban yang dianggap menarik, hal ini dibuktikan dengan banyaknya kasus di mana korban sudah dikategorikan sebagai lansia. Bahkan fakta mengejutkan, terdapat deretan kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum polisi. Asfina menganggap kejadian tersebut sebagai bentuk kekosongan hukum di Indonesia.

Masih berbicara tentang kekerasan seksual, Abigail sebagai pembicara ketiga menekankan pada arti kekerasan seksual itu sendiri, yang saat ini sebagian orang masih menyalah artikan istilah tersebut. “Kekerasan seksual merupakan setiap tindakan seksual, usaha melakukan tindakan seksual, komentar atau menyarankan untuk berperilaku seksual yang tidak disengaja ataupun sebaliknya, tindakan pelanggaran untuk melakukan hubungan seksual dengan paksaan kepada seseorang,” papar Abigail. Selain itu, Abigail juga menyoroti apa saja dampak bagi korban dan berbagai tindakan yang dapat kita lakukan baik dari sisi korban atau penyintas ataupun teman. Setelah pemaparan dari ketiga pembicara, berikutnya adalah sesi diskusi yang dipimpin langsung oleh moderator. Diskusi kali ini lebih banyak membahas terkait isu-isu maupun bagaimana tindakan yang harus kita lakukan baik sebagai teman ataupun masyarakat biasa terhadap korban kekerasan seksual.

Gelar Webinar Ekonomi Syariah, Prodi Ekonomi Islam FEB Undip Turut Hadirkan Wakil Presiden

Oleh: Aji dan Seli

(FEB Undip 28/04) – Program Studi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip) bekerjasama dengan Pegadaian Syariah, Dana Kebaikan Umat, Bank Indonesia, dan OJK guna mengadakan Webinar Ekonomi Syariah dengan tema “Penguatan Industri Ekonomi Syariah di Era Digitalisasi dan New Normal”. Acara yang berlangsung pukul 08.20 WIB ini, dilaksanakan melalui platform Zoom Meeting serta siaran langsung pada kanal Youtube Undip TV Official dengan total audiensi yang hadir lebih dari 600 orang. Audiens yang hadir pada webinar tersebut beragam, mulai dari mahasiswa dan dosen dari berbagai kampus di Indonesia, hingga pegawai perusahaan penyelenggara. Acara ini dipandu oleh dua pembawa acara, yaitu Rica Dwi C. dan Widya Arga P., mahasiswi program studi (prodi) Ekonomi Islam, dengan dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Arab. Menghadirkan empat pembicara yang kompeten di bidang masing-masing, dengan keynote speaker Prof. Dr. K.H. Ma’ruf Amin yang tak lain merupakan Wakil Presiden Republik Indonesia.

Acara diawali dengan pembacaan tata tertib yang dipimpin oleh MC, dilanjut dengan penampilan grup rebana Ready dari Undip. Webinar ekonomi syari’ah dibuka dengan lantunan ayat suci Al Quran oleh Muh. Fahri Fadhilah mahasiswa prodi Ekonomi Islam yang juga seorang hafidz 30 juz. Selanjutnya audiens menyanyikan lagu Indonesia Raya dan dilanjut dengan sambutan oleh Prof. Dr. Suharnomo, SE., M.Si. selaku Dekan FEB Undip dan Prof. Dr. Yos Johan Utama, S.H., M.Hum. selaku Rektor Undip, serta pembacaan susunan acara.

Selanjutnya, Prof. Dr. K.H. Ma’ruf Amin sebagai keynote speakers memaparkan materi mengenai dampak digitalisasi akibat pandemi terhadap ekonomi syariah. Beliau juga memaparkan mengenal empat pilar strategi penguatan ekonomi syariah dalam kenormalan baru, yaitu penguatan infrastruktur termasuk digitalisasi dengan strategi utama dengan pengembangan rantai sistem ekosistem halal, penguatan kelembagaan ekonomi syariah, pengembangan instrumen pasar keuangan syariah, dan meningkatkan literasi ekonomi dan keuangan syariah. Berlanjut kepada grand launching Lomba Paper Forum Riset Industri Gadai Syariah 2021 dengan tema “Membangun Industri Gadai Syariah Berkelanjutan Melalui Sinergi Teknologi, Budaya, dan Gaya Hidup Halal, untuk Membangun Perekonomian Bangsa” yang berhadiahkan total 50 juta rupiah dalam bentuk tabungan emas.

Dilanjutkan pembacaan resume pribadi moderator yaitu Shoimatul Fitri, S.E, M.M. oleh pembawa acara yang turut mengantar audiens kepada materi inti oleh keempat pembicara. Memasuki materi pertama oleh M. Luthfi Hamidi, seorang peneliti ekonomi syariah, mengenai penguatan industri syariah dalam perspektif Quranomics. Dalam materinya, beliau menjabarkan terlebih dahulu mengenai dampak Covid-19 bagi global dan lokal, dampak Covid-19 bagi industri syariah, lalu diakhiri dengan pembahasan mengenai celah pemulihan dari perspektif Quranomics. Lutfhi juga menjelaskan bahwa perlunya kesiapan terkait ekosistem digital dan ditutup dengan tanya jawab bersama audiens.

Materi kedua disampaikan oleh Beni Martina Maulana selaku Kepala Unit Usaha Syariah PT Pegadaian (Persero). Beni menyampaikan topik terkait Pegadaian Syariah di Era New Normal, di mana ia menyampaikan terkait perkembangan pegadaian (pegadaian journey) kemudian profil singkat pegadaian syariah, profil nasabah pegadaian syariah, serta transformasi dan peluang pegadaian syari’ah. Tak lupa pemateri kedua juga ditutup dengan diskusi tanya jawab dengan audiens.

Memasuki pembicara ketiga, webinar ekonomi syari’ah menghadirkan pembahasan mengenai Peran Fintech dalam Industri Keuangan Syariah yang dijelaskan oleh Triyono Gani selaku Kepala Group Inovasi Keuangan Digital OJK yang juga merupakan alumni dari FEB Undip. Webinar ekonomi syariah turut menghadirkan Erwin Haryono selaku Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) yang juga merupakan alumni FEB Undip serta Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Edents. Sebagai pembicara keempat, Erwin membawakan pembahasan mengenai Perkembangan Ekonomi Syar’ah Terkini dan Arah ke Depan. Acara ini berakhir pada pukul 12.45 WIB dengan closing statement dari tiap pembicara serta pembacaan pemenang.

Ketua Prodi Ekonomi Islam yakni Darwanto, S.E., M.Si., M.Sy. mengatakan bahwa kegiatan Webinar Ekonomi Syariah ini juga bersamaan dengan launching Lomba Paper yang merupakan tindak lanjut dari kegiatan ini. “Harapan kami lomba paper akan memberikan banyak ide dan pemikiran mengenai implementasi financial technology dalam praktek keuangan syariah dan sektor riil,” ungkapnya. Beliau juga menambahkan bahwa Prodi Ekonomi Islam FEB Undip mengadakan kegiatan bekerjasama dengan Pegadaian Syariah harapannya menjadi bagian meningkatkan literasi keuangan syariah khususnya terkait implementasi financial technology (Fintech). Era Digitalisasi menuntut pelaku ekonomi memahami manfaat dan resiko penggunaan berbagai transaksi ekonomi melalui berbagai platform teknologi.

Belajar Startup untuk Menghadapi Era Kebiasaan Baru

Oleh: Fatimah dan Luvita

(Undip 25/04) Demi mendukung perkembangan perekonomian Indonesia di era new normal, Unit Kegiatan Mahasiswa Research and Business Universitas Diponegoro (UKM R’nB Undip) menghadirkan sebuah acara dengan tajuk “Roadshow dan Sosialisasi Startup: Road to R’nB Startup Competition 2021”. Acara ini diselenggarakan pada Minggu, 25 April 2021 pukul 09.15 – 11.40 WIB menggunakan platform Zoom. Selain untuk mengembangkan perekonomian di era new normal, acara yang dihadiri oleh kurang lebih 260 orang partisipan ini juga dilangsungkan sebagai salah satu tahapan dalam R’nB Competition 2021.

Acara dimulai dengan pembukaan oleh master of ceremony (MC), yaitu Muhammad Rafli dan Deriza Angelina. Setelah pembukaan, seluruh partisipan diminta untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Selepas itu, dilakukan sesi sambutan-sambutan. Sambutan pertama disampaikan oleh ketua pelaksana Roadshow dan Sosialisasi Startup 2021, Ardan Chrisyufa, dan sambutan kedua disampaikan oleh vice presiden direktur R’nB, Windi Permatasari. Sesi penyampaian materi kemudian dilakukan sebagai penyambung sesi sebelumnya. Terdapat 2 materi yang disampaikan dalam acara ini, yaitu mengenai “Mahasiswa, Bertumbuh dan Startup” dan “R’nB Competition 2021”.

Materi “Mahasiswa, Bertumbuh dan Startup” dibawakan oleh Hendro Sarjito, atau biasa dipanggil Hendro. Dalam presentasinya, Hendro menyatakan bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki potensi serta peluang besar. Potensi dan peluang tersebut harus diolah sebaik mungkin agar dapat memberikan dampak positif bagi sekitar. Startup, sebagai salah satu cara dalam mengolah potensi dan peluang, digadang-gadang dapat menjadi sarana alternatif untuk ditekuni anak muda. Startup juga tentunya akan dapat membantu negara serta masyarakat, karena dalam pembentukannya seorang perintis harus meyakini betul bahwa solusi yang ia tawarkan, lewat startup-nya itu, harus dapat membantu menyelesaikan permasalahan yang ada di masyarakat.

Hendro memaparkan bahwa dalam memulai sebuah usaha rintisan, selain memantapkan tujuan startup, seorang perintis harus menyiapkan strategi semaksimal dan serealistis mungkin, baik dalam strategi pemasaran, strategi anggaran, hingga financial projection-nya. Tentu saja akan ada banyak tantangan dan hambatan yang akan dihadapi perintis, salah satunya terkait pendanaan, namun jangan ragu sebab akan ada banyak hal yang dapat dilakukan perintis untuk menutupi kekurangan dana, yaitu dengan pengajuan modal pada lembaga-lembaga keuangan hingga mengikutsertakan startup yang bersangkutan dalam kegiatan pitching (presentasi di depan calon investor).

Dalam sesi materi pertama, Hendro juga memaparkan mengenai hal-hal apa saja yang harus selalu diperhatikan dalam perkembangan sebuah startup dan cara-cara apa saja yang dapat dilakukan untuk mengetahui keadaan pasar. Di akhir sesinya, Hendro berpesan agar seluruh partisipan tidak pantang menyerah dalam berkreasi dan berkolaborasi. “Ketika membuat platform, dari ideation to creation, muaranya di proyeksi. Ide itu kalau ga dijalankan, kita nggak akan tahu validasi seperti apa, evaluasinya seperti apa, dan kita tidak akan pernah tahu proyeksi kita ke depannya itu seperti apa. Ide kita layak dijalankan lagi atau nggak, (gitu maksudnya). Makanya, sebagai penutup, temen-temen jangan lelah untuk berkreasi dan gunain (apa yang dimiliki) sebagai ladang kreativitas buat temen-temen semua,” pesan Hendro.

Guna meningkatkan keseruan acara, panitia mengadakan kegiatan ice breaking seusai materi pertama berupa game tebak gambar. Hal ini disambut dengan antusias oleh para partisipan. Acara dilanjutkan dengan materi kedua yang disampaikan oleh ketua pelaksana, Ardan Chrisyufa. Materi kedua dipresentasikan mengenai R’nB Competition 2021. Pemateri menyampaikan bahwa R’nB Competition tahun ini mengusung tema “Peran Mahasiswa sebagai Technopreneur Muda dalam Pemulihan Ekonomi di Era New Normal”, yang bertujuan untuk memberikan pengenalan dan pengarahan sebagai awal membangun startup. Tak lupa diadakan pula perkenalan mengenai kompetisi UKM R’nB itu sendiri, yang diharapkan dapat menjadi wadah bagi mahasiswa untuk memecahkan permasalahan yang terjadi di masyarakat.

Serangkaian acara R’nB Competition dilangsungkan dengan tiga sesi. Dimulai dengan kegiatan roadshow sebagai pengenalan startup dan launching R’nB Competition, seperti yang diadakan saat ini. Sesi selanjutnya diadakan sebuah webinar yang serupa dengan kegiatan roadshow dengan mengundang para pembicara yang luar biasa. Sebagai penutup, diadakan kegiatan yang berisi presentasi startup dari masing-masing peserta lomba. “Konsep lomba semua online kecuali untuk final day, tapi itu juga tetap akan menyesuaikan dengan situasi nanti,” tambah Ardan. Sesi pertanyaan kembali dibuka untuk materi kedua ini. Di akhir roadshow diadakan sesi dokumentasi bersama. Kemudian acara ditutup oleh MC pada pukul 11.40 WIB.

Berbagai Persepsi Mengenai Utang yang Semakin Meningkat, Ecofinsc Adakan “Financial Interactive Talk 1”

Reporter: Rijal dan Danny

(FEB Undip 24/04) – Acara Financial Interactive Talk diadakan oleh Economic Finance Study Club (Ecofinsc) yang mengusung tema “Utang Kian Meningkat, Bagaimana Nasib Perekonomian Indonesia Pasca Pemulihan Ekonomi”. Acara yang berlangsung pukul 13.00 WIB ini, dilaksanakan melalui platform Zoom Meeting dengan total audiensi yang hadir hampir mencapai 100 orang. Notabenenya audiensi yang ada pada Fintalk 1 tersebut adalah mahasiswa dari berbagai kampus di Indonesia. Di samping audiensi, acara ini menghadirkan moderator yang andal dengan dua pembicara yang tak kalah berpengalaman di bidang ekonomi.

Acara Fintalk 1 diawali dengan doa yang dipimpin oleh MC, dilanjut dengan pembacaan susunan acara pada siang hari ini. Lalu acara beralih pada sambutan oleh Raymonth Pieter Silaen selaku Project Officer dan dilanjutkan sambutan Al Razi Radja yang merupakan Chief Excecutive dari Ecofinsc. Tak lupa pembacaan CV dari Jeremia Timothi yang merupakan mahasiswa Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan 2018 selaku moderator. Acara Fintalk 1 kemudian beralih tangan kepada moderator dengan pembacaan CV pembicara dari Akhmad Syakir Kurnia, Ph.D. yang merupakan dosen FEB Undip dan Riza A. Pujarama perwakilan Researcher INDEF.

Acara Fintalk 1 memasuki materi pertama dengan pemaparan oleh Akhmad Syakir yang membahas mengenai permasalahan ketika hutang meningkat. Dalam materinya beliau menjelaskan beberapa kekeliruan dalam mendiskusikan utang. Salah satunya mengenai mispesifikasi indikator yang hiperbolis. Beliau mengatakan bahwa banyak masyarakat yang melihat utang negara hanya dari nominalnya saja. Memang jika dilihat dari nominalnya, utang Indonesia mencapai lebih dari Rp 6.000 triliun. Dari nominal tersebut seringkali analisis masyarakat mengenai utang diilustrasikan dengan indikator-indikator yang hiperbolis atau berlebihan dan sering kali tidak relevan. Misalnya saja banyak yang menganggap bahwa jika dihitung-hitung setiap orang di Indonesia menanggung utang sebesar sekian rupiah. Itu adalah perspektif yang kurang tepat. Alangkah lebih baiknya jika masyarakat melihat dari perspektif yang benar dengan berbagai indikator utang yang ada agar tidak terjerumus pada perspektif yang kurang tepat.

Acara Fintalk 1 lalu dilanjutkan oleh Riza Annisa selaku pembicara kedua yang memaparkan materi mengenai utang dan perekonomian Indonesia. Dalam materinya beliau menjelaskan grafik dari berbagai perkembangan utang mulai dari utang publik, utang BUMN, utang luar negeri, hingga pertumbuhan ekonomi nasional yang semakin menurun. Dijelaskan pula undang-undang yang mengatur batas utang nasional yakni Undang-Undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara Penjelasan Pasal 12 ayat 3. Dalam undang-undang tersebut dijelaskan bahwa defisit anggaran negara dibatasi tidak boleh melebihi atau maksimalnya hanya sampai 3 persen. Sementara, negara hanya boleh memiliki utang maksimal sebesar 60 persen dari Product Domestic Bruto (PDB).

Setelah selesai pemaparan materi oleh kedua pembicara, Fintalk 1 pun dilanjutkan dengan sesi tanya jawab oleh moderator dan audiensi. Terdapat beberapa pertanyaan yang diajukan kepada pembicara yang salah satu pertanyaannya menyinggung strategi ataupun kebijakan pemerintah dalam melunasi utang negara yang jumlahnya semakin lama semakin meningkat. Beberapa pertanyaan pun dijawab secara lugas oleh kedua pembicara hingga Fintalk 1 pun berada di penghujung acara. Sebelum acara ditutup, panitia memberikan apresiasinya berupa sertifikat kepada kedua pembicara dan moderator. Fintalk 1 ditutup dengan sesi foto bersama dan doa hingga acara pun berakhir pada pukul 15.30 WIB.

“Let’s Talk about Paper!” bersama KMA Undip

Oleh: Luvita Dyaningsih dan Michelle Jenifer (Undip 27/3)

Keluarga Mahasiswa Akuntansi (KMA) memang bersungguh-sungguh dalam meningkatkan minat mahasiswa-mahasiswa akuntansi terhadap berbagai macam lomba, salah satunya adalah lomba paper atau karya tulis ilmiah. Melalui divisi pendidikan dan pelatihannya, KMA telah menyelenggarakan kegiatan bertajuk Sharing Session with Edution dengan tema “Let’s Talk about Paper!”. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Sabtu, 27 Maret 2021 menggunakan platform Zoom Meeting dan berlangsung sejak pukul 15.45 WIB hingga 17.45 WIB dengan dihadiri oleh kurang lebih 50 peserta. Sharing Session kali ini menghadirkan pembicara Wilhelmus Surya Wicaksana Anggri, atau kerap dipanggil Surya, dari Akuntansi 17 sebagai pembicara. Surya merupakan salah seorang mahasiswa akuntansi yang berprestatif di bidang paper, beberapa dari banyaknya prestasi yang pernah ia raih adalah menjadi top 10 dalam ajang bergengsi IAI APA Award tahun 2020 dan mendapatkan gold medal pada ajang Inova Croatia 2020.

Sharing Session with Edution dimulai dengan pembukaan dan pemaparan rangkaian acara oleh MC, Grahito Wisnugraha. Kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari ketua KMA 2021, Yohanes Adji Prakosa, dan pengenalan program Anchor (Akundip Race Warrior) serta Edution (Education about Competition) oleh para person in charge (PIC) dari program-program tersebut, yaitu Alicia Rosa, atau disapa Oca, dan Faiz Rahmansyah, atau disapa Faiz. Sesi selanjutnya dari kegiatan ini adalah sharing session. Surya diwawancarai oleh Oca, selaku moderator, mengenai beberapa hal yang dirasa perlu diperhatikan dan disiapkan saat menghadapi serta melaksanakan lomba paper. Hal-hal yang dibahas contohnya adalah mekanisme lomba paper, kendala-kendala yang dihadapi saat mengikuti lomba, hingga cara mencari rekan tim yang cocok.

Kemudian, dilangsungkan sesi bedah paper yang dimoderatori oleh Faiz. Surya memaparkan bahwa dalam pembuatan paper, hal-hal yang kecil sekalipun dapat dianggap krusial. Mulai dari perancangan abstraksi, pencarian ide dan data, pembuatan paper serta power point, hingga pemilihan judul, semua harus dilakukan secara maksimal agar mencapai hasil yang maksimal pula. Surya berpendapat ide yang akan dituangkan sebaiknya aktual dan bermanfaat bagi masyarakat. Ide tersebut harus didukung oleh data-data terpercaya yang dapat dipertanggungjawabkan. Surya menjelaskan kombinasi tim yang tepat akan menentukan saat mengikuti lomba paper. Rekan tim yang sebaiknya dipilih merupakan mereka yang mau berkontribusi, berkomitmen, dan kooperatif. Lalu perlu juga membuat rentang manajemen waktu pengerjaan paper untuk memudahkan tercapainya target penulisan.

Dalam penulisan juga perlu memperhatikan guideline yang ditentukan panitia. Dimulai dari pemilihan judul yang harus bisa memantik rasa penasaran pembaca dan abstrak yang menjelaskan keseluruhan isi paper secara singkat hingga ide-ide yang out of the box namun tetap bisa diimplementasikan di masyarakat. Dalam proses penulisan ini, Surya kembali mengingatkan agar tim penulis tidak kekurangan data dan memperbanyak literasi untuk memperkaya diksi yang diperlukan. Data yang digunakan harus relevan, akurat, timely, dan up to date. Dalam tahap presentasi paper, manfaatkan waktu untuk menjabarkan permasalahan dan solusinya, didukung dengan poin-poin kuat dalam paper. Surya memberi tips lain seperti desain yang sesuai dengan isi presentasi, penambahan backsound untuk mengangkat suasana presentasi, dan mempersiapkan jawaban prediksi dari pertanyaan juri.

Di akhir, Surya berpesan untuk jangan takut mencoba. Setiap hal dimulai dengan ketidaknyamanan, maka carilah orang-orang yang dapat membantu. Berani berproses dan jangan takut menghadapi resiko. “Ajang kuliah ini bukan ajang kompetisi, loh, di situ (kuliah) itu ajang kolaboratif, ajang cari network, karena kita ngga ada yang tau ke depannya itu orang bakal jadi apa. Jangan sampai ngeremehin orang juga, siapa pun mereka itu. Kita ngga ada yang tau ke depannya gimana. Jadi, kolaborasi tuh paling penting. Terus, do something to proof that you’re worthy, gitu,” tutur Surya.