Berbagai Persepsi Mengenai Utang yang Semakin Meningkat, Ecofinsc Adakan “Financial Interactive Talk 1”

Reporter: Rijal dan Danny

(FEB Undip 24/04) – Acara Financial Interactive Talk diadakan oleh Economic Finance Study Club (Ecofinsc) yang mengusung tema “Utang Kian Meningkat, Bagaimana Nasib Perekonomian Indonesia Pasca Pemulihan Ekonomi”. Acara yang berlangsung pukul 13.00 WIB ini, dilaksanakan melalui platform Zoom Meeting dengan total audiensi yang hadir hampir mencapai 100 orang. Notabenenya audiensi yang ada pada Fintalk 1 tersebut adalah mahasiswa dari berbagai kampus di Indonesia. Di samping audiensi, acara ini menghadirkan moderator yang andal dengan dua pembicara yang tak kalah berpengalaman di bidang ekonomi.

Acara Fintalk 1 diawali dengan doa yang dipimpin oleh MC, dilanjut dengan pembacaan susunan acara pada siang hari ini. Lalu acara beralih pada sambutan oleh Raymonth Pieter Silaen selaku Project Officer dan dilanjutkan sambutan Al Razi Radja yang merupakan Chief Excecutive dari Ecofinsc. Tak lupa pembacaan CV dari Jeremia Timothi yang merupakan mahasiswa Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan 2018 selaku moderator. Acara Fintalk 1 kemudian beralih tangan kepada moderator dengan pembacaan CV pembicara dari Akhmad Syakir Kurnia, Ph.D. yang merupakan dosen FEB Undip dan Riza A. Pujarama perwakilan Researcher INDEF.

Acara Fintalk 1 memasuki materi pertama dengan pemaparan oleh Akhmad Syakir yang membahas mengenai permasalahan ketika hutang meningkat. Dalam materinya beliau menjelaskan beberapa kekeliruan dalam mendiskusikan utang. Salah satunya mengenai mispesifikasi indikator yang hiperbolis. Beliau mengatakan bahwa banyak masyarakat yang melihat utang negara hanya dari nominalnya saja. Memang jika dilihat dari nominalnya, utang Indonesia mencapai lebih dari Rp 6.000 triliun. Dari nominal tersebut seringkali analisis masyarakat mengenai utang diilustrasikan dengan indikator-indikator yang hiperbolis atau berlebihan dan sering kali tidak relevan. Misalnya saja banyak yang menganggap bahwa jika dihitung-hitung setiap orang di Indonesia menanggung utang sebesar sekian rupiah. Itu adalah perspektif yang kurang tepat. Alangkah lebih baiknya jika masyarakat melihat dari perspektif yang benar dengan berbagai indikator utang yang ada agar tidak terjerumus pada perspektif yang kurang tepat.

Acara Fintalk 1 lalu dilanjutkan oleh Riza Annisa selaku pembicara kedua yang memaparkan materi mengenai utang dan perekonomian Indonesia. Dalam materinya beliau menjelaskan grafik dari berbagai perkembangan utang mulai dari utang publik, utang BUMN, utang luar negeri, hingga pertumbuhan ekonomi nasional yang semakin menurun. Dijelaskan pula undang-undang yang mengatur batas utang nasional yakni Undang-Undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara Penjelasan Pasal 12 ayat 3. Dalam undang-undang tersebut dijelaskan bahwa defisit anggaran negara dibatasi tidak boleh melebihi atau maksimalnya hanya sampai 3 persen. Sementara, negara hanya boleh memiliki utang maksimal sebesar 60 persen dari Product Domestic Bruto (PDB).

Setelah selesai pemaparan materi oleh kedua pembicara, Fintalk 1 pun dilanjutkan dengan sesi tanya jawab oleh moderator dan audiensi. Terdapat beberapa pertanyaan yang diajukan kepada pembicara yang salah satu pertanyaannya menyinggung strategi ataupun kebijakan pemerintah dalam melunasi utang negara yang jumlahnya semakin lama semakin meningkat. Beberapa pertanyaan pun dijawab secara lugas oleh kedua pembicara hingga Fintalk 1 pun berada di penghujung acara. Sebelum acara ditutup, panitia memberikan apresiasinya berupa sertifikat kepada kedua pembicara dan moderator. Fintalk 1 ditutup dengan sesi foto bersama dan doa hingga acara pun berakhir pada pukul 15.30 WIB.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *