Reporter: Fitri dan Indah

Undip (26/12) – Telah dilaksanakan Orasi Terbuka Calon Ketua dan Wakil Ketua BEM Universitas Diponegoro (Undip) 2021 pada pukul 13.00 WIB melalui platform Microsoft Teams. Acara ini bertujuan untuk membuat seluruh mahasiswa Undip lebih kenal dan kritis terhadap pasangan yang mencalonkan diri menjadi Ketua dan Wakil Ketua BEM Undip 2021. Orasi ini bisa diikuti oleh seluruh mahasiswa Undip dari berbagai fakultas.
Acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Undip oleh seluruh peserta yang hadir, lalu terdapat sambutan oleh Muhammad Izzy selaku Ketua Panitia Orasi. Kemudian acara dilanjutkan dengan waktu orasi. Waktu yang diberikan dalam orasi ini terbagi menjadi lima tahap, yaitu penyampaian visi dan misi GDO, sesi panelis yang mengkritisi dari apa yang disampaikan pasangan calon, sesi tanya jawab dari panelis, sesi tanya jawab dari para audience, serta closing statement dari pasangan calon.
Proses orasi dipimpin langsung oleh Beny Rifqi Yafi Hibatullah selaku moderator. Panelis dalam acara ini yaitu Razin Hilmy Baihaqi yang merupakan Ketua BEM Undip 2020 serta Paulus Reinhard Maruli Siagian dari Ketua BEM Fakultas Hukum 2020.
Penyampaian Visi, Misi, dan Program Unggulan Daus-Chory
Untuk visi dan misi disampaikan oleh pasangan calon dengan cukup singkat. Dimulai dari Thufail Addausi yang menyampaikan visi mereka. Terwujudnya BEM Undip 2021 sebagai Arunika Karya untuk Undip dan Indonesia, ujar Daus. Kemudian dilanjutkan oleh wakil pasangan, yakni Chory, untuk menyampaikan enam misi yang diusung oleh pasangan calon.
Chory memyampaikan, “Pertama yaitu memperkuat pergerakan melalui diskusi dan pengawalan isu, baik internal maupun eksternal kampus. Lalu, mendekatkan mahasiswa dengan masyarakat dalam bentuk pengabdian demi menunjang kebermanfaatan. Ketiga, mewujudkan citra lembaga yang atraktif terhadap stakeholder melalui optimalisasi media yang intelektual dan faktual serta penguatan relasi kerja BEM Undip. Kemudian, membangun internal organisasi yang harmonis dan totalitas dengan penuh kebanggaan bagi pengurus BEM Undip. Selanjutnya, mengoptimalkan BEM Undip sebagai rumah aspirasi pelayanan serta pengembangan mahasiswa yang inovatif, konstruktif, dan progresif. Dan terakhir, mengoptimalkan iklim prestatif dalam pengembangan potensi mahasiswa baik tingkat nasional dan internasional.” Kemudian paslon ini juga menyampaikan program unggulan yang akan diusung oleh mereka ke depannya, yaitu Forum SDGs, SDGs On Air, dan Mas Mbak Universitas Diponegoro.
Panelis Nilai Sebagian Misi Hanyalah Naratif Bukan Langkah Konkrit
Setelah pemaparan GDO dari pasangan calon tersebut, dilanjutkan sesi tanya jawab yang dipimpin oleh moderator. Tanya jawab kali ini terbagi menjadi dua, yakni tanya jawab dengan para panelis dan tanya jawab dengan audience. Pasangan calon hanya diberikan waktu dua menit untuk menjawab setiap pertanyaan yang diberikan oleh panelis, sedangkan panelis mendapatkan waktu kurang lebih selama lima belas menit pada sesi pertama dan dua puluh menit pada sesi kedua. Panelis juga diberikan hak untuk menyanggah kembali jawaban yang disampaikan oleh calon ataupun dapat mengajukan pertanyaan baru kepada calon selama waktu belum berakhir.
Diawali oleh Hilmy sebagai panelis pertama, pertanyaannya terkait bagaimana tanggapan pasangan calon terhadap isu yang terjadi di Undip baik internal maupun eksternal, serta bagaimana penyelesaian isu yang disampaikan. Kemudian Hilmy juga menanggapi misi nomor dua, sebagaimana langkah konkrit menjadikan BEM sebagai rumah aspirasi dan manakah yang akan menjadi prioritas dalam penanganan isu. Pertanyaan ketiga, terkait apa yang akan dilakukan calon ketika advokasi gagal dilakukan. Kemudian pertanyaan datang dari Paulus, perihal cara menampung dan menyaring aspirasi mahasiswa Undip yang sedemikian banyaknya, serta fakultas mana yang perlu diutamakan berdasarkan kondisi saat ini. Terakhir, terkait formulasi apa yang akan dibuat agar adanya diskusi dalam misi keempat tersebut dapat menunjang aksi nyata dan bisa terealisasi secara efektif di Undip.
Beberapa kali para panelis baik Hilmy atau Paulus menekankan agar jawaban yang diberikan paslon singkat namun berupa langkah konkrit bukan secara general. Mereka meminta antara calon ketua dan wakil ketua dalam menjawab pertanyaan keduanya bergantian bukan salah satu yang dominan. Sesi pertama tanya jawab dengan panelis telah selesai dan dilanjutkan sesi kedua. Berbeda dengan sesi pertama yang lebih mengkritisi visi dan misi GDO paslon Ketua dan Wakil Ketua BEM Undip 2021, pada sesi kedua ini pertanyaan lebih fokus ke sub-tema dari GDO berkaitan dengan kesejahteraan mahasiswa, kaderisasi, dan inklusi di lingkup Undip.
Kekecewaan Audience Saat Sesi Tanya Jawab Ditutup
Antusiasme terlihat dari banyaknya audience yang raise hand, guna mendapatkan kesempatan bertanya kepada calon tunggal tersebut. Dapat dirangkum, pertanyaan yang diajukan seputar alasan mengangkat Arunika Karya sebagai nama kabinet, padahal Arunika sendiri pernah diusung oleh KM ITB. Selain itu, aspek VUCA pada program unggulan paslon, apa strategi paslon agar gerakan mahasiswa Undip lebih aktif terlebih mengenai aksi. Kemudian, penyikapan terhadap UKT mahasiswa akhir dan transparasinya, analisis yang digunakan dalam membuat GDO, serta urgensi proker unggulan.
Beberapa audience menyatakan kekecewaannya ketika sesi tanya jawab ditutup oleh moderator, keluhannya antara lain waktu terlalu singkat yang diberikan kepada setiap audience, beberapa pertanyaan yang tidak dapat diakomodir, dan jawaban dari paslon yang dianggap kurang memuaskan. Mereka menyampaikan keluh kesah tersebut melalui room chat meeting, karena selama orasi berlangsung seluruh audience di-mute oleh panitia kecuali yang diizinkan moderator.
Di penghujung acara, pasangan calon diberikan kesempatan untuk menyampaikan closing statement selama tiga menit. “BEM Undip bukanlah sebuah badan yang dijalankan oleh satu dua orang atau seratus dua ratus orang saja, tetapi semua mahasiswa Undip. Dan saya juga menambahkan bahwa GDO hanyalah sebuah GDO, saya tak luput dari kesalahan dalam penyusunanya. Mohon maaf apabila kurang menjawab dan kurang memberikan penjelasan kepada seluruh mahasiswa,” pungkas Daus.

