
Semarang, 13 Desember 2024 – Bertempat di Dome Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip), acara Roadshow Pemilihan Umum Raya bertajuk “Kampus Kuning Memanggil” berhasil terselenggara. Forum terbuka ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi serta kritik kepada calon Majelis Wali Amanat Unsur Mahasiswa (MWA UM) Undip tahun 2025 serta calon Ketua dan Wakil Ketua BEM Undip 2025.
Karena persiapan yang panjang dari pihak panitia sehingga acara yang semula tertulis pukul 09.00 WIB akhirnya dimulai pukul 10.00 WIB. Forum diawali dengan menghadirkan dua kandidat utama MWA UM, yaitu Christian Dwi Tama Putra dari prodi Manajemen 2021 dan Muhammad Ibnu Athaillah dari prodi Ekonomi 2022. Acara dimulai dengan sesi pemaparan visi-misi, kedua calon menyampaikan apa perubahan positif yang ingin mereka bawa di lingkungan kampus.
Christian mengusung visi untuk membangun mahasiswa Undip yang berkualitas, berdaya saing, dan sejahtera, sembari berkontribusi aktif dalam pengembangan universitas dan masyarakat. Ia menekankan pentingnya kolaborasi dan advokasi kebijakan strategis melalui program unggulan seperti FORUM Undip untuk membahas isu-isu terkini kampus dan PILAR yang fokus pada pengawalan isu strategis mahasiswa.
Sementara itu, Muhammad Ibnu Athaillah menawarkan visi untuk menjadikan MWA UM sebagai katalisator yang “Digdaya”, tidak terkalahkan dalam mewakili aspirasi mahasiswa. Ia memperkenalkan program Rembuk Undip, sebuah forum diskusi strategis yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan untuk menyelesaikan isu mahasiswa. Dalam pidatonya, Ibnu juga menekankan pentingnya transparansi melalui MWA Menfess untuk menjaring aspirasi secara anonim.
Setelah pemaparan dari kedua kandidat, acara kemudian berlanjut ke dalam sesi tanya jawab dimana terdapat kesempatan bagi moderator dan mahasiswa yang hadir untuk berdiskusi, bertanya, maupun untuk mengkritisi secara langsung. Pertanyaan terkait kebijakan Uang Kuliah Tunggal (UKT), peningkatan fasilitas kampus, serta strategi penguatan otonomi universitas sebagai PTN-BH (Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum) menjadi sorotan utama.
Rafi Ridha Tockary Ketua Bem FEB Undip 2025 memberikan pertanyaannya mengenai mekanisme UKT dan standar proses transparansi di Universitas lain. Para calon belum mengetahui secara detail dari standar mekanisme di Universitas lain.
“Kalian haruslah lebih menggali lebih dalam lagi mengenai isu UKT lagi agar dapat menemukan solusi yang tepat,” kata Tockary.
Para mahasiswa juga memberikan kritik tajam serta menyampaikan aspirasi mereka terhadap MWA yang selama ini dinilai tidak efisien dalam menyampaikan suara mahasiswa dan dinilai hanya sekadar membantu rektorat bukan mahasiswa. Kedua kandidat memberikan solusi dan komitmen untuk membawa isu-isu tersebut ke dalam forum pengambilan keputusan. Mahasiswa kemudian mengingatkan mengenai hakikat para calon kandidat MWA dan tanggung jawab yang akan mereka emban dimana mereka akan berhadapan dengan para petinggi kampus dan peran besar kedepannya berkaitan dengan memberi pertimbangan pelaksanaan kebijakan umum, melaksanakan pengawasan di bidang non akademik serta sebagai organ yang menetapkan.
Sesi selanjutnya beralih kepada pemaparan dari dua pasangan calon BEM Undip, yakni Arkan Nugraha dan Sajida Rahmawati pasangan kandidat pertama Calon Ketua BEM Undip 2025 serta Aufa Atha Ariq dan Khayimas Atha Chisbaini pasangan kandidat kedua Calon Ketua BEM Undip 2025. Kedua pasangan membawa visi besar yang diharapkan mampu mengarahkan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Diponegoro (BEM Undip) menuju kemajuan yang signifikan.
Pasangan Arkan-Sajida, dengan nama kabinetnya Kabinet Langkah Optimistik, mengusung visi untuk menciptakan mahasiswa Undip yang memiliki profil COMPLETE (Communicator, Professional, Leader, Thinker, Entrepreneur, Educator). Mereka menekankan pentingnya kolaborasi dalam menciptakan lingkungan yang inklusif dan progresif di kampus. Dalam Grand Design-nya, mereka menyoroti relevansi Sustainable Development Goals (SDGs) sebagai pedoman dalam menyusun kebijakan kampus dan program pengembangan.
Sementara itu, pasangan Ariq – Khayimas, dengan Kabinet Garda Restorasi, berfokus pada upaya mengatasi keresahan mahasiswa dengan solusi konkret. Mereka menawarkan program kerja berbasis evaluasi yang berorientasi pada hasil nyata, seperti pengawalan isu pendidikan tinggi, pengembangan kesehatan mental, dan transparansi kebijakan. Dalam Grand Design-nya, pasangan ini menekankan pentingnya membangun sinergitas antara organisasi mahasiswa dengan birokrasi universitas demi meningkatkan efektivitas advokasi dan pelayanan.
Dalam forum ini, mahasiswa membahas berbagai isu penting, seperti:
1. Kenaikan Biaya Pendidikan: Mahasiswa meminta kepastian terkait kebijakan UKT (Uang Kuliah Tunggal) yang sering menjadi beban ekonomi. Kedua pasangan sepakat untuk menjadikan transparansi dan advokasi UKT sebagai prioritas.
2. Kurangnya komunikasi antara BEM Undip dengan Fakultas: Hal ini dipaparkan oleh Sena Habibi Ketua Bem FEB Undip 2024 yang mengatakan bahwa kapasitas sebagai calon pemimpin dipertanyakan ketika pada forum kali ini kedatangan mahasiswa sangatlah sedikit yang menunjukkan antusias publik dan awareness mahasiswa sangatlah rendah terhadap pasangan kandidat Calon Ketua BEM Undip sehingga mahasiswa tidak mengetahui atau tidak datang untuk proses Pemira. Para calon merespon hal tersebut dengan menyatakan akan terus melakukan sosialisasi dan penggunaan media sosial untuk menjangkau mahasiswa FEB. Para calon kemudian juga menyinggung akan memperbaiki proses komunikasi internal organisasi yang saat ini dirasa masih bersifat satu arah ingin dibenahi menjadi dua arah.
3. Mahasiswa menilai Program BEM Undip yang dinilai masih samar dan belum memiliki pondasi yang kuat. Mahasiswa mengharapkan adanya rancangan yang matang dan implementasi yang dapat diukur secara konkret agar rancangan program tidak seolah-olah hanya untuk menghabiskan anggaran. Hal ini penting agar program yang dijalankan benar-benar mampu menjawab kebutuhan mahasiswa dan dapat memenuhi skala prioritas.
Reporter: Alvaro, Aldo

