Undip SJP : Sejarah Pergerakan Mahasiswa Undip untuk Rakyat Palestina

Mahasiswa Undip lakukan aksi solidaritas untuk Palestina (sumber : pribadi)

Undip (21/05) – Mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) menggelar aksi damai untuk membela keadilan bagi rakyat Palestina. Aksi yang dihadiri kurang lebih 150 demonstran ini diinisiasi oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Insani dan berkolaborasi dengan Organisasi Mahasiswa lainnya. Aksi dimulai pada pukul 16.00 WIB yang diawali long march dengan rute Student Center, Fakultas Hukum, Fakultas Ilmu Budaya, Widya Puraya, dan berakhir di area Jogging Track. Gema teriakan “Free Free Palestine. Palestine Palestine. Bebaskan, bebaskan. Israel, Israel. Hancurkan, hancurkan,” terus disuarakan dengan penuh semangat oleh para demonstran. 

Wakil ketua BEM Undip, Khafidah Kurni Kova mengatakan tujuan diadakannya aksi ini sebagai bentuk solidaritas  terhadap rakyat Palestina, “ tujuan kami mengadakan ini murni bentuk solidaritas. Kita juga (ingin) menyadarkan teman-teman terkait kondisi saat ini yang ada di Rafah.” Kova menyatakan aksi ini bukan hanya aksi terkait isu agama namun juga isu kemanusiaan yang ditandai beragamnya mahasiswa yang hadir, “Nggak hanya mahasiswa Islam saja. Kami juga mengajak mahasiswa Kristen, Katolik, Hindu, dan sebagainya.” Kova juga berharap mahasiswa Undip dapat meminimalisasi penggunaan produk-produk yang mendukung Israel. 

Pembacaan sepuluh poin pernyataan sikap dinyatakan para demonstran di area Jogging Track. Orasi dari beberapa mahasiswa pun digaungkan  untuk menyadarkan baik masyarakat umum maupun mahasiswa terkait kondisi saat ini yang ada di Rafah. Orasi dilakukan untuk menunjukan rasa solidaritas dan kekecewaan terhadap perlakuan zionis Israel yang membombardir tempat perlindungan terakhir rakyat Palestina.  

Pada aksi kali ini diselipkan pula dengan kegiatan bagi-bagi semangka sebagai representasi Palestina. Selain itu, pendirian tenda dilakukan sebagai simbolisasi bagaimana rasanya hidup di tanah sendiri namun hanya beralaskan tenda. Boneka-boneka pun turut dijejerkan sebagai simbolisasi anak-anak Palestina yang juga menjadi korban.  

Wildan (Insani) mengatakan bahwa akan ada diskusi lanjutan pasca aksi untuk mengevaluasi kegiatan hari ini. Harapannya, melalui diskusi lanjutan aksi-aksi semacam ini dapat semakin dimasifkan. Selain itu, akan dibuka donasi yang akan langsung disalurkan kepada rakyat Palestina, “mungkin akan kolaborasi dengan pihak-pihak yang sudah biasa menyalurkan (bantuan) ke Palestina,” tutup Wildan.

Pernyataan sikap : https://drive.google.com/file/d/1sFJ36gcOefZYtphGHBwxOEgFdvgKekl-/view?usp=drive_link

Reporter : Adit, Rohib, Teby

Penulis : Adit, Rohib, Teby

Gelar Wicara Ekonomi Volume II : Isu Buruh dan Pendidikan Menjadi Sorotan Utama

Gelar wicara volume II membahas isu buruh dan pendidikan (sumber : pribadi)

FEB (20/05) – BEM FEB Undip kembali mengadakan Gelar Wicara Ekonomi. Berbeda dengan volume I, pada volume II kali ini mengangkat isu tentang kesejahteraan buruh yang makin merana dan pendidikan Indonesia yang tak kunjung merata. Acara yang diadakan di dome FEB Undip ini membawa tema “Mengupas Proyeksi Indonesia Emas (Buruh Kian Merana, Pendidikan Merata Tak Kunjung Terlaksana)”. Pembahasan tema yang menarik ini dibawakan langsung oleh Mulyono selaku Koordinator KASBI Jawa Tengah dan Ariska Nurfajar Rini S.E., M.Si., selaku dosen FEB Undip.

Sebelum memasuki pembahasan utama, para audiens disuguhkan penampilan oleh Teater Buih. Teater Buih menyajikan cerita dimana buruh dan guru yang dibuat resah oleh kebijakan pemerintah. Teater Buih memberi kutipan “Dengarkan Kami, upah buruh yang tidak dibayarkan, mana dana alokasi pendidikan 20% dari APBD, pelecehan seksual di mana-mana di tempat kerja, diskriminasi guru ASN dan Swasta, Suara dibungkam, kritik dilarang!”.

Pada sesi pembahasan, Mulyono memberikan keluh kesah para buruh yang kesal dengan UU Ciptaker. Mulyono menyebutkan bahwa pada Omnibus Law buruh hanya menjadi kambing hitam. Menurut Mulyono ada 4 hal yang harus diperbaiki saat ini. Korupsi yang masih merajalela, birokrasi yang tidak semestinya, keamanan para tenaga kerja, dan penegakan hukum yang dianggap kurang. Pada akhirnya UU Ciptaker dianggap menciptakan praktik fleksibilitas upah dan mengurangi hak istirahat para buruh.

Setelah membahas kesejahteraan buruh, diskusi dilanjutkan dengan membahas masalah pendidikan di Indonesia. Ariska mengatakan ada 3 isu utama pembangunan Indonesia. Missmatch skill, school but not learning, serta kualitas dan kesejahteraan guru. Banyak pengangguran friksional dari lulusan SMK yang terjadi karena adanya kesenjangan antara jumlah pendaftar dan kelulusan. Ariska juga menyampaikan Penurunan kompetensi pada siswa disebabkan oleh kualitas guru. Upah guru yang tidak sesuai menjadi salah satu alasan menurunnya kualitas guru. Masalah-masalah tersebut menjadi sorotan bagi pendidikan Indonesia.

Pada akhir sesi kedua pembicara menyempatkan diri untuk memberikan closing statement. Mulyono mengatakan “Buruh tidak meminta macam-macam, penegakan hukum terhadap ketenagakerjaan perlu ditingkatkan”. Sementara Ariska memberikan pesan “Jadilah manusia yang berintegritas, kita sebenarnya tidak membutuhkan orang yang IPK tinggi tetapi membutuhkan orang yang berintegritas tinggi”. 

Reporter : Messal

Penulis : Qosim

Duduk Bareng Rektor : Petinggi Undip Dengarkan Aspirasi Mahasiswa

Rektor Undip Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si., menjawab aspirasi mahasiswa

FPIK (15/05) – Auditorium Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro menjadi saksi berkumpulnya mahasiswa dan pimpinan Universitas Diponegoro dalam acara “Duduk Bareng Rektor : Jaring Aspirasi Mahasiswa”. Acara yang diinisiasi oleh BEM Undip ini menjadi wadah aspirasi mahasiswa untuk menjaring masalah-masalah yang ada di Undip. Harapannya, melalui dialog langsung antara mahasiswa dan rektor, semua aspirasi yang disuarakan dapat didengar dan menjadi dasar menuju perubahan yang lebih baik bagi Undip.

Rektor Undip Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si., perwakilan organisasi mahasiswa (ormawa), dan mahasiswa umum Undip turut hadir untuk mendiskusikan isu-isu penting yang dihadapi. Tidak hanya menjadi ajang untuk menyuarakan masalah, beberapa solusi juga langsung diberikan dan berbagai usulan akan dipertimbangkan demi perbaikan berkelanjutan.

Ada beberapa permasalahan yang dibahas, seperti isu mahalnya fasilitas kampus, IUP FIB yang belum sepenuhnya siap, adanya kecemburuan sosial antara sekolah vokasi saintek dengan soshum, layanan disabilitas yang kurang memuaskan, praktikum lapangan yang berbayar, sampai eksistensi Pers Mahasiswa yang ada di Undip. Selain permasalahan mengenai fasilitas terdapat masalah akademik seperti adanya dosen yang diskriminatif dan jumlah mahasiswa lulus lebih sedikit daripada jumlah mahasiswa masuk.

Rektor Undip Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si., beserta jajarannya menanggapi satu persatu aspirasi mahasiswa dengan penyelesaian yang akan dijalankan. Salah satu penyelesaian yang disampaikan adalah mengenai fasilitas. Beliau berjanji agar fasilitas kampus memprioritaskan fungsinya sebagai sarana utama mahasiswa. Usulan penyelesaian yang lain adalah menutup IUP apabila hingga tahun depan kondisi tidak membaik. 

Reporter : Alvaro, Aldo

Penulis : Aldo, Alvaro, Faiz

Menjawab Keresahan Warga Semarang, ID Next Leader Jawa Tengah Adakan Forum Diskusi NGOPI Vol. 2 

Dokumentasi Panitia

Semarang (11/5) – ID Next Leader (IDNL) Jawa Tengah berkolaborasi dengan Kawula Muda Semarang mengadakan sebuah forum diskusi yang bertajuk “NGOPI: Ngobrol Perkara Isu #2”. Forum diskusi dilaksanakan mulai pukul 15:00 hingga selesai yang bertempat di rumah makan khas Padang Uda Uni Vol. 2, Tembalang. Dengan menghadirkan H. Arnaz Agung Andrarasmara. SE., MM, yang juga menjabat sebagai Ketua Kadin Kota Semarang, Ketua Koni Kota Semarang, Ketua Baznas Kota Semarang, dan Ketua BMI Kota Semarang, forum diskusi ini sukses mengupas lebih lanjut keresahan-keresahan yang disampaikan oleh peserta mewakili apa yang dirasakan masyarakat secara umum. 

Inisiasi pelaksanaan forum diskusi ini didorong oleh kondisi Kota Semarang sendiri yang kian rentan terhadap ancaman-ancaman berupa ancaman lingkungan hidup, perekonomian, kondisi sosial, dan politik. Terlepas dari statusnya sebagai ibukota provinsi Jawa Tengah, Kota Semarang masih menyimpan berbagai problematika yang belum terselesaikan. Hal tersebutlah yang disampaikan baik oleh narasumber maupun para peserta. 

Beberapa keresahan yang dikemukakan oleh peserta dalam sesi tanya jawab antara lain adalah kurangnya pengayoman terhadap UMKM, permasalahan housing terkait harga rumah dan tata wilayah, program-program desa yang ditunda, program keluarga harapan (PKH) yang kurang tepat sasaran, dan beragam keresahan lainnya. 

Menyikapi berbagai permasalahan tersebut, Arnaz Andrarasmara menekankan kepada tiga variabel, diurutkan dari yang paling penting, yaitu people (orang), environment (lingkungan), dan technology (teknologi). Menurut Arnaz, Indonesia masih terbilang egosentris, dalam artian dinas-dinas yang seharusnya menangani permasalahan publik sesuai bidangnya masih terfokus pada penggunaan anggaran yang telah tercatat di RAB saja, tanpa memperhatikan value yang dihasilkan. Misalnya yang terjadi pada UMKM. Di Indonesia khususnya Kota Semarang, barang-barang produk UMKM mayoritas kurang memiliki nilai jual. Sedangkan jika dibandingkan dengan Malaysia, yang mana UMKM nya lebih berkembang, produk UMKM memiliki nilai jual yang sudah terlampau tinggi karena beberapa faktor, salah satunya packaging. Melalui hal ini Arnaz menekankan bahwa yang paling utama adalah people, yaitu pembinaan terhadap SDM yang ada, sebelum berlanjut ke pengembangan lingkungan dan teknologi. Hal ini juga berlaku untuk permasalahan-permasalahan yang lain. 

Sebagai akhir kata, Arnaz menyampaikan bahwa forum diskusi ini ditujukan agar kita dapat belajar menyayangi kota dimana kita tinggal, yaitu Kota Semarang dan menyayangi negara kita. “Kita harus kritis, anak muda harus kritis. Kalian percuma menjadi anak muda tapi tidak melakukan sesuatu. Buat acara seperti ini agar para pemimpin-pemimpin kita ini mendengar apa yang sebenarnya yang diperlukan.” kata Arnaz. Arnaz juga menambahkan bahwa pemimpin yang baik adalah mereka yang mau mendengarkan dan mau diajak berdebat, maka dari itu Arnaz menyarankan para mahasiswa untuk berorganisasi agar bisa belajar menjadi seorang pemimpin yang sejati. 

Reporter: Sukma, Rayhan

Penulis: Sukma

Undip X BCA Berbagi Ilmu : Kuliah Umum Bahas “Survival Leadership Facing Uncertainties”

Dokumen pribadi (Rifqy)

UNDIP (07/05) – Universitas Diponegoro (Undip) dan BCA Berbagi Ilmu telah mengadakan kuliah umum yang mengangkat tema penting, yaitu “Survival Leadership Facing Uncertainties“. Acara yang dihadiri oleh mahasiswa, praktisi, dan pemangku kepentingan ini menghadirkan narasumber terkemuka dari berbagai bidang.

Prof. Dr. Suharnomo, selaku Rektor Undip, membuka acara tersebut dengan hangat. Dalam sambutannya, beliau menyambut baik kedatangan Nicholas Saputra sebagai narasumber, yang menarik minat banyak mahasiswa. Beliau juga mengucapkan terima kasih kepada Bank BCA atas kontribusinya dalam ikut serta mengembangkan infrastruktur dan pendidikan pada Universitas Diponegoro.

Widjaja Stephen, Kepala Kantor Wilayah II BCA, turut memberikan sambutan. Beliau menjelaskan bahwa kolaborasi ini bertujuan untuk mewujudkan cita-cita pembangunan berkelanjutan dan memperkenalkan praktisi-praktisi nyata kepada mahasiswa. Kolaborasi antara Undip dan BCA dalam bentuk kuliah umum merupakan wujud nyata dari program BCA Berbagi Ilmu.

Acara tersebut dipandu oleh Hera F. Haryn, Executive Vice President BCA. Hera menjelaskan bahwa tujuan utama dari kuliah umum ini adalah untuk mendatangkan praktisi yang relevan dari industri, memberikan pemahaman kepada generasi Z tentang tujuan dan potensi mereka, serta membuka peluang bagi mereka untuk bergabung dengan BCA.

Dua narasumber utama, Armand Budi Hartono dan Nicholas Saputra, memberikan wawasannya dalam menghadapi ketidakpastian. Armand, dalam presentasinya yang berjudul “Brand on a Mission: The Power of Purpose“, berbagi tentang perjuangan keluarganya dan mengajak para peserta untuk memprioritaskan kemampuan bertahan hidup dalam segala situasi.

Sementara itu, Nicholas Saputra menyoroti pentingnya hidup berdampingan dengan ketidakpastian. Menurutnya, krisis-krisis dapat menjadi peluang untuk mengembangkan kreativitas dan ketahanan. Ia juga menekankan pentingnya investasi dalam pendidikan sebagai persiapan menghadapi masa depan yang penuh dengan ketidakpastian.

Acara kuliah umum ditutup dengan pemberian doorprize sebagai bentuk apresiasi kepada para peserta yang telah hadir. (RA)

“Mengulik Kesejahteraan Buruh Jawa Tengah”, May Day 2024 Menjadi Momen Perjuangan Dalam Memperoleh Perlindungan dan Kesejahteraan Yang Layak

Massa aksi KSPN dan FKSPN

GUBERNURAN JATENG (01/05) Hari Buruh Sedunia atau yang sering dikenal sebagai May Day, kembali diperingati oleh kaum buruh dan pekerja di seluruh dunia pada tanggal 1 Mei. Di tengah peringatan ini, Federasi Kesatuan Serikat Pekerja Nasional (FKSPN), yang berkolaborasi dengan Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN), mengambil peran penting dalam menyuarakan beragam isu terkait ketenagakerjaan di Indonesia. Dalam sebuah aksi unjuk rasa di Kantor Gubernur Jawa Tengsh, Heru Budi Utoyo, Sekretaris Jendral DPN FKSPN, menyampaikan pentingnya May Day sebagai momentum perjuangan bagi buruh di Indonesia dan dunia. Ia menyoroti masalah yang masih menghantui dunia ketenagakerjaan, terutama dengan diperkenalkannya Undang-Undang Cipta Kerja yang dianggap merugikan kaum buruh.

“Kami menuntut pencabutan Undang-Undang Cipta Kerja karena tidak berpihak pada pekerja dan bahkan memperburuk kondisi mereka,” ujar Heru Budi Utoyo. Selain itu, ia juga menggarisbawahi pentingnya penegakan hukum di bidang ketenagakerjaan serta perlunya evaluasi dan perbaikan sistem pengupahan di Jawa Tengah yang dinilai masih rendah.

Perjuangan buruh tidak hanya terbatas pada tuntutan perubahan kebijakan pemerintah, tetapi juga membangun kesadaran dan solidaritas di antara sesama pekerja. Para demonstran pada May Day 2024 di Semarang, Jawa Tengah menyerukan pentingnya pengakuan atas hak-hak buruh, termasuk hak untuk bekerja dalam lingkungan yang aman dan layak serta memperoleh upah yang mencukupi.

Menyikapi seruan ini, Heru Budi Utoyo berharap agar peringatan May Day bukan hanya sekadar seremoni, tetapi menjadi ajang untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat, pemerintah, kepolisian, dan pengusaha dalam mendengarkan serta menindaklanjuti aspirasi para buruh. Dengan demikian, para pekerja dapat memperjuangkan hak-hak mereka demi terciptanya kesejahteraan yang lebih baik. (RA)

Public Hearing Akademik : Wakil Dekan I Tanggapi Aspirasi Mahasiswa

Wakil Dekan I Prof. Firmansyah tanggapi aspirasi mahasiswa

FEB (30/04) – Senat Mahasiswa mengadakan Public Hearing 2024 untuk menampung aspirasi mahasiswa. Pelaksanaan Public Hearing dilakukan sebanyak dua sesi. Public Hearing Akademik dilaksanakan pada Senin, 30 April 2024 dan akan dilanjutkan Public Hearing Sarana Prasaran pada Kamis, 2 Mei 2024. Acara dihadiri oleh Wakil Dekan 1 bidang akademik, Supervisor Academic and Student Affair, Ketua Departemen Ekonomi, Ketua dari masing-masing Program Studi, Pembina Senat FEB Undip, serta mahasiswa FEB Undip. 

Isu yang diaudiensikan kepada pihak Dekanat dihimpun melalui serap aspirasi yang dilakukan Senat FEB Undip kemudian diseleksi bersama perwakilan ormawa. Terdapat beberapa isu yang dibahas dalam Public Hearing 2024 ini, yakni Isian Rencana Studi (IRS), evaluasi dosen dan pelayanan administrasi, sosialiasi IISMA, pengetatan kebijaksanaan pelaksanaan ujian, konversi SKS MSIB, proses penurunan Surat Keterangan Lulus (SKL) yang lama, Isu-isu yang dihimpun ditanggapi dengan baik oleh wakil dekan 1, ketua departemen, ketua program studi, dan Supervisor Academic and Student Affair.

Public Hearing utamanya diadakan untuk memberi penjelasan atas keresahan mahasiswa. Namun, agenda ini digunakan juga oleh wakil dekan 1 untuk mengkonfirmasi kebijakan dan kinerja dari Supervisor Academic and Student Affair. Sesi tanya jawab dimanfaatkan Sena Habibi selaku ketua BEM FEB Undip untuk mewakili beberapa aspirasi dan keresahan yang dimiliki mahasiswa FEB. (TG)

LPM Manunggal Sukses Selenggarakan DUAL 2024, Lawan Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO)

DUAL 2024 membahas kekerasan berbasis gender online (KBGO).

FPP (28/04) – LPM Manunggal Universitas Diponegoro menyelenggarakan Diskusi Manunggal (DUAL) 2024 pada hari Minggu, 28 April 2024. Acara tersebut diselenggarakan pada pukul 09.00 WIB hingga siang hari di Ruang GSG Gedung F FPP Undip. Diskusi Manunggal 2024 ini mengusung tema “Seni Visual dan Kontruksi Identitas di Media Sosial” yang dipandu oleh pembicara berpengalaman.

Fokus utama dalam diskusi kali ini adalah mengenai isu-isu kekerasan berbasis gender online (KBGO). Isu tersebut muncul salah satunya karena semakin berkembangnya teknologi dan kehadiran media online yang diharapkan banyak memberikan manfaat bagi kita, tetapi justru menjadi tempat baru untuk semakin bertumbuhnya atau semakin intensnya kekerasan yang terjadi, terutama kekerasan terhadap perempuan. Perempuan dalam hal ini menjadi pihak yang paling dirugikan. Teknologi justru pada akhirnya membuat perempuan mendapatkan banyak sexual harassment.

Menurut Kak Izmy Khumairoh, S. Ant., M.A. selaku pembicara dalam diskusi manunggal kali ini ada beberapa bentuk sexual harassment, salah satunya yaitu deepfake yang merupakan penggunaan Artificial Intellegence (AI) untuk mengubah wajah seseorang menjadi wajah orang lain yang biasanya digunakan untuk menciptakan konten hoaks dan merugikan orang lain. Selain itu, secara verbal yaitu bisa melalui postingan-postingan di media sosial yang berisi sumpah serapah untuk seseorang. Kak Izmy mengungkapkan, bahwa objektifikasi tubuh perempuan bukanlah hal yang baru. Contohnya, kita bisa melihat iklan-iklan di televisi yang seringkali lebih memilih menggunakan talent perempuan. Hal ini terjadi karena perempuan dalam tubuhnya tidak hanya mempunyai use value tetapi juga mempunyai nilai tukar. Adapun isu lain objektifikasi perempuan muncul dalam konten-konten pornografi, atau deepfake itu sendiri.

Melalui diskusi kali ini, dapat disimpulkan bahwa dalam sexual harassment kita bisa melihat banyak sekali hal-hal yang membuat perempuan menjadi objek seksualitas. Kemudian, untuk mengatasinya yaitu kita tidak boleh menormalisasi KBGO dan kita harus berani speak up atau bersuara atas hal-hal yang dilakukan oleh sang pelaku kejahatan seksual tersebut. Selain itu, jika dilihat dalam konteks Pers Mahasiswa (Persma), seharusnya perlu ada banyak presentase perempuan di dalamnya agar konten-konten yang dibuat dapat lebih berpihak dengan perempuan, sebagai salah satu cara kita dalam melawan kekerasan berbasis gender online (KBGO). (SL)

Konsolidasi Akbar FEB Undip : Mahasiswa Siap Mengawal Isu Kampus

David Ekonomi 2022 sedang memeberikan aspirasi

(FEB 23/2) BEM FEB Universitas Diponegoro menyelenggarakan Konsolidasi Akbar pada hari selasa. Acara ini berlangsung mulai pukul 14.30 hingga petang di Dome FEB Undip. Konsolidasi Akbar kali ini bertajuk “Rimba Problema FEB Undip: Mari Suarakan dan Satukan Langkah”. Kata ‘rimba’ diambil sebagai representasi dari hutan rimba di mana FEB memiliki banyak masalah baik yang disadari maupun tidak disadari.

Konsolidasi akbar yang dilaksanakan kali ini adalah suatu tahap dalam pengawalan dialog isu kampus yang bertujuan untuk menjaring apa saja masalah yang ada di FEB Undip. Pada konsolidasi ini pula diharapkan dapat terlahir suatu solusi yang dapat dibahas antara mahasiswa dengan pihak kampus. 

Sena Habibi, ketua BEM FEB Undip 2024, mengatakan bahwa pihak BEM akan mencatat apa saja masalah yang didiskusikan pada kesempatan ini. Nantinya pada tanggal 30 April 2024 dan 2 Mei 2024 masalah tersebut akan disampaikan pada acara Public Hearing yang diadakan oleh Senat FEB Undip. Harapannya penjaringan masalah ini dapat memperkuat argumen pada Public Hearing nanti.

Menurut Sena Habibi, Konsolidasi Akbar ini sangat penting. Saat ini masalah-masalah yang ada di FEB hanya dapat dijangkau melalui ormawa saja. Sedangkan jika hanya dari ormawa saja masalah tersebut memiliki kemungkinan kurang valid dan detail. Karenanya diadakanlah Konsolidasi Akbar di mana setiap mahasiswa FEB Undip memiliki kesempatan yang sama untuk mengutarakan permasalahannya. Dengan ini diharapkan masalah yang ada dapat diketahui lebih lanjut seperti apa detailnya dan dapat mendiskusikan solusi atas masalah tersebut.

Beberapa permasalahan akademik yang dibahas dalam Konsolidasi Akbar tahun ini adalah konversi SKS terhadap program Kampus Merdeka, dosen yang menyinggung unsur SARA, penentuan nilai yang sesuai mood, SOP penilaian dosen, pengumpulan data skripsi dari sumber yang mayoritas berbayar yang memberatkan mahasiswa departemen IESP, serta pengurangan UKT yang cenderung sukar dilakukan di kawasan departemen manajemen. Selain permasalahan akademik disinggung pula masalah sarana prasarana seperti proyektor yang kurang jelas dan kursi pembelajaran yang tidak memadai. Selain itu disinggung pula isu pelecehan seksual baik verbal maupun nonverbal dalam lingkungan FEB Undip terutama departemen manajemen.

Dari beberapa kasus yang dipaparkan terdapat beberapa solusi yang dapat ditinjau. Untuk permasalahan pemberian nilai oleh dosen yang tidak objektif dapat dilakukan pengkajian ulang kontrak belajar. Untuk permasalahan isu seksual dapat dibenahi dengan pengadaan program Taman Terbuka oleh BEM FEB Undip untuk pencegahan dan hukuman yang membuat pelaku jera .

Ketua BEM FEB UNDIP, Sena Habibi,  juga mengungkapkan seberapa pentingnya acara Konsolidasi Akbar ini dan keterlibatan mahasiswa dalam mengungkapkan permasalahan. “Konsolidasi ini menjadi langkah awal dalam penyelesaian isu-isu kampus, acara hari ini dilakukan untuk menjaring masalah apa saja yang terdapat dalam FEB. Hal ini penting menurutku karena jarang sekali teman-teman FEB UNDIP melakukan konsolidasi organik. Terlebih tanggal 30 terdapat public hearing senat dan diharapkan dari proses penjaringan ini dapat kita kumpulkan dan memperkuat argumen satu dengan yang lain”, kata Sena. Sena juga menjelaskan bahwa proses konsolidasi penting karena saat ini proses menjangkau masalah mayoritas melalui ORMAWA yang dinilai belum bisa menjangkau masalah secara luas dan riil.

Mari kita terus kawal isu yang ada di FEB Undip dengan menghadiri Public Hearing yang akan diselenggarakan pada Selasa, 30 April 2024 dan Kamis, 2 Mei 2024. 

Ayo berperan aktif dalam menjaga Kampus Kuning kita tercinta.

Reporter: Aditya, Alvaro, Cantika

Penulis: Cantika, Alvaro

Sambut Bulan Ramadhan : Dekanat Adakan FEB Berbagi

MC membuka acara FEB Berbagi (Aldo/Edents)

FEB (28/03) – Dalam rangka menyambut bulan Ramadhan Dekanat Fakultas Ekonomika dan Bisnis mengadakan acara FEB Berbagi yang mengangkat tema “Merajut Kebersamaan Menuai Keberkahan Ramadhan”. Acara ini diselenggarakan pada hari Kamis, 28 Maret 2024 di Gedung Kewirausahaan Lantai 4 FEB Undip. Pada acara kali ini Dekanat Fakultas Ekonomika dan BIsnis mengundang lima panti asuhan dan Ustaz Dr. A. Zaenurrosyid, S.Hi., MA., sebagai pembicara.

Dalam ceramahnya, Ustaz Zaenurrosyid menyampaikan siapapun yang memakmurkan masjid maka Allah akan membangunkan rumah untuknya di surga. Selain itu, beliau juga menyampaikan di bulan Ramadhan ini kita harus memperbanyak amal seperti tadarus Al-Qur’an.

Pada kesempatan kali ini Dekanat FEB Undip juga membagikan takjil gratis kepada para mahasiswa dan anak yatim piatu panti asuhan yang hadir pada acara FEB Berbagi. Hal ini diharapkan dapat membawa keberkahan di bulan yang suci ini bagi sivitas akademika Fakultas Ekonomika dan BIsnis Universitas Diponegoro.

Reporter : Haykal, Qosim, Aldo, Abdul

Penulis : Qosim