Selama Lambang Garuda di Dada, Kami Akan Tetap Setia

Sumber: PSSI

Oleh: Qosim

Timnas sepakbola Indonesia asuhan coach Shin Tae-yong berhasil mencetak sejarah dengan melaju ke babak 3 kualifikasi piala dunia 2026. Prestasi ini mampu mengangkat popularitas sepakbola Indonesia yang sudah tinggi menjadi semakin tinggi. Salah satu faktor keberhasilan timnas Indonesia untuk meraih pencapaian tersebut adalah melalui program naturalisasi. Naturalisasi di era kepemimpinan Erick Thohir dianggap berhasil oleh para pecinta sepakbola tanah air. Nama-nama seperti Thom Haye, Jay Idzez. Ivar Jenner, Sandy Walsh, Ragnar Oratmangoen, dan yang lainnya berhasil menciptakan kegembiraan di dalam hati pecinta sepakbola tanah air ketika mereka bermain.

Tampil dalam perhelatan terbesar di dunia sepakbola tentu menjadi mimpi jutaan manusia di Nusantara. Meskipun hampir tidak mungkin, lolosnya timnas Indonesia ke babak 3 kualifikasi berhasil menjaga agar asa tetap ada untuk tampil pada pesta sepakbola terbesar. Dalam sejarah, sebenarnya Indonesia pernah sekali berpartisipasi dalam ajang piala dunia. Tepatnya pada tahun 1938, Indonesia yang masih dalam pangkuan kolonial berhasil mengikuti ajang piala dunia dengan membawa nama Hindia Belanda. 

Untuk mewujudkan mimpi tersebut, federasi sepakbola dalam negeri memiliki kewajiban untuk menemukan talenta-talenta berbakat yang kemudian disatukan menjadi kesatuan terhebat. Dari Sabang sampai Merauke, dari ujung kalimantan sampai ke ujung pulau jawa, bahkan hingga ke negeri nan jauh disana, selama mereka memiliki darah Indonesia dan bersedia bersumpah setia kepadanya. Talenta tersebut merupakan aset berharga yang akan mengharumkan nama bangsa.

Datangnya banyak pemain diaspora yang dinaturalisasi menuai banyak pro kontra di kalangan penikmat sepakbola Indonesia. Federasi melakukan naturalisasi tentu dengan niat untuk menambah kekuatan tim nasional dalam ajang internasional. Kelompok yang pro terhadap program naturalisasi menganggap bahwa cara ini efektif mengingat kualitas pemain sepakbola lokal masih dibawah standar untuk bersaing di kancah internasional. Berbeda lagi dengan kelompok kontra, dalam kasus ini mereka memiliki argumen jika datangnya pemain naturalisasi ini dapat mengurangi kesempatan pesepakbola lokal untuk bersaing mendapatkan tempat di tim utama. Ada beberapa juga yang beranggapan bahwa pemain diaspora hanya bermain untuk pamor dan uang belaka, bukan bermain untuk membela sang garuda.

Perdebatan tersebut kerap terjadi di media sosial. Ketika pemain naturalisasi mendapatkan performa buruk, maka kaum kontra akan menghujat pemain naturalisasi dan membanggakan pemain lokal. Sebaliknya jika pemain naturalisasi mendapatkan performa yang apik, kaum pro akan membanggakan naturalisasi dan menjatuhkan pemain lokal. Kedua kondisi tersebut sangat tidak dapat dibenarkan. Pemain yang dinaturalisasi maupun pemain lokal mereka sama-sama membawa satu bendera yaitu merah putih. Jika mereka bermain bagus maka harus kita apresiasi dan jika mereka bermain buruk maka harus kita beri kritik sewajarnya dan kita beri semangat tanpa harus membedakan.

Terlalu banyak perdebatan tidak penting yang terjadi di kalangan penikmat sepakbola Indonesia. Harusnya mereka sadar bahwa yang mereka debatkan tidak akan memberikan pengaruh besar terhadap kemajuan sepakbola negeri ini. Hadirnya pemain diaspora seharusnya membuat semangat pemain lokal untuk bersaing mendapatkan tempat di tim utama. Pengalaman yang ada dalam pemain diaspora juga bisa diturunkan kepada pemain-pemain muda yang akan merintis karirnya. Lebih bagusnya lagi ketika kedua kelompok pendukung saling menjatuhkan, para pemain justru saling menyokong tanpa harus membedakan

Entah darimana asalnya, siapa ayah dan ibunya, dimana dia dilahirkan, semua itu tidak ada kaitannya. Selama mereka bersumpah setia untuk memberikan segalanya pada sang garuda. Tidak ada istilah pemain naturalisasi atau pemain lokal, mereka hanya membawa satu nama yaitu Indonesia. Kami akan selalu disini untuk meraih mimpi kita bersama. Siapa kita? INDONESIA!

Seminar & Exhibition, Peresmian Bulletin dan Wartafest: Mengupas Peluang dan Tantangan Literasi Digital di Era Transformasi

UDINUS (5/7) – UKM Pers Kampus Wartadinus Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS) menyelenggarakan Seminar & Exhibition, Peresmian Bulletin dan Wartafest di Auditorium Gedung H lantai 7. Acara tersebut mengangkat tema “Peluang & Tantangan Literasi Digital di Era Transformasi”. Mengundang dua pembicara yang kompeten yaitu Sekar Hasna N,S.I.Kom, selaku mantan ketua umum Wartadinus dan Swita Amalia Hapsari, M.I.Kom selaku jurnalis dosen ilmu komunikasi UDINUS. Tema spesifik yang diangkat dalam acara tersebut menuju kepada refleksi atas alasan mengapa di era sekarang lebih banyak menonton ketimbang membaca. 

Karlina Supelli yang dikenal sebagai filsuf astronom perempuan menyatakan pernyataan yang menarik yaitu “Baca buku itu tidak bisa digantikan dengan TikTok, dengan nonton film, yang dampaknya pemikiran bisa menjadi tumpul, tidak cukup kritis, tidak cukup tajam.”

Swita Amalia Hapsari pun juga menyatakan “kalian tambahkan aktivitas membaca agar bisa otaknya berdialog akan jauh lebih membuat kalian akan bisa punya pengetahuan”. Lebih jauh Swita menyatakan bahwa basis dari media dan jurnalistik adalah memperkaya materi dengan banyak sumber media. 

Swita memaparkan berdasarkan hasil riset dari Data Portal pada bulan Januari 2024 tentang ‘DAILY TIME SPENT WITH MEDIA’. Data tersebut memaparkan bahwa rata-rata audiens di Indonesia menghabiskan waktu paling lama untuk menggunakan Internet yaitu 7 jam 38 menit per hari dibandingkan dengan aktivitas lain seperti menonton video konten secara streaming, scrolling hp untuk sosmed, dan membaca berita online atau media print. 

Tantangan yang terkait dengan dunia Jurnalistik adalah bagaimana menyajikan tulisan yang menarik di tengah pergeseran tren media. Beberapa cara yang dapat diterapkan antara lain dengan memperbanyak perbendaharaan kata, perbendaharaan ide, dan konsep dari membaca. Beberapa contoh media yang dapat dijadikan inspirasi antara lain Folkative dan USS Feeds. Selain itu jurnalis harus mempunyai kemampuan untuk memetakan mana media yang bisa dijadikan sumber informasi dan mana yang tidak. Termasuk mengacu pada aturan-aturan, kaidah-kaidah yang ada yang telah ditetapkan oleh Dewan Pers. Perlu dilakukan lima proses yang benar, yaitu: akses, analisa, evaluasi, produksi, dan aksi.   

Sekar Hasna N,S.I.Kom memberikan Tips & Trick bagi kalian yang mau masuk ke dunia jurnalistik. “Kenalin dirimu sendiri terlebih dahulu kamu tuh sukanya di bidang apa, coba dideketin apa yang kamu suka di bagian itu, cari komunitas yang bisa bangun passion kamu, dan yakinkan kepada orang tuamu.” 

Penulis: Haykal 

Reporter: Haykal

Misteri Petualangan Dunia Paralel

Sumber: Shofwhere.com

Oleh: Tanaya An Nafi’ K

Judul Buku : Bumi

Penulis : Tere Liye

Tebal buku : 440 Halaman

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : 2014

ISBN :  978-602-033-295-6

Bumi merupakan novel fiksi karangan Tere Liye yang menceritakan tentang persahabatan antara Raib, Ali, dan Seli. Masing-masing dari mereka memiliki keunikan. Misalnya Raib yang sejak kecil menyimpan rahasia bahwa dirinya bisa menghilang dibalik telapak tangannya, Seli dapat mengeluarkan petir dari kedua tangannya, sedangkan Ali si biang kerok pemalas di sekolah justru memiliki kekuatan yang baru ia ketahui dalam perjalanan mereka disini.

Di suatu siang yang normal, terdapat kejadian di sekolah mereka yang menjadi awal dari perjalanan buku ini. Tiang Listrik yang roboh, membuat mereka bertiga terkurung di lapangan basket sekolah, hingga kemudian menggiring peristiwa yang mengejutkan semuanya. Salah satunya adalah guru paling garang di sekolah tersebut tiba-tiba mengetahui kekuatan dari masing-masing siswanya, khususnya Raib, Ali, dan Seli.

Tragedi tiang listrik yang roboh berlanjut dengan pertarungan antara mereka melawan penjahat dari pintu klan lain. Pertarungan berlangsung sengit sekaligus membingungkan bagi Raib, Ali, dan Seli tentang apa yang sebenarnya terjadi. Akhir dari pertarungan ini justru merupakan awalan dari kisah mereka yang sesungguhnya.

Novel ini memiliki tingkat deskripsi yang detail, sehingga pembaca bisa seolah-olah berada langsung dalam latar cerita tersebut. Semua dapat digambarkan dengan jelas, mulai dari karakterm suasana, hingga peristiwa yang dapat terasa seperti sungguhan. Tere Liye mengemas cerita Bumi ini dengan sangat baik. Walaupun fiksi, tetapi tidak berarti semuanya tidak masuk akal. Penjelasan yang diberikan sistematis, sehingga pembaca pun bisa amengingat dan memahami dengan mudah bagaimana aturan dalam dunia fiksi ini.

Selain itu, novel Bumi memberikan wawasan mengenai kehidupan. Misalnya tentang pentingnya persahabatan, dukungan dari keluarga adalah hal utama dan harus terus dijaga, hingga bagaimana menyelesaikan masalah diantara ribuan masalah lainnya. Tak hanya wawasan mengenai kehidupan, novel Bumi juga memberikan beberapa ilmu pengetahuan karena basis novel ini yang berupa fiksi ilmiah.

Kelebihan lain yang bisa diunggulkan adalah tentang kreativitas dari penulis. Adegan yang diceritakan dalam novel adalah sesuatu yang tidak biasa. Sehingga dapat menarik perhatian pembaca untuk bisa segera menyelesaikan akhir dari novelnya.

Cerita ini adalah karya bersambung yang dilanjutkan ke dalam novel-novel berikutnya. Hal ini dapat menghambat seseorang yang tidak memiliki budget lebih untuk terus membeli karya setelahnya. Totalnya mencapai 15 buku. Hal ini dapat menjadi boomerang karena pembaca merasa cerita ini sangat bertele-tele, hingga akhirnya mereka tak lagi melanjutkan membaca novel lanjutan dari serial Bumi.

Resensi Buku Novel “Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” Karya Tere Liye

Sumber: Pinterest

“Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” adalah salah satu karya terkenal dari Tere Liye, penulis asal Indonesia. Buku ini pertama kali diterbitkan pada tahun 2010 dan sejak itu telah mendapatkan banyak perhatian dari pembaca di berbagai kalangan. Cerita dalam novel ini mengisahkan tentang perjalanan hidup seorang gadis bernama Tania dan perjuangannya dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.

Novel ini diawali dengan pertemuan tak sengaja antara Tania, seorang gadis kecil yang hidup dalam kesederhanaan dan keterbatasan yang tinggal di pinggir jalan , bertemu dengan seorang pria bernama Danar. Danar, yang pada saat itu masih muda dan penuh ambisi, berperan sebagai penyelamat bagi Tania dan keluarganya. Pertemuan ini menjadi awal dari hubungan yang rumit dan mendalam antara keduanya. Tania melihat Danar sebagai sosok pahlawan, sementara Danar melihat Tania dan keluarganya sebagai sebuah tanggung jawab.

Cerita berkembang seiring bertambahnya usia Tania dan perubahan-perubahan dalam hidupnya. Tania tumbuh menjadi gadis remaja yang cerdas dan berbakat, namun tetap memiliki rasa terima kasih yang mendalam kepada Danar. Sementara itu, Danar, yang terus mengejar mimpinya, mulai merasakan beban dari tanggung jawab yang ia pikul. Konflik batin antara perasaan dan kewajiban menjadi tema sentral dalam hubungan mereka. Tania yang semakin dewasa mulai menyadari bahwa perasaannya terhadap Danar bukan sekadar rasa terima kasih, tetapi cinta yang tulus.

Tere Liye menulis dengan gaya bahasa yang sederhana namun penuh makna. Setiap kalimat terasa mengalir dengan indah, membawa pembaca masuk ke dalam dunia Tania dan merasakan setiap emosi yang ia alami. Penulis juga berhasil menggambarkan latar belakang kehidupan Tania dengan sangat baik, memberikan gambaran yang jelas tentang kerasnya kehidupan yang harus dihadapi oleh Tania dan keluarganya. Penggambaran karakter yang kuat membuat pembaca dapat merasakan perjuangan dan konflik batin yang dialami oleh Tania dan Danar.

Tema utama dari novel ini adalah tentang penerimaan dan keikhlasan. Dengan Judul “Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” sendiri merupakan metafora yang menggambarkan sikap hidup Tania yang menerima setiap kejadian dalam hidupnya dengan lapang dada. Tania, seperti daun yang jatuh, tidak pernah menyalahkan angin yang membuatnya jatuh. Ia menerima setiap cobaan dan tantangan dengan hati yang ikhlas, tanpa rasa dendam atau kebencian. Ini adalah pelajaran hidup yang sangat berharga yang disampaikan oleh Tere Liye melalui karakter Tania.

Selain itu, novel ini juga menyentuh tema cinta dan pengorbanan. Cinta yang digambarkan dalam cerita ini bukan hanya cinta romantis, tetapi juga cinta dalam bentuk rasa terima kasih, pengorbanan, dan tanggung jawab. Hubungan antara Tania dan Danar menunjukkan bahwa cinta yang sejati adalah cinta yang mampu menerima kekurangan dan kesalahan, serta bersedia berkorban demi kebahagiaan orang yang dicintai.

Secara keseluruhan novel “Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” adalah novel yang menggugah hati dan penuh inspirasi. Tere Liye berhasil menyampaikan pesan-pesan moral yang dalam melalui cerita yang sederhana namun menyentuh. Pembaca diajak untuk merenungkan tentang arti penerimaan, keikhlasan, dan pengorbanan dalam hidup. Novel ini sangat cocok dibaca oleh siapa saja yang mencari cerita yang menghangatkan hati dan memberikan pelajaran hidup yang berarti.

Pemberhentian Hasyim Asy’ari: Terungkapnya Dosa Sang Ketua

Sumber: Kompas.com

Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) pada hari Rabu (3/7/2024) menjatuhkan sanksi pemberhentian tetap kepada Ketua Komisi Pemilihan Umum, Hasyim Asy’ari terkait kasus dugaan pelanggaran etik kasus asusila dengan korban berinisial CAT. Korban merupakan anggota Panitia Pemilihan Luar Negeri Den Haag, Belanda. Ketua KPU tersebut telah terbukti bersalah melakukan pelanggaran etik dan pedoman perilaku penyelenggara pemilu setelah melakukan tindakan asusila.

Ketua DKPP Heddy Lugito mengungkapkan, pihaknya menerima seluruh dalil aduan yang disampaikan pengadu atau korban dalam persidangan dengan teradu Hasyim.

“Menjatuhkan sanksi pemberhentian tetap kepada teradu Hasyim Asy’ari selaku ketua merangkap anggota komisioner KPU terhitung sejak putusan ini dibacakan,” kata Heddy

Pada 3 Oktober 2023 Hasyim terungkap merayu dan memaksa korban berhubungan badan. Tindakan ini dilakukannya saat perjalanan dinasnya ke Belanda. Hal ini menyebabkan korban mengalami gangguan kesehatan dan psikis. Hasyim juga terbukti membuat janji untuk menikahi korban untuk berbuat asusila. Namun, janji itu ingkar dipenuhi meski selalu ditagih.

Korban kasus kekerasan seksual, CAT, mempertimbangkan akan membawa kasus ini ke ranah pidana. Langkah ini menindaklanjuti putusan DKPP yang telah menjatuhkan sanksi pemberhentian tetap kepada Hasyim Asy’ari dari jabatannya sebagai ketua KPU serta keanggotaannya di lembaga penyelenggara pemilu tersebut karena dinilai telah melakukan tindakan asusila.

Banyak masyarakat yang mengkhawatirkan bahwa pencopotan jabatan Ketua KPU dapat mempengaruhi jalannya Pilkada. Pihak Istana mengklarifikasi bahwa penyelenggaraan Pilkada 2024 yang kini tahapannya sudah berlangsung tidak akan terganggu dengan pencopotan jabatan Ketua KPU Hasyim Asy’ari. Presiden Joko Widodo akan segera menindaklanjuti putusan DKPP dengan menerbitkan keputusan presiden (Keppres) pemberhentian tetap Hasyim sebagai ketua dan anggota KPU.

Keamanan Siber Indonesia Belum Cukup Kuat Menghadapi Ancaman

sumber: www.istockphoto.com

Serangan siber yang menyerang Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) berhasil mencuri perhatian publik. Pasalnya serangan tersebut membuat sebagian besar data nasional lumpuh dan mengakibatkan berbagai layanan publik sempat mengalami kendala. Hal ini tentu menjadi sebuah pertanyaan besar bagi rakyat Indonesia. Apakah sistem keamanan siber kita memang selemah itu?

Ini bukan pertama kali peretasan dilakukan terhadap lembaga negara. Deretan kasus telah dialami oleh lembaga-lembaga negara. 14 Februari 2023, situs kpu.go.id mengalami kesulitan akses yang disebabkan oleh serangan distributed denial-of-service (DDoS). Pada tanggal 26 November 2023, Daftar Pemilih Tetap (DPT) diretas oleh hacker yang menamai dirinya Jimbo. 16 Juli 2023, 337 juta data penduduk di Kemendagri bocor dan diperjualbelikan di forum online. September 2022 peretas Bjorka yang sempat viral di media sosial melakukan aksinya dengan mengambil data-data penduduk dan menjualnya. Bjorka kembali beraksi pada 12 Maret 2023 dengan 19 juta data milik BPJS ketenagakerjaan yang berhasil diretas. Kasus di atas baru beberapa dari sekian banyak kasus yang tidak bisa kami sebutkan.

Di era digitalisasi, pertahanan suatu negara tidak lagi hanya berfokus pada pertahanan fisik saja. Perkembangan teknologi mengakibatkan terciptanya variasi potensi serangan melalui sistem informasi dan jaringan komputer. Maka dari itu, dunia akan selalu berinovasi untuk mengatasi hal tersebut. Segala upaya dilakukan untuk melawan dan mencegah serangan-serangan tersebut.

Pada tahun 2023, berdasarkan data dari National Cyber Security Index (NCSI) keamanan siber Indonesia menempati posisi ke-49 dari 176 negara dengan skor indeks 63,64 dari skala 100. Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) sebagai lembaga negara yang bertanggung jawab atas keamanan siber dan keamanan informasi telah menganggarkan Rp 346,8 miliar pada RAPBN 2024 untuk anggaran program keamanan dan ketahanan siber dan sandi negara.

Masalah keamanan siber tentu akan berkembang setiap tahunnya. Sudah semestinya lembaga negara yang mengayomi ketahanan siber untuk mencari solusi dan tanggap dalam mencegah. Hinsa Siburian selaku kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) pernah mengatakan ada 3 hal yang harus dioptimalkan dalam membangun keamanan siber yaitu sumber daya manusia, tata kelolanya, dan teknologi.

Hal  ini telah menjadi alarm berbahaya bagi pemerintah Indonesia. Mengingat banyaknya kasus peretasan data milik masyarakat Indonesia. Dokumen-dokumen penting baik milik negara maupun warga negara harus dilindungi dengan baik. Menurut warganet sistem keamanan siber Indonesia masih sangat rentan dan perlu diperkuat. (QZ)

Bersamamu

Oleh: Alvaro Siahaan

Alunan merdu ombak menabrak karang
Bunyi Falsetto laut menuntun jalanku
Menuju kenangan bersamamu
Di tempat spesial kita

Kehangatan yang dulu kurasa
Kini membanjiri sanubari
Semua ingatan yang dulu gugur
Untuk sesaat mekar mewangi

Jadi, ditampi di dalam oleh nafas yang penuh, 
Yang diketahui jiwaku pada tahun - tahun itu,
Dengan kegairahan yang kupikir sudah kulupakan,
Aku mencoba mengingat raut wajahmu
di kala itu.
 

Dari sekian raut wajah manismu
Terbesit pula raut wajah gundah dan lelah
Mengisyaratkan matinya api romansa
Yang menjadi akhir dari kisah kita

Betapa cinta kita itu membunuh
Dibutakan gairah romansa,
Dibutakan oleh api cemburu,
Dibutakan oleh insekuritas,

Kita saling mendekap erat
Hingga tak sadar saling menyakiti
Kita saling memendam emosi
Sehingga rasa tak hendak mengalir

Apa yang tersisa darimu?
Di mana mawar di pipimu?
Bibir mu yang tersenyum dan matamu yang bersinar?
Sungai air mata yang mendidih
Telah hangus membakar semuanya.

Mungkin memang kita tak menjadi
Tetapi hadirmu tetap membekas
Rasa terimakasih kan selalu ada
Untukmu yang menemani jejak langkahku

Lika-liku Peretasan PDNS : Kebodohan Belaka Hingga Permintaan Maaf sang Peretas

Menkominfo Budi Arie saat rapat kerja bersama komisi I DPR RI (Sumber: Kompas.com)

Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) 2 mengalami serangan siber pada 20 Juni 2024. Serangan ransomware yang bernama Brain Chiper tersebut membuat sebagian besar data di pusat data terkunci. Pelaku penyerangan diklaim menuntut tebusan USD 8 juta atau sekitar Rp 131 miliar.

Serangan ini membuat beberapa layanan umum yang mengandalkan PDN, seperti layanan E-KTP, layanan BPJS, layanan pendidikan, dan lain-lain. Hal ini tentu membuat warga Indonesia mempertanyakan bagaimana nasib data-data pribadi mereka. Warganet juga menyerukan tidak semestinya lembaga negara yang mengelola data-data nasional dengan mudahnya diretas.

Pada 26 Juni 2024, Direktur Network & IT Solution PT Telkom Indonesia Harlan Wijanarko mengungkapkan bahwa data yang terkena serangan ransomware tidak dapat dipulihkan. 

“Yang jelas, data yang kena ransom ini sudah enggak bisa kami recovery. Jadi kita menggunakan sumber daya yang kita miliki, yang nomor satu kita mengidentifikasi ada tenant-tenant yang memang sudah memiliki backup, di lokasi Surabaya maupun yang ada di lokasi Batam, jadi kira-kira 44 tenant,” ujar Harlan 

Pada rapat kerja bersama komisi I DPR RI di Gedung DPR RI, Jakarta Pusat, Kamis 27 Juni 2024. Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Hinsa Siburian menyatakan bahwa permasalahan utama adalah tata kelola dan tidak adanya backup data. Atas pernyataan tersebut, ketua komisi I DPR RI Meutya Hafid mengatakan bahwa ini hanya kebodohan saja.

“Ini bukan masalah tata kelola pak, ini masalah kebodohan. Punya data nasional, tidak ada satupun backup,” ujarnya.

Menkominfo Budi Arie merespon pernyataan kepala BSSN soal ketiadaan backup data. Budi menyebutkan bahwasannya Menkominfo memiliki fasilitas backup data di PDNS. Budi juga menyebutkan jumlah virtual machine yang ter-backup di Surabaya 1630 VM 28,5 persen dari total kapasitas 5.709 VM.

Pada Selasa 2 Juli 2024 peretas PDNS meminta maaf kepada rakyat Indonesia dan berjanji akan memberikan kunci enkripsi secara gratis pada Rabu 3 Juli 2024. Runtutan kejadian yang terjadi membuat banyak desakan muncul agar Menkominfo Budi Arie untuk mundur. Dirinya dianggap tidak tanggap dalam menghadapi serangan siber yang terjadi. Hingga saat ini Kamis 4 Juli 2024 baru Direktur Jenderal Aplikasi dan Informatika (Aptika) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) yang menyatakan pengunduran diri akibat peretasan PDNS. (QZ)

Aparat Tutup Mata, Keadilan Kemana

Oleh : Aldo

Sejauh mata memandang, masa ini sudah terlampau jauh dari kata KEADILAN. Kata Keadilan disini merujuk pada bagaimana kita mendapat porsi masing-masing. Apakah bisa membayangkan realita dari kata Keadilan itu bagi sebuah negara? Apakah keadilan akan dibagi sesuai porsi atau sama rata atau bahkan tidak mengenal rasa keadilan sama sekali? Memang keadilan mengundang banyak tanya bahkan sila pancasila ke 5 yang berbunyi “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” Membahas nilai keadilan sosial. Lantas siapakah yang perlu bertanggung jawab atas keadilan ini?

Dari rasa kekurangan, kebutuhan, hingga hukuman semuanya perlu keadilan. Pada bulan april lalu kita melihat beberapa berita menyiarkan korupsi timah sebesar 271T, pada bulan juni ini banyak kasus pelecehan hingga anak kecil di baubau sulawesi utara dicabuli 26 pria, dan polisi melanggar kode etik pada bulan ini juga karena menangani tawuran dengan kekerasan. Apakah ini keadilan? Keadilan untuk yang berkuasa. Padahal banyak sekali masyarakat membutuhkan dukungan, keamanan kerja, lingkungan yang baik tapi apabila keadaan pertahanan dalam negeri diabaikan, negara maju sekalipun akan tumbang secara internal. Pejabat dan aparat masih sering bertindak secara eksklusif, keadilan sesungguhnya hanya milik tuhan semata.

Banyak di mata pejabat dan petinggi negara ingin mewujudkan hal sesuai keinginan dan ketamakan tapi mengerucut kepada aparat kepolisian juga tidak jauh dari kata tamak, menjadi seorang mafia. Menguasai jalannya sendiri sebagai diktator demi mewujudkan dunia yang diinginkan. Kasus Ferdi Sambo membunuh bawahan sendiri demi memuaskan hasrat yang diinginkan, psikopat berdarah dingin yang ingin mendapatkan kebenaran atas kesalahannya sendiri.

Satu per satu negeri ini mulai melihatkan sisi gelap pada pejabat dan aparatur negara, kegelapan itu sendiri akan melahap tokoh dibalik semua ketamakan yang diperbuat pada sebuah negara. Keadilan memang segalanya, tapi hierarki dapat merubahnya. Mulai dari berbagai kecurangan, kasus berbahaya, hingga buronan selama memiliki kekuasaan hal tersebut (keadilan) akan lenyap seketika. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin, ini merupakan salah satu contoh dari “survival of the fittest” apakah ini adil? Bisa jadi benar, karena hukum dunia semakin banyak orang memakan ketamakan maka dia akan tertelan oleh ketamakan tersebut.

“Indonesia Emas 2045” sebuah kalimat visioner untuk Indonesia menjadi negara maju, baru sebuah kalimat, apakah realisasinya sudah berjalan? Belum. Pendidikan masih dipersulit dengan anggaran, kebutuhan pokok masyarakat belum terpenuhi, pembangunan tidak merata. Bagaimana kita bisa melihat Indonesia tenggelam dalam ekspektasinya sendiri tanpa melakukan perubahan. Keadilan kemana? Apakah kata keadilan hanya sebuah kata yang tertulis dan terucap untuk meyakinkan bahwa negara kita ini adil? Pejabat atau aparat apabila masing-masing masih tidak memiliki rasa iba pada suatu hal yang menyeleweng sungguh akan pedih balasan tersebut. Logikanya saja Indonesia ingin maju secara realistis tapi apabila masih terdesak kasus-kasus besar yang belum terselesaikan, apakah realisasinya mungkin akan gagal? Kemungkinan besar hal tersebut bisa terjadi apabila pemikiran yang salah masih dipelihara secara nyata.

Apabila ingin mewujudkan negara yang tertata, baik secara ekonomi dan pendidikan, negara ini tidak boleh dikuasai orang asing, keamanan tidak boleh melemah, kita sebagai masyarakat bisa membelah lautan ketamakan dari para tokoh berdasi yang hanya menikmati kesengsaraan. Wujudkan “Indonesia Emas” sebagaimana telah dicanangkan. Harapan seluruh masyarakat hanya butuh satu, keadilan secara menyeluruh. Ingat, keadilan sesungguhnya bukanlah sama rata, namun sesuai dengan porsi yang kita butuhkan masing masing. 

Sosialisasi Kajian Layak Kerja di Sektor Perikanan : Memaksimalkan Kesejahteraan Pekerja Indonesia dalam Konteks Negara Maritim

Peserta melakukan sesi foto bersama

FEB (27/6) – Universitas Diponegoro berkolaborasi dengan International Labour Organization (ILO) mengadakan acara “Sosialisasi Kajian Layak Kerja di Sektor Perikanan: Adaptation of Teaching Labour for Business Students”. Acara yang diadakan di lingkungan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro ini dihadiri oleh wakil rektor IV, perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah, perwakilan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, perwakilan MGMP Jawa Tengah, guru-guru SMK di Jawa Tengah, dan beberapa tamu undangan lainnya.

Acara diawali dengan sambutan-sambutan para tamu undangan. Dalam sambutannya Wijayanto, S.IP., M.Si., Ph.D., selaku wakil rektor IV menyatakan bahwa tugas universitas adalah menyelesaikan permasalahan yang ada di masyarakat. Dr. Jaka Aminata, S.E., M.Si., penanggung jawab pada acara ini mengarahkan para peserta untuk melakukan forum group discussion (FGD). FGD dilakukan agar para peserta dapat memberikan keluh kesahnya seputar industri perikanan.

Diskusi kali ini diharapkan dapat menambah wawasan seputar industri perikanan bagi masyarakat umum. Muhammad Revo Nadrian atau yang akrab dipanggil Revo selaku ketua panitia menyatakan Indonesia merupakan negara maritim yang belum memaksimalkan potensinya. Revo juga berharap acara ini dapat membuat pandangan masyarakat terhadap peluang kerja di sektor perikanan menjadi lebih luas. Acara ini akan dilanjutkan dengan penelitian yang rencananya akan dilakukan pada tanggal 3-8 Juli 2024 di Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, dan Pati.

Penulis : Qosim

Reporter : Qosim, Haykal, Messal