Berdiri Bersama Merawat Papua

Oleh: Luvita dan Teby

Indonesia lahir dari semangat kerja sama. Menjadi satu layaknya kata “one” pada nama negara. Ketika saudara sebangsa dan setanah air kesulitan, Indonesia harusnya hadir. Kalaupun pemerintah memilih untuk abai terhadap rakyat maka hanya ada satu jalan keluar. Rakyat perlu bergerak untuk rakyat.

(Sumber : Akun instagram @merawatpapua )

Dari Pulau Rondo di Utara, Muara Torasi di Timur, Pulau Panama di Selatan, dan Pulau Benggala di Barat, terbentang sebuah negara bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Nama yang memiliki makna persatuan dan kesatuan sebuah bangsa dengan pemerintah sebagai pemegang kekuasaan dan rakyat sebagai prioritas utama. Tidak heran, Pancasila sebagai dasar negara sampai mencantumkan, “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”

Istilah keadilan selalu bersinggungan dengan kesejahteraan. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia (UU RI) Nomor 11 Tahun 2009 Pasal 4, disebutkan bahwa, “Negara bertanggung jawab atas penyelenggaraan kesejahteraan sosial.” Tentu karena Indonesia menerapkan otonomi daerah, istilah “Negara” mencakup pemerintah pusat dan daerah. Berbagai cara telah dilakukan para pemegang kekuasaan tersebut untuk mewujudkan kesejahteraan sosial. Sayang, realisasi selalu saja tak sejalan dengan target yang diharapkan. Kalaupun sejalan, perbedaan antara realisasi dan target terlampau jauh. Contohnya dapat dilihat pada perealisasian dana otonomi khusus (otsus) Provinsi Papua.

Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Papua dalam web-nya merilis, dari 2002 hingga 2019, total dana otsus mencapai Rp 67.029.220.952.400,00 (senilai Rp 64.907.189.666.950 apabila mengacu pada nilai per tahun, bukan nilai total). Jika ditambah dana infrastruktur bagi provinsi, total dana otonomi tersebut mencapai Rp 84.192.950.205.400 (senilai Rp 84.035.868.035.950 apabila mengacu pada nilai per tahun, bukan nilai total). 

Pada 2019, dana otsus yang dikeluarkan untuk program bersama sektor pendidikan mendapat asupan senilai Rp 510.880.370.590, sedangkan sektor kesehatan, diistilahkan sebagai “Peningkatan Kesehatan Masyarakat (KPS&RS), mendapat dana Rp 724.991.000.000. Walaupun jika dibandingkan persentase nilai-nilai tersebut tidak terlalu besar, jumlah dana otsus di sektor pendidikan dan kesehatan tentu tidak dapat dianggap sepele. Sekecil apapun, dana itu seharusnya bisa mendukung kesejahteraan di Papua. Nahas, dirilis dalam Statistik Daerah Provinsi Papua 2022 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua, dana otsus bagi sektor pendidikan dan kesehatan nyatanya belum dapat menghasilkan manfaat berarti. 

Hingga 2021, capaian angka partisipasi murni (APM) di Papua masih berada pada angka 81%, dari yang seharusnya 100%. Angka tersebut memiliki arti bahwa hanya sedikit penduduk Papua yang mengenyam pendidikan sesuai usia semestinya. Hal ini dilatarbelakangi berbagai faktor, seperti ketidakmerataan fasilitas pendidikan dan tenaga pendidik. Kondisi bidang kesehatan pun tak jauh berbeda. Pada 2021, untuk 4.355.445 jiwa penduduk Papua, hanya tersedia fasilitas kesehatan sejumlah 3.521 unit pusat pelayanan terpadu (posyandu), 437 unit pusat kesehatan masyarakat (puskesmas), 45 unit rumah sakit umum, dan hanya 1 unit rumah sakit khusus. Pun bila dilihat dari sisi tenaga kesehatan, hanya ada 1.444 orang dokter, 8.437 orang perawat, 943 orang tenaga farmasi, dan 528 orang ahli gizi.

Sudah jelas bahwa masyarakat, khususnya rakyat Papua, tidak boleh memercayai pemerintah pusat dan daerah begitu saja dalam memperjuangkan kesejahteraan sosial. Apalagi di akhir tahun 2022, Gubernur Papua Lukas Enembe baru saja dijadikan tersangka kasus suap dan gratifikasi. Oleh karena itu, muncul berbagai komunitas masyarakat yang memiliki hati lebih mulia daripada pemerintah karena terjun langsung membantu sesama. Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Salah satu komunitas masyarakat tersebut adalah Merawat Papua.

Selama ini, Merawat Papua

Lebih dari 10 tahun mengabdi untuk Indonesia di negeri cenderawasih, Merawat Papua mensosialisasikan kegiatannya lewat akun Instagram @merawatpapua. Tercatat 2.209 unggahan telah menggoreskan cerita dengan disaksikan 45.000 followers akun tersebut. Tidak bergerak sendiri, Merawat Papua juga menggaet kerja sama dengan komunitas lain, salah satunya Sahabat Pedalaman. 

Memberantas Gizi Buruk, Memajukan Pendidikan

Penanganan  terhadap anak penderita gizi buruk merupakan salah satu program yang dilangsungkan komunitas Merawat Papua tanpa adanya intervensi dari Pemerintah. Program yang sebenarnya sudah ada sejak 2020 ini mengurusi mulai dari biaya pengobatan sampai kebutuhan asupan makanan bagi anak yang menderita gizi buruk. Sebagai hasil, tiga dari delapan anak yang sedang menjalani pengobatan gizi buruk kondisinya semakin membaik. Tentu, membaiknya keadaan tiga anak per September 2022 ini membuktikan bahwa dedikasi dan kinerja Merawat Papua tidak perlu diragukan lagi.

Selain menangani masalah gizi buruk, program berkaitan dengan pendidikan pun tidak ketinggalan. Program tersebut adalah dibangun dan dioperasikannya Rumah Belajar sebagai tempat anak-anak pedalaman Papua menimba ilmu. Ilmu tersebut mencakup kegiatan pemberantasan buta huruf (PBH) serta perilaku hidup sehat dan bersih (PHBS). Terkait lokasi, Rumah Belajar hadir di tengah masyarakat Lanny Jaya, Asmat, dan Jayawijaya. Hadirnya Rumah Belajar berhasil memfasilitasi anak-anak pedalaman Papua untuk mengenyam bangku pendidikan. Walaupun berupa pendidikan non-formal, setidak-tidaknya mereka dapat membaca dan menulis berkat Rumah Belajar.

Sang Kanal Penghubung

Merawat Papua memiliki program beasiswa bagi anak-anak di Rumah Belajar yang ingin melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi. Dari 34 anak yang mengenyam pendidikan formal hingga tahun 2020, beberapa di antaranya sukses bersekolah di Pulau Jawa. Deni merupakan salah satu anak yang berkesempatan melanjutkan pendidikan D3 Keperawatan di Yogyakarta. Untuk sebuah komunitas kecil, tentunya hal ini merupakan prestasi. Merawat Papua bisa menjadi kanal penghubung bagi anak-anak Papua berangkat ke Pulau Jawa meski dengan segala keterbatasan yang perlu dihadapi. Harapannya, ketika kembali nanti, anak-anak tersebut dapat mengaplikasikan ilmu yang sudah mereka terima. 

Tidak Semua Sesuai Harapan

Kenyataan bahwa Papua merupakan daerah dengan gangguan keamanan tinggi karena sering mengalami konflik membuat relawan yang ingin datang untuk membantu jadi berpikir ulang dalam merealisasikan niatnya. Hal ini dirasakan pula oleh tim Merawat Papua. Dikutip dari unggahan pada 14 Juli 2022 melalui akun instagram @merawatpapua, mereka menuliskan keterangan, “Dan satu lagi yang lebih membuat saya tambah merinding, ancaman itu ditujukan pula khusus untuk kami yang ‘non-papua’. Rasanya seperti buronan, padahal kami tak melakukan kejahatan. Kami di sini bekerja, ya, untuk kebaikan Papua itu sendiri.” Berbekal hati baja, tim Merawat Papua tetap melanjutkan pengabdiannya meskipun banyak ancaman dan halangan yang perlu dihadapi, termasuk ancaman kematian sekalipun.

Merawat Papua di Ujung Tanduk

Meski telah beroperasi sejak lama, kesulitan dalam hal finansial tidak dapat dihindari Merawat Papua. Tingginya harga komoditas jadi salah satu penyebab dalam mencapai kondisi keuangan ideal agar mereka bisa terus beroperasi. Alhasil, pada Senin, 5 Desember 2022, Merawat Papua terpaksa memberhentikan seluruh kegiatan di Rumah Belajarnya hingga waktu yang tidak ditentukan. Selain program Rumah Belajar, Merawat Papua pun mengumumkan ihwal program gizi buruk yang akan ditutup pada akhir Februari 2023. Alasan penutupan tidak lain dan tidak bukan adalah perihal dana. Padahal, program gizi buruk Merawat Papua hingga saat ini telah membantu tidak sedikit masyarakat pedalaman Papua.

Wahai, Rakyat Indonesia

Indonesia lahir dari semangat kerja sama. Menjadi satu layaknya kata one pada nama negara. Ketika saudara sebangsa dan setanah air kesulitan, Indonesia harusnya hadir. Kalaupun pemerintah memilih untuk abai terhadap rakyat maka hanya ada satu jalan keluar. Rakyat perlu bergerak untuk rakyat. Merawat Papua, sebuah organisasi kemanusiaan dari rakyat, sedang tidak baik-baik saja. Segala asa dari masyarakat pedalaman Papua tengah bergantung pada keberlanjutan komunitas ini. 

Jadi, tunggu apalagi? Mari bantu sesama rakyat Indonesia melalui Merawat Papua. Sekecil apapun donasinya, tetap akan berarti bagi saudara kita nun jauh di sana. Bercermin dari ucapan Mohamad Hatta bahwa, “Jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekadar nama dan gambar seuntaian pulau di peta.”

Sumber:

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua. (2022). Statistik Daerah Provinsi Papua 2022. Jayapura: BPS.

Indonesia. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2009 Tentang Kesejahteraan Sosial. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 12. Sekretariat Negara. Jakarta.

BPKAD Provinsi Papua. Pengalokasian Dana OTSUS Papua Tahun 2006 s/d 2009. Diakses pada 2 Februari 2023, dari https://bpkad.papua.go.id/dana-otsus/22/pengalokasian-dana-otsus-papua-tahun-2006-sd-2019.htm. 

Pusdatin BPIP. (2021, 28 April). Ini Bunyi Pancasila dan Makna 5 Lambangnya. Diakses pada 2 Februari 2023, dari https://bpip.go.id/berita/1035/673/ini-bunyi-pancasila-dan-makna-5-lambangnya.html.

Shafarina, Putri Indy. (2023, 11 Januari). Inilah Perjalanan Kasus Korupsi Gubernur Papua Lukas Enembe hingga Ditangkap KPK. Diakses pada 2 Februari 2023, dari https://nasional.tempo.co/read/1678320/inilah-perjalanan-kasus-korupsi-gubernur-papua-lukas-enembe-hingga-ditangkap-kpk#:~:text=TEMPO.CO%2C%20Jakarta%20%2D%20Gubernur,Selasa%20lalu%2C%2010%20Januari%202023. 

Akun Instagram @merawatpapua (https://www.instagram.com/merawatpapua/) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *