Oleh: Mila Sri Utami

Hampir memasuki satu tahun, virus Corona atau Covid-19 melanda ke berbagai negara di dunia salah satunya Indonesia. Adanya virus tersebut mengakibatkan seluruh aktivitas masyarakat mengalami dampak yang cukup besar akibat dari Covid-19. Selama pandemi Covid-19 terdapat sejumlah kebijakan yang perlu ditaati seperti karantina di rumah, Work From Home (WFH) dan pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Sebagaimana kebijakan tersebut berakibat pada beberapa sektor, diantaranya seperti sektor pariwisata mengalami penurunan jumlah wisatawan yang cukup signifikan. Hal tersebut dikarenakan apabila melakukan kegiatan pariwisata dapat berpotensi dalam penularan Covid-19, sehingga masyarakat lebih memilih untuk menunda kegiatan tersebut. Selain itu, pada sektor ekonomi terdapat beberapa perusahaan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan merumahkan para pegawainya, karena perusahaan mengalami penurunan penjualan. Lalu, di sektor pendidikan para tenaga pendidik wajib melakukan metode pembelajaran jarak jauh secara online kepada para mahasiswa maupun para siswa. Adanya metode pembelajaran jarak jauh secara online menyebabkan para siswa mengeluh, karena jumlah tugas yang diberikan lebih banyak dibandingkan pembelajaran secara langsung di sekolah dan terdapat gangguan jaringan koneksi internet selama pembelajaran secara online. Beberapa hambatan tersebut menyebabkan beban pada diri kita sendiri yang berakibat depresi, kecemasan, dan rasa takut serta khawatir. Sehingga di saat seperti sekarang tidak hanya kesehatan fisik saja yang perlu diperhatikan, tetapi kesehatan mental juga perlu mendapat perhatian tersendiri.
Di kala pandemi seperti sekarang ini, perasaan cemas, kesepian, maupun rasa takut menjadi meningkat seiring dengan Covid-19 yang semakin ganas. Dikutip dari survei yang dilakukan oleh Tirto.id, dari 1.522 responden terdapat 64,3 persen yang mengalami masalah psikologis, masalah psikologis yang meningkat dari hasil survei tersebut adalah kecemasan. Kecemasan yang timbul selama pandemi Covid-19 diawali dengan gejala seperti merasakan akan terjadi sesuatu yang buruk, mudah marah dan jengkel, serta sulit untuk relaks. Selain itu, perasaan kesepian juga timbul selama melakukan karantina mandiri. Sedangkan perasaan takut, muncul diakibatkan ketakutan akan potensi kehilangan pekerjaan, takut akan infeksi, maupun takut kehilangan orang terdekat. Sehingga, dukungan secara psikologis di masa-masa pandemi ini sangat dibutuhkan.
Tekanan Emosional Selama Pandemi Covid-19
Covid-19 mengakibatkan tekanan terhadap mental seseorang semakin terpuruk. Contohnya, beberapa orang merasa cemas akibat dari dirumahkan-nya pegawai maupun PHK yang diakukan oleh beberapa perusahaan. Selain itu, kecemasan juga kerap dirasakan oleh beberapa individu karena semakin meningkatnya jumlah orang yang terpapar Covid-19 di Indonesia. Akibat dari kecemasan yang dirasakan oleh sebagian besar orang menyebabkan bertambahnya gangguan tekanan emosional. Bentuk-bentuk gangguan tekanan emosional tersebut seperti perubahan pada pola tidur dan makan, emosi yang tidak stabil, menderita stress dan bosan selama karantina, dan gangguan tekanan emosional berimbas juga pada kesehatan fisik seperti sakit kepala yang berkepanjangan karena beban tekanan emosional. Sehingga, tekanan emosional akibat dampak dari Covid-19 tidak dapat dipandang sebelah mata dan perlu mendapat perhatian.
Perlunya Menjaga Komunikasi
Komunikasi memiliki peran penting dalam memberi dukungan psikologis selama keadaan yang tidak menentu seperti sekarang. Dilansir dari Alodokter.com, meluangkan waktu untuk bercerita mengenai rasa khawatir dan takut yang dirasakan kepada orang tua, sahabat, teman, dan kerabat berdampak pada berkurangnya beban yang dirasakan. Dikala pandemi seperti sekarang sangat sulit untuk bertemu dengan kerabat dari luar kota bahkan, untuk bertemu teman yang masih ada di suatu kota terlihat sulit dikarenakan melonjaknya kasus Covid-19 di setiap daerah di Indonesia. Oleh karena itu, selama pandemi masih berlangsung, dukungan psikologis sangat diperlukan melalui komunikasi memberi dukungan satu sama lain. Meluangkan waktu untuk bercerita mengenai hal-hal yang menimbulkan rasa khawatir dan takut, sehingga tekanan emosional yang dipendam selama ini dapat berkurang. Maka dari itu, menjaga komunikasi dengan orang-orang terdekat sangat diperlukan.
Kiat-Kiat Menjaga Kesehatan Mental Selama Pandemi
Di saat pandemi seperti sekarang, banyak masalah dari berbagai aspek mulai menghantui berbagai elemen masyarakat. Tidak jarang, banyak dari mereka mengalami tekanan mental dan kondisi yang tidak stabil. Perlunya menjaga kesehatan fisik memang sudah banyak orang ketahui, tetapi kesehatan mental juga perlu mendapat perhatian tersendiri karena kondisi mental seseorang juga dapat mempengaruhi kondisi fisik yang dialami setiap individu. Di kala keadaan yang semakin tidak menentu perasaan takut dan khawatir akan semakin meningkatnya seiring naiknya jumlah kasus per hari akibat Covid-19.
Perasaan takut dan khawatir akan kondisi pendemi seperti sekarang ini, mengharuskan setiap orang menjaga kesehatan pada diri sendiri, terlebih kesehatan mental yang masih dianggap remeh oleh sebagian besar orang Indonesia. Selain itu, berdasarkan sumber Tempo.co, kekebalan tubuh setiap orang dipengaruhi oleh seberapa besar kepedulian mereka terhadap kesehatan fisik maupun mental. Karena itu, terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan setiap orang dalam menjaga kesehatan mental mereka dikala pandemic Covid-19 yang semakin menggegerkan. Seperti menjaga komunikasi dengan kerabat terdekat, melakukan olahraga yang dapat dilakukan di rumah maupun aktivitas fisik lainnya, serta lebih bijak dalam memilih informasi karena berita yang tidak diketahui kebenarannya dapat menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi para penikmatnya. Sehingga dengan menjaga kesehatan mental diharapkan kekebalan tubuh juga meningkat di kala situasi yang semakin tidak terkendali.

