(Semarang, 25/09) Teater Buih FEB Undip kembali menggelar Pentas Produksi 2025 di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Semarang. Pada tahun ini Pentas Produksi menampilkan mahakarya dari Heru Kesawa Murti berjudul “Dhemit”, diwarnai dengan interpretasi baru khas Teater Buih. Pentas Produksi kali ini didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation, Dinas Pariwisata Kota Semarang, OPPO, Super Skin, Pop Mie, Horison Inn, Orlin, ID Food, dan Undip Maju.
Bapak Samsul Bahri Siregar, SH, MM., perwakilan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, dalam sambutannya menyatakan bahwa dukungan dari Disbudpar dalam pementasan ini adalah salah satu bukti mereka dalam melestarikan seni pertunjukkan. Beliau juga berharap bahwa seni dan budaya kita akan terus dilestarikan, “acara ini merupakan bukti bahwa budaya tidak pernah berhenti atau mati tapi bertransformasi, mudah-mudahan tahun depan akan berlanjut lagi.”
Bukan Sekadar Pentas Biasa
Pentas Produksi tahun ini lebih spesial dari tahun-tahun sebelumnya karena melalui penampilan ini penonton diajak untuk melihat “Dhemit” dengan nuansa yang berbeda, bukan sebatas hantu atau setan namun bermakna manusia yg bersifat rakus. Penampilan ini mengkritik manusia yang mengeksploitasi alam tanpa memikirkan dampaknya. Muthia Ayu Sheillawati, Koor Make-up dan Kostum, mengatakan bahwa sebelum pementasan panitia terlebih dahulu mempelajari isu-isu yang sedang ramai belakangan, mencari apa saja yang sedang naik daun, kemudian memadukannya dengan seni. Akhirnya terpilihlah isu lingkungan yang belakangan rasanya semakin parah, seperti penebangan liar, yang kemudian diangkat menjadi alur cerita “Dhemit”.
Mempersembahkan penampilan yang sangat memukau tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Nurul Izzah Salsabila, Pimpinan Produksi, mengaku bahwa keputusan yang paling sulit mereka ambil adalah keputusan untuk membuat semuanya sendiri, tidak menggunakan produk atau jasa orang lain. Dalam perjalanannya banyak dijumpai trial and error yang membuat frustasi namun memberikan banyak sekali pelajaran. “Naskah kolosal yang kami gunakan mengharuskan untuk memiliki banyak properti seperti pohon yang tingginya 4 meter yang harus kami kerjakan siang dan malam bekerja sama. Walau lelah tapi dari situ kami mendapatkan pengalaman, relasi, bahkan belajar saling berbagi,” ungkapnya.
Selain pementasan teater, Pentas Produksi tahun ini juga menampilkan stand up comedy, musikalisasi puisi, dan persembahan tari dari Kesenian Jawa Undip. Jessica Sihite, Staff Make-up dan Kostum, menyatakan bahwa tema stand up comedy dan musikalisasi disesuaikan dengan tema pementasan utama. “Dengan begitu, hiburan stand up comedy dan musikalisasi tidak berdiri sendiri dan menjadi gabungan keseluruhan dari pementasan utama. Hal ini juga bertujuan untuk menjaga suasana emosional penonton sehingga pementasan utama lebih berkesan,” ungkapnya.
Cerita Aktor Di Balik Peran Mereka
Core atau inti dari seni teater tentunya adalah para aktor dan cara mereka memerankan karakter di atas panggung. Nur Adila, berperan sebagai Madam (Jin Pohon Beringin), melatih karakternya dengan mencari sudut pandang yang sesuai, mendalami apa yang dialami karakter, melihat bagaimana sifat karakter, membuang semua pribadi dan menggantikan sesuai peran karakter, serta selalu membaca naskah yang tersedia. Pada saat latihan, Adila mengaku sempat berbeda interpretasi dengan sutradara, “saya berperan sebagai Jin Pohon Beringin yang digambarkan sebagai nenek yang memiliki postur bungkuk dan membawa tongkat. Namun karena ketika membungkuk suara saya tidak terlepas, maka sutradara mengganti postur tubuh saya dengan tegak menantang dan suara yang berwibawa,” ujarnya.
Selain itu Adila juga menceritakan hal yang paling menantang dalam memerankan tokoh Madam adalah ketika adegan meluapkan kemarahan di ending cerita, di mana ia harus berteriak lancang sebagai tanda kekalahan dan kefrustasian. Hal tersebut sangat menguras tenaga karena harus memahami apa yang dialami karakter dan harus menunjukkan kekuatan lebih daripada adegan yang lain. Selain itu ia juga merasa kesulitan saat menghafal banyak dialog sehingga sering terbolak-balik dan salah kalimat.
Melalui perannya sebagai Jin Pohon Beringin, Adila ingin menyampaikan pesan bahwa sebagai manusia kita tidak boleh serakah dengan kehidupan dan harus mengingat batasan-batasan yang ada. “Cerita ‘Dhemit’ ini sebenarnya ditujukan untuk mengkritik manusia yang selalu merusak alam, menebang pohon seenaknya tapi dengan dalih dunia dhemit,” ungkapnya.
Kesan Mendalam Bagi Audiece
Judul “Dhemit” sekilas memberikan kesan horror bagi audience, namun ternyata judul tersebut menyimpan makna. Hal ini dirasakan oleh Sekar, Mahasiswi jurusan Akuntansi, dari judul ia mengira akan ada banyak adegan horror, “ternyata meskipun dibalut dengan nuansa komedi, tapi justru unsur horror nya implisit di dalam makna ceritanya. Pementasan ini nunjukin bahwa keserakahan manusia dalam mengeksploitasi alam itu horror banget! Lebih “dhemit” daripada “dhemit” itu sendiri,” ujarnya.
Sekar juga membagikan adegan paling memorable menurutnya yaitu ketika si mandor proyek tidak memenuhi janjinya kepada Madam untuk menjaga alam. Menurutnya hal ini sangat relate dengan manusia yang suka lupa dengan janji setelah keinginannya terpenuhi, “jujur ini ngena banget baik di kehidupan sehari-hari kita maupun dengan isu politik akhir-akhir ini.”
Sejalan dengan pernyataan Sekar, Valiza, Mahasiswi jurusan Akuntansi, mengatakan bahwa representasi karakter para dhemit yang muncul sebagai ‘suara’ alam ketika alam menderita akibat ulah manusia, mudah dipahami, lucu, dan memberi pesan mendalam. Ia juga mengungkapkan dipadukannya teater dengan stand up comedy, musikalisasi puisi, dan kesenian jawa membuat suasana menjadi lebih santai. “Meskipun topik yang dibawa cukup serius, jadi tidak terlalu tegang. Musikalisasi puisinya sangat indah dan bikin merinding,” ungkapnya.
Baik Sekar dan Valiza, keduanya sepakat bahwa Pentas Produksi Teater Buih 2025 telah memberikan kesempatan bagi penonton untuk mengenal seni dan budaya sekaligus isu-isu yang dekat dengan kehidupan sekarang. Sekar menambahkan bahwa hal ini merupakan cara yang fresh untuk mengajak anak-anak muda berdiskusi soal isu sosial dan lingkungan, tidak hanya melalui diskusi formal saja.
Reporter: Sabrina, Cantika
Penulis: Cantika

