
FEB (20/05) – BEM FEB Undip kembali mengadakan Gelar Wicara Ekonomi. Berbeda dengan volume I, pada volume II kali ini mengangkat isu tentang kesejahteraan buruh yang makin merana dan pendidikan Indonesia yang tak kunjung merata. Acara yang diadakan di dome FEB Undip ini membawa tema “Mengupas Proyeksi Indonesia Emas (Buruh Kian Merana, Pendidikan Merata Tak Kunjung Terlaksana)”. Pembahasan tema yang menarik ini dibawakan langsung oleh Mulyono selaku Koordinator KASBI Jawa Tengah dan Ariska Nurfajar Rini S.E., M.Si., selaku dosen FEB Undip.
Sebelum memasuki pembahasan utama, para audiens disuguhkan penampilan oleh Teater Buih. Teater Buih menyajikan cerita dimana buruh dan guru yang dibuat resah oleh kebijakan pemerintah. Teater Buih memberi kutipan “Dengarkan Kami, upah buruh yang tidak dibayarkan, mana dana alokasi pendidikan 20% dari APBD, pelecehan seksual di mana-mana di tempat kerja, diskriminasi guru ASN dan Swasta, Suara dibungkam, kritik dilarang!”.
Pada sesi pembahasan, Mulyono memberikan keluh kesah para buruh yang kesal dengan UU Ciptaker. Mulyono menyebutkan bahwa pada Omnibus Law buruh hanya menjadi kambing hitam. Menurut Mulyono ada 4 hal yang harus diperbaiki saat ini. Korupsi yang masih merajalela, birokrasi yang tidak semestinya, keamanan para tenaga kerja, dan penegakan hukum yang dianggap kurang. Pada akhirnya UU Ciptaker dianggap menciptakan praktik fleksibilitas upah dan mengurangi hak istirahat para buruh.
Setelah membahas kesejahteraan buruh, diskusi dilanjutkan dengan membahas masalah pendidikan di Indonesia. Ariska mengatakan ada 3 isu utama pembangunan Indonesia. Missmatch skill, school but not learning, serta kualitas dan kesejahteraan guru. Banyak pengangguran friksional dari lulusan SMK yang terjadi karena adanya kesenjangan antara jumlah pendaftar dan kelulusan. Ariska juga menyampaikan Penurunan kompetensi pada siswa disebabkan oleh kualitas guru. Upah guru yang tidak sesuai menjadi salah satu alasan menurunnya kualitas guru. Masalah-masalah tersebut menjadi sorotan bagi pendidikan Indonesia.
Pada akhir sesi kedua pembicara menyempatkan diri untuk memberikan closing statement. Mulyono mengatakan “Buruh tidak meminta macam-macam, penegakan hukum terhadap ketenagakerjaan perlu ditingkatkan”. Sementara Ariska memberikan pesan “Jadilah manusia yang berintegritas, kita sebenarnya tidak membutuhkan orang yang IPK tinggi tetapi membutuhkan orang yang berintegritas tinggi”.
Reporter : Messal
Penulis : Qosim

