Oleh: Fortuna Tunggadewi dan Michelle Jenifer
(Undip 16/8) – Departemen Kajian dan Aksi Strategis INSANI Undip kembali hadir membawakan Insani Youth Talk VI: “Sosialisme, Liberalisme, dan Pancasila: Mana yang Paling Cocok untuk Indonesia?” Dalam Insani Youth Talk ini, Insani mengajak pendengar untuk mencari tahu mengapa para bapak pendiri bangsa memilih Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia dibanding dengan ideologi-ideologi terkenal lainnya. Dipandu oleh moderator Hilmy Azkal dan materi dibawakan oleh Muhammad Akmal Ashari selaku Pustakawan SMKN 4 Tangerang Selatan dan Kontributor Gen. Saladin.
Materi dibuka dengan penyampaian pengertian ideologi. Ideologi merupakan kumpulan gagasan, ide-ide dasar, keyakinan, dan kepercayaan yang bersifat dinamis dan membentuk karakter berpikir dalam mewujudkan keinginan dan cita-cita. Biasanya, ideologi dimanifestasikan dalam aksi politik dan ekonomi. Lalu dijelaskan beberapa ideologi besar di dunia seperti Liberalisme, Kapitalisme, Sosisalisme, Komunisme, dan Islamisme. Beberapa ideologi tersebut pernah eksis di Indonesia seperti Komunisme, Sosialisme, dan Islamisme. Ideologi lain yang pernah berkembang adalah Liberalisme dan Nasionalisme. Sekarang Indonesia memakai ideologi Pancasila sebagai ideologi bangsa. Ideologi Pancasila muncul sebagai konsensus bangsa setelah konflik ideologi era 50-60an.
Setelah pemaparan materi, diskusi dilanjutkan dengan tanya jawab. Penanya pertama Ilham menanyakan kontradiksi negara Perancis yang merupakan negara Liberal namun membatasi hak masyarakat muslim untuk menjalankan kewajibannya, contohnya dalam menggunakan hijab. Akmal Ashari menyatakan sebenarnya negara Liberal banyak melakukan tindakan rasisme dan diskriminasi terhadap umat Islam. Selanjutnya, penanya yang sama bertanya mengapa negara komunis memiliki nama yang terdengar demokratis seperti Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan Republik Rakyat Demokratik Korea (RRDK). Pemateri sendiri belum bisa menjelaskan penyebab penamaan negara tersebut karena merupakan hak dari masing-masing negara.
Kemudian peserta bernama Fikri menyampaikan perspektif lain, ia menyampaikan Islamisme bukanlah ideologi, karena Islam merupakan agama dan bersumber dari Tuhan, Selanjutnya, Fikri menyatakan Pancasila bukanlah ideologi. Melihat catatan sejarah, tidak ada pernyataan Pancasila merupakan ideologi, melainkan Philosopische Grondslag atau pandangan hidup. Fikri melanjutkan dengan pertanyaan, sila pertama Pancasila menekankan nilai Ketuhanan, sedangkan sila kedua menekankan kemanusian, dan bisa saja terdapat nilai kemanusiaan yang bertentangan dengan nilai agama. Karenanya, terlihat ketidakteraturan Pancasila. Dalam menjawab pertanyaan, pemateri kembali menyatakan banyak tafsiran mengenai Pancasila.
Kemudian Fikri menanggapi dengan pernyataan “Pancasila sudah final” kurang tepat, karena jika demikian maka Pancasila bukan lagi proses berfikir. Di sisi lain, ia juga menyampaikan ideologi seperti liberalis, komunis hingga sosialis banyak diteliti sedangkan sangat jarang ditemui penelitian terkait Pancasila. Akmal Ashari membenarkan pernyataan tersebut dan memberikan alasan mengapa Pancasila jarang diteliti karena mungkin adanya rasa takut dan enggan karena apabila muncul hasil tidak sesuai akan dianggap melecehkan Pancasila. Pemateri juga menyampaikan, Pancasila dewasa ini telah menjadi barang politik yang sensitif.
Selanjutnya adalah dokumentasi dipandu oleh moderator dan dilanjutkan dengan closing statement oleh Akmal Ashari selaku pemateri. Dalam kesempatan ini pemateri menyatakan mahasiswa harus belajar dan memperkaya ilmu pengetahuan, serta memanfaatkan semua kesempatan diskusi, membaca buku terutama dengan hal-hal yang berhubungan dengan negara. Ia juga menegaskan besok negara kita akan memperingati kemerdekaan dan mahasiswa harus banyak belajar karena dalam beberapa tahun lagi, mahasiswa merupakan calon pemimpin legislatif, yudikatif, bahkan eksekutif.

