
Oleh: Alvaro Siahaan
Berdasarkan riset dari UNESCO pada tahun 2011, disebutkan bahwa Indonesia masuk urutan kedua dari bawah soal literasi dunia. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangatlah mengkhawatirkan, hanya 0,001% yang berarti dari 1.000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca.
Hal ini menimbulkan tanda tanya yang besar mengenai alasan rendahnya tingkat literasi di Indonesia. Banyak pihak yang berpendapat bahwa hal ini diakibatkan oleh infrastruktur yang kurang mendukung untuk kegiatan membaca, namun hal ini dapat dibantah oleh riset yang dilakukan Central Connecticut State University. Riset bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan pada Maret 2016 lalu, menyatakan bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, padahal dari segi penilaian infrastruktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa.
Dari pemaparan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa yang menjadi masalah utama dalam rendahnya minat baca di Indonesia bukanlah masalah infrastruktur tetapi masalah pola pikir masyarakat Indonesia yang belum terbiasa untuk membaca. Pola pikir bahwa membaca hanya untuk sekedar hobi atau membaca buku merupakan hal yang membosankan masih sering terdengar di telinga kita. Pandangan ini jadi menjamur dalam masyarakat dan stigma yang buruk ini kemudian tumbuh. Padahal, tak dipungkiri bahwa membaca adalah kunci dari gudang kemajuan negara Indonesia untuk kedepannya. Seperti kata Galus rendahnya minat membaca masyarakat, erat hubungannya dengan tingkat pendidikan di negara tersebut, hal ini menggarisbawahi betapa krusialnya budaya literasi dalam kemajuan negara.
Pola pikir ini mayoritas terbentuk dari masa perkembangan di masa anak-anak (6-12 tahun). Pada masa inilah peran keluarga dan sekolah sangat penting untuk menumbuhkan budaya membaca serta pemahaman literasi. Realitanya pada saat ini membaca adalah kegiatan yang jarang dilakukan oleh anak-anak. Hal ini dikarenakan banyak faktor: anak-anak yang lebih suka untuk bermain gawai dibandingkan membaca, rasa malas untuk membaca, dan bahan bacaan yang kurang menarik. Hal inilah yang harus orangtua, pihak sekolah, dan pemerintah benahi karena minimnya budaya membaca dapat membuat anak-anak sulit untuk memahami isi dari suatu bacaan, hal ini juga dapat menyebabkan keterampilan berpikir kritis anak yang kurang. Stigma membaca yang biasanya tergambarkan oleh kata bosan dan melelahkan haruslah diubah dengan membuat kegiatan membaca menjadi sesuatu yang menyenangkan untuk anak-anak.
Adapun beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua sebagai guru pertama anak untuk menumbuhkan budaya minat membaca pada anak sejak dini yaitu dengan menjadi contoh yang baik, anak tidak hanya sekedar diberikan perintah tetapi orang tua dituntut untuk menjadi teladan yang baik dengan cara rajin membaca buku ataupun dapat dilakukan dengan cara membaca secara bersama dengan anak. Kemudian orang tua perlu menyediakan fasilitas berupa buku yang berkualitas dan sesuai dengan umur anak. Biarkan anak membaca berbagai jenis buku yang mereka sukai contohnya seperti buku komik.
Peran yang sekolah dan pemerintah dapat terapkan adalah dengan menetapkan kebijakan kegiatan budaya literasi dan minat baca di sekolah. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan minat baca anak-anak di berbagai daerah. Pemerintah juga dapat meningkatkan program perpustakaan untuk lebih menarik anak muda lagi dalam kegiatan membaca.
Untuk meningkatkan minat baca di Indonesia perlu keterbukaan antara pihak keluarga, sekolah, dan pemerintah karena untuk mencapai harmoni tidak bisa diwujudkan hanya oleh satu pihak saja melainkan harus dengan kerjasama dari berbagai pihak. Lebih penting lagi kesadaran diri siswa juga menjadi faktor penentu bagi meningkatnya minat baca, kesadaran bahwa membaca adalah cara untuk mendapatkan wawasan yang luas di era globalisasi ini.

