
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada 12 Mei 2026 menyentuh level Rp17.500 per dolar AS. Kondisi ini mencetak rekor baru bagi Indonesia, yakni posisi nilai tukar rupiah terlemah sepanjang sejarah. Tercatat, rupiah telah melemah sebesar 3,9% sejak awal tahun (year to date).
Mengutip dari Antara, analis Bank Woori, Rully Nova, memprediksi bahwa rupiah masih akan mengalami tekanan di kisaran Rp17.500 per dolar AS. Hal ini disebabkan oleh kondisi global yang tidak pasti.
“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah pada kisaran Rp17.525–Rp17.575, dipengaruhi oleh ketidakpastian global akibat konflik geopolitik dan tren kenaikan inflasi, sehingga menyebabkan naiknya harga minyak, indeks dolar, dan yield obligasi pemerintah AS,” ujarnya.
Sejalan dengan hal tersebut, melansir dari Tempo, CHIEF Economist Permata Bank, Josua Pardede, menyatakan bahwa faktor melemahnya Rupiah dipengaruhi oleh kombinasi dari permasalahan global dan domestik yang terjadi secara bersamaan. Menurutnya, pada sisi domestik terjadi permasalahan kredibilitas dari hasil kebijakan pemerintah yang berimplikasi pada torehan tanda merah dari Morgan Stanley Capital International (MSCI)—perusahaan jasa keuangan dan riset yang bergelut dalam dunia investasi global, di mana membuat analisis terkait indeks pasar saham serta alat analisis investasi global—bagi Indonesia.
Selain itu, penilaian merah atau negatif juga didapat Indonesia dari Moody’s Corporation dan Fitch Ratings—Lembaga pemeringkat kredit di mana lembaga ini menilai kemampuan suatu pihak, baik negara, perusahaan, bank dalam membayar utang dan risiko gagal bayar (default) —yang awalnya Indonesia berada pada prospek pembayaran utang negara yang stabil menjadi negatif. Kedua penilaian ini menciptakan sentimen negatif di pasar modal, yang ditandai dengan keluarnya aliran modal asing atau capital outflow, terhitung sedari awal tahun hingga April lalu.
Di sisi lain, melansir dari Liputan 6, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti mengungkapkan bahwa permintaan dolar juga didorong oleh kebutuhan valas untuk membayar utang luar negeri, pembagian deviden perusahaan dan kebutuhan masyarakat untuk ibadah haji.
“Pada sisi domestik, meningkatnya kebutuhan dolar secara musiman, seperti pembayaran ULN dan pembayaran deviden serta kebutuhan untuk ibadah haji mendorong peningkatan permintaan dolar pada pasar domestik,” ujarnya.
Melihat kondisi tersebut, Bank Indonesia menyatakan akan terus melakukan berbagai upaya untuk menjaga stabilitas rupiah, termasuk melalui intervensi pasar valuta asing, baik secara spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), maupun Non Deliverable Forward (NDF).
Selain itu, Destry menegaskan bahwa bank sentral juga akan meredam votalitas nilai tukar dan mengungkapkan kalau kepercayaan investor asing terhadap aset keuangan dalam negeri masih cukup baik.
“BI juga melihat confidence investor asing pada aset portofolio yang terus membaik, terlihat dari masuknya inflow, terkhusus pada pasar SBN dan SRBI selama bulan April yang sebesar Rp61,6 triliun,” ujarnya.
Sementara itu, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi fenomena ini dengan keyakinan bahwa perbaikan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat bukan hal yang sulit sebab fondasi ekonomi Indonesia dinilai masih baik. Purbaya juga menegaskan bahwa penanganan nilai tukar rupiah bukan tugas Kementerian Keuangan, melainkan tugas Bank Indonesia sebagai bank sentral.
“Kalau saya pikir sih gini, dengan fondasi ekonomi yang bagus, enggak sulit memperbaiki nilai tukar, tapi itu bukan kerjaan saya, kerjaan bank sentral. Nanti bank sentral akan menjelaskan bagaimana cara memperbaikinya.” ucapnya.
Selanjutnya, Presiden Prabowo Subianto turut memberikan tanggapan terkait pelemahan rupiah saat peresmian operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, pada 16 Mei 2026 di Nganjuk. Prabowo menyatakan bahwa lemahnya nilai rupiah tidak berpengaruh bagi masyarakat desa sebab mereka tidak menggunakan dolar. Menurutnya, pihak yang terdampak hanyalah masyarakat yang pergi ke luar negeri.
“Mau dolar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa enggak pakai dolar. Yang pusing, yang itu, yang suka keluar negeri,” ujarnya.
Pernyataan tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan: benarkah pelemahan nilai rupiah tidak berdampak bagi masyarakat luas?
Pada kenyataannya, kombinasi permasalahan global dan domestik yang menyebabkan pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat turut berdampak pada aktivitas perekonomian Indonesia. Melansir dari Tempo, Guru besar Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, mengungkapkan bahwa melemahnya nilai rupiah dapat berdampak pada kenaikan harga barang-barang impor sehingga perlahan mendorong inflasi. Ia menerangkan bahwa bahwa dampak tersebut akan diawali oleh kenaikan harga berbagai kebutuhan yang berkaitan dengan pemasok global, seperti pangan impor, bahan baku makanan, obat-obatan, alat kesehatan, produk elektronik, pakan ternak, hingga barang kebutuhan rumah tangga.
“Jika rupiah bertahan di kisaran 17 ribu per dolar AS dalam waktu yang lama, masyarakat akan merasakan tekanan langsung pada biaya hidup,” imbuhnya.
Syafruddin juga menyampaikan bahwa tekanan tersebut akan semakin besar karena harga energi impor dunia masih berada pada tingkat yang tinggi. Kondisi ini berimplikasi pada peningkatan biaya energi domestik yang kemudian merambat pada kenaikan biaya transportasi, distribusi, serta harga barang di pasar dan sektor ritel.
“Rumah tangga miskin dan kelas menengah akan mendapatkan tanggungan beban paling berat karena porsi belanja mereka terkonsentrasi pada makanan transportasi dan kebutuhan rutin,” ucap Syafruddin.
Sejalan dengan hal tersebut, Shinta Kamdani selaku Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), menyatakan bahwa peningkatan nilai dolar Amerika Serikat yang berimplikasi pada kenaikan harga pangan serta distribusi bahan baku akan mendorong produsen untuk menekan biaya produksi. Salah satu langkah yang kemungkinan ditempuh ialah menaikkan harga jual kepada konsumen. Selain itu, apabila kenaikan harga belum memungkinkan dilakukan sebab daya beli pasar akan menurun, produsen akan melakukan penyesuaian alternatif pada produk yang dijual seperti halnya menurunkan kualitas kelengkapan produk atau memperkecil ukuran produk.
“Bila semua opsi di atas tidak memungkinkan, perusahaan mau tidak mau harus menaikkan harga jual di pasar dengan risiko penurunan kinerja penjualan maupun perubahan daya serap pasar,” tuturnya.
Di sisi lain, melansir dari Kompas, Wijayanto Samirin, Ekonom Universitas Paramadina menjelaskan bahwa pelemahan rupiah juga akan berdampak pada meningkatnya biaya perjalanan luar negeri, ibadah haji dan umrah, hingga pendidikan di luar negeri.
“End-to-end impact-nya, terasa pada semua aspek,” imbuhnya.
Ia juga menuturkan bahwa intervensi dalam menangani pelemahan rupiah tidak dapat hanya bergantung pada Bank Indonesia semata. Menurutnya, langkah tersebut tidak akan cukup efektif apabila tidak disertai dengan perbaikan fundamental perekonomian negara.
“BI hanya bisa smoothing atau meredam volatilitas, tapi tidak bisa menentukan nilai tukar secara decisif,” terangnya.
Berkaitan dengan kondisi tersebut, Wijayanto Samirin menyampaikan bahwa pemerintah perlu memberikan perhatian serius terhadap perbaikan alokasi kebijakan fiskal sebagai solusi atas kondisi saat ini. Menurutnya, pemerintah sebaiknya menunda program-program yang belum bersifat mendesak serta mendorong reformasi subsidi agar kebijakan yang diterapkan menjadi lebih adaptif dan tidak terlalu membebani APBN.
Refrensi
Adit, A. (Ed.). (2026, Mei 12). Rupiah Melemah, Ekonom: Harga Pangan, Transportasi, dan Energi Terancam Naik. Kompas.com.
Diahwahyuningtyas, A., & Adhi, I. S. (Ed.). (2026, Mei 7). Rupiah Terus Melemah, Perlukah Khawatir? Ekonom Jelaskan Penyebab dan Dampaknya. Kompas.com.
Estherina, I. (2026, April 10). Apa Dampak Pelemahan Nilai Tukar Rupiah bagi Masyarakat. Tempo.co.
Estherina, I. (2026, Mei 12). Rupiah Ambrol ke 17.500 karena Tekanan Global dan Domestik. Tempo.co.
Melani, A. (2026, Mei 13). Rupiah Masih Betah di 17.500, Simak Prediksi Hari Ini 13 Mei 2026. Liputan6.com.
Naibaho, J. (Ed.). (2026, Mei 12). Nilai Tukar Rupiah Sudah Tembus Rp17.506 per Dollar AS, Terlemah Sepanjang Masa. Tribun-medan.com.

