KKN Tematik Undip Kembangkan Ekonomi Kreatif di Desa Gemawang Kabupaten Semarang

Tim KKN Tematik Undip Desa Gemawang Bersama Dosen Pembimbing Lapangan

Gemawang (19/8) – Dalam rangka melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, dosen dan mahasiswa dari Universitas Diponegoro (Undip) melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Gemawang, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang. Kegiatan ini memiliki tema dan tujuan untuk mengembangkan kegiatan ekonomi kreatif yang ada di desa tersebut. Desa Gemawang telah dikenal sebagai desa vokasi dan memiliki UKM yang memproduksi batik, aksesoris berbahan kain, mainan edukatif, serta olahan kuliner.


Rangkaian kegiatan KKN Tematik tersebut dilaksanakan pada pertengahan Juli 2019 hingga akhir Agustus 2019. Rangkaian kegiatan KKN Tematik Undip yang dilaksanakan dipimpin oleh koordinator dosen pembimbing lapangan Ana Irhandayaningsih dan mendapat dukungan pendanaan dari Kemenristek Dikti. Pada acara pelepasan, Ana berpesan kepada mahasiswa Tim KKN Tematik Undip untuk menerapkan inovasi yang tepat guna bagi pelaku ekonomi kreatif di Desa Gemawang. Tim KKN Tematik Undip yang diterjunkan tersebut terdiri dari tiga puluh mahasiswa dari lima fakultas, yang diketuai oleh Reyhan Fadhil dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis.

Mhasiswa KKN Tematik Undip dengan Masyarakat Peserta Pelatihan


Tim KKN Tematik Undip antara lain memiliki program kerja berupa penerapan alat canting listrik dan alat pengeringan pewarna alami. Alat canting listrik yang diterapkan memiliki chip prosesor di dalamnya sehingga menghasilkan suhu yang optimal untuk proses nyanthing. Salah satu pengrajin batik yaitu Fauzi yang ikut dalam sosialiiasasi dan pelatihan, mengungkapkan bahwa proses nyanthing batik menjadi lebih cepat jika dilakukan dengan alat ini. Sementara di lokasi UKM Batik Laweng Ageng milik Fauziah, tim KKN Tematik Undip menerapkan alat pengering kulit kayu mahoni. Kayu mahoni merupakan bahan utama pewarna kain Batik Laweng Ageng. Fauziah merasa sangat terbantu dengan penerapan alat ini, terutama dalam menjalankan produksi pewarna alami saat musim hujan.


Tim KKN Undip juga melakukan kegiatan yang bersifat penguatan manajemen. Kegiatan tersebut dilakukan melalui pelatihan dan pemasaran online, pembukuan usaha, perkreditan, dan pendampingan legalisasi usaha. Terdapat enam UKM yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Para pelaku usaha merasa sangat terbantu karena mampu memasuki pasar online dengan persiapan yang baik. Pengrajin dan pemilik UKM juga merasa terbantu dengan ilmu pembukuan usaha dan fasilitasi pendaftaran merek dan izin usaha yang diperoleh selama pelatihan.


Pada aspek pengolahan limbah, Tim KKN Undip juga memperkenalkan teknologi untuk mengolah limbah batik. Melalui tambahan alat elektrik ini, polutan yang terlarut pada limbah pewarnaan batik dapat digumpalkan dan tidak ikut terbuang ke saluran air. Peralatan ini telah diujicobakan di kolam penampungan limbah di UKM Batik Gemawang.

Pengenalan Teknologi untuk Mengolah Limbah kepada Pengrajin Batik

Pada acara pelepasan, Kepala Desa Gemawang, Mahmudi memberi apresiasi kepada tim KKN Tematik Undip terutama sumbangsihnya terkait pengetahuan dan peralatan yang dapat menunjang ekonomi kreatif di Desa Gemawang. Mahmudi semakin optimis produktivitas pelaku ekonomi kreatif di Desa Gemawang dapat meningkat dan menghasilkan produk yang unggul dalam persaingan usaha.

The Stage V sebagai Momentum Kebangkitan Teater Buih

Reporter: Yusuf, Yunita

Pertunjukan Teater “The Stage V” oleh Teater Buih

FEB (26/9) – Telah diselenggarakan pertunjukan teater bertajuk The Stage V di Dome FEB Undip oleh UKM-F Teater Buih. Pertunjukan tersebut merupakan program kerja tahunan dari Teater Buih, dan untuk tahun ini Kebangkitan “Jangan Menangis Indonesiaku, Bangkitlah Indonesiaku” diangkat sebagai tema.

Kebangkitan Indonesia dan Teater Buih

Disampaikan oleh Ketua Panitia dalam wawancaranya bahwa pemilihan tema tersebut bisa dibilang karena ketidaksengajaan. Tema tersebut dipilih karena melihat bagaimana kondisi Indonesia akhir-akhir ini sehingga tercetuslah tema kebangkitan. Selain menggambarkan kebangkitan Indonesia, arti tema tersebut adalah menggambarkan kabangkitan dari Teater Buih itu sendiri dimana mereka berharap dengan dimulainya pertunjukan ini mereka dapat eksis kembali di kampus. Pertunjukan tersebut juga merupakan ajang pengenalan Teater Buih kepada para mahasiswa baru agar merka tertarik bergabung dengan Teater Buih. “Tema The Stage V ini diangkat karena momentumnya pas dengan kondisi negeri saat ini serta untuk menunjukan bahwa UKM-F Teater Buih ini ada dan kami akan berusaha untuk bangkit dan eksis di FEB,” tutur ketua pelaksana The Stage V.

Seni Menyindir Elit Politik

Pertunjukan dimulai dengan pembacaan puisi karya Khairil Anwar yang berjudul Karawang-Bekasi. Pembacaan puisi tersebut dimaksudkan untuk menggambarkan kondisi Indonesia akhir-akhir ini yang sedang tidak baik-baik saja serta sebagai pengantar sebelum memasuki pertunjukan. Tampilan pertama adalah pertunjukan monolog yang mengisahkan seorang budak di Negeri Jiran, dimana budak tersebut tidak dimanusiakan layaknya manusia tapi justru diperlakukan seperti binatang serta tidak mendapatkan hak-haknya sama sekali. Tampilan tersebut dimaksudkan untuk menyindir aparat penegak hukum yang tidak bisa melindungi hak-hak pribadi atau individu serta hukum saat ini yang cenderung bersifat  tumpul ke atas dan tajam ke bawah.

Pertunjukan yang kedua dari tim Teater Buih merupakan suatu tamparan keras bagi para elit politik dan para koruptor. Dalam pertunjukan tersebut dipertontonkan secara jelas bagaimana kebusukan dari para elit politik yang merampas hak-hak rakyat demi memenuhi kebahagiaan dan kepuasan pribadinya. Di situ juga muncul tokoh Marsinah dan Munir yang merupakan aktivis HAM yang memperjuangkan hak-hak rakyat tetapi justru terbunuh dan kasusnya tidak menemui penyeesaian hingga sekarang.

The Stage V sebagai Pemantik Sikap Kritis

Untuk lebih mencairkan suasana pertunjukan tersebut diselingi dengan yang penampilan akustik dari beberapa ormawa di FEB. Setelah semua tampil maka acara ditutup dengan pembacaan puisi, sehingga penampilan teater tersebut berakhir dengan klimaks. Harapan dari panitia penyelenggara adalah The Stage V ini dapat menjadi pemantik bagi para mahasiswa untuk lebih peka terhadap kondisi Indonesia sekarang ini. Serta dengan acara ini diharapkan warga FEB dapat lebih membuka matanya bahwa seni itu luas dan seni juga dapat dijadikan ajang untuk menyalurkan aspirasi dan menyampaikan kritik terhadap pemerintah. “The Stage V ini sudah bagus, kita dapat menikmati seni pertunjukan sekaligus tau isu-isu terkait masalah politik dan hak asasi manusia,” ujar Dewi, salah satu penonton.

Seruan Aksi Reformasi Dikorupsi, Gubernur Jawa Tengah: Tuntutan Akan Dibawa Ke Pusat

Reporter: Cahyani Wulan, Kiki

Massa Aksi dalam Seruan Aksi Reformasi Dikorupsi

Semarang (24/9) – Telah berlangsung aksi yang bertujuan untuk menyampaikan aspirasi mahasiswa, sekaligus sebagai bentuk keprihatinan atas tindakan pemerintah terhadap beberapa Undang-Undang yang direvisi. Aksi tersebut disebut Seruan Aksi Reformasi Dikorupsi “Bangun Kekuatan, Saatnya Turun ke Jalan” yang dipelopori oleh Aliansi Semarang Raya. Aksi tersebut berlangsung di Gedung DPRD Jawa Tengah. Aksi dilakukan oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang ada di Semarang, seperti Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Negeri Semarang (Unnes), Universitas Islam Negeri Walisongo (UIN), Universitas Semarang (USM), Universitas Islam Sultan Agung (Unisula), Universitas Wahid Hasyim (Unwahas), Universitas Stikubank Semarang (Unisbank), Universitas Katolik Soegijapranata (Unika), Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Politeknik Negeri Semarang (Polines), Universitas Ngudi Waluyo (UNW), dan Universitas Kristen Satya Wacana(UKSW) Salatiga. Selain dari mahasiswa, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) dan beberapa masyarakat sipil juga ikut serta dalam aksi tersebut. Aksi dimulai pada pukul 10.00 WIB. Aksi diawali dengan orasi dari para pemimpin orator. Dari dimulainya aksi hingga siang hari, peserta aksi terus bertambah. Diperkirakan peserta aksi mencapai 1500 mahasiswa. Dalam aksi ini, mahasiswa ingin menyampaikan beberapa tuntutan terkait revisi UU kontroversial.

Para peserta aksi menyerukan bahwa Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, harus segera menemui mereka. Namun setelah satu jam lebih menunggu, gubernur atau pihak yang mewakili tidak kunjung menemui para peserta. Suasana pun memanas, para peserta mendorong dan menggoyangkan gerbang sampai roboh. Setelah itu, barulah ada mediasi antara Kapolrestabes Semarang Kombes Abioso Senoaji bernegosiasi dengan perwakilan mahasiswa. Abioso mengatakan dia akan mengizinkan massa aksi masuk ke halaman gedung DPRD Jateng dengan jaminan massa bisa tertib. Massa mulai tenang ketika Ganjar Pranowo menaiki mimbar dan berjanji bahwa akan menyampaikan aspirasi masyarakat kepada DPR RI.


Menurut massa, pemerintah sudah condong ke pemerintahan Orde Baru Oligarki. Kepentingan dan kesejahteraan rakyat tidak menjadi tujuan utama kinerja pemerintah namun tujuan pejabat sekarang hanya untuk melindungi kekuasaannya.


Berikut tuntutan yang tercantum dalam surat yang telah ditandatangani oleh Ganjar Pranowo selaku Gubernur Jawa Tengah, Sukirman selaku Wakil DPRD Jawa Tengah, dan Kombes Abioso Senoaji selaku Kapolrestabes Semarang :
1.) Menuntut DPR RI mencabut draft RUU KUHP, RUU Ketenagakerjaan, RUU Peternakan, RUU Permasyarakatan, dan mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga, dan RUU Masyarakat Adat.
2.) Menuntut presiden untuk mengeluarkan PERPUU Pencabutan UU KPK dan UU Sumber Daya Air.
3.) Menuntut Kepala Presiden untuk memberikan sanksi negara kepada korporasi pembakar hutan.
4.) Menuntut Kepolisian RI untuk membebaskan dan menghentikan kriminalisasi aktivis Papua, Pejuang HAM, dan bertanggungjawab atas pemulihan nama baik setiap aktivis. Menghentikan intimidasi terhadap Papua.
5.) Menuntut Kepala Pemerintah untuk menjamin terlaksananya pemberian jasa layanan kesehatan BPJS yang baik dengan skema pembiayaan yang ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah sebagai lembaga yang berkewajiban untuk memenuhi ha katas kesehatan kepada seluruh rakyat Indonesia.
6.) Menuntut pemerintah untuk mengusut tuntas kasus pelanggaran HAM
7.) Menuntut pemerintah untuk mewujudkan pendidikan yang demokratis, gratis, dan transparan dalam keuangannya, menghentikan komersialisme pendidikan yang mengakibatkan akses pendidikan semakin sulit diperoleh oleh seluruh rakyat Indonesia. Meningkatkan kesejahteraan guru honorer dan mengangkat guru honorer golongan K2 menjadi PNS dan atau PPPK, dan memoratorium kebijakan PPG bagi lulusan LPTK.

Aliansi BEM Se-Undip Gelar Aksi Solidaritas Tolak Upaya Pelemahan KPK

Reporter: Farah Nailal Azza

Aksi Solidaritas “Seribu Bunga untuk Duka Indonesia”

Semarang (22/09) – Bertempat di sekitaran Lawang Sewu, Semarang telah dilaksanakan kegiatan Aksi Solidaritas “Seribu Bunga untuk Duka Indonesia” yang diselenggarakan oleh Aliansi BEM Se-Undip. Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian mahasiswa terhadap hasil putusan Presiden Jokowi terhadap pengesahan RUU Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Terinisiasi dari Lanjutan Aksi Semarang Raya

Aksi solidaritas “Seribu Bunga untuk Duka Indonesia” merupakan bentuk aksi lanjutan yang diinisiasi oleh Aliansi Semarang Raya yang telah diselenggarakan pada Selasa, 17 September 2019 bertempat di kantor DPRD Jawa Tengah. Kegiatan ini mengikutsertakan berbagai elemen lembaga mahasiswa dan masyarakat. Aksi tersebut berisi tuntutan terhadap pemerintah atas pengesahan RUU KPK. Aksi solidaritas dari Aliansi BEM Se-Undip diselanggarakan atas dasar penolakan terhadap pengesahan RUU KPK. Pasalnya saat aksi yang diselenggarakan oleh Aliansi Semarang Raya lalu, pemerintah sudah lebih dulu menetapkan RUU tersebut, sehingga menoreh aksi protes dari mahasiswa diberbagai daerah khususnya di Kota Semarang. Saat diwawancarai M. Anies Ilahi, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Undip, menyatakan bahwa penetapan RUU KPK ini sangat disayangkan karena merupakan bentuk upaya pelemahan terhadap lembaga anti rasuah. “Sebelumnya kita sudah ada aksi serupa dari Aliansi Semarang Raya hari Selasa, tapi setelah itu dari pemerintah kok malah sudah diputuskan RUU KPK tersebut. Berarti itu tandanya, pemerintah tidak mendengar aspirasi masyarakat terkait penolakan RUU KPK,” ujar Anies. Aliansi BEM Se-Undip sebelum menyelenggarakan aksi kali ini, telah memberikan pernyataan sikap melalui media terkait dengan putusan RUU KPK, dan sebagai tindak lanjutnya adalah serangkaian aksi yang diselenggarakan di Lawang Sewu. “Kita sebelumnya ada pernyataan sikap dulu, saya yakin sebagian besar mahasiswa sudah tahu akan isu ini, jadi kita langsung ke materi pencerdasan yang selanjutnya ditindak lanjuti teknis aksi solidaritas,” tambah Anies.

Bentuk Protesan kepada Pemerintah

Urgensi Kegiatan sebagai Perhatian untuk Pemerintah

Aksi solidaritas kali ini, dirasa memiliki urgensi yang tinggi untuk pemerintah khususnya Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sebagai bentuk protes dari ketidakadilan terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Mengingat KPK merupakan lembaga anti rasuah yang sangat berperan penting terhadap proses demokrasi di Indonesia, dan apabila tidak dilindungi dengan payung hukum yang tepat, justru akan merugikan negara karena tingkat korupsi akan semakin tidak terkendali. “Saat keluar putusan dari pemerintah, sebenernya kita belum kalah. Masih ada harapan untuk menyuarakan sampai keluar pernyataan sikap lagi dari pemerintah terkait hal ini,” ujar Anies. Banyaknya tuntutan aksi dari masyarakat di berbagai daerah di Indonesia, seharusnya menjadi atensi bagi pemerintah agar lebih berhati-hati dalam mengambil putusan, terutama terkait rancangan undang-undang (RUU). Lantaran prosesnya yang berlangsung begitu cepat, RUU KPK ini perlu dikritisi dengan lebih dalam lagi terkait perihal pelaku dibalik isu ini. Kegiatan ini bertujuan untuk menyuarakan aspirasi masyarakat, khususnya mahasiswa Undip sebagai civitas akademika untuk mampu menunjukkan sikap atas ketidakadilan yang sedang dihadapi oleh KPK.

Kegiatan berlangsung dengan jumlah massa lebih dari 300 orang. Kegiatan diselenggarakan pukul 20.00–22.00 WIB di Lawang Sewu, Semarang. Aksi dibuka dengan lagu-lagu nasional, pembacaan puisi, dan orasi dari koordinator-koordinator aksi, serta pembagian bunga mawar kepada pengguna jalan di lampu merah Lawang Sewu.

Mengenal Gaya Hidup Halal di Era Milenial melalui Seminar Nasional Icepro 2019

Reporter: Yusuf Sufyan

Sukoso , Kepala Badan Penylenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) menyampaikan materi di hadapan para peserta seminar nasional.

FEB (21/9) – Bertempat di Laboratorium Kewirausahaan FEB Undip, telah dilaksanakan kegiatan seminar nasional yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Ekonomi Islam (HMEI) FEB Undip. Seminar nasional ini bertajuk Islamic Economics Project (Icepro) yang mengangkat tema “Halal Life Style For A Better Milenial’s Generation”.

Mengukuhkan Halal Lifestyle Dikancah Nasional
Hadir sebagai pembicara pertama yaitu Sukoso selaku Kepala Badan Penylenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), mengungkapkan bahwa Indonesia harus unggul tidak hanya dari segi kuantitas saja, tapi kualitas juga. “Bukan hanya unggul dari segi kuantitas masyarakat muslim, tapi Indonesia harus unggul dari segi kualitas masyarakat muslimnya”. Menurutnya, banyak hal yang harus dibenahi dari segi kualitas produk halal yang ada di Indonesia, supaya hahal lifestyle lebih dapat diterima dan diterapkan oleh seluruh masyarakat Indonesia yang beragama muslim.

Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas produk halal yang ada di Indonesia adalah dengan membentuk Badan Penylenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH). Badan tersebut, memiliki kewenangan dalam menetapkan sertifikasi halal terhadap suatu produk dengan beberapa prinsip di antaranya: Tracebility atau menelusuri dari awal sampai akhir produksi bagaimana produk tersebut tercipta, Grey Area atau mengecek apakah penggunaan teknologi dapat berpengaruh terhadap kehalaln suatu produk, serta melakukan pengujian secara berkala. Peran masyarakat dalam melakukan penjaminan produk halal juga sangat diperlukan diantaranya adalah mengawasi produk yang beredar, melakukan pengaduan dan pelaporan kepada BPJPH serta setiap masyarakat berhak mendapatkan pengarahan serta sosialisasi dari BPJPH.

Membranding Halal Life Style Melalui Public Speaking
Pembicara kedua dari seminar nasional Icepro adalah Muhammad Hafid, seorang presenter dan reporter TVRI. Dalam sesi ini, pembicara menjelaskan tentang bagaimana mempromosikan atau mem-branding halal lifestyle kepada generasi milenial melalui public speaking. “Public speaking adalah kemampuan berbicara didepan umum yang enak didengar dan membuat orang yang memperhatikan bisa tertarik dengan apa yang dibicarakan”, ujar Hafid. Menurutnya, dengan publicspeaking semua informasi tentang halal lifestyle dapat tersampaikan, asalkan public speaking-nya dibawakan secara menarik dan sesuai dengna aturan. Kerika kita berbicara tentang halal lifestyle, yang pertama kita harus perhatikan adalah content atau apa isi yang kita bicarakan. Kedua, gesture impressive atau gerak tubuh dan ada pesan atau kesan yang tersampaikan kepada audience. Ketiga, recriprocity atau ada timbal balik, karena orang yang sedang berbicara didepan umum dia bagaikan seorang pemimpin saat itu.

Istiqamah dengan Halal Life Style
Pembicara terakhir dalam seminar tersebut adalah Chiki Fawzi, seorang muslim travler. Chiki menceritakan tentang penglamannya bagaimana menjadi seorang muslimah atau hijabers tapi tetap dapat menjadi seorang traveler dan animator yang hasil karyanya sudah diakuki oleh dunia internasional. Dia juga menceritakan bagaimana menjadi sukarelawan dan aktif dalam social project ke berbagai daerah di Indonesia, serta penglamannya traveling ke berbagai destinasi wisata.  “Dimana ketika kita seorang muslim maka akan banyak sekali kendala yang ditemui misalnya sulitnya menemui masjid, sulit menemukan makanan halal dan menemui orang-orang yang tidak seiman dengan kita,” ujar Chiki.

Ketika Ckiki traveling keluar negeri ternyata juga menemui banyak kendala yang dihadapi, misalnya kendala bahasa dengan masyarakat setempat, sulit menentukan waktu ibadah, dan sulit menemukan produk halal. Oleh kerena itu, ketika ingin menggunakan produk tertentu di luar negeri kita harus memperhatikan ingredients atau bahan-bahan dari produk tersebut.

Seminar nasional Icepro 2019 dapat diikuti sekitar 300 peserta. Acik Febrianti, salah satu peserta seminar memberikan tanggapannya seusai mengikuti seminar tersebut. “Seminar Icepro tahun ini sangat bagus, acaranya rapi, tepat waktu, pemicaranya menarik dan panitianya terlihat sangat siap dalam menylenggarakan seminar tersebut,” ujar Acik.

Grand Opening Research Sebagai Tonggak Awal Menjadi Seorang Mahasiswa Ideal

Reporter: Yusuf Sufyan

Grand Opening Research di Laboratorium Kewirausahaan FEB Undip

FEB (14/09) – Bertempat di Lab. KewirausahaanFEB Undip telah dilaksanakan sebuah kegiatan kaderisasi riset yang diselenggarakan oleh Bidang Riset dan Keilmuan BEM FEB Undip untuk seluruh mahasiwa baru angkatan 2019. Acara tersebut adalah Grand Opening Research (Goreh) yang pada tahun ini mengangkat tema “Upgrade Your Intellectuality Trough Research Activity”.

Materi pertama adalah mengenai sosialisasi Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) oleh Shoimatul Fitria selaku koordinator PKM-K FEB Undip. Dalam sosialisasi tersebut pemateri menjelaskan mengenai perkembangan medali emas yang diperoleh Undip diajang Pimnas sejak tahun 2010-2019. Pemateri juga me-review berapa jumlah PKM dari FEB yang ternyata masih kalah jauh dengan fakultas-fakultas lain seperti Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kesehatan Masyarakat. Pemateri berharap bahwa untuk tahun yang mendatang FEB harus lebih banyak yang membuat PKM dan lolos pendanaan. Oleh karena itu beliau juga menjelaskan timeline penyusunan PKM untuk tahun 2020, dimana ketika ingin lolos PKMtingkat universitas dan bisa diunggah ke Kemenristekdikti maka mahasiswa wajib untuk mengikuti PIM Undip 2019. Dimana pedoman pembuatan PKM dapat melihat pada pedoman PKM 2018. Dalam penilaiannya, aspek pertama yang dinilai adalah kelengkapan dan kesesuaian administratif, tingkat kreatifitas serta inovasi atau kebaruan dari tahun sebelumnya. Sebelum menutup materi pertama, pemateri juga menjelaskan masing-masing karakteristik dari PKM 5 bidang (PKM-P, PKM-M, PKM-K, PKM-T dan PKM-KC), serta menghimbau mahasiswa baru untuk segera menetukan ingin membuat salah satu dari PKM tersebut

Materi kedua adalah tentang mahasiwa berprestasi, yang diisi oleh Azizah Fathma, seorang mahasiwi Ekonomi Islam angkatan 2016 yang merupakan Mawapres 3 FEB Undip dan juga peraih medali emas diajang Pimnas 2019. Dalam materi ini dijelaskan bahwa mahasiswa sangat perlu untuk meraih prestasi sebanyak mungkin untuk menjadi mahasiswa yang ideal. Dimana langkah-langkahnya adalah meluruskan niat, memiliki tekad yang kuat, mengenali personal diri, membuat target terstruktur, dan mengukir prestasi sebanyak-banyaknnya. Serta dijelaskan juga bagaimana tips dan trik untuk meraih mimpi-mimpi besar yang kita miliki yaitu dengan adanya good preparation, stay positive, find your mentor, try opporrtunities dan relation. Pemateri juga menjeaskan tiga komponen paing penting untuk menjadi serang mahasiswa yang ideal yaitu melakukan kegiatan research, memiliki jiwa entrepreuneur, dan memiliki jiwa leadership.

Materi ketiga atau materi terakhir adalah tentang bagaimana cara membuat proposal PKM, bagaimana cara supaya proposal PKM mendapatkan pendanaan dan bagaimana supaya PKM yang dibuat dapat lolos Pimnas. Dalam materi ini yang mengisi adalah Chariska Wauya dan rekan-rekannya, peraih medali emas dan perunggu di Pimnas 2019. Pemateri menjelaskan tentang teknis pembuatan proposal PKM, mulai dari awal menetukan ide, menulis proposal, konsultasi dengan dosen pembimbing, pengunggahan PKM ke Kemenristekdikti serta bagaimana suatu PKM dapat lolos Pimnas dan mendapatkan medali emas.

KUPAS EKSTRA: Memperkenalkan Ekstra Kampus dan Pembentukan PIB

Reporter: Anisulfuad, Dewima

Kegiatan Kupas Ekstra oleh Badan Eksekutif Mahasiswa

FEB (10/09) – Bidang Kebijakan Publik Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip) mengadakan acara Kupas Ekstra dengan mengangkat tema “Ekstra untuk Apa?” bersama empat organisasi ekstra yaitu Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Acara yang diselenggarakan merupakan pengenalan masing-masing ekstra dan juga diskusi terbuka antara perwakilan ekstra dengan peserta.

Diselenggarakan di Gedung PKM FEB lantai 2, acara ini dihadiri oleh sekitar 40 orang, baik dari perwakilan keempat ekstra dan juga mahasiswa FEB. Alvo Ricardo selaku ketua panitia mengatakan bahwa tujuan acara ini adalah untuk menjalin silaturahmi antar ekstra dan juga organisasi intra yaitu BEM FEB itu sendiri. Selain berdiskusi dan bersilaturahmi, hasil dialog dalam acara ini juga akan di publikasikan kepada publik.

Masing-masing perwakilan ekstra diberi waktu sepuluh menit untuk menyampaikan perkenalan organisasi yang meliputi sejarah, perkembangan, ideologi, dan juga kegiatan di masing-masing ekstra yang dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Dalam perkembangannya, masing-masing ekstra juga mempunyai peran tersendiri dalam mengawal serta membuat suatu tujuan yang baik ke depannya. Selain membahas perkembangan, kaderisasi di setiap ekstra juga tak lepas dari sorotan karena masing-masing ekstra dikenal dengan kaderisasi yang baik. Perwakilan KAMMI menuturkan bahwa kaderisasi KAMMI mempunyai prinsip berbuat baik secara bersama-sama sehingga kekompakan dan kekuatan kaderisasi sangat diutamakan. KAMMI mengandalkan pengenalan dan ajakan secara persuasif yaitu dengan cara personal.

Sesi selanjutnya adalah sesi diskusi yang dipandu oleh Muthahary Hayyurahman (Ketua Bidang Kebijakan Publik BEM FEB Undip) dengan mengangkat topik pembentukan UKM PIB (Pembinaan Ideologi Bangsa). UKM PIB sendiri merupakan UKM yang terdiri atas berbagai ekstra yang didirikan dengan tujuan untuk menangkal bibit radikalisme yang ada di lingkungan kampus. Perwakilan HMI (Adiitya) beranggapan bahwa keberadaan UKM PIB ini sangat membantu keberadaan ekstra. Ekstra yang ada sudah tak lagi dianggap tabu dan sudah diakui oleh Menristekdikti sehingga keberadaan ekstra di lingkungan kampus bisa berkembang. “Acara ini merupakan terobosan yang bagus karena ekstra yang pada awalnya dianggap tabu sekarang sudah tidak dianggap seperti itu lagi,” kata Farhan (Perwakilan dari GMNI). Namun masih ada hal yang ditakutkan yaitu mengenai pencegahan pihak kampus dengan radikalisme yang dikhawatirkan akan ada pada ekstra. Padahal visi dan misi dalam organisasi ekstra sama sekali tidak mengandung unsur radikalisme. Hasil akhir dari diskusi tersebut adalah keempat organisasi ekstra sepakat dan setuju dengan UKM PIB dengan mengawal dan membersamai baik dalam maupun luar sistem pada UKM PIB, “Secara gagasan dan ideologi dengan UKM PIB kita sepakat, cuma jangan sampai ada monopoli ideologi Pancasila dan jangan sampai keberadaan PIB menjadi polisi moral di Undip,” Ujar Farhan (perwakilan GMNI).

Harapan Bidang Kebijakan Publik BEM FEB ke depannya adalah supaya bisa mengadakan kerjasama dengan cara berdiskusi bersama untuk membahas isu-isu di lingkungan kampus. Selain itu harapannya bagi mahasiswa FEB adalah supaya bisa lebih bisa paham dengan organisasi ekstra yang ada di Undip khususnya di FEB.

Penyuluhan Produk Hasil Olahan Jambu Biji Getas Merah, Strategi Pemasaran, dan Perizinan Usaha

Oleh: KKN PPM Tematik Tim II Desa Tlogowungu, Kec. Kaloran, Kab. Temanggung

Penyuluhan Produk Hasil Olahan Jambu Biji Getas Merah, Strategi Pemasaran, dan Perzinan Usaha di Pendopo Kantor Kecamatan Kaloran

Kaloran – Senin (19/08) lalu, mahasiswa KKN PPM Tematik Tim II Desa Tlogowungu melakukan penyuluhan mengenai produk hasil olahan jambu biji getas merah, strategi pemasaran, dan perizinan usaha yang bertempat di Pendopo Kantor Kecamatan Kaloran. Sasaran dalam penyuluhan ini adalah perangkat desa, pelaku usaha, dan masyarakat yang berasal dari  tujuh desa di Kecamatan Kaloran yakni Desa Tleter, Desa Getas, Desa Gandon, Desa Tlogowungu, Desa Kalimanggis, Desa Kwarakan, serta Desa Geblog.

Mahasiswa Berinovasi

Dalam penyuluhan tersebut mahasiswa menjelaskan kepada peserta mengenai berbagai macam olahan produk jambu biji getas merah menjadi produk yang bernilai jual tinggi serta jarang dijumpai sebelumnya. Diantaranya, kerupuk jambu, selai jambu, sirup jambu, cendol jambu, es kopi jambu, sabun jambu, manisan jambu, pestisida nabati, brownis kukus jambu, teh herbal daun jambu, dan toner jambu. Ide kreatif mengolah jambu biji getas merah menjadi berbagai macam produk pangan dan produk kecantikan muncul di karenakan masyarakat selama ini hanya menjual jambu dalam bentuk mentahan, dalam artian tidak di olah menjadi produk lain yang lebih bernilai secara ekonomis. Maka bila panen jambu telah tiba petani cenderung merugi karena harga jambu hanya mencapai Rp. 500/kg tidak sebanding dengan biaya perawatan dan pengairan yang selama ini dikeluarkan.

Produk Hasil Olahan Jambu Biji Getas Merah

Niat mahasiswa ini disambut baik oleh masyarakat dan peserta yang hadir saat penyuluhan, terbukti dengan banyaknya pertanyaan yang dilontarkan mengenai bagaimana cara pengolahan jambu biji getas merah menjadi produk yang bermanfaat di masyarakat serta laku dijual di pasaran.“Benar, selama ini banyak keterbatasan dalam mengolah jambu biji getas merah, saat panen tiba kami hanya bisa menjual jambu dalam keadaan mentah (tanpa diolah terlebih dahulu), adanya penyuluhan ini membuka pikiran kami bahwa ternyata jambu biji getas merah bisa diolah menjadi berbagai macam produk yang bernilai jual, sehat, dan memiliki banyak manfaat serta kandungan bagi tubuh,” ujar salah satu peserta penyuluhan.

Tidak hanya penyuluhan saja, sejumlah mahasiswa juga membawa produk yang telah dibuat di posko untuk di coba peserta yang saat itu hadir dalam penyuluhan lengkap dengan label dan packaging-nya. Selain itu, juga ada yang membuka stand produk olahan dari jambu biji getas merah yakni es kopi jambu dan teh herbal daun jambu yang langsung dibuat saat itu juga ketika ada yang ingin mencoba, istilahnya produk yang disajikan masih fresh karena dibuat secara langsung sesuai permintaan.

Perlunya Strategi Pemasaran yang Menarik

Disampaikan pula bagaimana strategi pemasaran yang tepat untuk produk hasil olahan jambu biji getas merah. Sebelum sampai di situ, ada mahasiswa yang memberikan penyuluhan mengenai bagaimana tata cara foto produk yang benar supaya lebih menarik dan sesuai dengan standar penjualan melalui media online dengan instrument studio foto produk yang dibuat dengan menggunakan kardus dan karton, sangat simpel, murah, dan siapa saja dapat membuatnya. Saat penyuluhan tersebut berlangsung, masyarakat juga mengeluhkan sulitnya memasarkan produk yang selama ini sudah di produksi.

Media online masih menjadi salah satu solusi paling efektif, karena di era globalisasi ini lebih banyak masyarakat yang tertarik untuk belanja online yang praktis, tidak perlu membuang waktu untuk datang ke tempat, bisa di akses dimana saja dan kapan saja, serta banyak potongan harga yang ditawarkan. Maka dari itu, penyuluhan mengenai pembuatan Google My Bussiness, Instagram Bisnis, dan Facebook Page juga dilakukan sebagai media pemasaran produk olahan jambu biji getas merah kedepannya. Minimnya pengetahuan masyarakat di Kaloran mengenai media online sebagai media pemasaran yang menarik, maka mahasiswa KKN akan memberikan pendampingan secara efektif dan berkala melalui Whatsapp Group.

Perizinan dan Rekomendasi Produk

Kepercayaan masyarakat mengenai kualitas produk masih menjadi suatu hal yang sangat penting, dari hal tersebut maka diperlukan perizinan produk sebelum di pasarkan. Saat ini mengurus perizinan sudah dipermudah, dimana pengusaha bisa langsung datang ke Kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, lalu mempersiapkan persyaratan yang ditetapkan, kemudian langsung bisa mendaftar izin usaha melalui sistem terpadu satu pintu yang disebut Single Sign On (SSO) melalui e-mail yang dibuat oleh pengusaha itu sendiri. Tidak perlu khawatir, industri kecil dengan omzet di bawah Rp.50.000.000 bisa mendaftarkan produk usahanya seperti halnya usaha besar atau pabrik. Saat semua syarat telah terpenuhi, pusat akan menyeleksi dan nantinya produk akan mendapat nomor P-IRT, pelaku usahanya pun akan diberikan keterampilan untuk menghasilkan produk yang berstandar guna di pasarkan.

Pendaftaran Izin Usaha di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kab. Temanggung

Tak berhenti sampai disitu, mahasiswa KKN PPM Tematik Tim II Jambu Merah juga memberikan rekomendasi kepada perangkat desa agar produk olahan jambu biji getas merah ini dapat menjadi produk unggulan dari BUMDesa. Setiap desa di tuntut untuk dapat menggali potensi yang dimiliki oleh desa tersebut, maka dari itu guna mewujudkan desa pintar atau smart village salah satunya harus memiliki pengelolaan BUMDesa yang baik dan produk unggulan yang menonjol dari desa tersebut.

Harapan kedepannya, semoga program KKN Tematik Tim II Jambu Merah ini dapat menjadi tumpuan masyarakat untuk mengembangkan produk olahan jambu biji getas merah yang mampu meningkatkan lapangan pekerjaan dan juga mendatangkan kesejahteraan masyarakatnya karena mampu menciptakan industri yang mandiri.

Aksara sebagai Identitas dalam Kehidupan Kita

Oleh: Jessica Rahma

Hari Melek Huruf Internasional atau Hari Aksara Internasional/Sedunia atau Hari Literasi Internasional, yang diperingati setiap tanggal 8 September, merupakan hari yang diumumkan oleh UNESCO pada 17 November 1965 sebagai peringatan untuk menjaga pentingnya melek huruf bagi setiap manusia, komunitas, dan masyarakat. Setiap tahun, UNESCO mengingatkan komunitas internasional untuk selalu berpartisipasi dalam kegiatan belajar. Hari Melek Huruf Internasional ini diperingati oleh seluruh negara di dunia. Mungkin dari kalian banyak yang bertanya mengapa aksara sampai harus diadakan hari peringatan?

Mungkin bagi sebagian orang, aksara hanya merupakan huruf-huruf biasa yang ada dalam kehidupan kita. Tapi coba bayangkan bagaimana jika di kehidupan kita tidak ada aksara? Apakah kita akan bisa sepandai sekarang? Apakah kita bisa berkomunikasi seperti saat ini? Pasti kita akan bertanya-tanya seperti itu kan andai saja aksara tidak ada diantara kita. Jika tidak aksara mungkin kita tidak akan bisa membaca artikel ini. Oleh karena itu, aksara sangatlah penting dalam kehidupan kita.

Penetapan hari aksara internasional  merupakan buah dari keprihatinan UNESCO terhadap kondisi keberaksaraan masyarakat dunia. Kurangnya kesadaran beraksara dapat menjadikan kita buta huruf yang kemudian membuat kita tidak dapat membaca yang padahal kegiatan membaca dapat menambah ilmu dan pengetahuan. Dari aksara juga kita dapat belajar dalam hal menulis dan menghitung untuk meningkatkan keterampilan sebagai investasi yang sangat penting bagi masa depan. Dengan adanya membaca, menulis dan menghitung (calistung) membuat kita dapat belajar untuk menimba ilmu dan pengetahuan baik di sekolah maupun di lingkungan sekitar kita. 

Dilansir dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, bahwa tingkat buta huruf dari semua tingkat umur mengalami penurunan yang signifikan. Misal pada penduduk usia di atas 10 tahun yang buta huruf pada 2017 mencapai 4,08% dari total populasi penduduk usia di atas 10 tahun. Angka ini lebih rendah dari tahun sebelumnya 4,19%. Sementara penduduk usia 15 tahun ke atas yang buta huruf 4,5% dan penduduk usia 15-45 tahun yang tidak bisa membaca dan menulis 0,94%. Adapun penduduk usia di atas 45 tahun yang buta huruf mencapai 11,08%. Hal ini menandakan bahwa masyarakat Indonesia sudah sadar akan pentingnya aksara bagi kehidupan, sehingga aksara menjadi kebutuhan yang sangat pokok untuk menjalani kegiatan sehari-hari.

Tak hanya untuk calistung saja, aksara juga sangat penting untuk digunakan sebagai alat berkomunikasi. Jika tidak ada aksara, mungkin kita tidak akan pernah tahu bagaimana cara menyapa seseorang, bagaimana membangun obrolan yang seru dan lain sebagainya. Apalagi saat ini kita berada di era digital dimana semua hal berhubungan dengan internet dan media sosial. Informasi yang berada di internet dan media sosial dapat beredar luas karena adanya kemampuan membaca aksara yang luar biasa. Jika tidak ada aksara, mungkin orang-orang tidak akan tahu berita dan gosip yang sedang terkenal. Dalam penggunaan aplikasi obrolan seperti Whatsapp, Line, Instagram dan lain-lain, jika tidak aksara mungkin kita juga tidak akan bisa berkomunikasi dengan yang lainnya.

Dengan adanya aksara kita dapat meningkatkan budaya literasi. Pertama dengan adanya membudayakan literasi sama saja kita mendorong untuk meningkatkan melek huruf. Dengan terbiasa berliterasi, seperti membaca, menulis dan berdiskusi, membuat kita dapat mengetahui banyak informasi dari berbagai belahan dunia. Kedua, kita dapat terhindar dari berita hoax. Di era digital ini sangatlah banyak informasi yang bertebaran di media sosial, portal daring, blog, dan dari mulut ke mulut. Untuk membedakan mana informasi yang benar dan hoax, jika kita kurang dalam kemampuan berliterasi mungkin akan sulit dalam membedakannya. Namun jika kita sering berliterasi, membedakan mana informasi yang tepat dan hoax akan sangat mudah sebab jika kita sering berliterasi kita akan mengetahui informasi dari berbagai sumber sehingga dapat mengetahui ciri informasi yang benar dan terpercaya.

Untuk memperingati hari aksara internasional ini, kita dapat melakukan beberapa kegiatan yang sangat bermanfaat. Pertama, kita dapat membuat kegiatan berliterasi di kampus, sekolah maupun di lingkungan sekitar. Kegiatan literasi dapat berupa kegiatan mengulas buku, berdiskusi tentang isu terkini, membuat berbagai tulisan maupun kegiatan lainnya. Kedua, kita dapat mengikuti kegiatan literasi yang diadakan oleh suatu komunitas ataupun lembaga pendidikan. Jangan dianggap jenuh, karena kegiatan seperti itu biasanya menyesuaikan dengan zaman serta isu yang sedang kekinian. Ketiga, kita dapat berkontribusi dalam hal menyumbangkan buku kepada orang yang membutuhkan. Secara tak langsung kita mendorong kegiatan berliterasi serta meningkatkan angka melek huruf. Aksara sangatlah penting bagi kita, karena aksara merupakan ciri dan identitas kita dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang-orang luar. Jadikanlah aksara identitas kita agar dapat bermanfaat bagi kita serta pihak luar baik untuk masa sekarang maupun masa yang akan datang.

NGOPI AROMA GANJA: Diskusi Legalisasi Ganja dengan Ahli dari Berbagai Bidang

Suasana Acara NGOPI AROMA GANJA

Undip (31/08) – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Peduli Napza Universitas Diponegoro (Undip) menyelenggarakan acara “NGOPI AROMA GANJA (Ngobrol Pintar Argumen Mahasiswa Akibat Gundah Gulana Legalisasi Ganja)”. Acara ini mengangkat tema “Pesona Mariyuana Pengusik Kedamaian Negara”. Acara yang diselenggarakan merupakan acara diskusi yang membahas mengenai pro kontra legalisasi ganja di Indonesia yang perlahan mulai memudar akan tetapi masih menjadi topik hangat di masyarakat.

Bertempat di Ruang Teater Perencanaan Wilayah Kota (PWK) Undip, acara ini menghadirkan empat narasumber yang ahli pada bidang kenarkobaan, hukum, kesehatan serta Lingkar Ganja Nusantara. Narasumber tersebut adalah Susanto (Kepala Bidang Pemberantasan Dan Pemberdayaan Masyarakat BNNP Jawa Tengah), Leony Sondang Suryani (Juara Lomba Debat Konstitusi Nasional tahun 2018), Saebani (Dosen Toksikologi Forensik Undip), dan Yohan Misero (Komunitas Lingkar Ganja Nusantara – LGN). Diskusi ini dipandu oleh Muhammad Khairunaim dengan dihadiri kurang lebih 80 peserta yang berasal dari berbagai kalangan baik dari mahasiswa masyarakat umum serta organisasi-organisasi sosial di daerah Semarang dan bahkan dari mahasiswa luar kota.

Pada sesi pertama ini setiap pembicara memaparkan pandangan mereka mengenai tema yang diangkat dalam acara berdasarkan bidang masing-masing. Moderator memantik jalannya sesi pertama ini dengan meminta penjelasan pada bidang kesehatan. Kemudian moderator melempar pertanyaan mengenai pandangan terhadap isu kepada LGN. “Charlotte Fiqi seorang anak yang menderita sindrom yang penyembuhannya menggunakan tanaman ganja yang diprosuksi menjadi obat bernama Charlotte Swap. Dalam pelarangan tanaman ganja, dalam peredarannya maka orang akan tetap melakukan penyalahgunaan dengan menggunakan ganja sintetis yang jauh lebih berbahaya,” terang Yohan. “Dan penggunaan ganja disini dilihat dalam medis yang di Indonesia sendiri tidak diperbolehkan sedangkan dalam masyarakat ada penyakit yang memang disembuhkan dengan penggunaan tanaman ganja. Di Thailand dan Korea Selatan sudah dilegalkan tanaman ganja namun dengan administrasi dimana masyarakat menggunakan tanaman ganja lewat pemerintah yang mengatur. Negara bagian AS yang menggunakan ganja lebih sedikit dalam overdosis dalam penggunaan opioid dibandingkan negara yang melarang penggunaan ganja dikarenakan penggunaan ganja dan opioid bersamaan membuat kecenderungan overdosis opioid berkurang. Ganja medis sudah ada dipatenkan oleh suatu perusahaan farmasi yang digunakan untuk pasien epilepsi yang mungkin di Indonesia dapat dilaksanakan dalam tahun yang akan datang,” lanjut Yohan Misero.

Foto Bersama Panitia dan Pembicara

BNN sebagai pencegah penyalahgunaan narkoba juga memberikan pandangannya mengenai tema yang diangkat dalam acara ini. “Legalisasi ganja, dalam UU Nomor 35 Tahun 2009 dimana terjaminnya persediaan narkotika untuk medis dan melakukan pemberantasan terhadap penyalahgunaan zat narkotika. Legalisasi ganja dalam UU dimana memasukkan ganja dalam zat narkotika gol 1 yang termasuk kecanduaan golongan tinggi dimana siapapun yang melakukan penyalahgunaan akan di atur sesuai dengan UU pasal 127 dan rehab pasal 54 dan menentukan bentuk rehab dalam pasal 103,” terang Susanto. Menurut Susanto, Ganja di Indonesia penggunaannya terbesar dari negara lain. Di Indonesia, ganja dapat digunakan secara tepat guna dalam dunia kesehatan akan tetapi harus dibuktikan dengan penelitian. Di sesi kedua merupakan sesi diskusi, acara ini memiliki konsep diskusi dua arah yang dalam hal ini peserta juga dilibatkan untuk memberikan argumennya. Tujuannya agar para peserta yang hadir semakin bertambah wawasannya dengan berdiskusi dengan pakar. Sesi selanjutnya merupakan sesi tanya jawab, bagi peserta yang ingin menggali lebih dalam terhadap tema yang diangkat dalam acara ini menanyakan langsung dengan pembicara. Acara ditutup dengan closing statement dari masing-masing pembicara.

Notulensi diskusi dan materi dapat diunduh pada bit.ly/Notulendanmateringopiaromaganja2019