Mengupas Tuntas Program Holistik Pemberdayaan dan Pembinaan Desa

Reporter: Fitri Widya dan Michelle

(Undip 9/3) – Sosialisasi Program Holistik Pemberdayaan dan Pembinaan Desa (PHP2D) 2021 yang diselenggarakan oleh Koordinator PHP2D Universitas Diponegoro (Undip) 2021 bertujuan untuk mengenal program PHP2D beserta alur pelaksanaannya di tahun 2021 ini. Acara dihadiri oleh koordinator PHP2D Undip serta mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dari berbagai fakultas di Undip.

Acara dimulai pukul 15.00 WIB dengan sambutan dari Nuryanto selaku koordinator PHP2D Undip. Dilanjutkan dengan pemaparan materi mengenai filosofi program PHP2D 2021 oleh Fahmi Arifin. Diawal pemaparannya, Fahmi menjelaskan bahwa PHP2D merupakan kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan melalui BEM maupun UKM. Sebagaimana program ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa peduli dan kontribusi kepada masyarakat di desa agar terbangun desa binaan yang aktif, mandiri, berwirausaha, dan sejahtera. Selain itu, ia juga menjelaskan tiga filosofi PHP2D 2021 yaitu menolong dirinya sendiri, masyarakat adalah sumber daya yang besar, dan program yang mencakup perubahan sikap. PHP2D tahun ini mengusung tema “Terwujudnya Mahasiswa yang Mampu Berpikir Kritis, Kreatif, Komunikatif, dan Kolaboratif serta Memiliki Kemampuan Kepemimpinan dalam Pengembangan Masyarakat Desa di Era Industri 4.0 sebagai Implementasi Merdeka Belajar-Kampus Merdeka.”

Suasana Sosialisasi PHP2D 2021

Peran Mahasiswa Sebagai Agent of Change Melalui PHP2D

Tidak hanya itu, ternyata program ini juga membawa misi yang tidak kalah menarik. Misinya yaitu menerapkan karakter positif, empatik, peduli, ulet, kreatif, bertanggung jawab melalui ormawa, menemukan atau membangun potensi desa untuk pemberdayaan, membangun kerjasama baik dengan pihak eksternal, membangun kemandirian, dan mengembangkan kegiatan kemahasiswaan di desa. Diharapkan program ini dapat berdampak di masyarakat melalui kelembagaan, kemitraan, ekonomi, dan pembangunan. Serta bagi mahasiswa dapat menjadi agent of change bagi sekitarnya. Untuk mengikuti program ini, pengusul harus merupakan mahasiswa aktif program sarjana dari berbagai jurusan yang tergabung dalam Ormawa, UKM, maupun BEM yang telah disetujui universitas. Satu tim pengusul berisi minimal sepuluh orang dari organisasi mahasiswa.

Berbeda dengan topik pembahasan yang disampaikan oleh pembicara pertama mengenai filosofi PHP2D, Sri Winarni sebagai pembicara kedua lebih fokus  terkait persoalan proposal. Mulai dari bagaimana sistematika pembuatannya sampai pengajuan proposal tersebut telah dikupas secara tuntas. Setelah pemaparan dari kedua pembicara selesai, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dipimpin oleh Arfa Bahrul Ulum selaku moderator sosialisasi PHP2D. Antusiasme peserta begitu terlihat dari banyaknya peserta yang bertanya lewat fitur raise hand, namun dikarenakan keterbatasan waktu, hanya beberapa peserta tercepat yang diberikan kesempatan untuk bertanya langsung kepada pembicara.

Tips Lolos Seleksi Proposal

Di penghujung acara, terdapat sharing session oleh Aditya Al Ansori dan Noviyani Saputri. Keduanya merupakan ketua tim pemenang PHP2D tahun 2020. Sharing session diawali dengan pemaparan Aditya terkait tahapan persiapan PHP2P pada tahun lalu, mulai dari analisis masalah, penentuan ide, penyusunan proposal, sampai dengan persoalan teamwork. Aditya juga memberikan tips-tips dalam penyusunan proposal agar lolos seleksi, diantaranya ada satu komponen yang paling krusial yakni berhubungan dengan seleksi administrasi. “Tahun lalu juga sama, waktunya kurang lebih satu bulan untuk menyiapkan berkas-berkas dan lampiran. Ini yang paling penting, karena tahapan seleksi yang paling penting adalah seleksi administrasi. Kalau misal ada satu saja yang kurang administrasinya, walaupun ide kalian sebagus apapun, proposal kalian tidak akan masuk seleksi itu,” ujar Aditya. Tidak jauh berbeda, Noviyani juga menyampaikan hal-hal apa saja yang perlu dipersiapkan dalam PHP2D. Diantaranya tentang bagaimana pemilihan desa, pembinaan seperti apa yang ingin dilakukan, timeline, serta pemilihan judul proposal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *