Oleh : Aji Darmawan
Sejarah tentang gizi di Indonesia tak lepas dari perjuangan pegiat gizi nasional. Mulai dari berdirinya Sekolah Djuru Penerangan Makanan (SDPM) pada tanggal 25 Januari 1951 yang merupakan buah ide dari Prof. Poorwo Soedarmo yang pada saat itu menjabat sebagai Kepala Lembaga Makanan Rakyat. Ia ditugaskan untuk membantu dalam penanggulangan permasalahan terkait gizi buruk oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia saat itu yang dijabat oleh Johannes Leimana. Bertepatan dengan berdirinya SDPM tersebut lahirlah Hari Gizi Nasional (HGN) yang diperingati setiap tanggal 25 Januari. Berkat bantuan dari Prof. Poorwo Soedarmo dalam pengembangan pengetahuan gizi di Indonesia, membuat namanya juga dikenal sebagai Bapak Gizi Nasional yang diakui oleh Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) pada tahun 1969.
Pada dasarnya gizi yang baik atau seimbang menghadirkan badan menjadi sehat, tubuh sulit terkena penyakit infeksi, serta produktivitas kerja semakin meningkat. Pentingnya gizi seimbang telah dikampanyekan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) lewat 10 pedoman gizi berimbang diantaranya yakni, biasakan mengkonsumsi aneka ragam makanan pokok, batasi konsumsi panganan manis, asin, dan berlemak, lakukan aktifitas fisik yang cukup dan pertahankan berat badan, biasakan mengkunsumsi lauk pauk yang mengandung protein tinggi, cuci tangan pakai sabun dengan air bersih mengalir, biasakan sarapan pagi, biasakan minum air putih yang cukup dan aman, banyak makan sayuran dan cukup buah buahan, biasakan membaca label pada kemasan makanan, serta syukuri dan nikmati aneka ragam makanan. Lantas seberapa pentingkah pengetahuan tentang gizi bagi kita?
Gizi yang tak berimbang menyebabkan banyak permasalahan pada tubuh manusia, salah satunya yakni stunting. Menurut Kemenkes, stunting yakni suatu kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis. Stunting tentunya mempengaruhi pertumbuhan serta perkembangan otak anak. Anak yang mengalami stunting juga memiliki risiko lebih tinggi menderita penyakit kronis di masa dewasanya.
Dilansir dari data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kemenkes RI 2019 menyebutkan bahwa persentase balita usia 0-59 bulan di Indonesia tahun 2018 sangat kurus yakni sebesar 3,5% dan kurus sebesar 6,7%. Dengan demikian, kondisi ini cenderung mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan kondisi tahun 2017, di mana persentase balita sangat kurus sebesar 2,8% dan kurus sebesar 6,7%. Kemudian terkait stunting yang merupakan status gizi berdasarkan pada indeks tinggi badan menurut umur. Hasilnya persentase balita sangat pendek dan pendek usia 0-23 bulan di Indonesia tahun 2018 yaitu 12,8% dan 17,1%. Kondisi ini meningkat dari tahun sebelumnya di mana persentase balita sangat pendek yaitu sebesar 6,9% dan balita pendek sebesar 13,2%.
Melihat data tersebut tentunya sudah menjadi perhatian bagi kita semua baik pemangku kebijakan maupun tiap individu masyarakat untuk dapat lebih peduli pada permasalahan gizi. Dalam rangka upaya gizi seimbang, setiap keluarga tentunya harus dapat mengenal, mencegah, serta mengatasi permasalahan gizi setiap anggota keluarganya. Pada dasarnya ini sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 23 Tahun 2014 tentang Upaya Perbaikan Gizi. Adapun upaya yang dilakukan untuk mengenal, mencegah, dan mengatasi masalah gizi yakni dengan cara menimbang berat badan secara teratur, memberikan Air Susu Ibu (ASI) saja kepada bayi sejak lahir sampai umur 6 bulan, menu makanan yang bervariasi, menggunakan garam beryodium, dan pemberian suplemen gizi sesuai anjuran petugas kesehatan. Jadi, yuk kenali pemenuhan gizi secara berimbang.
Pandemi Covid-19 saat ini menjadi tantangan sekaligus perhatian lebih kepada pegiat gizi untuk dapat mengkampanyekan pola hidup sehat serta mencukupi gizi secara berimbang. Masyarakat tentunya dihimbau untuk dapat mencukupi kebutuhan akan gizi. Kemenkes mengangkat tema yakni “Remaja Sehat, Bebas Anemia” pada peringatan HGN ke-61. Acara ini turut dihadiri oleh Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin. Ia menekankan bahwa pentingnya menjaga kesehatan serta memenuhi gizi remaja saat ini, dengan tujuan mampu membuat Indonesia menjadi negara besar dan naik kelas di mata dunia. Dengan adanya momentum peringatan HGN, diharapkan kepada pemangku kepentingan serta masyarakat agar terus dapat bersatu padu guna meningkatkan perbaikan gizi pada tiap elemen masyarakat Indonesia.
Sudah sepantasnya kita untuk dapat mengetahui tentang pentingnya memenuhi kebutuhan gizi. Gizi harus terus menjadi perhatian bagi semua khalayak umum. Negara diharapkan dapat menangani permasalahan gizi yang ada. Gizi berperan penting dalam proses pembangunan baik di masa sekarang maupun masa depan. Indonesia akan menjadi negara yang besar tak lain karena dapat terselesaikannya permasalahan gizi. Dengan mengetahuinya, dapat mendorong kita untuk menjalankan pola hidup sehat. Pola hidup sehat menjadikan kita dapat melakukan aktivitas dengan baik mulai dari bekerja, belajar, serta melakukan banyak aktivitas lainnya. Maka dari itu cintailah tubuh kita dengan terus memenuhi gizi yang berimbang.

