Oleh: Prastio

Mana yang lebih powerful untuk menjaga perdamaian dunia? Apakah dengan menahan bom nuklir dan senjata api? Atau dengan menahan kekuatan ibu jari di media sosial? Nampaknya pertanyaan itu mulai sulit terjawab ketika kita bicara dalam era teknologi saat ini. Ketika kita mengacu pada perjalanan sejarah dunia, pada zaman Perang Dunia II yang berlangsung pada tahun 1939-1945, nuklir menjadi senjata yang sangat memporak-porandakan tatanan dunia. Kita ingat sekali bahwa dulu terjadi pengeboman nuklir di Hiroshima serta Nagasaki pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945. Pada saat itu nuklir menjadi salah satu titik tolak yang mengubah tatanan dunia, termasuk negara Indonesia yang ketika kita tarik ke belakang peristiwa tersebut menjadi momentum awal menuju kemerdekaan Indonesia. Begitu hebatnya nuklir jaman dahulu menentukan kedamaian negara bahkan dunia.
Akan tetapi, apakah hal itu masih relevan pada zaman sekarang? Jawabannya mungkin iya, tetapi masih ada senjata yang juga sangat powerful dan bisa menjangkau seluruh dunia dengan sangat cepat. Tidak hanya merusak secara fisik tetapi secara psikis jika dibandingkan dengan nuklir yang jangkauan kerusakannya terbatas pada suatu wilayah tertentu dan dampak kerusakannya hanya secara fisik. Senjata itu yang kita kenal dengan media sosial.
Media sosial berkembang pertama kali sejak munculnya GeoCities pada tahun 1995. Pada saat itu website tersebut digunakan untuk menyimpan data berbasis internet yang kemudian orang lain bisa mengaksesnya. Lalu beranjak dari situ kita mulai mengenal Friendster pada era 2000-an. Yang pada akhirnya di Indonesia mulai booming media sosial ketika Facebook dan Twitter mulai memasuki kehidupan virtual masyarakat kita. Dengan media sosial kita bisa banyak hal, mulai mengobrol, membagikan momen kebahagiaan bahkan yang terparah yakni sampai digunakan untuk menyerang orang secara virtual. Pada saat ini kita sangat dirisaukan dengan kata “buzzer”. Mengacu pada pengertiannya, buzzer berarti lonceng. Dalam hal ini lonceng untuk mengumpulkan orang, hal ini juga lazim digunakan dalam dunia bisnis dalam hal pemasaran. Biasanya para pemasar menggunakan buzzer untuk men-viral-kan produk mereka.
Akan tetapi, dalam perkembangannya buzzer bertransformasi menjadi sesuatu hal yang berkonotasi negatif. Buzzer juga seringkali dipersepsikan sebagai serangan terhadap seseorang melalui media sosial. Hal ini sangat terlihat sekali ketika pada kontestasi politik, buzzer biasanya digunakan untuk menaikan citra salah satu paslon maupun dengan cara menyerang paslon lawan supaya meraih kemenangan dalam kontestasi politik. Buzzer menjadi cara yang mudah dan praktis tetapi memiliki dampak yang sangat luar biasa pada era saat ini. Dengan hanya bermodalkan jari tangan untuk mengetik sesuatu di media sosial, dalam hitungan detik akan bisa membuat gaduh negara. Seringkali juga serangan tersebut disertai hoax yang sumbernya pun tidak jelas.
Sudah banyak peristiwa yang terjadi akibat bermula dari media sosial. Tentu ada yang positif maupun negatif. Kita ingat betul ketika dahulu pada 2014 terjadi konflik Israel dan Palestina yang terjadi di Jalur Gaza, yang mana menimbulkan banyak korban pada saat itu tidak hanya orang dewasa tetapi anak-anak pun ikut menjadi korbannya. Kelaparan akibat tidak bisanya pasokan bahan makanan masuk ke daerah tersebut juga menambah penderitaan saat itu. Dunia sangat berduka atas kejadian tersebut saat itu. Kejadian yang dialami di Gaza memicu protes dari publik, tidak terkecuali dari publik media sosial. Mereka beramai-ramai mengunggah dukungan mereka kepada Gaza dengan hastag #prayforgaza. Nampaknya usaha tersebut membuahkan hasil, Israel mulai terdesak karena adanya protes yang keras dari publik. Disisi lain, dengan viralnya hal tersebut maka banyak orang yang mengetahui akan penderitaan masyarakat di Gaza serta mereka banyak memberi bantuan makanan ke sana.
Tidak hanya peristiwa postif, media sosial seringkali juga menimbulkan kekacauan ketika tidak menggunakannya secara bijak. Kita ingat betul akhir-akhir ini banyak sekali orang terutama publik figur yang mengalami depresi akibat di-bully di media sosial. Bahkan tidak jarang ada yang sampai bunuh diri. Hal ini yang sangat jelas kita lihat pada kehidupan artis K-Pop. Sudah banyak korban akibat perundungan di media sosial ini.
Sebagai generasi millenial, dengan jumlah yang memakan porsi paling banyak sebagai pengguna media sosial. Tentu kita harus lebih bijak lagi dalam hal menge-post, mengomentari apa yang ada di media sosial. Sejarah sudah banyak membuktikan bahwa dengan “jempol sakti”, kita bisa membantu orang serta menciptakan perdamaian dunia.

