Kita Pernah di Sana

Pernah, di antara tumpukan agenda dan suara rapat,
ada tawa kecil yang memecah penat.
Bukan karena semuanya mudah,
tapi karena kita saling menjaga agar tak menyerah.

Kita tumbuh bukan dari hasil yang sempurna,
melainkan dari malam-malam yang hampir membuat kita putus asa,
dari perbedaan yang akhirnya mengajarkan makna,
bahwa tujuan takkan berarti tanpa hati yang sama.

Aku masih ingat…
tatapan lelah yang disembunyikan dengan senyum,
suara yang tetap tegas meski tenggorokan kering,
dan langkah yang tetap kuat,
meski hati kadang ingin pulang.

Kini ruangan itu mungkin telah sunyi,
nama-nama di absen sudah berganti,
tapi setiap kali aku menatap ke belakang,
aku melihat kita masih di sana,
menata mimpi dengan caranya masing-masing,
namun berakar dari tempat yang sama.

Karena organisasi ini bukan sekadar tempat kita bekerja,
tapi tempat kita belajar mencintai dengan cara yang sederhana:
dengan waktu, dengan tenaga,
dengan seluruh diri yang kita berikan,
tanpa pernah benar-benar meminta balasan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *