Sarang Penuh Menteri, Tenggelam dalam Ambisi

Sumber: Jakarta Islamic Center

Oleh: Messal Bakti Purnama

“Rapatkan barisan! Tinggal selangkah lagi kita menumbangkan kerajaan Semut Merah! Tabrak-Tabrak Masuk!”, seru Panglima Perang Semut Hitam membakar jiwa pertempuran. Perang Dahsyat  memperebutkan daerah koloni Semut Merah yang kaya akan bahan makanan akan mencapai akhirnya. Perang selesai di tangan Semut Hitam. Nyanyian dan dansa khas Semut Hitam menggelora di seantero koloni. “Semut Hitam Ayo Gas!”.

            Sang Panglima akhirnya memperoleh takhta Raja Semut Hitam. Citra yang kuat menjadikan Sang Raja dihormati oleh kaum serangga lainnya. Dengan koloni yang besar, ia membagi kursi kekuasaan kepada kawan-kawan seperjuangannya, bahkan mengajak lawannya untuk bekerja sama. Menteri-menteri dipilih oleh Sang Raja, “Uril, urusi hak semut di koloni ini! Selesaikan apa yang perlu diselesaikan!”. Pemerintahan koloni ‘Ayo Gas’ terbentuk untuk membantu Sang Raja. Tetapi, pemerintahan Semut Hitam diduduki oleh Para Penebar Citra, entah apa yang dipikirkan Raja, membahayakan kaum semutnya.

BUPS (Badan Urusan Pangan Semut) menasehatkan Raja, “Yang Mulia, cukuplah sudah menambah Menteri, kapasitas pangan kita tidak cukup untuk memberi ‘makan’ mereka. Semut Jelata yang lain akan terus berada di garis kelaparan! Kita juga tidak bisa memberi makan gratis untuk mereka!”. Namun, Raja menolak mentah-mentah nasehat itu, “Kita koloni yang besar! Sudah sepatutnya pemerintahan diisi semut-semut yang banyak, saya percaya semua berakhir bahagia, saya punya jawabannya.”. Rakyat semut hanya bisa berdoa apa yang Raja titahkan terwujud.

Waktu terus berlalu, kejadian demi kejadian terjadi. Di provinsi dapur, gejolak kekuasaan dipicu oleh perebutan gula di antara Kementerian. Menteri Gula dan Menteri Pencari Pangan saling berebut hasil gula yang diperolehnya. “Wahai Raja, ini urusan kami, kami yang mengatur gula, sudah sepatutnya kami yang memperoleh manfaat lebih dari gula yang kita dapat. Benarkan wahai Raja?”, kata Menteri Gula. “Anda serakah! Kami para pencari pangan yang menemukan gula, kami yang seharusnya menerima lebih banyak!”, balas Menteri Pencari Pangan. Menanggapi peristiwa ini, Raja bertitah, “Sudah cukup! Biar saya yang urus ini! Masing-masing dari kalian akan mendapat bagian!”.

Berputarnya matahari kemudian, “Cabut tangkai dari pohonnya! Gigit kuat-kuat daun lalu petiklah! Gunakan alam ini untuk membantu kita bekerja!”, semangat Raja berpidato kepada rakyat untuk meningkatkan penggunaan alat tumbuhan dalam bekerja. Beranjak dari bebatuan, Menteri Tumbuhan berteriak, “Yang Mulia! Ini tidak benar! Tumbuhan akan habis, rakyat tidak akan menyukainya, bisa-bisa banjir mengguyur kita!”. Menteri Pekerjaan marah, “Hei, Menhan (Menteri Tumbuhan)! Anda tidak sopan! Ini pandangan (visi) raja, untuk apa kamu melawan!” Raja menengahi, “Berhenti kalian! Ikuti saja apa kata saya, sisanya saya yang akan urus.” Tumbuhan tetap dicabut, curah hujan yang tinggi menyebabkan genangan air melebar.

Di penghujung bulan berikutnya, pembangunan sarang yang besar di berbagai penjuru koloni menggiurkan semut-semut culas. Menteri Pembangunan Semut melihat potensi negatif yang mujur. Ia memerintahkan kepada para bawahan setianya, “Hei semuanya, tidakkah kalian melihat Raja sibuk dengan urusannya. Yang Mulia sangat percaya pada kita. Bagaimana jika pasir, tanah, dan tumbuhan yang kita angkut kita tukar dengan makanan ke koloni lainnya, lalu kita adakan pesta? Haha!”. Para pengikutnya ikut tertawa, “Haha! Kami setuju! Sudah lama kita tak berpesta makanan. Toh, sumber daya pembangunan juga masih cukup, Haha!”. Namun, hal ini diketahui oleh KPC (Komite Pelaporan Culas)–bukan KPK–dan langsung dilaporkan kepada Raja. Raja membalas, “Perbuatan dungu, uhuk. Saya akan tangani ini.”.

Malam harinya, Menteri Urusan Makan dan BUPS berlari menghadap Raja. “Wahai Raja-ku! Gawat Raja-ku! Stok makanan kita makin lama makin menipis. Minggu depan, diperkirakan kita tidak bisa memberi makan 10 Kementerian. Rakyat sudah mulai demonstrasi dimana-mana. Bagaimana ini Raja-ku!”. Raja bangkit, “Sudah saya sabdakan, uhuk, kalau saya akan selesaikan ini, uhuk, potong saja anggaran makan saya untuk rakyat, uhuk-uhuk.”, lalu jatuh di depan singgasana-nya. “Yang Mulia!”. Raja jatuh sakit, ia bukan panglima kekar seperti dulu.

Seantero koloni panik. Beberapa terangkat senyum di wajahnya. Kelompok semut keturunan Semut Merah dari suku ‘Fififofo’ berencana mengkudeta sang Raja. “Mari kembalikan kejayaan Semut Merah! Kerajaan sudah retak, kumpulkan semua pembelot kita serang istana!”.

Di pelataran, “Wahai Raja, sepertinya kau harus turun takhta! Kau sudah tidak pantas lagi memimpin koloni ini! Kekacauan sudah terjadi di segala penjuru, tidak ada yang bisa kau perbuat!”. “Apa kamu bilang? Mas Buruh Mas Buruh, uhuk-uhuk. Semua semut mendukung saya, ini hanya masalah kecil bisa saya selesaikan, uhuk-uhuk!”, balas Raja menahan rasa sakitnya. Semut dari suku Fififofo menyahut, “Sudahlah mantan panglima, perjalananmu cukup sampai disini.”. “Kau juga, ******?!”, amuk Raja. “Angkat senjata kalian, Maju!”. Kedua belah pihak mulai menyerang. Tak disangka …

Kilat menyambar menggetarkan seluruh koloni. Badai datang. “Apa-apaan ini!”. Semut-semut berlarian ke segala penjuru. Kelompok semut yang kehilangan kawanannya berputar-putar mencari dan kebingungan (Ant Death Spiral). Badai yang deras membuat air masuk ke sarang, sarang semut tidak kuat menahan tekanan air tersebut. “Ini salahmu!”, “Kaulah yang salah!”. Raja dan rakyatnya tenggelam oleh badai. Koloni semut hitam hancur, hanya tersisa teriakan makian saling menyalahkan dan doa pengampunan dari penyesalan yang perlahan sirna.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *