Aparat Tutup Mata, Keadilan Kemana

Oleh : Aldo

Sejauh mata memandang, masa ini sudah terlampau jauh dari kata KEADILAN. Kata Keadilan disini merujuk pada bagaimana kita mendapat porsi masing-masing. Apakah bisa membayangkan realita dari kata Keadilan itu bagi sebuah negara? Apakah keadilan akan dibagi sesuai porsi atau sama rata atau bahkan tidak mengenal rasa keadilan sama sekali? Memang keadilan mengundang banyak tanya bahkan sila pancasila ke 5 yang berbunyi “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” Membahas nilai keadilan sosial. Lantas siapakah yang perlu bertanggung jawab atas keadilan ini?

Dari rasa kekurangan, kebutuhan, hingga hukuman semuanya perlu keadilan. Pada bulan april lalu kita melihat beberapa berita menyiarkan korupsi timah sebesar 271T, pada bulan juni ini banyak kasus pelecehan hingga anak kecil di baubau sulawesi utara dicabuli 26 pria, dan polisi melanggar kode etik pada bulan ini juga karena menangani tawuran dengan kekerasan. Apakah ini keadilan? Keadilan untuk yang berkuasa. Padahal banyak sekali masyarakat membutuhkan dukungan, keamanan kerja, lingkungan yang baik tapi apabila keadaan pertahanan dalam negeri diabaikan, negara maju sekalipun akan tumbang secara internal. Pejabat dan aparat masih sering bertindak secara eksklusif, keadilan sesungguhnya hanya milik tuhan semata.

Banyak di mata pejabat dan petinggi negara ingin mewujudkan hal sesuai keinginan dan ketamakan tapi mengerucut kepada aparat kepolisian juga tidak jauh dari kata tamak, menjadi seorang mafia. Menguasai jalannya sendiri sebagai diktator demi mewujudkan dunia yang diinginkan. Kasus Ferdi Sambo membunuh bawahan sendiri demi memuaskan hasrat yang diinginkan, psikopat berdarah dingin yang ingin mendapatkan kebenaran atas kesalahannya sendiri.

Satu per satu negeri ini mulai melihatkan sisi gelap pada pejabat dan aparatur negara, kegelapan itu sendiri akan melahap tokoh dibalik semua ketamakan yang diperbuat pada sebuah negara. Keadilan memang segalanya, tapi hierarki dapat merubahnya. Mulai dari berbagai kecurangan, kasus berbahaya, hingga buronan selama memiliki kekuasaan hal tersebut (keadilan) akan lenyap seketika. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin, ini merupakan salah satu contoh dari “survival of the fittest” apakah ini adil? Bisa jadi benar, karena hukum dunia semakin banyak orang memakan ketamakan maka dia akan tertelan oleh ketamakan tersebut.

“Indonesia Emas 2045” sebuah kalimat visioner untuk Indonesia menjadi negara maju, baru sebuah kalimat, apakah realisasinya sudah berjalan? Belum. Pendidikan masih dipersulit dengan anggaran, kebutuhan pokok masyarakat belum terpenuhi, pembangunan tidak merata. Bagaimana kita bisa melihat Indonesia tenggelam dalam ekspektasinya sendiri tanpa melakukan perubahan. Keadilan kemana? Apakah kata keadilan hanya sebuah kata yang tertulis dan terucap untuk meyakinkan bahwa negara kita ini adil? Pejabat atau aparat apabila masing-masing masih tidak memiliki rasa iba pada suatu hal yang menyeleweng sungguh akan pedih balasan tersebut. Logikanya saja Indonesia ingin maju secara realistis tapi apabila masih terdesak kasus-kasus besar yang belum terselesaikan, apakah realisasinya mungkin akan gagal? Kemungkinan besar hal tersebut bisa terjadi apabila pemikiran yang salah masih dipelihara secara nyata.

Apabila ingin mewujudkan negara yang tertata, baik secara ekonomi dan pendidikan, negara ini tidak boleh dikuasai orang asing, keamanan tidak boleh melemah, kita sebagai masyarakat bisa membelah lautan ketamakan dari para tokoh berdasi yang hanya menikmati kesengsaraan. Wujudkan “Indonesia Emas” sebagaimana telah dicanangkan. Harapan seluruh masyarakat hanya butuh satu, keadilan secara menyeluruh. Ingat, keadilan sesungguhnya bukanlah sama rata, namun sesuai dengan porsi yang kita butuhkan masing masing. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *