
FEB (21/3) – Meninjau ramainya pertanyaan mengenai penyebab kenaikan harga beras, Divisi Sosial Politik Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro menyelenggarakan sebuah gelar wicara bertajuk “Miris, Negara Agraris, Bahan Pangan Menipis”. Acara berlangsung dari pukul 14:30 – 16:00 WIB yang bertempat di Hall Pertamina Gedung Dekanat FEB Undip.
Acara ini menyajikan dua perspektif dalam memandang peristiwa kenaikan harga beras ini, yaitu perspektif ahli (ekonom) dan perspektif petani dengan memegang satu argumen kuat yaitu bahwa kenaikan harga beras tidak ada kaitannya dengan bencana alam.
Dengan menghadirkan dua pembicara hebat dalam lingkup ekonomi, Talkshow ini bertujuan untuk membuka mata para mahasiswa tentang apa yang lebih mungkin menjadi penyebab kenaikan harga beras, didukung dengan rangkaian data dan perbandingan harga beras di seluruh dunia.
Faisal Basri, S.E., M.A., selaku pembicara pertama pada gelar wicara ini yang juga merupakan pendiri dari Institute for Development of Economics & Finance (Indef) memaparkan tentang kondisi harga bahan pangan terutama beras di Indonesia yang mencapai rekor tertinggi pada Februari 2024 atau bertepatan dengan bulan pemilu. Sedangkan data dari Food and Agriculture Organization for the United Nations (FAO) menunjukkan bahwa harga pangan dunia secara keseluruhan mengalami penurunan dan hanya Indonesia yang mengalami kenaikan. Selain itu, Beliau juga menyinggung mengenai penyebab bencana alam yang dikatakan oleh pemerintah. Data menunjukkan bahwa tahun 2023 bukanlah yang terburuk dalam hal bencana alam, tetapi mengapa tingkat impor beras meroket hingga berkali-kali lipat dari 0,4 juta ton pada tahun 2022 menjadi 3 juta ton pada tahun 2023. Hal tersebutlah yang perlu dipertanyakan. Tak luput juga disebutkan mengenai adanya praktek perburuan rente dan politisasi beras di tangan politikus yang menjadi kunci penyebab dari peristiwa ini.
Tak hanya dari sisi Ekonom, gelar wicara ini juga menghadirkan pembicara kedua yaitu Prof. Dr. Fransiscus Xaverius Sugiyanto, M.S., yang merupakan salah satu dosen ekonomi FEB Undip. Beliau memaparkan peristiwa kenaikan harga beras ini dalam perspektif petani, yang mana sebetulnya dampak positif atau keuntungan dari kenaikan harga ini tidak dinikmati oleh petani, tetapi pada distributor atau perantara. Tak hanya itu, beliau juga menyoroti Undang-undang awal yang kini telah diubah menjadi Undang-undang Cipta Kerja. Beliau menilai bahwa perundang-undangan inilah yang menyebabkan langkah-langkah pemerintah kurang tepat, seperti tingginya impor. Selain itu, sama seperti pembicara pertama, beliau juga menyinggung tentang politik pangan. “Kembalikan politik pangan kepada basis potensi yang ada, dan ganti UU Ciptaker”, ucap beliau saat menutup pemaparan.

