Jangan Lapar, Berat! Food Court aja Belum Tentu Mampu!

Oleh: Erva dan Faizah

dok.pribadi

Setelah dua tahun tidak menyajikan santapan bagi mahasiswa, food court Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) beroperasi kembali. Pengoperasian ini sejalan dengan dimulainya kegiatan belajar mengajar secara tatap muka di Universitas Diponegoro (Undip) pada tahun 2022. Food court FEB terdiri dari beberapa tenant. Tenant–tenant tersebut menjajakan berbagai makanan yang disukai mahasiswa. Lokasi food court ini terletak di lantai dasar gedung C FEB Undip. Nyatanya, food court FEB tidak hanya melayani mahasiswa kampus kuning saja tetapi juga terbuka bagi seluruh mahasiswa Undip. Namun, apakah food court FEB mampu mencukupi kebutuhan mahasiswa FEB, atau bahkan Undip?

Hebatnya Food Court FEB

Dari segi harga, terdapat sejumlah makanan yang masuk kriteria “ramah di kantong”. Untuk variasi pilihan, beberapa menu menjadi favorit, salah duanya adalah soto dan nasi katsu. Food court FEB bisa menjadi penolong mahasiswa di kala lapar dan malas. Tidak heran, food court ini selalu ramai dipenuhi mahasiswa, apalagi pada jam-jam tertentu. Letak food court yang strategis pun menjadi faktor pendukung karena memudahkan mahasiswa berkunjung ke sana. Tidak hanya sekadar makan, mahasiswa juga memanfaatkan food court sebagai tempat menunggu jam pergantian kelas, berdiskusi, bahkan bersantai sambil belajar.

Tolong Dengarkan!

Sayang, masih ada beberapa kekurangan yang seharusnya sudah dapat ditanggulangi oleh para pengelola food court FEB ketika vakum 2 tahun kemarin. Beberapa kekurangan tersebut antara lain ialah tempat yang kurang luas, kurangnya meja dan kursi, masalah jaringan wifi Undip Connect serta sulitnya sinyal, tata ruang food court kurang teratur, dan banyaknya komputer tidak terpakai memenuhi sudut-sudut food court.

Terkait keterbatasan tempat, tidak ada hal yang dapat diperdebatkan karena memang kurang luas. Namun, setelah menyadari hal itu, pengelola seharusnya sadar untuk mulai menata food court serta menyingkirkan hal-hal tidak terpakai. Beberapa hal itu salah satunya adalah komputer-komputer bekas. Tak heran, banyak mahasiswa yang mengurungkan niatnya untuk makan di food court FEB. Hal ini tentu berdampak pada kesejahteraan para pemilik tenant. 

Masih berhubungan dengan tempat, fasilitas kursi serta meja di food court juga belum seimbang dengan jumlah mahasiswa FEB. Meja dan kursi itu terlalu sedikit untuk bisa mencukupi bahkan setidaknya seperempat dari jumlah mahasiswa FEB. Mungkin dari hal inilah para mahasiswa mulai makan di sekitar area Dome. Nahas, kebiasaan baru itu menimbulkan dampak negatif lainnya, yaitu sampah. Belum adanya kesadaran dari seluruh mahasiswa FEB untuk membuang sampah pada tempatnya menjadikan Dome terlihat kumuh. Keranjang yang disediakan pengelola food court malah dijadikan tempat sampah. Padahal, di atas keranjang tersebut jelas-jelas tertulis, “Mahasiswa Ganteng & Cantik, kalau habis makan + minum piring & gelas kotor masukan sini dong,”. Jelas-jelas tidak tertulis satupun kata yang berhubungan dengan sampah bukan?

Karena lokasinya di lantai dasar (basement), food court FEB memiliki kondisi jaringan buruk. Kondisi ini bahkan belum bisa ditanggulangi oleh wifi Undip Connect yang digadang-gandang mampu menjangkau seluruh wilayah Undip. Situasi tersebut menyebabkan para pemilik tenant tidak dapat menggunakan metode pembayaran berbasis Quick Response code Indonesian Standard (QRIS). Hal ini tentu bertentangan dengan branding image FEB sebagai salah satu bagian dari World Class University (WCU) yang seharusnya sudah tidak asing dengan penerapan transformasi digital di lingkungan kampus.Melihat kelebihan dan kekurangan tersebut, sudah seharusnya pihak pengelola food court FEB tidak lagi tutup mata. Adanya food court yang layak bisa menjadi salah satu faktor dalam mendorong terjadinya peningkatan kualitas diri tiap-tiap mahasiswa FEB. Jika mahasiswa tercukupi dan para pemilik tenant terpenuhi kebutuhannya, iklim perekonomian mikro dan kecil di lingkup FEB Undip pun akan terpuaskan. Maka dari itu, pembenahan kembali seharusnya menjadi prioritas pengelola food court FEB saat ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *