PJTL Psikojur 2022: Berkarya di Era Konvergensi Media

Reporter: Anggita dan Luvita

pjtl-psikojur-2022-berkarya-di-era-konvergensi-media

(Undip- 10/4/22) “Para jurnalis di era konvergensi media mesti multi-skilled,” ucap Melani Indra Hapsari, atau Mela, sebagai kalimat awal beliau dalam kegiatan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut (PJTL) Lembaga Pers Mahasiswa Psikologi Jurnalistik (LPM Psikojur) tahun 2022. Dengan berfokus pada penggalian data dan kepenulisan dalam produk jurnalistik, Mela membahas secara padat dan jelas materi-materi yang ia bawa.

Era Konvergensi Media


Teknologi yang semakin canggih memberikan berbagai pembaharuan, termasuk dalam bidang jurnalistik. Konvergensi media jurnalistik adalah salah satu contoh pembaharuan di mana berbagai platform digabung jadi satu untuk menampilkan sebuah karya jurnalistik menarik dan berdaya saing. Maka dari itu, timbul tantangan yang muncul seiring berkembangnya pembaharuan ini. Mela berujar, “Tantangan (di bidang jurnalistik) banyak. Di media, (jurnalis) tidak cukup hanya bisa menulis. Anda bisa bersaing ketika Anda punya banyak hal,”.

Jurnalisme Data

Dalam bekerja, seseorang jurnalis akan sering terlibat dalam hal mencari data atau berita. Data tersebut kemudian ditulis lalu disajikan pada massa. Karena itu, data merupakan hal yang sangat penting. Dari titik inilah istilah “jurnalisme data” muncul. Jurnalisme data memungkinkan seorang jurnalis menghimpun berbagai data dari berbagai tempat, bahkan tanpa harus melalui tahap wawancara. Data-data tersebut selanjutnya akan dibandingkan satu sama lain kemudian dilihat realisasinya di lapangan. Hal ini lah yang menjadi senjata utama jurnalistik untuk dapat menangkal berita-berita bohong (hoax).

Mela menyatakan terdapat 3 tahap penting dalam menggali data. Tahap pertama ialah observasi di mana jurnalis perlu datang ke tempat kejadian perkara (TKP) dan menggunakan news sense-nya untuk mengumpulkan data. Tahap kedua ialah wawancara. Perlu ada identifikasi narasumber agar data yang diperoleh benar. “Ketika ada suatu kejadian (dan) teman-teman mau meliput, pikirkan (dahulu) siapa sumber primer, sekunder, dan relasinya dengan topik yang ingin dibawa,” papar Mela. Tahap terakhir ialah studi literatur. Studi ini dapat diperoleh dari berbagai sumber, seperti buku, majalah, dan koran.

Memahami Warganet

Dalam dunia maya, sangat banyak berita online yang dapat dikonsumsi oleh warganet. Karena itu, jurnalis perlu memahami keinginan dan pola pikir warganet agar karyanya dapat dibaca banyak orang. Mela menjelaskan bahwa terdapat beberapa rekomendasi yang bisa menjadikan sebuah berita menarik. Salah satu rekomendasi tersebut ialah search engine optimization (SEO). Istilah SEO sendiri berarti proses menjadikan situs lebih “terlihat” oleh pembaca saat mereka melakukan pencarian data melalui search engine. Berita-berita online juga dapat didukung oleh infografis agar menarik. Hal ini dikarenakan kecenderungan sebagian besar manusia yang lebih mudah memahami gambar daripada teks biasa.

Di dunia jurnalistik masa kini, persaingan dalam menyajikan berita bukan lagi hitungan hari, namun hitungan jam, bahkan menit dan detik. Maka dari itu, jurnalis perlu dapat membaca situasi, meningkatkan kemampuan diri, dan memahami sifat warganet agar karya mereka dapat tersampaikan secara luas pada masyarakat. Jangan sampai peran mulia jurnalistik sebagai penghubung masyarakat melemah begitu saja karena hal-hal yang sebetulnya bisa dipersiapkan dari saat ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *