Oleh: Alam Suprobo Suryowati
24 Oktober adalah hari bersejarah yang diperingati sebagai Hari Dokter Nasional. Pengakuan Hari Dokter Nasional merupakan bukti bahwa profesi kedokteran merupakan profesi yang mulia dan sekaligus menjadi sarana bagi profesi ini untuk mempertahankan tradisi ketenaran tanpa terjerumus ke dalam kebrutalan moral. Tanggal ini juga menandai hari jadi Ikatan Dokter Indonesia (IDI), sebuah organisasi profesi kedokteran di Indonesia. IDI adalah satu-satunya badan profesional untuk dokter di seluruh wilayah Indonesia, sebagaimana ditetapkan dalam Undang-Undang Praktik Kedokteran No 29 dari 2004. Hari Nasional Dokter dirayakan 71 kali di Indonesia tahun ini. Artinya, Hari Dokter Nasional telah menjadi momen bersejarah di Indonesia sejak tahun 1950, khususnya dalam sejarah Ikatan Dokter Indonesia itu sendiri.
Sejarah Hari Dokter Indonesia
Sejarahnya dimulai dengan lahirnya IDI di Indonesia. Dikutip dari situs resmi Kementerian Kesehatan RI, IDI sudah ada sejak tahun 1911 dengan nama Vereniging van Indische Artsen. Namun pada tahun 1926, namanya diubah menjadi Vereniging Van Indonesische Genesjkundigen (VIG). Seiring berjalannya waktu, karir dokter di Indonesia semakin cepat. VIG mengadakan kongres di Solo hingga tahun 1940. Pada kongres tersebut, Prof. Bahder Djohan ditugaskan untuk mengembangkan dan memikirkan kembali istilah-istilah baru dalam dunia kedokteran. Tiga tahun kemudian, selama pendudukan Jepang, VIG dibubarkan dan berganti nama menjadi Jawa IZI HookoKai. Selanjutnya pada tanggal 30 Juli 1950 Perhimpunan Dokter Indonesia (PB Perthabin) dan Persatuan Dokter Indonesia (DPPDI) mengajukan usulan dari Dr. Seni Sastromidjojo mengadakan sidang. Pertemuan tersebut menghasilkan “Konferensi Dokter Warga Negara Indonesia (PMDWNI)” yang diketuai oleh Dr. Bahder Djohan. Puncaknya adalah September 2225, 1950. Kongres pertama Ikatan Dokter Indonesia (MIDI) berlangsung di Deca Park dan diresmikan pada bulan Oktober. Pada Kongres IDI, Dr. Sarwono Prawirohaedjo memilih presiden umum pertama IDI. Pada tanggal 24 Oktober tahun yang sama, Dr. Suharto di hadapan notaris untuk mendapatkan dasar hukum pendirian suatu perkumpulan kedokteran. Perhimpunan tersebut bernama “Ikatan Dokter Indonesia”. Sejak itu, 24 Oktober 1950 diperingati sebagai Hari Dokter Nasional, yang bertepatan dengan berdirinya IDI di Indonesia.Top of Form
Bottom of Form
Sejarah Perjuangan Profesi Dokter
Sejarah perjalanan dokter sangat panjang, bahkan jika dilihat dari kontribusi para dokter di Indonesia. Jauh sebelum organisasi IDI didirikan, para dokter tanah air telah menampilkan diri sebagai salah satu pejuang kemanusiaan. Nama-nama besar seperti Dr. Sutomo, Wahidin Sudirohusodo, Tjipto Mangoenkoesomo dan nama-nama dokter lain yang tercatat secara historis tidak hanya berjuang melawan penyakit tetapi juga melawan kolonialisme di Indonesia. Jika kita mengingat kembali masa perjuangan kemerdekaan, kedinamisan profesi kedokteran di Indonesia hanya meningkat dengan adanya SK Gubernur. Pendirian sekolah pelatihan kedokteran di Indonesia.Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa pemerintah Hindia Timur Belanda saat itu sedang kewalahan dengan wabah malaria. Sebanyak 12 mahasiswa menyelesaikan studinya dan mendapat predikat ‘Dokter Jawa’ setelah dua tahun studi. Terlepas dari studi mereka, profesional medis hanya dipekerjakan sebagai “penyihir cacar.” Baru pada tahun 1898, setelah perjalanan panjang, didirikan sekolah kedokteran yang tidak didirikan dengan nama STOVIA. Di sinilah dokter pejuang kemerdekaan masuk.
Perjuangan Dokter dalam Melawan Covid-19
Semenjak awal tahun 2020 sampai saat ini Indonesia terserang pandemi Covid-19 yang mana berdampak pada segala lini kehidupan terutama bidang kesehatan. Banyak korban berjatuhan di antaranya adalah tenaga medis maupun dokter. Perjuangan para tenaga medis dalam memerangi Covid-19 belum usai. Mereka yang berada di garda terdepan rela mengorbankan waktu, pikiran, tenaga dan nyawa demi menyelamatkan ratusan ribu Orang dalam Pengawasan (ODP), Pasien dalam Pengawasan (PDP) Covid-19. Banyak dari mereka mengalami kesulitan kembali ke rumah untuk berkumpul kembali dengan keluarga mereka dan mencegah penularan.
Para pahlawan kedokteran juga sedih karena harus membatasi diri untuk bertemu keluarga. Kurangnya alat pelindung diri tenaga medis membutuhkan alat pelindung diri (APD) untuk memastikan keselamatan di lingkungan dengan risiko penularan yang tinggi. Selain itu, penggunaan overall untuk prosedur yang berpotensi lebih besar untuk disebarluaskan dibatasi hanya satu baju dalam shift resmi.
Pasang surut dalam menghadapi pandemi Covid-19 suka dan duka menemani para pahlawan medis dalam perjuangannya melawan pandemi ini. Tentu saja, terbatasnya waktu untuk bertemu dengan keluarga menjadi beban tersendiri bagi petugas. Beberapa dokter dan perawat dinyatakan positif Covid-19 akibat penanganan pasien yang menyembunyikan riwayat kontak atau perjalanannya. Peningkatan kebersihan tenaga medis juga menjadi lebih sadar akan kebersihan pribadi.

