Memerangi Narkoba, Bukan Memerangi Korbannya

Oleh: Fortuna Supriyadi

Pertengahan bulan ini, baru saja kita dengar kasus narkoba oleh artis berinisial A. Sosok A yang awalnya dikagumi justru menghadirkan rasa kecewa bagi para penggemarnya. Bahkan terdapat banyak kecaman dari publik terhadap artis tersebut selama proses pemeriksaan. Demikianlah perlakuan yang diberikan bagi orang-orang yang ketahuan menggunakan narkoba. Pengguna akan diberikan kecaman, sentimen, dan penilaian buruk diiringi dengan hinaan yang tidak hanya ditujukan untuk pengguna, namun juga terhadap keluarga dan orang terdekatnya. Pengguna narkoba yang awalnya membutuhkan bantuan justru mendapatkan masalah yang lebih besar. Mereka memang melakukan kesalahan besar, namun dibalik setiap tindakan pasti ada faktor pemicu, dan umumnya pemicu terbesar adalah kondisi mental dan pikiran pengguna.

Sebelumnya perlu dipahami terlebih dahulu apa itu narkoba. Narkoba adalah singkatan dari Narkotika dan Obat-obatan yang memiliki makna zat atau obat baik yang bersifat alamiah, sintetis, maupun semi sintetis yang menimbulkan efek penurunan kesadaran, halusinasi, serta daya rangsang. Narkoba dapat memengaruhi cara kerja otak, mengacaukan kondisi fisik dan mental seseorang, serta memiliki risiko kecanduan yang kuat. Narkoba yang pada awalnya merupakan temuan obat medis, disalahgunakan sebagai obat untuk menghilangkan kesadaran. Penyalahgunaan pastinya menimbulkan efek samping. Perlu diketahui jika efek samping dari narkoba memiliki banyak dampak merugikan di berbagai bidang, mulai dari dampak fisik, psikis hingga sosial.

Umumnya, orang yang mengkonsumsi narkoba memiliki beberapa alasan, salah satunya adalah masalah mental. Masalah mental terutama berupa stress dan depresi yang dialami, membuat narkoba menjadi pelarian bagi pengguna narkoba. Depresi tersebut juga memiliki beberapa penyebab yang sering ditemui, diantaranya faktor keluarga dan faktor ekonomi. Alasan lain bisa disebabkan oleh lingkungan pergaulan dan masyarakat. Lingkungan banyak memengaruhi terjerumusnya pengguna narkoba. Para pengguna memiliki pemikiran jika mereka menggunakan narkoba mereka bisa cocok dalam suatu lingkungan dimana mereka merasa sudah dewasa dan “keren”. Pola pikir seperti inilah yang menjerumuskan pengguna narkoba.

Pengguna narkoba umumnya disebut pecandu narkoba, tetapi sebenarnya tidak semua pengguna narkoba merupakan pecandu narkoba. Pencandu narkoba didefinisikan sebagai seorang penyalahguna narkoba yang telah mengalami ketergantungan terhadap satu atau lebih narkotik, psikotropika, dan bahan adiktif lain (narkoba), baik secara fisik maupun psikis. Terdapat beberapa tahap seseorang menjadi pecandu narkoba, diawali dengan eksperimentasi, penggunaan rutin, dan akhirnya menjadi adiksi atau ketergantungan. Pada tahap ketergantungan inilah pengguna narkoba disebut sebagai pecandu narkoba. BNN menyatakan jika pecandu narkoba tidak bisa sembuh total meski sudah rehabilitasi. Mantan pecandu narkoba tetap memerlukan pengawasan, karena besar kemungkinan terjadi kekambuhan atau relapse, mulai dari kekambuhan emosi, mental, hingga fisik.

Meskipun demikian, apabila memang sudah tercebur dalam laut, bukan berarti pasti akan tenggelam. Jika memang sudah terlanjur ketergantungan narkoba, bukan berarti seseorang tidak memiliki masa depan dan tidak bisa tertolong. Terdapat cara untuk melangkah dari jeratan obat-obatan. Cara yang paling utama adalah dengan melakukan rehabilitasi yang terdiri dari beberapa tahapan. Memang bukan hal yang mudah, namun bukan artinya tidak bisa. Rehabilitasi diawali dengan tahap pemeriksaan untuk mengetahui kondisi pengguna. Dilanjutkan dengan tahap detoksifikasi, yaitu tahapan untuk menghentikan penggunaan narkoba. Kemudian tahap stabilisasi yang bertujuan sebagai pemulihan jangka panjang. Lalu diakhiri dengan tahap pengelolaan aktivitas, yaitu tahap kembalinya pengguna ke kehidupan normal.

Demikian pula dengan orang disekitarnya, memberi penghakiman memang semudah bernafas, namun belum tentu merasakan apa yang dirasakan oleh para korban. Korban narkoba tidak memerlukan penghakiman, namun semangat untuk mengakhiri ketergantungannya terhadap obat-obatan terlarang. Menurut buku “Orientation to Phsychology of Self-Forgiveness” yang ditulis Woodyatt, dkk, rasa tidak percaya diri yang ada pada pecandu narkoba untuk bisa kembali dan berbaur dalam masyarakat juga dapat menyebabkan munculnya rasa tidak percaya diri untuk bisa berhenti menggunakan narkoba. Kutipan tersebut menunjukkan jika pandangan masyarakat banyak berpengaruh pada mental dan pemikiran pecandu narkoba. Sedangkan, yang sering terjadi adalah masyarakat memberi stigma pecandu narkoba yang masuk maupun keluar dari pusat rehabilitasi.

Daripada memberikan penghakiman, lebih baik memberikan dukungan sosial bagi korban narkoba. Banyak dukungan sosial yang dapat diberikan, mulai dari dukungan emosional, nyata, informasi hingga pertemanan. Contoh dukungan yang bisa dilakukan seperti memberikan motivasi dan arahan bagi pecandu narkoba serta juga bisa dilakukan dengan memberikan hadiah atas pencapaian tertentu para pecandu. Walaupun saat ini memang banyak keterbatasan, tentunya tetap ada banyak cara lain untuk memberikan dukungan sosial. Memang tidak besar, namun menurut beberapa penelitian, terdapat pengaruh signifikan antara hubungan dukungan sosial dan motivasi untuk pulih pada pengguna narkoba dalam rehabilitasi.

Oleh karena itu, sebagai masyarakat yang terbebas dari narkoba, bukan berarti jika kita bebas menghakimi orang-orang yang terjerat narkoba. Baik para pecandu narkoba maupun mantan pecandu narkoba memiliki tekanan dan tanggung jawab atas keputusannya masing-masing. Ditambah kita tidak mengetahui cerita-cerita dibaliknya. Dengan tidak menghakimi, maka tekanan sosial yang dihadapi oleh pecandu narkoba bisa berkurang dan hal tersebut bisa meningkatkan semangat mereka untuk bebas dari jeratan narkoba. Dukungan sosial yang diberikan juga meningkatkan semangat pecandu untuk lepas dari narkoba. Kita bebas memerangi narkoba tetapi tidak bebas memerangi korban narkoba. Selamat Hari Anti Narkoba!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *