Kompetisi Debat Mahasiswa FEB : KDMI dan NUDC

Sumber: Dok. Pribadi

FEB (08/03) Pada tanggal 7 dan 8 Maret 2025, Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) menyelenggarakan ajang kompetisi debat bagi mahasiswa, yaitu Kompetisi Debat Mahasiswa Indonesia (KDMI) dan National University Debating Championship (NUDC). Kedua ajang ini diadakan untuk memilih delegasi FEB yang akan mewakili fakultas di tingkat Universitas.

KDMI adalah kompetisi debat berbahasa Indonesia yang berfokus pada pengembangan kemampuan berpikir analitis. Kompetisi ini menjadi platform untuk mengasah 6C; collaboration (kolaborasi), critical thinking (berpikir kritis), communication (komunikasi), citizenship (kewarganegaraan), creativity (kreativitas), dan character (karakter). Sementara itu, NUDC merupakan kompetisi debat berbahasa Inggris dengan format debat parlemen. Selain kemampuan berbahasa Inggris, NUDC menuntut pemahaman mendalam terhadap isu-isu global, keterampilan analisis, kemampuan membuat keputusan yang berbasis argumen, serta kemampuan menyampaikan pendapat dengan meyakinkan di hadapan publik.

Kompetisi ini digelar oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FEB di bawah naungan bidang riset dan keilmuan (riskel), dan diikuti oleh 40 peserta. Salah satu tema utama yang dibahas dalam kompetisi ini adalah efisiensi anggaran yang tengah menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat.

Salah satu peserta, Cathlea Regita Lena, berbagi pengalaman mengenai persiapannya untuk kompetisi ini, “untuk persiapan kompetisi ini, jujur tidak terlalu banyak dikarenakan waktu yang sangat mepet dan hanya membaca materi yang aku dapat dari lomba sebelumnya serta menonton NUDC 2024,” ujarnya. Cathlea menambahkan, “lalu untuk kesan pesannya, nervous banget karena ini debat offline pertamaku, tetapi tetap seru karena bisa mendapat pengalaman baru.”

Jessica Aprilia Atma Suharja, selaku Project Officer, mengungkapkan bahwa pendaftaran kompetisi ini terbuka bagi semua mahasiswa FEB angkatan 2022, 2023, dan 2024. “Setelah sekian lama diselenggarakan secara online, akhirnya kompetisi ini kembali digelar secara offline,” jelas Jessica.

Jessica juga menjelaskan bahwa tujuan dari kompetisi ini tidak hanya untuk memilih delegasi yang akan mewakili FEB, tetapi juga sebagai wadah bagi mahasiswa FEB untuk menggali minat dan potensi dalam dunia debat. “Delegasi yang terpilih akan berjumlah 6 orang untuk masing-masing kompetisi, dan penilaian dilakukan secara individual,” tambahnya.

Pengumuman perwakilan delegasi FEB yang akan maju ke tingkat Universitas dijadwalkan pada hari Minggu, 9 Maret 2025. Pemenang dari kompetisi KDMI dan NUDC FEB akan langsung diberangkatkan ke tingkat Universitas pada hari Senin, 10 Maret 2025.

Reporter: Sabrina, Najwa

Penulis: Sabrina

Pohon Tumbang di Dekat Danau FEB Undip, Diduga Akibat Struktur Tanah Miring 

Sumber: Dok. Pribadi

FEB (7/3) – Sebuah pohon besar tumbang di dekat danau Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro pada Jumat sore sekitar pukul 17.25 WIB. Pohon yang berada di sekitar danau tepatnya di samping kandang ayam tumbang dengan posisi melintang di jalur penghubung antara gedung pembelajaran dan area parkiran.

Menurut keterangan Mashud, salah satu petugas keamanan Fakultas Ekonomika dan Bisnis, tumbangnya pohon ini bukan disebabkan oleh angin kencang atau hujan lebat, melainkan karena kondisi tanah yang miring dan kemungkinan sudah tidak stabil.

“Saya dan karyawan kebersihan serta keamanan FEB Undip cukup terkejut dengan tumbangnya pohon di taman secara tiba-tiba. Kami dibuat bingung dan keheranan karena pada saat kejadian tidak terjadi badai yang bisa menumbangkan pohon, hanya hujan ringan yang disertai angin yang tidak berhembus terlalu kencang. Dugaan kami, pohon tumbang karena struktur tanah di sekitarnya yang miring sehingga tidak mampu menopang akar dengan baik,” ujar Mashud.

Beruntung, kejadian tersebut tidak merenggut korban jiwa meski sebelum kejadian sempat ada beberapa mahasiswa yang sedang berjalan kaki melewati area pohon untuk menuju parkiran. Namun tetap menimbulkan kerugian materil berupa kerusakan pagar pembatas danau yang tertimpa batang pohon tersebut. Setelah kejadian, petugas keamanan dan kebersihan segera menutup jalur yang tertutup pohon dan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk membersihkan area tersebut.

Peristiwa ini menjadi perhatian bagi pihak kampus agar melakukan pemantauan lebih lanjut terhadap kondisi pohon di sekitar lingkungan FEB Undip. Langkah pencegahan seperti pengecekan rutin dan pemangkasan pohon yang berisiko tumbang diharapkan dapat dilakukan untuk menghindari insiden serupa di masa mendatang.

Reporter: Najwa, Sabrina

Penulis: Najwa

PERTAMINA: Pertamax Oplosan, Masyarakat Merugi, Korupsi Meradang

Mantap! Kontribusi Pertamina Kepada Negara Capai Rp 126,7 T
Sumber: CNBC Indonesia

Masyarakat kini semakin memanas dengan kabar Pertamax adalah BBM oplosan. Kerusuhan semakin bertambah dengan kabar korupsi besar-besaran oleh orang-orang yang terlibat di dalam Pertamina. Kabar ini membuat kasus Pertamina masuk ke jajaran kasus korupsi terbesar di Indonesia.  

Isu yang semakin memanas, masyarakat yang hilang kepercayaan, dan negara semakin merugi merupakan kata-kata yang mewakili tentang keadaan Pertamina sekarang. Pertamina adalah salah satu perusahaan milik negara dibawah naungan BUMN yang bergerak dibidang Tata Kelola Minyak dan Gas Negara. Sangat disayangkan salah satu perusahaan besar milik negara ini tidak dikelola dengan baik dan malah dijadikan ladang korupsi. 

Isu besar selain korupsi adalah Pertamax oplosan. Sangat disayangkan jika ternyata benar adanya Pertamax yang dipakai selama ini oleh masyarakat adalah oplosan. Serugi apa masyarakat yang telah membeli Pertamax karena mereka mengikuti ketentuan negara untuk menggunakan BBM non-subsidi. Namun, dilain sisi isu ini belum memiliki kejelasan dan kebenaran yang valid. 

Dikutip dari merdeka.com., Pelaksana Tugas Harian (PTH) Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra, memastikan bahwa pihaknya tidak melakukan praktik upgrade blending atau pencampuran pada Pertalite dengan Pertamax. Dia memastikan bahwa produk yang diterima dan dijual di SPBU telah sesuai dengan spesifikasi. 

“Baik yang dari luar negeri maupun dari dalam negeri kami sudah menerima RON 92. Yang membedakan adalah meskipun sudah berada di RON 90 dan 92 itu sifatnya masih base fuel artinya belum ada adiktif yang kita terima di Pertamina Patra Niaga,” kata Ega dalam rapat bersama Komisi XII DPR RI, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (26/2).

Ega menjelaskan, Pertamina Patra Niaga melakukan pengolahan bahan bakar mulai dari terminal hingga ke SPBU. Sementara itu, untuk proses pengangkutan bahan bakar dari kilang ke terminal dilakukan oleh kapal milik Pertamina. “Tidak ada proses perubahan RON, tetapi yang ada itu Pertamax kita tambahkan adiktif. Jadi di situ ada proses penambahan adiktif dan proses penambahan warna. Proses inilah yang memberikan keunggulan perbedaan dalam produk,” jelasnya. Ega mengungkapkan, proses penambahan adiktif tersebut dikenal sebagai injection blending.

“Blending ini adalah proses yang common dalam produksi minyak yang merupakan bahan cair. Namanya ini bahan cair jadi pasti akan ada proses blending yang tujuannya adalah untuk meningkatkan value daripada produk tersebut,” ungkapnya. Menurutnya, setiap bahan bakar yang diterima, baik dari dalam maupun luar negeri, selalu melalui pengujian laboratorium sebelum dan sesudah bongkar muat.

Dari kutipan tersebut, dijelaskan bahwa adanya bantahan dari pihak Pertamina atas dugaan Pertamax oplosan ini. Namun, bukan berarti hal tersebut juga benar adanya, kita tetap harus waspada dan mengikuti perkembangan dan penyelidikan lebih lanjut. 

Kasus ini juga menyebabkan banyak masyarakat merasa resah dengan BBM di SPBU Pertamina. Dilihat dari laman Instagram Pertamina, banyak sekali masyarakat yang menuangkan segala keluh kesahnya kepada pemerintah juga Pertamina. Kini banyak masyarakat yang berganti linimasa pengisian BBM ke perusahaan swasta, yaitu SHELL. Hal ini merupakan wujud aksi masyarakat atas kehilangan kepercayaan kepada Pertamina.

Kejadian tersebut menjadi salah satu bukti kegagalan pemerintah dalam tata kelola perusahaan yang baik. Kasus ini semakin merusak citra lembaga naungan pemerintah yang seharusnya memiliki citra dan tujuan untuk melayani masyarakat. Kini pemerintah harus mengambil peran untuk membasmi pihak-pihak yang merugikan negara. Kasus ini harus menjadi pelajaran penting bagi pemerintah untuk menjaga kepercayaan masyarakat yang mulai menghilang. 

Penulis: Chesia Afrian Siahaan

Referensi

merdeka.com. (2025, 28 Februari). Penjualan BBM Pertamina Turun di Tengah Isu Pertamax Oplosan dan Korupsi, DPR Rayu Masyarakat. Diakses pada 28 Februari 2025 dari https://www.merdeka.com/uang/penjualan-bbm-pertamina-turun-di-tengah-isu-pertamax-oplosan-dan-korupsi-dpr-rayu-masyarakat-328869-mvk.html?page=2

Luka di Negeri Sendiri

Oleh: Alfina Eka Wardani

Di tanah subur, harapan tumbuh

Namun apa yang diperbuat tangan angkuh

Kini tanah ini menangis, langit berduka

Harapan ditelan tangan tangan durjana

Mereka duduk di kursi megah

Berselimut janji, seolah bijak

Namun dibalik senyumannya

Tersembunyi belati menghunus lemah

Jalan berlubang, sekolah runtuh

Rakyat menjerit

Lantas bagaimana dengan mereka?

Akankah mereka berpesta?

Jangan biarkan gelap yang menang

Jangan biarkan hati nurani hilang

Negeri ini milik kita

Bukan untuk mereka semata