Saat yang kamu nanti-nanti akhirnya tiba juga. Seusai melewati berbagai macam rangkaian tahap seleksi anggota baru, kini terpilih beberapa nama yang akan menjadi anggota baru LPM Edents tahun depan.
Berikut nama-nama yang telah lolos tahapan seleksi anggota baru.
Nama
Jurusan/Angkatan
Aditya Febriansyah
Ekonomi Islam/2019
Alam Suprobo S.
Akuntansi/2019
Aisyah Yuliyanti
Akuntansi/2018
Aji Darmawan
Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan/2018
Annisa Pratiwi R.
Akuntansi/2018
Banindhia Shalfa A.
Akuntansi/2019
Diah Ayu Atmajani
Ekonomi Islam/2019
Dinda Caesaria
Ekonomi Islam/2019
Dwi Novi H.
Akuntansi/2018
Dwi Ratna S.
Ekonomi Islam/2019
Erva Hamidah
Akuntansi/2019
Faya Nabila A.
Ekonomi Islam/2018
Fitri Widyaningrum
Ekonomi Islam/2019
Khaira Aqliya
Akuntansi/2019
Indah Sulistyo U.
Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan/2019
Martin Bonaraja S.
Akuntansi/2018
Muhammad Faisal A.
Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan/2019
Muhammad Rijal R. F.
Manajemen/2019
Nisa Alisva
Akuntansi/2019
Putri Nurmalia
Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan/2019
Rio Dwi C.
Manajemen/2019
Salma Vaza Z.
Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan/2019
Sheila Anya K. N.
Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan/2019
Sheilla Nur R.
Manajemen/2019
Shela Nur F.
Akuntansi/2019
Sulistiawati Manoppo
Manajemen/2019
Susan Liya S.
Akuntansi/2019
Wening Shafiyah
Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan/2019
Yusak Dwi Y.
Manajemen/2018
Bagi kalian yang belum diterima, terus semangat. Semoga yang sudah diterima dapat menjalankan amanah dengan baik.
FEB (1/11) – Bertempat di Dome Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip), telah berlangsung acara Accounting Festival (Accofest) 2019 oleh Keluarga Mahasiswa Akuntansi (KMA). Acara tersebut diselenggarakan dalam rangka memperingati hari ulang tahun KMA yang jatuh pada tanggal 10 Oktober. Tahun ini, KMA mengusung tema “Circus Maximus” yang berarti sebuah pertunjukan sirkus, dengan tagline “Bring the show to the unique world”.
Accofest merupakan event tahunan yang telah berlangsung sejak empat tahun lalu. Acara ini ditujukan untuk Akundip, yaitu sebutan untuk mahasiswa program studi Akuntansi, tepatnya untuk empat angkatan aktif terakhir. Sebelum main event berlangsung, pada hari Kamis (31/10) telah diadakan pre-event berupa kegiatan Donor Darah Sukarela yang berlangsung di Selasar PKM FEB.
Acara yang telah disiapkan berbulan-bulan ini berlangsung dengan cukup meriah. Setelah open gate sekitar pukul 16.00 WIB, kegiatan dilanjutkan dengan berbagai susunan acara yang disambut dengan antusias oleh para peserta. Acara dibuka dengan sambutan-sambutan dan dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng oleh ketua pelaksana, ketua KMA, perwakilan dari departemen, dan ketua angkatan masing-masing angkatan.
Kemeriahan dan antusiasme para peserta semakin terlihat selama acara berlangsung. Mulai dari adanya fashion show dari tiap angkatan, penampilan angkatan, pengukuhan angkatan 2019 oleh angkatan 2016, 2017, dan 2018, penampilan dari pengurus KMA, serta awarding, dan puncaknya yaitu penampilan spesial dari Serempet Gudal.
Pengukuhan angkatan sendiri merupakan inovasi baru yang pada tahun-tahun sebelumnya belum ada. “Perbedaannya di tahun ini kita membawa suatu hal yang baru yaitu ada pengukuhan angkatan. Jadi di Accofest ini nanti teman-teman sembilan belas akan diterima secara simbolis dan juga disaksikan oleh empat angkatan aktif yang ada di akuntansi,” ujar Clara Galuh selaku ketua panitia.
Dalam wawancaranya, Clara menyampaikan harapannya agar Accofest ini tidak sekedar untuk memperingati ulang tahun KMA, tapi juga sarana untuk mempererat hubungan antar angkatan maupun di dalam angkatan itu sendiri, serta sebagai wadah untuk bakti sosial terhadap sesama.
Suasana Diskusi Santai yang Diadakan oleh HMD IESP
FEB (29/10)
– Bertempat di Selasar Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) FEB Undip telah
dilaksanakan kegiatan diskusi santai yang diselenggarakan oleh Bidang Keilmuan Himpunan Mahasiswa Departemen (HMD) IESP FEB Undip.
Diskusi tersebut diperuntukan kepada seluruh mahasiswa FEB utamanya jurusan
IESP dengan mengangkat isu “Polemik RUU KPK: Bagaimana Keterkaitanya dengan
Pertumbuhan Ekonomi” sebagai topik dalam diskusi tersebut.
Mengorek Isu Terkini sebagai
Topik
Diskusi
santai merupakan wadah yang diberikan oleh Bidang Keilmuan HMD IESP untuk
mengajak seluruh mahasiswa IESP pada khususnya dan FEB pada ummumnya untuk
berdiskusi tentang isu ekonomi terkini. Dari isu-isu tersebut dilakukan
analisis terkait dampaknya terhadap perekonomian. Dalam diskusi santai tersebut
peserta yang hadir dibagi menjadi dua kubu, yaitu ada yang pro bahwasannya terdapat korelasi antara
Rancangan Undang-Undang (RUU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap
pertumbuhan ekonomi dan ada pula yang kontra dengan hal tersebut.
Menyorot RUU KPK dari
Sudut Pandang Ekonomi
Hadir
sebagai pemantik jalanya diskusi yaitu Fadel Nugraha, mahasiswa jurusan IESP
angkatan 2017. Membuka jalanya diskusi dengan memaparkan terkait bagaimana
kinerja KPK selama ini dan mengapa isu tersebut patut dikaitkan dengan
perekonomian. “Sejak KPK didirikan tahun 2004 hingga 2018 jumlah penindakan
kasus korupsi di Indonesia cukup meningkat dari tahun ke tahun. Namum, untuk
tahun ini jumlah penindakannya menurun signifikan,” ungkap Fadel. Menurutnya jumlah
penyelidikan, penyidikan, penuntutan, inkrah (berkekuatan hukum tetap), dan
eksekusi mengalami penurunan sebanyak 38,2 persen dari 123 kasus di 2017
menjadi 76 kasus di 2018. Selanjutnya, pemantik memberikan kesempatan kepada
peserta untuk memberikan argumen terkait hubungan antara korupsi dan pertumbuhan
ekonomi.
Menurut
kubu yang pro, korupsi tidak selalu berdampak pada penurunan pertumbuhan
ekonomi karena korupsi justru mempengaruhi pertumbuhan secara tidak langsung
dengan intermediasi economic freedom.
Negara-negara dengan economic freedom
yang rendah maka korupsi menurunkan pertumbuhan ekonomi dan sebaliknya jika economic freedom tinggi maka korupsi
akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Kubu ini juga mendukung terkait RUU KPK,
bukan kerena mereka mendukung korupsi tetapi menurut mereka KPK bukanlah
lembaga suci yang selalu benar. KPK juga harus diperlakukan layaknya lembaga
pemerintah lain supaya pelaksanaan tugas bisa lebih jelas. Oleh karena itu, KPK
juga perlu diawasi dan diatur kinerjanya.
Kubu
kontra menyatakan bahwa korupsi berhubungan negatif dengan pertumbuhan ekonomi
dan merusak investasi yang ada. Artinya jika korupsi itu tinggi maka investasi
terhadap domestik mengalami penurunan sehingga pertumbuhan ekonomi juga akan
mengalami penurunan. Menurut kubu ini, RUU KPK akan berdampak pada daya tarik
seorang investor yang ingin berinvestasi di Indonesia sehingga mereka merasa
ragu untuk berinvestasi. Hal tersebut disebabkan karena para investor sulit
untuk merealisasikan investasinya, oleh karena itu akan berdampak pada
pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
Menambah Khazanah
Keilmuan dengan Berdiskusi
Output
yang diharapkan dari diskusi ini adalah supaya mahasiwa FEB pada umumnya dan
mahasiswa IESP khususnya mendapatkan pengetahuan dan wawasan terkait isu-isu
terkini dan bagaimana kaitannya
dengan perekonomian. Selain itu, dengan adanya diskusi ini diharapkan dapat
menjadi wadah bagi mahasiswa untuk dapat menyalurkan pendapat dan melatih diri
untuk lebih kritis dalam berargumen. Untuk membuat diskusi lebih terarah maka
dari panitia menghadirkan pemantik yang memang berkompeten terhadap isu atau
materi tersebut sehingga diskusi menjadi lebih terarah dan ada ilmu yang dapat
diambil oleh peserta. “Diskusi ini
dilakukan untuk melatih daya berfikir kritis mahasiswa IESP tentang isu-isu
perekonomian terkini,”
ujar Rinanda, Kepala Bidang keilmuan HMD IESP. Dalam diskusi tersebut dari pihak
panitia melakukan notulensi, sehingga setelah acara selesai notulensi tersebut
dapat dipublikasikan dalam bentuk infografis supaya lebih menarik dan dapat
dibaca oleh mahasiswa FEB yang tidak hadir pada diskusi tersebut.
Sukoso , Kepala Badan Penylenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) menyampaikan materi di hadapan para peserta seminar nasional.
FEB
(21/9) – Bertempat di Laboratorium Kewirausahaan FEB Undip,
telah dilaksanakan kegiatan seminar nasional yang diselenggarakan oleh Himpunan
Mahasiswa Ekonomi Islam (HMEI) FEB Undip. Seminar nasional ini bertajuk Islamic
Economics Project (Icepro) yang mengangkat tema “Halal Life Style For A
Better Milenial’s Generation”.
Mengukuhkan Halal Lifestyle Dikancah Nasional Hadir sebagai pembicara pertama yaitu Sukoso selaku Kepala Badan Penylenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), mengungkapkan bahwa Indonesia harus unggul tidak hanya dari segi kuantitas saja, tapi kualitas juga. “Bukan hanya unggul dari segi kuantitas masyarakat muslim, tapi Indonesia harus unggul dari segi kualitas masyarakat muslimnya”. Menurutnya, banyak hal yang harus dibenahi dari segi kualitas produk halal yang ada di Indonesia, supaya hahal lifestyle lebih dapat diterima dan diterapkan oleh seluruh masyarakat Indonesia yang beragama muslim.
Salah
satu upaya untuk meningkatkan kualitas produk halal yang ada di Indonesia
adalah dengan membentuk Badan Penylenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH). Badan
tersebut, memiliki kewenangan dalam menetapkan sertifikasi halal terhadap suatu
produk dengan beberapa prinsip di antaranya: Tracebility atau menelusuri dari awal sampai akhir produksi
bagaimana produk tersebut tercipta, Grey Area
atau mengecek apakah penggunaan teknologi dapat berpengaruh terhadap kehalaln
suatu produk, serta melakukan pengujian secara berkala. Peran masyarakat dalam
melakukan penjaminan produk halal juga sangat diperlukan diantaranya adalah
mengawasi produk yang beredar, melakukan pengaduan dan pelaporan kepada BPJPH
serta setiap masyarakat berhak mendapatkan pengarahan serta sosialisasi dari
BPJPH.
Membranding Halal Life Style Melalui Public Speaking Pembicara kedua dari seminar nasional Icepro adalah Muhammad Hafid, seorang presenter dan reporter TVRI. Dalam sesi ini, pembicara menjelaskan tentang bagaimana mempromosikan atau mem-brandinghalal lifestyle kepada generasi milenial melalui public speaking. “Public speaking adalah kemampuan berbicara didepan umum yang enak didengar dan membuat orang yang memperhatikan bisa tertarik dengan apa yang dibicarakan”, ujar Hafid. Menurutnya, dengan publicspeaking semua informasi tentang halal lifestyle dapat tersampaikan, asalkan public speaking-nya dibawakan secara menarik dan sesuai dengna aturan. Kerika kita berbicara tentang halal lifestyle, yang pertama kita harus perhatikan adalah content atau apa isi yang kita bicarakan. Kedua, gesture impressive atau gerak tubuh dan ada pesan atau kesan yang tersampaikan kepada audience. Ketiga, recriprocity atau ada timbal balik, karena orang yang sedang berbicara didepan umum dia bagaikan seorang pemimpin saat itu.
Istiqamah dengan Halal Life Style Pembicara terakhir dalam seminar tersebut adalah Chiki Fawzi, seorang muslim travler. Chiki menceritakan tentang penglamannya bagaimana menjadi seorang muslimah atau hijabers tapi tetap dapat menjadi seorang traveler dan animator yang hasil karyanya sudah diakuki oleh dunia internasional. Dia juga menceritakan bagaimana menjadi sukarelawan dan aktif dalam social project ke berbagai daerah di Indonesia, serta penglamannya traveling ke berbagai destinasi wisata. “Dimana ketika kita seorang muslim maka akan banyak sekali kendala yang ditemui misalnya sulitnya menemui masjid, sulit menemukan makanan halal dan menemui orang-orang yang tidak seiman dengan kita,” ujar Chiki.
Ketika
Ckiki traveling keluar negeri
ternyata juga menemui banyak kendala yang dihadapi, misalnya kendala bahasa
dengan masyarakat setempat, sulit menentukan waktu ibadah, dan sulit menemukan
produk halal. Oleh kerena itu, ketika ingin menggunakan produk tertentu di luar
negeri kita harus memperhatikan ingredients
atau bahan-bahan dari produk tersebut.
Seminar nasional Icepro 2019 dapat diikuti sekitar 300 peserta. Acik Febrianti, salah satu peserta seminar memberikan tanggapannya seusai mengikuti seminar tersebut. “Seminar Icepro tahun ini sangat bagus, acaranya rapi, tepat waktu, pemicaranya menarik dan panitianya terlihat sangat siap dalam menylenggarakan seminar tersebut,” ujar Acik.
Grand Opening Research di Laboratorium Kewirausahaan FEB Undip
FEB
(14/09) – Bertempat
di Lab. KewirausahaanFEB Undip telah
dilaksanakan sebuah kegiatan kaderisasi riset yang diselenggarakan oleh Bidang
Riset dan Keilmuan BEM FEB Undip untuk seluruh mahasiwa baru angkatan 2019.
Acara tersebut adalah Grand Opening
Research (Goreh) yang pada tahun ini mengangkat tema “Upgrade Your Intellectuality
Trough Research Activity”.
Materi pertama adalah mengenai sosialisasi Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) oleh Shoimatul Fitria selaku koordinator PKM-K FEB Undip. Dalam sosialisasi tersebut pemateri menjelaskan mengenai perkembangan medali emas yang diperoleh Undip diajang Pimnas sejak tahun 2010-2019. Pemateri juga me-review berapa jumlah PKM dari FEB yang ternyata masih kalah jauh dengan fakultas-fakultas lain seperti Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kesehatan Masyarakat. Pemateri berharap bahwa untuk tahun yang mendatang FEB harus lebih banyak yang membuat PKM dan lolos pendanaan. Oleh karena itu beliau juga menjelaskan timeline penyusunan PKM untuk tahun 2020, dimana ketika ingin lolos PKMtingkat universitas dan bisa diunggah ke Kemenristekdikti maka mahasiswa wajib untuk mengikuti PIM Undip 2019. Dimana pedoman pembuatan PKM dapat melihat pada pedoman PKM 2018. Dalam penilaiannya, aspek pertama yang dinilai adalah kelengkapan dan kesesuaian administratif, tingkat kreatifitas serta inovasi atau kebaruan dari tahun sebelumnya. Sebelum menutup materi pertama, pemateri juga menjelaskan masing-masing karakteristik dari PKM 5 bidang (PKM-P, PKM-M, PKM-K, PKM-T dan PKM-KC), serta menghimbau mahasiswa baru untuk segera menetukan ingin membuat salah satu dari PKM tersebut
Materi kedua adalah tentang mahasiwa berprestasi, yang diisi oleh Azizah Fathma, seorang mahasiwi Ekonomi Islam angkatan 2016 yang merupakan Mawapres 3 FEB Undip dan juga peraih medali emas diajang Pimnas 2019. Dalam materi ini dijelaskan bahwa mahasiswa sangat perlu untuk meraih prestasi sebanyak mungkin untuk menjadi mahasiswa yang ideal. Dimana langkah-langkahnya adalah meluruskan niat, memiliki tekad yang kuat, mengenali personal diri, membuat target terstruktur, dan mengukir prestasi sebanyak-banyaknnya. Serta dijelaskan juga bagaimana tips dan trik untuk meraih mimpi-mimpi besar yang kita miliki yaitu dengan adanya good preparation, stay positive, find your mentor, try opporrtunities dan relation. Pemateri juga menjeaskan tiga komponen paing penting untuk menjadi serang mahasiswa yang ideal yaitu melakukan kegiatan research, memiliki jiwa entrepreuneur, dan memiliki jiwa leadership.
Materi ketiga atau materi terakhir adalah tentang bagaimana cara membuat proposal PKM, bagaimana cara supaya proposal PKM mendapatkan pendanaan dan bagaimana supaya PKM yang dibuat dapat lolos Pimnas. Dalam materi ini yang mengisi adalah Chariska Wauya dan rekan-rekannya, peraih medali emas dan perunggu di Pimnas 2019. Pemateri menjelaskan tentang teknis pembuatan proposal PKM, mulai dari awal menetukan ide, menulis proposal, konsultasi dengan dosen pembimbing, pengunggahan PKM ke Kemenristekdikti serta bagaimana suatu PKM dapat lolos Pimnas dan mendapatkan medali emas.
Kegiatan Kupas Ekstra oleh Badan Eksekutif Mahasiswa
FEB (10/09) –
Bidang Kebijakan Publik Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomika dan Bisnis
(FEB) Universitas Diponegoro (Undip) mengadakan acara Kupas Ekstra dengan
mengangkat tema “Ekstra untuk Apa?” bersama empat organisasi ekstra yaitu
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim
Indonesia (KAMMI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan Gerakan Mahasiswa
Nasional Indonesia (GMNI). Acara yang diselenggarakan merupakan pengenalan
masing-masing ekstra dan juga diskusi terbuka antara perwakilan ekstra dengan
peserta.
Diselenggarakan
di Gedung PKM FEB lantai 2, acara ini dihadiri oleh sekitar 40 orang, baik dari
perwakilan keempat ekstra dan juga mahasiswa FEB. Alvo Ricardo selaku ketua panitia
mengatakan bahwa tujuan acara ini adalah untuk menjalin silaturahmi antar
ekstra dan juga organisasi intra yaitu BEM FEB itu sendiri. Selain berdiskusi
dan bersilaturahmi, hasil dialog dalam acara ini juga akan di publikasikan
kepada publik.
Masing-masing
perwakilan ekstra diberi waktu sepuluh menit untuk menyampaikan perkenalan organisasi
yang meliputi sejarah, perkembangan, ideologi, dan juga kegiatan di
masing-masing ekstra yang dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Dalam
perkembangannya, masing-masing ekstra juga mempunyai peran tersendiri dalam
mengawal serta membuat suatu tujuan yang baik ke depannya. Selain membahas
perkembangan, kaderisasi di setiap ekstra juga tak lepas dari sorotan karena
masing-masing ekstra dikenal dengan kaderisasi yang baik. Perwakilan KAMMI menuturkan
bahwa kaderisasi KAMMI mempunyai prinsip berbuat baik secara bersama-sama
sehingga kekompakan dan kekuatan kaderisasi sangat diutamakan. KAMMI
mengandalkan pengenalan dan ajakan secara persuasif yaitu dengan cara personal.
Sesi
selanjutnya adalah sesi diskusi yang dipandu oleh Muthahary Hayyurahman (Ketua
Bidang Kebijakan Publik BEM FEB Undip) dengan mengangkat topik pembentukan UKM PIB
(Pembinaan Ideologi Bangsa). UKM PIB sendiri merupakan UKM yang terdiri atas berbagai
ekstra yang didirikan dengan tujuan untuk menangkal bibit radikalisme yang ada
di lingkungan kampus. Perwakilan HMI (Adiitya) beranggapan bahwa keberadaan UKM
PIB ini sangat membantu keberadaan ekstra. Ekstra yang ada sudah tak lagi
dianggap tabu dan sudah diakui oleh Menristekdikti sehingga keberadaan ekstra
di lingkungan kampus bisa berkembang. “Acara ini merupakan terobosan yang bagus
karena ekstra yang pada awalnya dianggap tabu sekarang sudah tidak dianggap seperti
itu lagi,” kata Farhan (Perwakilan dari GMNI). Namun masih ada hal yang
ditakutkan yaitu mengenai pencegahan pihak kampus dengan radikalisme yang dikhawatirkan
akan ada pada ekstra. Padahal visi dan misi dalam organisasi ekstra sama sekali
tidak mengandung unsur radikalisme. Hasil akhir dari diskusi tersebut adalah
keempat organisasi ekstra sepakat dan setuju dengan UKM PIB dengan mengawal dan
membersamai baik dalam maupun luar sistem pada UKM PIB, “Secara gagasan dan
ideologi dengan UKM PIB kita sepakat, cuma jangan sampai ada monopoli ideologi
Pancasila dan jangan sampai keberadaan PIB menjadi polisi moral di Undip,” Ujar
Farhan (perwakilan GMNI).
Harapan
Bidang Kebijakan Publik BEM FEB ke depannya adalah supaya bisa mengadakan
kerjasama dengan cara berdiskusi bersama untuk membahas isu-isu di lingkungan
kampus. Selain itu harapannya bagi mahasiswa FEB adalah supaya bisa lebih bisa
paham dengan organisasi ekstra yang ada di Undip khususnya di FEB.
Undip (31/08) – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Peduli Napza Universitas Diponegoro (Undip) menyelenggarakan acara “NGOPI AROMA GANJA (Ngobrol Pintar Argumen Mahasiswa Akibat Gundah Gulana Legalisasi Ganja)”. Acara ini mengangkat tema “Pesona Mariyuana Pengusik Kedamaian Negara”. Acara yang diselenggarakan merupakan acara diskusi yang membahas mengenai pro kontra legalisasi ganja di Indonesia yang perlahan mulai memudar akan tetapi masih menjadi topik hangat di masyarakat.
Bertempat di Ruang Teater Perencanaan Wilayah Kota (PWK) Undip, acara ini menghadirkan empat narasumber yang ahli pada bidang kenarkobaan, hukum, kesehatan serta Lingkar Ganja Nusantara.
Narasumber tersebut adalah Susanto (Kepala Bidang Pemberantasan Dan
Pemberdayaan Masyarakat BNNP Jawa Tengah), Leony Sondang Suryani (Juara Lomba
Debat Konstitusi Nasional tahun 2018), Saebani (Dosen Toksikologi Forensik
Undip), dan Yohan Misero (Komunitas Lingkar Ganja
Nusantara
– LGN). Diskusi ini dipandu oleh Muhammad Khairunaim dengan
dihadiri kurang lebih 80 peserta yang berasal dari berbagai kalangan baik dari
mahasiswa masyarakat umum serta organisasi-organisasi sosial di daerah Semarang dan bahkan dari
mahasiswa luar kota.
Pada sesi pertama ini setiap pembicara memaparkan pandangan mereka mengenai
tema yang diangkat dalam acara berdasarkan bidang masing-masing. Moderator
memantik jalannya sesi pertama ini dengan meminta penjelasan pada bidang
kesehatan. Kemudian moderator melempar pertanyaan mengenai pandangan terhadap
isu kepada LGN. “Charlotte Fiqi seorang anak yang menderita sindrom yang
penyembuhannya menggunakan tanaman ganja yang diprosuksi menjadi obat bernama Charlotte Swap. Dalam pelarangan tanaman ganja, dalam peredarannya maka orang akan tetap melakukan penyalahgunaan dengan menggunakan ganja sintetis yang jauh lebih berbahaya,” terang Yohan. “Dan penggunaan ganja disini dilihat dalam medis yang di Indonesia sendiri
tidak diperbolehkan sedangkan dalam masyarakat ada penyakit yang memang
disembuhkan dengan penggunaan tanaman ganja. Di Thailand dan Korea Selatan sudah dilegalkan tanaman ganja namun dengan administrasi
dimana masyarakat menggunakan tanaman ganja lewat pemerintah yang mengatur. Negara
bagian AS yang menggunakan ganja lebih sedikit dalam overdosis dalam penggunaan
opioid dibandingkan negara yang melarang penggunaan ganja dikarenakan
penggunaan ganja dan opioid bersamaan membuat kecenderungan overdosis opioid berkurang.
Ganja medis sudah ada dipatenkan oleh suatu perusahaan farmasi yang digunakan
untuk pasien epilepsi yang mungkin di Indonesia dapat dilaksanakan dalam tahun
yang akan datang,” lanjut Yohan Misero.
Foto Bersama Panitia dan Pembicara
BNN sebagai pencegah penyalahgunaan narkoba juga memberikan pandangannya mengenai tema yang diangkat dalam acara ini. “Legalisasi ganja, dalam UU Nomor 35 Tahun 2009 dimana terjaminnya persediaan narkotika untuk medis dan melakukan pemberantasan terhadap penyalahgunaan zat narkotika. Legalisasi ganja dalam UU dimana memasukkan ganja dalam zat narkotika gol 1 yang termasuk kecanduaan golongan tinggi dimana siapapun yang melakukan penyalahgunaan akan di atur sesuai dengan UU pasal 127 dan rehab pasal 54 dan menentukan bentuk rehab dalam pasal 103,” terang Susanto. Menurut Susanto, Ganja di Indonesia penggunaannya terbesar dari negara lain. Di Indonesia, ganja dapat digunakan secara tepat guna dalam dunia kesehatan akan tetapi harus dibuktikan dengan penelitian. Di sesi kedua merupakan sesi diskusi, acara ini memiliki konsep diskusi dua arah yang dalam hal ini peserta juga dilibatkan untuk memberikan argumennya. Tujuannya agar para peserta yang hadir semakin bertambah wawasannya dengan berdiskusi dengan pakar. Sesi selanjutnya merupakan sesi tanya jawab, bagi peserta yang ingin menggali lebih dalam terhadap tema yang diangkat dalam acara ini menanyakan langsung dengan pembicara. Acara ditutup dengan closing statement dari masing-masing pembicara.
Notulensi diskusi dan materi dapat diunduh pada bit.ly/Notulendanmateringopiaromaganja2019
Dwi Cahyo Utomo sebagai Narasumber Public Hearing 3
FEB (2/9) – Bertempat di Hall Gedung C Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip), telah berlangsung acara Public Hearing 3 (PH 3) yang diadakan oleh Senat Mahasiswa (SM) FEB Undip. Acara tersebut merupakan rangkaian acara terakhir setelah beberapa waktu sebelumnya diadakan acara serupa, yaitu PH 1 tentang sarana dan prasarana, serta PH 2 tentang visi dan misi FEB kedepannya.
PH 3 kali ini mengangkat tema “Reformasi Digital Ekonomi Menuju FEB 4.0” dengan pokok bahasan terkait akademik dan kemahasiswaan. Pembahasan tersebut dibagi ke dalam dua sesi talkshow. Sesi pertama diisi oleh Dwi Cahyo Utomo selaku Direktur Keuangan Undip yang juga ditunjuk sebagai Komandan Pasukan Khusus Kontak IT yang mengurusi reformasi sistem informasi yang ada di Undip, dan sesi kedua diisi oleh Firmansyah selaku Wakil Dekan FEB Bidang Akademik dan Kemahasiswaan.
Pada sesi pertama difokuskan untuk pembahasan masa peralihan atau masa transisi sistem informasi khususnya di FEB, yaitu dari Simaweb ke Single Sign On (SSO) serta penggunaan sistem informasi akademik yang baru. Seperti yang diketahui sistem SSO yang digarap tim khusus sejak bulan Februari 2019 ini mulai diterapkan tahun ini pada angkatan 2019, dan akan diimplementasikan secara menyeluruh untuk civitas akademika Undip mulai 1 Januari 2020 mendatang. Sistem Informasi Akademik (SIA) juga sedang disempurnakan menjadi Sistem Informasi Akademik, Penelitian, dan Pengembangan, atau yang lebih dikenal dengan nama SIAP. Perlu diketahui bahwa SSO dan SIAP adalah dua hal berbeda. SSO merupakan sistem informasi terintegrasi dengan cakupan yang luas serta berbagai fasilitas didalamnya, seperti Wi-Fi, One Drive, Office 365, dan lain sebaginya. Sementara SIAP adalah sistem informasi akademik yang merupakan bagian dari pengembangan SSO.
Dikatakan oleh Dwi Cahyo Utomo bahwa adanya SSO bukanlah tanpa alasan. Beberapa tujuan dan alasan pengadaan SSO yaitu untuk membangun digital identity bagi semua civitas akademika Undip, membangun peradaban komunitas digital yang mana komunitas Undip tidak akan pernah lepas selamanya, sebagai salah satu langkah digitalisasi ekonomi dengan memanfaatkan komunitas tersebut, serta sebagai salah satu langah menuju World Class University. Sementara itu, adanya SIAP dimaksudkan agar sistem informasi akademik di Undip lebih terintegrasi.
Selama masa peralihan ini, sistem SSO dan bagian pengembangan dari SSO itu sendiri sedang terus mengalami masa pengembangan sehingga wajar jika belum maksimal atau masih banyak keluhan. Namun perbaikan terus dilakukan agar saat penerapan secara menyeluruh nanti sudah benar–benar siap digunakan. Kesulitan dalam penggunaan SSO maupun SIAP dalam masa transisi ini sebenarnya sudah dibantu dengan adanya video petunjuk dan contact person yang ada di dashboard saat log in SSO. Dengan adanya digitalisasi di berbagai bidang termasuk akademik tujuannya adalah untuk menciptakan sistem yang terintegrasi agar nantinya Undip mampu bersaing dengan perguruan tinggi kelas dunia.
Kemudian dalam sesi tanya jawab, kurang lebih dapat dirangkum terkait pengembangan SSO dan SIAP yaitu bahwa dalam masa transisi dan pengembangan ini, kedepannya otorisasi akan diikuti otentifikasi sehingga meminimalisir kecurangan seperti titip absen. Untuk pengisian Isian Rencana Studi (IRS) melalui SSO, diharapkan masalah server down seperti Simaweb tidak akan terulang kembali. Adanya SSO ini memberikan kepastian bahwa mahasiswa maupun dosen tidak mengalami jadwal yang bentrok. Terkait digitalisasi, adanya SSO juga sangat memungkinkan akan adanya kuliah online.
Kemudian di sesi kedua yang diisi oleh Firmansyah. Sesi ini fokus membahas mengenai hal-hal yang berkaitan dengan bidang akademik, seperti anggaran untuk PKM, PIMNAS, dan perlombaan lainnya.
Firmansyah sebagai Narasumber Public Hearing 3
Hal pertama yang dibahas adalah mengenai PKM. Saat ini untuk mencari data-data guna PKM-P pihak kampus sudah memfasilitasi mahasiswa dengan adanya Bloomberg. Bloomberg mempunyai manfaat yang sangat banyak. Tidak hanya untuk mahasiswa dan dosen, namun juga untuk umum. Namun untuk umum, kedepannya akan dikenakan biaya apabila meninginkan akses Bloomberg.
Terkait adanya keterbatasan akses karena banned yang sering dialami, Firmansyah mengatakan bahwa hal tersebut disebabkan oleh dokumen yang diunduh sudah melebihi batasannya. Sayangnya, sampai saat ini pihak pengelola Bloomberg belum mengetahui batasan tersebut. “Saya sudah berulang kali menanyakan hal ini namun pihak pusat tidak pernah menjawabnya,” Kata Firmansyah.
Rencana kedepannya, Bloomberg tidak bisa diakses setiap hari namun hanya hari-hari tertentu atau saat adanya pelatihan. Hal ini dilakukan agar keberlangsungan Bloomberg tetap berjalan. Namun untuk keperluan PKM, jam operasional Bloomberg akan ditambah.
Pembahasan selanjutnya terkait anggaran PKM, menurut Firmansyah, untuk tahun 2020 besaran anggaran PKM dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Semua kategori sudah ada porsinya masing-masing. Berikut adalah rinciannya: Delegasi seni, budaya, dan olahraga sebesar 51 juta ; Ormawa 315 juta ; Lomba proposal PKM yang lolos masing-masing 250 ribu untuk 100 kelompok ; Kegiatan persiapan yang dilakukan dua kali masing-masing 100 juta ; Delegasi kompetisi dalam dan luar negeri 74 juta.
Pembahasan selanjutnya adalah mengenai pergantian range nilai yang sebelumnya A, B, C dan seterusnya menjadi A, AB, B, dan seterusnya. Pihak fakultas menginginkan hal yang tersebut namun pihak universitas tidak menyetujuinya. Namun sampai saat ini pihak fakultas masih terus mengupayakannya.
Masalah lain yang dibahas adalah mengenai pemindahan gedung untuk magister managemen. Meskipun sudah terdapat anggaran, sayangnya rencana mengenai pembangunan dan pemindahan gedung saat ini belum disetujui pihak universitas.
Terakhir, terkait jam operasional Sekretariat Pusat Kegiatan Mahasiswa, yang semula hanya sampai pukul 17.00 kini diperkenankan sampai pukul 21.00. Perubahan ini sebagai bentuk dukungan fakultas kepada organisasi mahasiswa yang ada di FEB agar dapat meningkatkan soft skill mahasiswanya.
Menteri Retno Memaparkan Materi pada Acara Diplofest
Undip (30/8) – Bertempat di Gedung
Prof. Soedarto, telah berlangsung Talkshow
#MenluRetno yang merupakan salah satu rangkaian dari acara Diplomatic Festival (DiploFest) yang diadakan oleh Kementrian Luar
Negeri (Kemenlu).
DiploFest terdiri dari dua rangkaian acara, yaitu public lecturer corpbisnis substansi dan festival yang mendidik
namun dikemas kedalam bentuk yang disukai oleh anak-anak milenial. Sebelumya,
acara DiploFest telah diselenggarakan di lima kota yang berbeda, yaitu
Yogyakarta, Surabaya, Makassar, Bandung, dan Padang. Kemenlu menyelenggarakan
DiploFest ini dengan tujuan untuk membumikan semua ilmu yang dimiliki diplomat,
semua ilmu yang dilakukan dalam diplomasi dan politik luar negeri Indonesia ke dunia sehingga masyarakat dapat
menerima ilmu tersebut dan masyarakat bisa sekaligus memahami betapa beratnya
dan betapa complicated-nya
pelaksanaan sebuah politik luar negeri.
Talkshow ini dihadiri oleh Walikota
Semarang, Sekretaris Daerah Semarang, Rektor Undip,
Guru Besar Undip, beberapa Dekan Undip, dan jajaran
kemenlu.
Antusiasme peserta untuk mengikuti talkshow
sangat tinggi. Hal ini terbukti dari jumlah peserta yang hadir melebihi
kapasitas tempat duduk yang disediakan panitia, sehingga beberapa peserta yang
tidak kebagian kursi harus duduk di atas
karpet. Hal menarik dari situasi tersebut yaitu ketika Menteri Retno ikut
bergabung untuk duduk di
karpet bersama para peserta.
Suasana dalam Acara Diplofest di Gedung Prof. Sudarto SH
Dalam Talkshow Diplofest,
Menteri Retno menyampaikan empat isu yang diprioritaskan Indonesia dalam
melaksanakan politik luar negeri. Isu yang pertama yaitu mengenai Ekosistem
Perdamain. Menurut Menteri
Retno, cara memperkuat ekosistem perdamaian yaitu dengan menyuburkan budaya
damai. Cara ini berupa penyelesaian
masalah dengan cara damai seperti
berdialog dan negosiasi. Cara kedua yaitu dengan Penguatan Peace Keeping Operation (PKO). Sebagai negara sepuluh
besar
penyumbang PKO, Indonesia ingin menambah jumlah peace keepers perempuan, tidak hanya di Indonesia tapi dunia.
Maksud dalam penambahan ini adalah karena secara kodrati, perempuan akan
membawa suasana damai didalam lingkungannya. Sehingga harapannya peace keepers perempuan dapat me-recover korban pasca konflik yang
mayoritas adalah anak-anak dan perempuan. Politik luar negeri Indonesia juga
sangat gencar dalam mengangkat isu perempuan, hal itu dibuktikan dengan dukungan
penuh terhadap isu
Women Peace and Securate, yaitu dengan melakukan capacity building. Menteri Retno mengatakan “Kita ingin perempuan
menjadi agen perdamaian, agen toleransi, dan agen kesejahteraan. Hormati kemajemukan, hormati
perbedaan, kuatkan toleransi”.
Isu kedua yaitu tentang Penguatan Organisasi Kawasan.
Kawasan menjadi sangat penting artinya karena masing-masing kawasan selalu
memiliki dinamika yang berbeda-beda. Jika kawasan kuat, maka organisasi dapat
menyelesaikan masalah sebelum masalah tersebut berkembang. ASEAN sebagai
organisasi negara-negara di kawasan Asia Tenggara,
telah menumbuh kembangkan budaya damai diberbagai negara. Indonesia sebagai
salah satu negara ASEAN, memiliki konsep inisiatif yang dikagumi oleh negara di
kawasan Asia tenggara dan berbagai negara lain. Konsep ini adalah IndoPacific. Konsep inisiatif tersebut
menekankan pada budaya dialog, budaya damai, dan budaya kerjasama. Budaya kerjasama
sendiri memiliki empat pilar, yaitu budaya maritim, konektivitas, SDGs 2030,
dan kerjasama ekonomi lainnya. “Kita ingin IndoPacific stabil dan aman, karena
akan menjadi kesejahteraan sehingga dapat menjadikan Asia aman,” ujar Menteri Retno.
Isu ketiga yang dibahas yaitu mengenai Negara Palestina.
Politik Indonesia sangat mendukung Palestina, Indonesia konsisten untuk
membantu rakyat Palestina sampai sekarang. Tantangan yang dihadapi Palestina
semakin besar. Isu
negosiasi dari dunia
dengan Palestina
terlepas satu persatu diantaranya yakni, status Yerussalem yang sekarang diubah
menjadi Ibu Kota Israel, wilayah Palestina yang semakin lama semakin mengecil,
dan bantuan yang diberikan kepada pengungsi semakin lama semakin berkurang.
“Indonesia tetap akan bersama rakyat Palestina. Mendampingi dan membantu Palestina
untuk memperjuangkan hak-haknya,”
tegas Menteri Retno. Dalam hal ini Indonesia memberikan bantuan lebih banyak ke
PBB untuk Palestina.
Menteri Retno Saat Menemui Media
Selanjutnya, isu yang dibahas yaitu mengenai Diplomasi
Ekonomi. Diplomasi ekonomi menjadi salah satu prioritas politik Luar Negeri
Indonesia. Diplomasi ekonomi diperkuat dengan memperkuat diplomat melalui pemberian ilmu ekonomi yang lebih dalam dan
termasuk ilmu internasional lainnya. Diplomasi ekonomi ini merupakan longterm political invest dan
dapat digunakan untuk meningkatkan kinerja ekonomi, pariwisata, politik dengan
negara lain. Orientasi pada diplomasi ekonomi akan diperkuat dengan membuka
pasar baru, salah satunya pasar Afrika. “Diplomasi ekonomi kedepan akan terus
kita perkuat. The benefit of our diplomation
must be felt of all of us,” ujar Menteri Retno sebagai penutup.
Dipenghujung pemaparan, Menteri Retno memberikan pesan
kepada seluruh peserta yang hadir. “Indonesia ingin menjadi negara pemenang.
Untuk menjadi pemenang tidak bisa dilakukan pemerintah sendiri melainkan kita
semua,” tutup Menteri Retno.
Kesmes Melakukan Acara Live In di Dusun Batur Kidul, Semarang
Semarang –
Kelompok Studi Masalah Ekonomi dan Sosial (Kesmes) Fakultas Ekonomika dan
Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip) mengadakan kegiatan Live In dengan
tema “Ekonomi Pertanian” di Dusun Batur Kidul, Desa Batur, Kecamatan Getasan,
Kabupaten Semarang pada tanggal 23–25 Agustus 2019. Kegiatan ini merupakan
program kerja dari Kesmes yang diadakan setiap tahunnya di tempat yang telah
disurvei sebelumnya.
Desa
Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang merupakan salah satu desa yang
terletak di kaki Gunung Merbabu. Desa tersebut adalah desa cukup terpelosok
namun memiliki potensi yang cukup tinggi di sektor pertanian. Setelah survei di
berbagai tempat, akhirnya terpilihlah desa tersebut sebagai tempat untuk
diadakannya Live In.
Live
In merupakan
bentuk kegiatan sosial yang mana para pesertanya dapat berinteraksi sosial
secara langsung dan merasakan bagaimana kehidupan masyarakat di tempat mereka
tinggal untuk sementara tersebut. Live In Kesmes 2019 tersebut diadakan
untuk menunjukkan kepada para mahasiswa bagaimana kehidupan di desa karena apa
yang dipelajari di dunia perkuliahan belum tentu selaras dengan apa yang
terjadi di desa. Adapun tujuannya adalah untuk saling berbagi ilmu, baik dari
apa yang dipelajari di kampus yang mungkin bisa diterapkan di desa tersebut
maupun sebaliknya.
Selama
tiga hari dua malam, para peserta Live In yang terdiri dari panitia,
anggota Kesmes, dan volunteer menginap di rumah–rumah warga Dusun Batur
Kidul. Mereka melaksanakan berbagai kegiatan yang ditujukan untuk warga dusun,
baik yang diisi oleh para peserta maupun dari partner yang didatangkan
oleh panitia.
Hari
pertama kegiatan dibuka dengan upacara pembukaan dilanjutkan mendatangi rumah
warga yang telah dibagi untuk tiap kelompok. Para warga menyambut mereka dengan
hangat dan ramah sehingga tidak membuat para peserta canggung. Kegiatan
dilanjutkan dengan pemberian pelatihan kepada Kelompok Tani Ngudi Lestari dan Kelompok
Tani Hijau Daun serta para peserta tentang pembuatan pupuk cair dengan
memanfaatkan limbah sayur. Materi tersebut diisi oleh Bina Mitra.id yang
kebetulan juga merupakan mahasiswa Undip. Malam harinya, diadakan kegiatan doa
bersama dan acara Jagong Asik yang merupakan acara sharing atau
berbincang hangat dengan warga dusun setempat.
Peserta Live In Kesmes Mengajar di Madrasah Ibtidaiyah
Hari
kedua, para peserta Live In melakukan kegiatan mengajar di Madrasah
Ibtidaiyah dan cek kesehatan warga dusun. Antusiasme para siswa sangat terlihat
jelas saat para peserta Live In menggantikan guru mereka untuk mengajar.
Dari kegiatan mengajar tersebut, diharapkan para siswa termotivasi untuk
mengejar cita–cita mereka sehingga tidak putus sekolah. Sementara itu, kegiatan cek kesehatan gratis diadakan
oleh panitia yang bekerja sama dengan social volunteer dari Fakultas
Kedokteran Undip juga diikuti warga setempat dengan antusiasme tinggi. Acara
dilanjutkan dengan perlombaan ala tujuh belasan disiang hari dan pensi
dengan warga setempat di malam harinya.
Di
hari terakhir, peserta berkeliling di ladang untuk belajar bagaimana berladang
dari petani langsung dan dilanjutkan dengan membersihkan lingkungan dusun.
Upacara penutupan dilaksanakan di sore hari sekaligus sebagai tanda acara telah
berakhir.
Kegiatan
Live In tersebut memberikan banyak pelajaran bagi para peserta maupun
para warga. Nuansa kekeluargaan antar warga yang sangat kental di dusun
sangatlah jarang ditemukan di kehidupan saat ini, khususnya di daerah
perkotaan. Gotong royong dan guyub rukun serta kesederhanaan dan keramahan
mereka memberikan pengalaman baru yang sangat berarti. Begitu pula bagi warga
desa, yang mana pelatihan dan kegiatan dari panitia tentu memberikan ilmu yang
bermanfaat bagi mereka.
Dari
adanya kegiatan tersebut, diharapkan kedepannya dusun tersebut semakin maju
baik sektor pertanian, ekonomi maupun pendidikannya. Begitu pula bagi para volunteer dan peserta lainnya agar bisa
mengambil pelajaran setelah mengikuti acara tersebut serta tetap menjalin
komunikasi dan hubungan yang baik dengan para warga setempat.