Reporter: Fadila dan Danny
FEB Undip (1/3) – Dalam rangka membuka rangkaian acara Dies Natalis Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) ke-61, FEB Undip menggelar acara Khotmil Quran pada Senin (1/3) pukul 09.00 WIB. Acara ini mengangkat tema “Semangat Al-Qur’an dalam Mengingkatkan Produktifitas di Era Pandemi” yang dipaparkan oleh Prof. Dr. H. Musahadi M.Ag. dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Semarang. Acara ini diselenggarakan secara luring dan daring melalui platform Zoom dan disiarkan secara langsung di kanal Youtube FEB Undip. Acara ini dihadiri oleh berbagai stakeholder FEB Undip, diantaranya Dekan FEB Undip, Kepala Departemen di FEB Undip, hingga alumni yang dapat berjalan dengan lancar dan hikmat.
Tepat pada pukul 09.35 WIB, acara Khotmil Quran dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh seluruh peserta dan dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Ahmad Najihudin. Kemudian, acara berikutnya yaitu sambutan oleh Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si. selaku Dekan FEB Undip. Dalam sambutannya, Suharnomo menjelaskan bahwa acara Dies Natalis FEB Undip yang ke-61 diselenggarakan dalam suasana keprihatinan akibat pandemi Covid-19. Beliau juga membeberkan beberapa rangkaian acara Dies Natalis tahun ini, diantaranya tilik kubur, anjangsana ke alumni FEB Undip, dan berbagai rangkaian guna meningkatkan mutu fakultas. Puncaknya, pada Minggu (14/3), FEB Undip akan melakukan Rapat Senat Tahunan dan International Seminar yang dihadiri oleh pembicara dari National University of Singapore (NUS). Sebelum beranjak ke sesi berikutnya, MC mempersilahkan Dekan FEB Undip beserta jajaran serta pembicara untuk melakukan sesi foto bersama terlebih dahulu.

Selanjutnya, puncak acara Khotmil Quran pagi hari ini ditandai dengan pemaparan materi dari Prof. Dr. H. Musahadi M.Ag selaku Guru Besar FEBI UIN Walisongo, Semarang. Musahadi menerangkan bahwa jika kita ingin mengambil semangat dari Al–Qur’an dalam berbagai kehidupan, terbuka ruang perbedaan dari masing-masing individu. Untuk menyikapi hal tersebut, kita disarankan untuk kembali ke ilmu pengetahuan dengan menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Selain itu, beliau menyoroti banyaknya tafsir Al-Qur’an yang hanya menggunakan pendekatan secara sekilas. Untuk menghadirkan penafsiran yang dapat menghadirkan kemasalahatan bagi masyarakat luas, beliau menegaskan, tidak ada cara lain selain menggunakan cara ilmiah. Acara ini diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin oleh Musahadi sendiri.

