Reporter: Aji dan Annisa Pratiwi

FEB Undip (21/11) – Telah berlangsung EYE Talk yang diselenggarakan secara online melalui platform Google Meet oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip) bidang Ekonomi dan Bisnis (Ekobis) pada tanggal 21 November 2020 yang dimulai pukul 13.00 WIB. EYE Talk sendiri merupakan salah satu rangkaian acara dari Economic Young Entrepreneur (EYE). EYE Talk kali ini mengambil tema “Merintis Bisnis Sejak Mahasiswa”.
Acara ini dihadiri oleh dua pembicara utama yaitu Wirausahawan Terbaik FEB 2020, Agnes Charisika Waluya, selaku pemilik Morifa Handsanitizer, dan Rafi Athallah, selaku CEO dan Founder HABL. Acara ini merupakan sharing session untuk merintis bisnis sejak mahasiswa antar wirausahawan muda FEB lainnya, dengan total delapan wirausahawan. Wirausahawan muda FEB lainnya antara lain ada Miftah Hanny Safira pemilik Vendorku, Yusuf Rausyan Fikri pemilik Tuman Bandeng, Farrel Oktariansyah pemilik Jubepartmaxi, Ahsan Pradipta pemilik Koffielur, Nizami Arifin pemilik Ube Group, dan Sulthan Rafi pemilik Laberhead.
Acara ini diawali dengan pembukaan oleh Wakil Ketua BEM FEB Undip 2020, Rifqi Syauqi, lalu dilanjutkan oleh Yasmin Arifah, selaku ketua Divisi Wirausaha Muda Ekobis BEM FEB Undip 2020, dan Muhammad Ginga N. sebagai ketua panitia EYE 2020. Keberlangsungan acara dimoderatori langsung oleh ketua panitia EYE 2020, yaitu Muhammad Ginga. Diskusi dibuka dengan pertanyaan terkait mempertahankan bisnis di era pandemi saat ini. Pembicara pertama oleh pembicara Agnes Charisika Waluya, yang telah memulai usaha sejak tahun 2019. Agnes menekankan agar bisnis tidak gagal, harus memiliki kerjasama dan komunikasi tim yang baik. Selanjutnya oleh Rafi Athallah, yang telah memulai bisnis sejak SMA, merintis bisnis yang bergerak di bidang entertainment dan media.
Dalam pemaparan diskusi terdapat beberapa hal yang penting untuk dijalankan seperti mengedepankan aspek sosial atau bisnis pada bidang sosial guna memberdayakan elemen yang ada di dalamnya, perhatian serta mempertahankan standar servis kepada pelanggan, pentingnya suatu marketing serta membuat diskusi untuk mengembangkan soft skill yang didapat dari relasi dan lain sebagainya.
Dalam diskusi ini juga turut dibahas mengenai pentingnya pola pikir atau mindset yang disampaikan oleh Rafi. Menurutnya, seorang entrepreneur tidak harus begitu mengejar profit dari bisnisnya, namun juga sociopreneur yakni dengan maksud lain seperti memberikan dampak kepada lingkungan sekitar, selanjutnya diimbangi pula dengan ilmu akademik, karena ilmu yang didapat dari kelas dapat dipakai guna skala prioritas.
Acara ini berlangsung dengan berbagai topik diskusi, antara lain “Bisnis itu harus gagal dulu”, “Dalam bisnis itu, pelanggan adalah raja”, dan “Dalam bisnis, alokasi budget itu paling banyak di marketing”. Topik-topik ini didiskusikan baik oleh kedua pembicara utama, maupun narasumber wirausahawan lainnya. Acara diakhiri dengan sesi tanya jawab antar peserta acara dengan narasumber.

