Kuliah Umum: Penanggulangan Radikalisme dan Terorisme di Kalangan Mahasiswa Undip

Reporter: Amadea

Undip (10/11) – Melalui platform Zoom, telah dilaksanakan kuliah umum dengan tema Penanggulangan Radikalisme dan Terorisme di Kalangan Mahasiswa Universitas Diponegoro. Kuliah umum ini diselenggarakan oleh Universitas Diponegoro (Undip) dalam rangka mencegah masuknya paham radikalisme di lingkungan Undip. Selain itu, kuliah ini ditujukan sebagai edukasi guna membentuk kesadaran kebangsaan dan kesadaran anti radikalisme. Kuliah umum yang dimoderatori oleh Fahmi Arifan ini dimulai pada pukul 09.00 WIB dengan menghadirkan dua pembicara yaitu Joko Triharmanto dan Renni Yuniati.

Acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Undip. Selanjutnya, acara dibuka secara resmi oleh Rektor Universitas Diponegoro, Yos Johan Utama. Dalam sambutannya, Yos menyampaikan bahwa radikalisme jelas jauh dari bhinneka tunggal ika. Radikalisme hanya membuat sesuatu menjadi tercerai berai. “Mari kita berjuang bersama-sama. Berjuang untuk tetap dalam NKRI. Oleh karena itu, mari kita tentang segala bentuk radikalisme! Siapapun yang melakukannya, siapapun yang menjalankannya, siapapun yang memerintahkannya, mari kita lawan segala bentuk radikalisme dalam bentuk apapun,” pesan Yos kepada seluruh peserta kuliah umum.

Kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi

Setelah dibuka secara resmi oleh Rektor Undip, kuliah umum dilanjutkan dengan pemaparan materi pertama oleh Joko Triharmanto. Materi yang disampaikan berjudul “Kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi”. Di awal pemaparan materi, Joko menceritakan bahwa dahulu ia sempat bergabung ke dalam kelompok terorisme. Terjerumusnya Joko ke dalam kelompok tersebut dikarenakan ia diberi doktrin oleh kakak kelasnya. Joko kemudian bercerita mengenai keterlibatannya dalam aksi terorisme Bom Bali 1. Setelah aksi teror tersebut, Joko sempat melakukan pelarian selama 2 tahun sebelum akhirnya ditangkap dan dipenjara selama 6 tahun.

Setelah menceritakan mengenai kehidupan lamanya, Joko lalu menjelaskan bagaimana ia kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Selepas keluar dari penjara, Joko bekerja di sebuah rumah makan dan merintis bisnis mulai dari komputer, konveksi, hingga kuliner. Joko saat ini juga menjadi ketua dari Yayasan Gema Salam, yaitu yayasan yang menjadi wadah bagi mantan narapidana terorisme dalam melakukan kegiatan positif yang mendukung NKRI. Joko menjelaskan mengenai berbagai kegiatan yang dilakukan yayasan tersebut, visi, hingga misi yang melandasi berdirinya yayasan tersebut. Salah satu misi dari yayasan tersebut yaitu memberikan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya ekstrimisme dan radikalisme.

Protokol Anti Radikalisme di Musim Pandemi

Materi kedua dibawakan oleh Renni Yuniati yang merupakan pengajar Fakultas Kedokteran Undip. Materi yang dibawakan berjudul “Protokol Anti Radikalisme di Musim Pandemi”. Di awal pemaparan materi, Renni menjelaskan bahwa radikalisme merupakan sikap yang mendambakan perubahan total dan bersifat revolusioner, dengan menjungkir balikkan nilai-nilai secara drastis melalui kekerasan dan tindakan ekstrim. “Beberapa ciri radikalisme adalah intoleran, fanatik, eksklusif, dalam arti tadi untuk mengancam negara ini,” jelas Renni. Selanjutnya, Renni juga menjelaskan mengenai terorisme dan ekstrimisme.

Terkait pencegahan radikalisme, Renni menjelaskan lima poin yang dapat digunakan, antara lain bhinneka tunggal ika, Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan satu tekad melawan radikalisme dan intoleransi. Dijelaskan pula mengenai deradikalisasi sebagai upaya mencegah radikalisme. “Apa deradikalisasi itu? Menetralkan pemikiran-pemikiran bagi mereka yang sudah terpapar dengan radikalisme,” jelas Renni.

Dalam pemaparan materinya, Renni menyampaikan perlunya mengetahui Pancasila lebih dalam dan fokus dengan bidang keilmuan agar tidak terseret radikalisme. Mahasiswa juga diimbau untuk pandai bergaul dan bekerja sama dengan teman di sekitar agar tidak mudah terpapar oleh radikalisme. Tidak hanya menjelaskan mengenai radikalisme dan cara mencegahnya, Renni juga menjelaskan materi mengenai protokol kesehatan dan adaptasi kebiasaan baru di tengah pandemi.

Setelah kedua pembicara memaparkan materi, kuliah umum dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dipandu oleh moderator. Peserta kuliah umum terlihat aktif bertanya kepada dua pembicara. Kuliah umum kemudian ditutup dengan pembacaan kesimpulan oleh moderator dan sesi foto bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *