Oleh: Sheila Anya K. N

Sabtu (19/09/2020) – Telah dilaksanakan Webinar Nasional Islamic Economic Project (ICEPRO) 2020 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Ekonomi Islam (HMEI) Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip). Acara ini berlangsung sejak pukul 12.20 sampai pukul 15.15 WIB dengan menggunakan media Zoom Meeting. Event tahunan yang berupa seminar nasional yang diselenggarakan oleh HMEI FEB Universitas Diponegoro kali ini mengusung tema “Be a Productive and Inspiring Youth”. Acara ini diadakan dengan harapan pemuda bangsa dapat menjadi pribadi yang lebih produktif dan menginspirasi bagi orang banyak.
Webinar ini menghadirkan tiga pembicara yaitu Safhira Alfarisi (Founder Yayasan Beasiswa 1000, Mahasiswa Berprestasi 1 Nasional 2019), Muhammad Syaeful Mujab (Ketua BEM UI 2017, Abang Jakarta 2018), serta Muhammad Assad (Co-founder dan CEO Tamasia, Penulis Best Seller “Notes from Qatar”). Acara ini dibawakan oleh Amanda Naura Rasyda dan dimoderatori oleh Naufal Haidar Farras yang merupakan alumni Ekonomi Islam FEB Universitas Diponegoro yang juga sempat menjabat sebagai Ketua Umum HMEI FEB Universitas Diponegoro periode 2017/2018.
Peserta webinar nasional ini tidak hanya dari kalangan mahasiswa FEB Undip, tetapi juga dari daerah dan universitas lainnya, bahkan terdapat beberapa anak SMA yang turut hadir dan aktif dalam acara ini. Acara ini dibuka dengan pembukaan oleh pembawa acara dan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang diteruskan dengan menyanyikan lagu Mars Undip. Kemudian, dilanjutkan oleh pembacaan ayat suci Quran serta sambutan-sambutan. Sambutan pertama disampaikan oleh Ketua Panitia ICEPRO 2020 yaitu M. Rizky Ramadhan dan dilanjutkan oleh sambutan dari Bapak Suharnomo selaku Dekan FEB Undip.

Safhira Alfarisi selaku pembicara pertama, berbagi kisahnya tentang bagaimana ia dapat menjadi Mahasiswa Berprestasi 1 Nasional untuk bidang Diploma. Ia menjelaskan secara singkat tips dan trik dalam meraih titel tersebut. Perempuan lulusan IPB ini juga menceritakan proses pendirian Yayasan Beasiswa 10000 yang mulai ia rintis sejak ia masih menempuh semester tiga kuliah atau berusia 19 tahun. Safhira menekankan beberapa poin yaitu untuk mengetahui potensi diri, bermimpi setinggi mungkin, berikan kebermanfaatan untuk orang lain, dan jangan takut gagal.

Dilanjutkan oleh pembicara kedua yaitu M. Syaeful Mujab. Ia menyatakan bahwa organisasi dan akademik bukanlah dua hal yang saling bertentangan atau menjatuhkan. Dengan aktif berorganisasi bukan berarti akan membuat nilai akademik anjlok. Dengan manajemen waktu yang baik, organisasi dan akademik aakan berjalan seimbang. Softskill hanya didapatkan dari organisasi dan kegiatan sosial lainnya, sedangkan kuliah hanya memberikan hardskill semata. Mujab berpesan, “Kita bisa meraih IPK 4.0 di perkuliahan, tetapi kita bisa mendapatkan nilai 96 lainnya di luar kampus untuk dapat lulus dengan nilai 100.”

Dilanjutkan dengan pembicara ketiga yaitu M. Assad. Ia menceritakan tentang pendidikannya di Malaysia dan Qatar, serta pengalaman awalnya dalam berwirausaha. Ia menceritakan awal perjalanan dan alasan pendirian Tamasia. Ia menekankan tiga poin penting dalam berwirausaha yaitu 3P (positive, persistence, dan pray). Ia mengatakan seseorang penting untuk berpikir positif, istiqomah, dan berdoa. Ia juga menyinggung tentang pentingnya integritas bagi wirausaha.
Dalam sesi tanya jawab, antusiasme peserta sangat nampak dengan banyaknya pertanyaan yang untuk tiap pembicara. Setelah sesi tanya jawab usai, acara ditutup oleh pembawa acara sekitar pukul 15.20 WIB.

