Mengenal Kesehatan Mental Melalui Gerakan Sehat Mental Goes to FEB

Oleh: Indah dan Seli

Jumat (11/09/2020) – Telah dilaksanakan Roadshow Online Gerakan Sehat Mental 2.0 to FEB oleh Fakultas Psikologi Undip. Acara ini menghadirkan empat orang psikoedukator untuk memberikan materi roadshow dengan tema “Ataraxia”. Ataraxia sendiri memiliki arti ketenangan jiwa. Acara yang memiliki jargon “Fight it. Take the pain. Ignite it” ini dimulai tepat pada pukul 15.00 WIB. Acara ini dibuka dengan doa yang dipandu oleh kedua MC yaitu Lingga Permata Ayu dan Nadia Akilah. Selanjutnya, Dinda Nabilah sebagai Ketua Pelaksana memberikan sambutan. Dinda menjelaskan jika acara ini bukan merupakan webinar dikarenakan akan ada interaksi dua arah dan materi yang akan dibawakan oleh psikoedukator dibawakan sebagai pemantik cerita yang ingin dibagikan oleh para peserta. Selanjutnya, Faizal Ihsan Wicaksana sebagai perwakilan dari para psikoedukator memberikan sambutan dan memperkenalkan keempat psikoedukator, yaitu dirinya sendiri, Novia Dewi Kusumastuti, Inez Fareeza Amalia, dan Julius Mitchel.

Di awal materi, Faizal menjelaskan bagaimana pengertian kesehatan mental menurut WHO. Faizal juga menjelaskan apa saja yang menjadi cakupan dari wawasan kesehatan mental, yaitu kesejahteraan emosi, psikologis, dan sosial; hal yang memengaruhi bagaimana kita berpikir, berperasaan, dan berperilaku; dan hal yang membantu menentukan bagaimana kita mengelola stress, berhubungan dengan orang lain, dan membuat keputusan.

Materi selanjutnya dibawakan oleh Novia Dewi Kusumastuti dengan menggunakan ilustrasi gambar. Ditampilkan sebuah gambar piring yang terisi lengkap dengan karbohidrat dan sayur mayurnya. Hal ini menggambarkan adanya faktor-faktor yang memengaruhi kesehatan mental. Novia juga menjelaskan kaitan mengenai kesehatan mental dan kesehatan fisik. Bahwa sejatinya, kesehatan mental itu patut diperhatikan sama seperti kesehatan fisik. Jangan sampai mengabaikan kesehatan mental, karena emosi negatif akan bermunculan dan semakin menumpuk sehingga menyebabkan kondisi psikologis seseorang menurun.

Kegiatan berikutnya dilakukan permainan sederhana untuk melakukan perbincangan dua arah, yaitu Mitos atau Fakta. Hal-hal yang ditanyakan seperti jika memiliki penyakit mental apakah berarti gila, apakah orang yang memiliki penyakit mental berarti kejam dan berbahaya, serta apakah kelemahan kepribadian menyebabkan masalah penyakit mental. Akhirnya yang sering dipertanyakan oleh sebagian orang terjawab saat mengikuti kegiatan tersebut. Menjawab ketiganya, para psikoedukator mejelaskan jika semua itu mitos dengan didukung fakta yang ada.

Saat mengikuti acara tersebut, dijelakan pula mengenai stress, coping, dan katarsis. Stress merupakan keadaan individu menilai suatu keadaan dan peristiwa sebagai sesuatu yang mengancam, menantang, dan membahayakan sehingga individu akan merespon peristiwa tersebut secara fisiologis emosional, kognisi, dan/atau tingkah laku. Stress bisa disebabkan dari dalam maupun luar individu sendiri.

Selanjutnya ada coping stress, yaitu suatu cara atau metode yang dilakukan tiap individu untuk mengatasi dan mengendalikan situasi atau masalah yang dialami dan dipandang sebagai hambatan, tantangan yang bersifat menyakitkan, serta ancaman yang bersifat menyakitkan. Problem focused coping diantaranya planful problem solving, confrontative coping, dan seeking social support. Sedangkan emotional focus coping diantaranya positive reappraisal, self controlling, accepting responsibility, distancing, dan escape/avoidance.

Terakhir, menjelaskan mengenai katarsis yang berasal dari bahasa Yunani, Catharsis, yang berarti pemurnian atau pembersihan. Istilah katarsis kemudian digunakan untuk sebuah proses pelepasan perasaan yang kuat melalui sebuah kegiatan atau pengalaman tertentu. Katarsis sendiri merupakan salah satu bentuk coping stress. Namun, tanpa sadar sebagian orang lebih banyak melakukan katarsis yang bersifat negative daripada positif.

Acara GSM ini diakhiri dengan diskusi dua arah antara peserta dengan psikoedukator. Ada pula penjelasan mengenai media intervensi yang disediakan oleh pihak GSM, serta adanya pengenalan media Kita Teman Cerita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *