Oleh: Dewima Rima

Generasi muda merupakan bagian penting sebagai penerus bangsa karena masa depan bangsa ditentukan oleh para generasi muda saat ini. Generasi muda harus memiliki kepedulian kepada negaranya karena negara membutuhkan pilar dan dukungan supaya tetap kokoh. Salah satu kewajiban generasi muda adalah membela negaranya. Berbagai cara dapat dilakukan untuk membela negara. Bela negara sendiri mempunyai makna yang luas, secara harfiah wujud bela negara dilakukan dengan berdiri di barisan terdepan menggunakan alat-alat peperangan dan menghadapi ancaman secara langsung. Namun, bagi generasi muda bentuk bela negara tidak hanya diwujudkan melalui angkat senjata, tetapi dengan melawan ancaman lain berupa maraknya informasi palsu maupun ujaran kebencian (hate speech) yang dapat menimbulkan perpecahan dan intoleransi.
Teknologi yang semakin maju membawa sejuta manfaat bagi manusia. Hampir seluruh aspek kehidupan sekarang menggunakan kecanggihan teknologi. Salah satu manfaat dari perkembangan teknologi adalah mudahnya akses informasi. Tetapi sayangnya kemudahan itu terkadang menjadi boomerang tersendiri bagi masyarakat karena informasi yang beredar di media sosial tidak sepenuhnya benar. Bahkan tidak jarang informasi tersebut bisa mengakibatkan konflik dan intoleransi di masyarakat.
Secara umum angka penggunaan media sosial di Indonesia sangat besar. Dilansir dari Databoks, berdasarkan hasil riset Wearesosial Hootsuite yang dirilis pada Januari 2019, pengguna media sosial di Indonesia mencapai 150 juta atau sebesar 56% dari total populasi. Sisi baiknya media sosial bisa dimanfaatkan untuk menyampaikan informasi namun sisi baiknya informasi tersebut belum tentu valid. Jadi, masyarakat Indonesia dituntut untuk berpikir kritis dan mampu menyaring berita yang masuk demi terhindarnya kebencian yang tidak beralasan yang dapat membahayakan keutuhan masyarakat.
Jika melihat kondisi Indonesia yang terdiri atas beragam suku dan agama, tidak dapat dipungkiri konflik sulit untuk dihindari. Hal tersebut bisa disebabkan oleh perbedaan prinsip dan karakter masing-masing orang, tentunya sangat sulit untuk menyamakan visi dan pemikiran setiap orang. Media sosial adalah sarana yang tepat untuk menyebarkan informasi, baik itu terpercaya ataupun tidak dan masyarakat bebas untuk menyampaikan pemikirannya. Oleh karena itu, sangat diperlukan pemikiran yang kritis ketika menyikapi informasi dari media sosial supaya tidak mudah terpengaruh hoaks dan ujaran kebencian.
Dilansir dari KOMPAS.com, ujaran kebencian dapat dinilai sebagai ancaman serius yang bisa melemahkan kondisi negara. Jika dulu konflik keamanan negara identik dengan ancaman dari negara lain, kini konflik di dalam negeri juga dinilai sangat mengkhawatirkan, selain berhubungan langsung dengan masyarakat dan bisa mengakibatkan perpecahan, beberapa konflik internal dibumbui dengan hoaks dan ujaran kebencian yang melibatkan unsur suku, ras, dan agama. Padahal jika ditilik lebih dalam tidak semua konflik didasari atas suku, ras, maupun agama. Adanya oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang menuliskan komentar jahat dengan mengatasnamakan kelompok tertentu membuat kebencian antar kelompok sulit dihindari yang pastinya dapat membahayakan keutuhan bangsa.
Selain ujaran kebencian, ancaman lain yang juga patut diperhatikan adalah berita hoaks. Hoaks adalah informasi yang tersebar di lini masa dan berbagai platform media sosial yang kebenarannya tidak dapat dipertanggungjawabkan. Penyebaran hoaks sangat berdampak bagi kehidupan masyarakat. Informasi palsu tidak hanya berwujud berita tetapi juga broadcast-broadcast yang disebarluaskan melalui group-group di media sosial. Beberapa peristiwa penyebaran hoaks terjadi di Indonesia, seperti hoaks penganiayaan kepada seorang anak, hoaks penculikan anak, maupun hoaks yang berhubungan dengan politik. Dampak yang ditimbulkan sangat beragam namun sudah pasti hoaks-hoaks tersebut menimbulkan keresahan bagi masyarakat.
Cara lain untuk ikut menjaga kedaulatan bangsa selain berpikir kritis dalam menyikapi informasi palsu dan ujaran kebencian adalah tidak menjadi provokator. Sebagai warga negara yang baik tentunya setiap orang ingin ikut andil dan menjadi bagian dalam bela negara. Tetapi terkadang orang tidak sadar bahwa dirinya justru menjadi provokator dan memperkeruh suasana menjadi lebih tidak kondusif. Serta sebaliknya sebagai masyarakat yang memiliki integritas juga harus tidak mudah terprovokasi tanpa memverifikasi kebenarannya terlebih dahulu. Ketika seseorang mudah terhasut dan terpengaruh kemudian menimbulkan kebencian maka selamanya akan tertanam stereotip yang belum tentu benar.

