SED x Eco Care Soroti Krisis Pesisir Mangunharjo, Ajak Mahasiswa Kawal Hak Warga 

SEMARANG — Kondisi pesisir Mangunharjo menjadi sorotan dalam Social Environmental Discussion (SED) x Eco Care yang digelar BEM FEB Undip melalui Bidang Sosial Masyarakat dan Lingkungan Hidup (Somalia), Jumat (11/9). Bertempat di Bundaran Jogging Track Undip, kegiatan ini menjadi ruang diskusi sekaligus pembekalan bagi volunteer sebelum aksi penanaman mangrove di Mangunharjo.

Project Officer SED x Eco Care, Ozah Fauziah, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian kedua dari tiga rangkaian program kerja. Setelah penanaman pohon di dataran tinggi, rangkaian kedua berfokus pada persoalan pesisir, sedangkan rangkaian ketiga akan mengangkat isu independen.

“Melalui diskusi ini, kami ingin pembekalan volunteer sebelum aksi penanaman mangrove di Mangunharjo tidak sekadar kegiatan fisik biasa, tetapi didasari oleh empati,” jelas Ozah.

Mangunharjo merupakan salah satu wilayah pesisir yang menghadapi persoalan abrasi cukup parah. Kondisi tersebut mendorong berbagai pihak untuk menyuplai bibit mangrove sebagai upaya pemulihan lingkungan. Namun, setelah muncul isu pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) berupa giant sea wall atau tanggul laut raksasa, pasokan bibit mangrove disebut terhenti. Di sisi lain, kejelasan mengenai arah pembangunan dan solusi bagi masyarakat belum kunjung diberikan.

Pembangunan infrastruktur pesisir juga dikhawatirkan mengganggu akses dan mata pencaharian nelayan. Warga menyebut nelayan berpotensi harus menempuh perjalanan lebih jauh menuju Weleri atau Demak karena belum tersedianya fasilitas pelabuhan pengganti yang memadai di Semarang.

Selain persoalan akses, warga turut menyoroti ketidakpastian hukum dan ganti rugi atas lahan serta permukiman yang terdampak banjir rob. Kritik juga diarahkan pada proyek giant sea wall yang dinilai belum tentu menyelesaikan persoalan pesisir secara menyeluruh, terlebih di tengah ancaman land subsidence atau penurunan muka tanah.

Mahasiswa Didorong Tidak Berhenti pada Empati

Melalui pemaparan hasil Focus Group Discussion (FGD), peserta membedah sejumlah studi kasus terkait persoalan pesisir. Diskusi diarahkan untuk membangun pemikiran kritis, mendorong evaluasi proyek, serta mempertimbangkan pendekatan restorasi lingkungan berbasis ekologi.

Ozah menekankan bahwa kepedulian terhadap isu lingkungan tidak cukup berhenti pada angka dan statistik, tetapi perlu diwujudkan melalui kepekaan terhadap kehidupan masyarakat terdampak.

“Sebagai mahasiswa, sudah menjadi kewajiban kita untuk memanusiakan manusia lain dan mengawal isu-isu di sekitar kita agar tidak tenggelam begitu saja setelah tidak lagi viral,” pungkas Ozah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *