Kontradiksi

Oleh: Rosita

Janji lahir dari bibir yang manis,
Namun mati di pangkuan dusta.
Kau bicara tentang nurani,
Tapi hanya bualan yang tak seirama.

Kau datang membawa janji,
Serupa cahaya di ujung senja,
Hangat saat pandang pertama,
Namun perlahan padam tanpa suara.

Aku menanam harap di tanah yang retak,
Namun yang tumbuh hanyalah bayang-bayang.
Aku menunggu hangat di hati yang beku,
Tak ada yang berubah selain tipu.

Bunga pun layu di taman sanubari,
Disiram kata yang tak pernah berarti.
Keindahan tinggal kenangan sepi,
Hanya harum palsu yang tersisa di hati.

Salahku, menaruh asa pada manusia,
Yang pandai bersandiwara.
Setinggi cakrawala harap ini menjelma,
Namun jatuh, tenggelam di samudra luka.

Kini aku tahu,
Janji tak butuh banyak kata.
Ia hidup dalam tindakan,
Bukan sekedar ucap semata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *