Menjawab Keresahan Warga Semarang, ID Next Leader Jawa Tengah Adakan Forum Diskusi NGOPI Vol. 2 

Dokumentasi Panitia

Semarang (11/5) – ID Next Leader (IDNL) Jawa Tengah berkolaborasi dengan Kawula Muda Semarang mengadakan sebuah forum diskusi yang bertajuk “NGOPI: Ngobrol Perkara Isu #2”. Forum diskusi dilaksanakan mulai pukul 15:00 hingga selesai yang bertempat di rumah makan khas Padang Uda Uni Vol. 2, Tembalang. Dengan menghadirkan H. Arnaz Agung Andrarasmara. SE., MM, yang juga menjabat sebagai Ketua Kadin Kota Semarang, Ketua Koni Kota Semarang, Ketua Baznas Kota Semarang, dan Ketua BMI Kota Semarang, forum diskusi ini sukses mengupas lebih lanjut keresahan-keresahan yang disampaikan oleh peserta mewakili apa yang dirasakan masyarakat secara umum. 

Inisiasi pelaksanaan forum diskusi ini didorong oleh kondisi Kota Semarang sendiri yang kian rentan terhadap ancaman-ancaman berupa ancaman lingkungan hidup, perekonomian, kondisi sosial, dan politik. Terlepas dari statusnya sebagai ibukota provinsi Jawa Tengah, Kota Semarang masih menyimpan berbagai problematika yang belum terselesaikan. Hal tersebutlah yang disampaikan baik oleh narasumber maupun para peserta. 

Beberapa keresahan yang dikemukakan oleh peserta dalam sesi tanya jawab antara lain adalah kurangnya pengayoman terhadap UMKM, permasalahan housing terkait harga rumah dan tata wilayah, program-program desa yang ditunda, program keluarga harapan (PKH) yang kurang tepat sasaran, dan beragam keresahan lainnya. 

Menyikapi berbagai permasalahan tersebut, Arnaz Andrarasmara menekankan kepada tiga variabel, diurutkan dari yang paling penting, yaitu people (orang), environment (lingkungan), dan technology (teknologi). Menurut Arnaz, Indonesia masih terbilang egosentris, dalam artian dinas-dinas yang seharusnya menangani permasalahan publik sesuai bidangnya masih terfokus pada penggunaan anggaran yang telah tercatat di RAB saja, tanpa memperhatikan value yang dihasilkan. Misalnya yang terjadi pada UMKM. Di Indonesia khususnya Kota Semarang, barang-barang produk UMKM mayoritas kurang memiliki nilai jual. Sedangkan jika dibandingkan dengan Malaysia, yang mana UMKM nya lebih berkembang, produk UMKM memiliki nilai jual yang sudah terlampau tinggi karena beberapa faktor, salah satunya packaging. Melalui hal ini Arnaz menekankan bahwa yang paling utama adalah people, yaitu pembinaan terhadap SDM yang ada, sebelum berlanjut ke pengembangan lingkungan dan teknologi. Hal ini juga berlaku untuk permasalahan-permasalahan yang lain. 

Sebagai akhir kata, Arnaz menyampaikan bahwa forum diskusi ini ditujukan agar kita dapat belajar menyayangi kota dimana kita tinggal, yaitu Kota Semarang dan menyayangi negara kita. “Kita harus kritis, anak muda harus kritis. Kalian percuma menjadi anak muda tapi tidak melakukan sesuatu. Buat acara seperti ini agar para pemimpin-pemimpin kita ini mendengar apa yang sebenarnya yang diperlukan.” kata Arnaz. Arnaz juga menambahkan bahwa pemimpin yang baik adalah mereka yang mau mendengarkan dan mau diajak berdebat, maka dari itu Arnaz menyarankan para mahasiswa untuk berorganisasi agar bisa belajar menjadi seorang pemimpin yang sejati. 

Reporter: Sukma, Rayhan

Penulis: Sukma

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *