Dies Natalis FEB Undip : Rapat Terbuka dan Orasi Ilmiah

Rapat Terbuka dan Orasi Ilmiah. (Teby/Edents)

FEB (14/03) – Masih dalam rangka memperingati Dies Natalis FEB Undip ke-64, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro menyelenggarakan Rapat Terbuka Senat dan Orasi Ilmiah pada hari Kamis, 14 Maret 2024 di Hall Gedung Lab Kewirausahaan FEB Undip. Mengangkat tajuk “Sinergi dan Akselerasi dalam Memperkuat Rekognisi Internasional”, acara ini menghadirkan Prof. Dr. Muliaman D. Hadad, S.E.,M.PA.,Ph.D selaku Komisaris Utama PT Bank Syariah Indonesia. Acara ini juga dihadiri oleh sivitas akademika FEB Undip.

Acara dibuka oleh Sekretaris Senat Akademik Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Dr. Mahfudz, S.E.,M.T. kemudian dilanjutkan sambutan Dekan FEB Undip, Prof. Faisal, S.E., M.Si.,Ph.D, sambutan perwakilan IKAFE Undip, dan sambutan Rektor Undip, Prof. Dr. Yos Johan Utama,S.H.,M.Hum. 

Prof. Dr. Muliaman D. Hadad, S.E.,M.PA.,Ph.D memaparkan diskusi mengenai Diplomasi ekonomi di tengah ketidakpastian Ekonomi global pascapandemi. Muliaman menjelaskan bahwa diplomasi ekonomi pascapandemi berperan dalam pemulihan ekonomi, peningkatan akses pasar, mendorong investasi, stabilitas ekonomi global, inovasi dan transformasi ekonomi, serta penguatan kerjasama ekonomi global. 

Muliaman memberikan beberapa best practice diplomasi ekonomi di beberapa negara yang bisa dijadikan pertimbangan, yakni Singapore Economic Diplomacy, Germany Economic Diplomacy, BRI China, European Union (EU) Single Market, dan global korea. Lebih lanjut Muliaman menjelaskan bahwa trend perkembangan diplomasi perlu didukung diplomasi ekonomi digital, diplomasi Green and Sustainable, global value chain and supply chain resilience, inklusivitas, dan integrasi ekonomi regional. 

“Diplomasi ekonomi di tengah ketidakpastian global merupakan upaya multidimensi yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, tidak hanya pemerintah melainkan non state actor atau para pemangku kepentingan lain yang terkait. Untuk menjamin efektivitas diplomasi ekonomi diperlukan pemahaman dan analisa mendalam atas potensi perubahan lingkungan dan kecenderungan yang berkembang serta kebiasaan-kebiasaan baru pascapandemi,” tutup Muliaman. (TG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *