Harga Beras Tertinggi Dalam Sejarah: Alami atau Alibi?

Ilustrasi beras. (sumber : freepik.com)

Pedagang pasar tradisional menyebut kenaikan harga beras yang terjadi belakangan adalah yang tertinggi dalam sejarah. Kenaikan harga beras ini jauh melampaui harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah pada bulan maret dan mencetak rekor baru, tembus hingga kisaran Rp. 16,450 per kg untuk beras premium, dan Rp. 14,320 per kg untuk beras medium yang telah mengalami penurunan Rp. 10 sebelumnya (CNBC Indonesia 04/03). Harga beras yang melambung ini memberikan pukulan keras bagi ekonomi rumah tangga, terutama yang berpenghasilan menengah ke bawah, mengingat beras adalah sumber karbohidrat utama bagi sebagian besar masyarakat Indonesia.

Kondisi ini tentu memprihatinkan dan sangat berpotensi menimbulkan masalah kesehatan dan sosial di kalangan masyarakat. Masyarakat menengah ke bawah akan lebih sulit untuk memenuhi kebutuhan pangan dan gizi dasar mereka sehingga lebih rentan untuk mengalami gangguan kesehatan seperti malnutrisi. Selain itu, kenaikan harga beras juga akan menekan daya beli masyarakat untuk barang dan jasa, sehingga secara tidak langsung berdampak ke sektor ekonomi lainnya yang menghambat pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan. Lantas, apakah faktor penyebab kenaikan harga beras belakangan ini?

Dilansir dari BBC News Indonesia, Presiden Joko Widodo mengatakan kenaikan harga beras belakangan disebabkan oleh faktor alam yaitu perubahan iklim yang ekstrim akibat El Nino yang menyebabkan gagal panen di sejumlah wilayah. (CNN Indonesia 28/02). Badan Pangan juga menambahkan penyebab lain dari kenaikan harga ini yaitu kenaikan sewa lahan dan harga pupuk. Faktor alam tersebut juga diperkuat oleh pernyataan Wakil Presiden Ma’ruf Amin, yang mengatakan bahwa kenaikan harga pangan yang sedang terjadi juga ditemukan di hampir seluruh negara akibat fenomena alam El Nino.

Namun banyak Ekonom beranggapan bahwa hal ini tidak sepenuhnya benar, karena tidak ditemukan kenaikan harga pangan di Vietnam dan Thailand yang seharusnya juga terdampak oleh perubahan iklim ekstrim. Direktur Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS), Yusuf Wibisono, mengatakan ada tendensi dari banyak kalangan pejabat untuk mengkambinghitamkan El Nino untuk menjelaskan kenaikan harga pangan. El Nino adalah fenomena alam yang sudah diprediksi sejak lama, sehingga seharusnya sudah dimitigasi. Ia pun menilai kenaikan harga beras saat ini disebabkan oleh kurangnya pasokan dan ketersediaan pupuk bagi petani.

Lebih lanjut, Direktur Center of Economic and Law (CELIOS), Bhima Yudhistira mengatakan terjadi perebutan stok antara pengusaha ritel modern dengan pemerintah untuk stok dengan alasan pemenuhan program yang telah dijanjikan. “Ada kaitan antara beras bansos dan beras pasaran. Jadi terjadi perebutan dan itu benar”. Bhima mengatakan bahwa kelangkaan beras bukan dipicu oleh kesengajaan pelaku usaha untuk menyembunyikan stok, tetapi karena stok nya digunakan untuk bansos sehingga terjadi kelangkaan.

Kelangkaan stok beras di pasar menjadi penyebab utama kenaikan harga. Hal ini jelas menekan daya beli masyarakat terhadap kebutuhan pokok, terutama masyarakat menengah ke bawah. Pemerintah perlu mengambil langkah-langkah strategis dan komprehensif untuk menjamin kembali ketersediaan stok beras untuk menekan harga beras. Karena harga beras merupakan indikator penting bagi perekonomian dan terutama kesejahteraan masyarakat Indonesia. Pemerintah juga harus merangkul seluruh elemen masyarakat supaya mampu mendorong stabilitas harga beras dan menjaga ketahanan pangan.

Penulis: Rayhan Riza

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *