Pengarang: Finecia Shinta
Suatu siang, di SMA Cendekiawan, terdapat 3 sekawan yang sedang menikmati jam istirahat. Tiga sekawan itu menamai diri mereka “Remaja”. Remaja yang dimaksud ialah singkatan nama-nama mereka, yaitu Rere, Malika, dan Jamila. Mereka sudah bersama sejak taman kanak-kanak (TK), sehingga dapat dikatakan bagai 3 saudara.
Entah dari mana datangnya, Rere tiba-tiba melontarkan pernyataan yang berbalut pertanyaan. “Guys, denger-denger Indonesia itu punya utang yang bisa bikin bangkrut negara ya!?” ujar Rere. Dengan sigap, Malika menanggapi ucapan Rere tersebut.
“Hus, Rere! Kamu tau ga? Nyebar hoax itu bisa kena pasal, loh!” ujar Malika.
Malika melanjutkan pidatonya sambil mencari laman di internet tentang hukuman penyebar hoax.
“Dalam Hukum Positif Indonesia, menyebarluaskan berita hoax melalui media sosial termasuk melanggar Pasal 28 ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, sedangkan bagi penyebar hoax dapat diancam pidana yang berdasarkan Pasal 45A ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2009!” jelasnya bagai petugas pembaca pembukaan undang-undang dasar 1945.
Tidak tinggal diam, Rere membalas, “Bentar-bentar, deh. Tadi kamu bilang nyebarin di media sosial aja, kan? Kalo kayak mulut ke mulut sama aja, ga, pasalnya?”.
Malika pun bingung ingin menjawab apa. Walau begitu, daripada Rere ngomong terus soal utang Indonesia yang membuatnya pusing, ia berkata, “Sama aja! Kenapa coba? Aku kan bisa rekam suara kamu buat jadi bukti. Terus aku viralin ke media sosial kalo kamu nyebar hoax. Wehehe!”.
Rere tak mau kalah. Dia membalas, “Lah! Berarti kamu yang nyebar, dong? Kan kamu yang bawa rekamannya, terus kamu juga yang share!”.
Malika yang tadinya ingin membuat Rere diam malah kena batunya. “Udah, lah, Re! Ga usah nambah-nambahin bebanku dengan beban negara, deh! Tugas-tugas sekolah aja udah bikin aku pusing! Terus jug…,” balas Malika yang tiba-tiba rencana curhatnya dipotong oleh Jamila.
“Udah deh, Kalian! Bisa diem, ga?! Daritadi bahas utang negara! Janji yang kemarin aja lupa! Bisa-bisa kalian kena pasal juga karena cuma nyebarin janji manis doang!” ucap Jamila yang langsung meninggalkan Malika dan Rere untuk kembali ke kelas.
“Sama aja! Kenapa coba? Aku kan bisa rekam suara kamu buat jadi bukti. Terus aku viralin ke media sosial kalo kamu nyebar hoax. Wehehe!”. Rere tak mau kalah.
Dia membalas, “Lah! Berarti kamu yang nyebar, dong? Kan kamu yang bawa rekamannya, terus kamu juga yang share!”.
Malika yang tadinya ingin membuat Rere diam malah kena batunya.
“Udah, lah, Re! Ga usah nambah-nambahin bebanku dengan beban negara, deh! Tugas-tugas sekolah aja udah bikin aku pusing! Terus jug…,” balas Malika yang tiba-tiba rencana curhatnya dipotong oleh Jamila.
“Udah deh, Kalian! Bisa diem, ga?! Daritadi bahas utang negara! Janji yang kemarin aja lupa! Bisa-bisa kalian kena pasal juga karena cuma nyebarin janji manis doang!” ucap Jamila yang langsung meninggalkan Malika dan Rere untuk kembali ke kelas.
Malika dan Rere pun terdiam dan saling bertatapan. Mereka bingung dengan apa yang baru saja terjadi.
Malika bertanya pada Rere, “Lah, Re. Dia kenapa dah? Kok tiba-tiba sensi gitu?”.
Rere menjawab, “Ga tau. Kamu kali ada janji sama dia kemarin. Tapi-tapi, emang ada, ya, pasal tentang nyebarin janji manis?”.
Dengan raut muka kesal, Malika berkata, “Mulai lagi kekepoan ni anak satu. Nambah-nambahin beban pikiranku aja! Udah, yuk, balik kelas. Bentar lagi pelajaran Bu Maemunah, nih!”.
Rere pun menjawab, “Oh, iya! Ayo, yo, ayo!”. Pada akhirnya, mereka berdua kembali ke kelas, menyusul Jamila.
Sesampainya di kelas, mereka bertiga duduk di tempat masing-masing. Mereka mulai mempersiapkan buku paket dan buku tulis untuk pelajaran Bu Maemunah. Akhirnya 2 jam berlalu dan bel pulang berbunyi. Sambil merapikan tas dan bersiap untuk pulang, Rere menyanyikan sesuatu, “Mana janji manismu..,”. Malika langsung cepat-cepat menyenggol Rere dengan sikutnya. Rere terdiam. Ia memandang Malika yang sedang melihat raut muka tidak enak dari Jamila. Mata Rere pun mengikuti pandangan mata yang mengarah ke Jamila dan seketika ia merasa takut. Dia tidak menyangka bahwa leluconnya ditanggapi serius oleh Jamila. Ia kira nyanyiannya akan membuat Jamila dan Malika tertawa. Akhirnya Rere pun meminta maaf pada Jamila yang duduk tepat di belakang Malika.
“Mil, maafkan aku! Aku ada salah, ya? Beneran, deh. Aku lupa janji kemarin itu yang mana! Eh, Malika. Bantuin napa? Tadi siang, kan, Jamila bilang kita berdua yang punya janji! Ga cuma aku aja!”.
Jamila pun tidak bisa menahan tawanya. Raut mukanya yang tegang akhirnya berubah seketika. Mulutnya bergetar dan mulai tertawa terbahak-bahak.
“Ahahahaha! Aneh banget, deh, mukanya! Lagian dari tadi ngoceh mulu! Aku tuh cuma bercanda doang tapi masa, sih, kalian lupa? Jadi, kan, kalian kemarin lusa beli gorengan sama mi di warung Mbak Siti. Terus, kalian minta aku buat bayarin dulu. Kalian janji bakal bayar secepatnya. Sial banget! Sampai hari ini, tuh, perkataan kalian cuma janji manis doang!”.
Malika dan Rere pun menghela nafas lega. Ternyata Jamila tidak marah.
“Aduh. Lega banget. Aku kira kamu marah beneran, Mil. Kamu kan jarang marah. Malah kayaknya kamu itu ga pernah marah, apalagi ke kita,” ucap Rere.
Malika pun menimpali, “Iya! Bener banget! Yak! Tul! Sip! Jos!”.
Lalu mereka tertawa karena kata-kata Malika yang menirukan Bu Maemunah saat muridnya menjawab jawaban dengan benar. Setelah itu, Rere mulai berbicara lagi.
“Jamila cantiek! Utangnya dianggap lunas aja, ya? Kamu ga marah, kan?” rayu Rere.
Malika seketika ikut menimpali. “Heem, nih. Jamila yang cantiek, perhatian, sholehah, pinter menab.,” puji Malika yang tiba-tiba dipotong Jamila.
“Ga boleh! Utang is utang! Tanggung jawab! Kalian mau aku marah beneran?” tegas Jamila.
Malika dan Rere langsung sigap membalas dan menyerahkan uang yang ada di kantong mereka.
“Iya-iya. Ini uangnya,” ucap Rere terbata.
Jamila akhirnya lega dan menjawab sambil tersenyum,
“Nah! Gitu dong! Makasih, Guys!”.
Mereka akhirnya bergegas pulang ke kontrakan sambil bercanda ria.

