Diskusi dan Nonton Bareng Film Before You Eat

Reporter: Musa, Labib

diskusi-dan-nonton-bareng-film-before-you-eat

(Semarang 27/06) – Greenpeace Indonesia dan Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI), serta Forum Pers Mahasiswa Lintas Semarang bekerjasama menyelenggarakan pemutaran dan diskusi film “Before You Eat” pada Sabtu (25/06) lalu. Acara yang diselenggarakan pada pukul 18.30 – 23.00 bertempat di Tunjang Kopi, Kedungmundu, Semarang, membahas terkait pratik perbudakan anak buah kapal (ABK) Indonesia di laut. Acara tersebut juga turut dihadiri oleh Ketua Komisi E Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Tengah, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Semarang, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Lintas Semarang, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Semarang dan Salatiga, serta masyarakat umum.

Afdillah Chudiel selaku Ocean Campaigner Greenpeace Southeast Asia, mengungkapkan bahwa eksploitasi ABK Indonesia tidak hanya berupa penahanan upah, melainkan juga terdapat ekploitasi yang termasuk ke dalam 11 indikator perbudakan International Labour Organization (ILO) tahun 1930. “Eksploitasi tidak hanya penahanan upah, tetapi juga dapat dianalisis menggunakan 11 indikator perbudakan ILO tahun 1930,” ungkapnya. Lebih lanjut, ia memaparkan indikator-indikator tersebut, yaitu berupa pemanfaatan kerentanan secara negatif, penipuan, pembatasan gerak, isolasi, kekerasan fisik dan seksual, intimidasi dan ancaman, penahanan upah dan dokumen, jeratan hutang, kondisi kerja dan hidup yang menyiksa, serta lembur tanpa batas. Afdillah juga menegaskan bahwa hal tersebut perlu ditindak secara tegas. “Eksploitasi-eksploitasi semacam itu termasuk perbudakan dan harus ditindak,” tegasnya.

Afdillah juga menyatakan alasan film ini belum disebarkan melalui online, bahwa “setelah menonton film ini, kita harus diskusi.” Dia melanjutkan “Kita ingin film ini benar-benar menjadi alat pembangun awarness dan ujungnya adalah aksi baik bagi pemerintah untuk hadir sebagai pelindung dan masyarakat untuk mencegah terjadi perbudakan di laut”

Film yang mulai ditayangkan sejak bulan maret lalu disiarkan untuk pertama kali di kota Tegal sebagai daerah episentrumyang menjadi pasar manning agency. Film ini sudah ditayangkan di seputar Aceh, Jawa tengah, Makassar, Bali. “Kedepan kami akan menggelar acara di Jawa timur dan sekitarnya, namun pantura dan semarang menjadi prioritas kami, karena daerah ini menjadi pusat rekruitmen terbesar.”

Regulasi dan pengawasan untuk perlindungan para ABK ini sangat urgent untuk segera didorong. Banyak masyarakat, banyak korban, banyak ABK yang kerja mereka itu tidak mendapat perlindungan dari negara dan perusahaan yang menaungi mereka. “Kami masih terus berjalan, riset terus mencari dan kaji, kemudian siapa yang terlibat kita pengen tau, kasarannya kenapa. Karena ini harus ada yang bertanggung jawab,” ungkapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *