Aku Jika Mengingat Pahlawan

Oleh: Karima Suci Ariani

Pahlawan secara bahasa diartikan sebagai orang yang pemberani dan rela berkorban untuk membela kebenaran. Pahlawan juga digambarkan sebagai sosok gagah, perkasa, serta berjiwa kesatria. Sosok pahlawan begitu lekat dengan perjuangan, pengorbanan, peperangan, dan penjajahan. Dari berbagi sumber, cerita, dongeng, sejarah pahlawan selalu digambarkan memiliki budi pekerti, senang menolong, tangkas, dan selalu berbuat baik. Seringnya, pahlawan selalu membela kebenaran. Dapatkah dikatakan setiap sosok yang memebela kebenaran adalah pahlawan? Seberapa besar ukuran perbuatan yang dilakukan sesorang sehingga dia dianugerahi gelar pahlawan? Apakah setiap pahlawan yang terpilih juga pahlawan bagi orang lain? Yang terpenting apakah kebenaran tersebut bersifat mutlak bagi semua orang? Siapakah yang berhak menjadi pahlawan

Kebenaran: Pada Sesuatu yang Paling Biasa

Tidak dapat dipungkiri sosok pertama yang terlintas di kepala ketika mengucapkan kata pahlawan adalah pejuang bangsa yang telah gugur. Soekarno, Hatta, Ahmad Yani, Soedirman, dan nama-nama pejuang lainnya menjadi representase pahlawan. Para pejuang dengan gagah berani membela kebenaran untuk memutus mata rantai penjajahan di bumi pertiwi. Perbudakan, penyiksaan, serta penindasan diperangi oleh pahlawan bangsa, sosok baik yang telah gugur dengan harum. Mereka dikenang dalam lembaran buku sejarah, dalam bait sajak, dalam melodi lagu, dan dalam ingatan. Semoga begitu. Pahlawan bangsa, berjuang mempertaruhkan hidup dan mati untuk merdeka. Dengan ikhlas pahlawan kala itu meninggalkan dunianya. Orang tua kehilangan anak, istri menjadi janda, dan anak menjadi yatim. Sepertinya kala itu pahlawan bangsa tidak kenal takut, pantang mundur walau gugur.

Apakah pahlawan melulu soal pejuang bangsa? Jika demikian berakhirnya masa penjajahan membuat kata pahlawan menjadi mandul. Eksistensi pahlawan berhenti sebab perjuangan zaman dulu tidak lagi ditemukan pada masa sekarang. Lantas saat ini masih adakah pahlawan? Apakah orde kepahlawanan telah berakhir?

Kebenaran: Pada Sesuatu yang Biasa

Jika berpedoman dengan pahlawan versi dulu tentu tidak lagi dijumpai pahlawan-pahlawan baru di masa sekarang. Tidak akan ada lagi sosok yang akan dikenang oleh anak cucu selain pejuang kemerdekaan. Karena memang jasa mereka seharusnya tidak terlupa dan tidak terganti. Atau memang kata pahlawan berpasangan dengan zaman penjajahan? Ketika zaman penuh derita tersebut usai maka gelar pahlawan ikut usai?

Tapi tidak elok jika dengan mudah kita memutuskan garis keturunan pahlawan. Karena sejatinya pahlawan tidak hanya untuk mereka yang berjuang atas nama merdeka. Kembali ke makna dasar pahlawan, adalah sosok berani dan rela berkorban untuk kebenaran. Jika demikian, manusia berani dan rela berkorban atas nama kebenaran layak dinobatkan sebagai pahlawan. Siapapun yang membela kebenaran adalah pahlawan begitu yang diyakini banyak orang. Sekali lagi, apakah kebenaran tersebut mutlak?

Seorang ibu yang mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan buah hati tentu berhak disebut sebagai pahlawan, setidaknya bagi anaknya. Pemadam kebakaran, dokter, guru, dan pekerjaan mulia lainnya sangat berhak dinobatkan sebagai pahlawan modern. Banyak dijumpai pemuda-pemuda bangsa atas nama pengabdian membela hak bangsa. Memperjuangkan apa yang dirampas oleh penguasa, katanya. Bersatu padu demi mempertahanan kemuliaan demokrasi, suara rakyat. Sungguh mereka berhak dipanggil pahlawan-pahlawan masa kini. Tidak jarang dijumpai sosok yang rela meninggalkan kenikmatan duniawai demi berbakti kepada ibu pertiwi. Tanpa gaji dengan sadar diri menjelajahi negeri, menebar ilmu, dan memberi cahaya pada kegelapan aksara di persada negeri. Lain hal dengan intelek bangsa, mengharumkan nama Indonesia di semua kancah. Prestasi, relasi, dan capaian lainnya. Tidak lupa pemimpin bangsa yang berkutat dengan problematika negeri. Serba susah dalam mengambil keputusan sebab polemik bangsa yang begitu rumit. Setidaknya pemimpin bangsa menebar kebaikan dengan bantuan, dengan aturan, dengan capaian angka dalam laporan.

Ya mereka, pahlawan masa kini mencerminkan kebenaran. Berkorban dan berjuang atas hal-hal yang benar. Lantas, apakah kebenaran bersifat mutlak?

Kebenaran: Pada Sesuatu yang Tidak Biasa

Apakah kebenaran bersifat mutlak? Dapatkah sesuatu yang benar disematkan kepada semua orang? Bagaimana suatu hal dikatakan benar? Jika seorang anak mencuri sepotong kue untuk mengisi lambung adiknya yang sedang sekarat. Jika seorang ibu menjual diri demi menyambung hidup. Jika seorang kakak membunuh adiknya demi mempertahankan hidup, jika pemimpin geng memenangkan duel dengan musuh dan berhasil menyelamatkan nasib kelompoknya, dapatkah mereka disebut pahlawan? Serta pada sesuatu yang tidak biasa lainnya, yang tabu bagi masyarakat namun berarti bagi seseorang. Dapatkah mereka menjadi pahlawan?

Pahlawan Itu Kita

Oleh: Bayu Teguh

Per 3 November 2020 total kasus positif Covid-19 mencapai 422 ribu orang dengan total kasus positif aktif adalah 61 ribu orang dan kenaikan mencapai 2.973 orang. Angka ini masih tinggi jika dibandingkan dengan negara tetangga yaitu Thailand dan Singapura dengan kenaikan total kasus positif per tanggal yang sama kurang dari 10 orang. Namun, kehidupan bukan hanya tentang saling membandingkan mana yang baik dan yang buruk karena dunia kala ini memang sedang tidak baik-baik saja. Semua orang tanpa terkecuali berlomba-lomba saling mengeluh dan saling klaim kalau dirinya lah yang paling menderita. Pandemi Covid-19 yang melanda seluruh bumi membuat masyarakat seakan-akan dikurung dan diberi pelajaran oleh alam bahwa seharusnya sesama makhluk ciptaan Tuhan harus saling menghargai. Pada dasarnya manusia sedang ditegur oleh Sang Pencipta bahwa kita memang bukanlah segalanya. Terlepas dari banyak yang percaya bahwa ini konspirasi atau bukan, manusia memang harus melihat sisi lain dari kejadian ini. Semua sektor kehidupan tanpa terkecuali mendapatkan dampak yang buruk dari pandemi Covid-19. Dari sektor ekonomi, dilansir dari www.kompas.com, sangat jelas bahwa defisit anggaran pada kuartal III adalah Rp 500,5 triliun dan pada kuartal sebelumnya pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai minus 5,07%. Tidak ada yang tidak menderita dari sisi ekonomi, mulai dari individu, UMKM, dan perusahaan besar pasti terdampak dari kejadian ini. Di sektor sosial dan budaya, pekerja seni seakan mati suri. Contoh nyatanya adalah wisatawan Bali yang anjlok hingga 81% pada bulan September lalu. Di sektor pendidikan, menteri pendidikan dan kebudayaan RI, Nadiem Makariem, menerbitkan Permendikbud no 719/P/2020 mengenai pelaksanaan kurikulum pada kondisi khusus yaitu pelaksanaan pendidikan jarak jauh dan penyesuaian pelaksanaan pembelajaran pada masa adaptasi kebiasaan baru.

Fakta-fakta lainnya juga menggambarkan bahwa tidak ada manusia yang tidak mengalami dampak dari pandemi Covid-19. Dikutip dari laman tirto.id bahwa studi yang dilakukan Jill Newby dari South Wales University mengungkapkan bahwa krisis mental karena pandemi meningkat sebesar 22%. Bekerja dan belajar dari rumah membuat kita tersadar bahwa terkadang rumah bukan tempat yang harus selalu disinggahi. Banyak kasus seperti stres, depresi, dan quarter life crisis dialami pada kalangan milenial. Anak-anak kecil merasakan cultural lag ketika mereka melakukan pembelajaran online dan juga orang tua khususnya ibu juga harus berusaha ekstra untuk mengajar dan mendidik anak-anaknya untuk belajar dari rumah. Padahal tidak semua ibu menjadi ibu rumah tangga, ada yang bertani, ada yang mengajar, ada yang berkarir, dan bahkan ada yang menjadi orang tua tunggal. Kemudian, media yang berlomba-lomba memberitakan Covid-19 justru memberikan ketakutan pada masyarakat. Pengangguran akibat PHK massal dengan alasan dipekerjakan dari rumah membuat para pekerja semakin khawatir akan nasibnya. Warung-warung makan pinggir jalan yang dirazia dan disemprot dengan water cannon membuat para pedagang cilik ini takut dan malu karena seakan-akan tidak mempunyai harga diri walaupun dengan alasan kebaikan bersama.

Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang kuat, homo homoni lupus seperti yang diisyaratkan oleh Thomas Hobbes bahwa nafsu yang paling kuat dari manusia adalah mempertahankan diri. Namun, manusia juga makhluk yang lembut, mempunyai empati, dan penuh kasih sayang. Pandemi Covid-19 membuat setiap manusia menjadi pahlawan untuk dirinya sendiri dan untuk sesamanya. Berjuang untuk melawan mental breakdown, insecurity, stres,danrasa takut. Manusia merupakan mahkluk yang kuat, buktinya kita selalu bisa melewati setiap masalah yang ada. Bukan hanya dokter saja yang dicap sebagai pahlawan kemanusiaan tetapi kita sebagai manusia itu sendiri yang merupakan pahlawan sesungguhnya. Setiap tindakan mempunyai alasan sendiri, kita tidak bisa menilai buruk orang yang keluar dari rumah karena dengan itu ekonomi akan tumbuh. Kita juga harus berjuang bersama dengan para front liner agar musibah ini dapat diatasi secara cepat. Yang hanya kita bisa lakukan adalah berjuang untuk diri kita sendiri dan membantu orang lain agar bersama-sama menghadapi situasi ini. Hari Pahlawan tidak hanya pada sepuluh November saja, tetapi pada apa-apa saja yang kita perjuangkan setiap hari untuk kebaikan. Oleh karena itu, semangat Hari Pahlawan membuat kita sadar bahwa sejatinya kita adalah pahlawan diri kita sendiri.

Mengenal Langkah Membangun Bisnis melalui Webinar Nasional YEP

Oleh: Fitri Widyaningrum

Minggu (08/11/2020) – Telah dilaksanakan Webinar Nasional Young Enterpreneur Project (YEP) oleh Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) pada pukul 13.00 WIB melalui platform Zoom. Webinar kali ini mengusung tema “Set Your Mind be Creative, Collaborative, and Create Your Own Business”. Sejalan dengan tema, webinar yang diselenggarakan HIPMI tersebut memiliki tujuan mengajak dan membangkitkan kembali semangat para generasi millenial untuk terjun langsung ke ranah dunia bisnis. Selain itu, acara ini juga menghadirkan dua pembicara yang cukup menarik yakni Indrayana Girindra Putra selaku founder Monolouge Caffe, KARSA Consultant, Kala Creative Agency dan Wulan Rudy Prasetyo S.E sebagai owner dariRudy Farm, PT Sinar Pahala Utama RPA Pabrik Ayam Frozen, sekaligus sebagai Bendahara HIPMI.

Webinar dibuka oleh Muhammad Khairunna’im selaku moderator, dengan membacakan beberapa peraturan bagi partisipan selama mengikuti acara. Beberapa peraturan tersebut diantaranya terkait absensi, ketentuan pakaian bagi peserta yang mengaktifkan video, mekanisme pengajuan pertanyaan saat sesi tanya jawab, larangan untuk spam chat serta tidak diperkenankan mengirimkan pesan yang berbau SARA dan diluar topik webinar. Selanjutnya, peserta diberikan waktu beberapa menit untuk absensi terlebih dahulu sebagai salah satu persyaratan guna mendapatkan e-sertifikat. Kemudian masuk ke sesi inti yaitu pemaparan materi yang akan disampaikan oleh kedua pembicara yang telah hadir.

Tujuh Langkah Membangun Bisnis

Setiap orang memiliki alasan berbeda dalam menjalanankan setiap bisnis yang mereka lakukan. Ada orang yang berbisnis karena keperluan, sebuah tren, belajar, dan lain sebagainya. Namun, apapun alasannya tidak ada alasan terbaik, terburuk, salah, ataupun paling benar sebagaimana harus diikuti seseorang sebelum menjalakan sebuah bisnis. Girindra sendiri mengungkapkan bahwa ia memposisikan bisnis untuk belajar, belajar menghargai orang lain, manajemen waktu, menentukan prioritas bahkan dituntut untuk belajar keuangan, operasional, diplomasi, dan sebagainya. Selanjutnya, Girindra menjelaskan bagaimana perbedaan antara dagang dan bisnis, yang mungkin selama ini sebagian orang masih menganggap sama padahal sebenarnya kedua kegiatan itu sangat berbeda. Kemudian, yang tidak kalah penting dalam membangun bisnis ialah perlunya memperhatikan langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan untuk memulai bisnis.

Terdapat tujuh langkah membangun bisnis yang telah Girindra paparkan, diantaranya adalah start with “why”, find your team, research & knowledge, plan your idea, capital, drive your business, evaluate. Pada pembahasan ini, Girindra menekankan mengapa evaluasi itu penting. “Ada pepatah yang mengatakan jangan menganggap emas karena orang itu lebih tinggi, jangan menganggap kotoran ketika orang itu lebih rendah. Artinya apa? Artinya ketika temen-temen lagi ngobrol sama orang yang bisnisnya gede dia bilang A, belum pasti itu bener,” ujarnya. Terakhir, Girindra pun memberikan beberapa kunci sukses dan penjelasan seberapa pentingnya kita memiliki pola pikir yang baik ketika ingin, hendak, bahkan sedang menjalankan sebuah bisnis.

Peliknya Merintis Bisnis dari Nol

Berbeda dengan topik pembahasan yang disampaikan oleh pembicara pertama mengenai teori dalam berbisnis, Rudy sebagai pembicara kedua lebih banyak menyampaikan perihal pengalaman ia berbisnis selama ini. Dimulai semenjak ia duduk di Sekolah Dasar (SD), dulu ia memiliki cita-cita ingin memiliki truk besar sampai akhirnya saat ini ia memiliki perusahaan dan keinginannya dapat terwujud. Kemudian pengalaman ia menjual permen di sekolah. Rudy mengakui bahwa rintangan pasti ada, ketika masih SD yang pada saat itu teman-temannya masih belum paham apa itu namanya untung ataupun laba hasil berjualan. Mereka menganggap bahwa Rudy telah berbuat curang karena menaikan harga bahkan dituduh mencuri karena mereka tau setelah Rudy berjualan pasti akan mendapatkan keuntungan berupa uang. Setelah itu, ia menceritakan secara singkat perjalanannya merintis beberapa bisnis yang sedang digeluti sekarang ini. Ada satu pesan dari seseorang yang selalu Rudy ingat. “Petuahnya ini sangat unik dan buat saya selalu teringat, waktu itu beliau bilang ke saya. Rud, kalau kamu besok besar dapat uang sepuluh ribu, berapa uang yang kamu buat jajan? Anak kecil kelas dua SD diomongin kayak gitu, terus saya tanya balik. Lha mbah baiknya berapa? Cukup dua ribu saja buat jajannya. Lha terus sisanya buat apa kok pelit-pelit amat? Yang delapan ribu untuk modal kerja berikutnya,” ungkapnya. Menurut Rudy kata-kata itu sangat luar biasa dan dijadikan pedoman saat ia berbisnis.

Di penghujung acara terdapat sesi tanya jawab yang dipimpin oleh moderator. Antusiasme begitu terlihat dari banyaknya peserta yang bertanya. Mulai dari meminta saran atau solusi terkait kendala yang sedang mereka hadapi ketika menjalankan bisnis, bertanya seputar bisnis yang sedang tren saat ini, dan lain-lain. Bahkan karena keterbatasan waktu, masih ada beberapa pertanyaan yang belum terjawab.