Pulau Plastik : Perjalanan dan Catatan untuk Masa Depan

Penulis: Arrifqi

pulau-plastik-perjalanan-dan-catatan-untuk-masa-depan

Judul Film : Pulau Plastik: Perjalanan dan Catatan Untuk Masa Depan
Genre : Dokumenter rilis : 22 April 2021
Durasi : 102 Menit
Pemain : Gege Robi, Tiza Mafira, Prigi Arisandi
Director : Dandhi Laksono, Rahung Nasution
Produser : Lakota Moira, Angga Dwimas, Sasongko (Eksekutif)
Penulis : Nadia Astari
Perusahaan produksi : Visinema Pictures, Kopernik, Akarumput, Watcdoc.

Sinopsis

Film Pulau Plastik diangkat dari perjuangan tiga tokoh protagonis yang berjuang melawan polusi plastik sekali pakai. Plastik sekali pakai bukan hanya mengotori bumi, namun juga berdampak pada tubuh manusia dan makhluk di sekitarnya. Tiga tokoh protagonis pada film ini adalah Gede Robi, vokalis band Navicula asal Bali; Tiza Mafira, pengacara muda dari Jakarta; dan Prigi Arisandi, ahli biologi dan penjaga sungai dari Jawa Timur. Ketiga protagonis menelusuri sejauh mana jejak sampah plastik menyusup ke rantai makanan manusia, dampaknya terhadap kesehatan manusia, dan apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi krisis polusi plastik ini.

Film Pulau Plastik berhasil disajikan dengan baik oleh Visinema Pictures, Kopernik, Akarumput, dan WatchdoC. Film ini di buka dengan scene dramatis, narasi tumpukan sampah, cinematik yang menyentuh hati, hingga dampak terhadap masa depan Bumi.


Awal dan Jalan Cerita


Cerita dimulai melalui sudut pandang Gede Robi, seorang vokalis band asal Bali. Bali
merupakan tempat destinasi mancanegara dengan keindahan wisata alam yang berupa pantai mempesona. Permasalahan terjadi ketika tumpukan sampah plastik berada di laut dan bibir pantai. Hal tersebut mengganggu keindahan alam dan merusak ekosistem di laut. 300 juta ton plastik sekali pakai hadir di pantai dan laut perdetiknya. Hanya dipakai lalu buang, dipakai lalu buang, dipakai lalu buang. Ironisnya, sampah tahun 70-an pun sampai sekarang masih utuh.


Pada film dokumenter ini, terlihat Jokowi berkunjung ke pasar yang berada di Bali.
Kemudian, Gede Robi sempat bertanya terkait regulasi pemerintah pusat seperti apa
mengenai isu sampah plastik ini. Sayangnya, Jokowi menjawab dengan apresiasi Bali yang
sudah mempunyai regulasi mengenai sampah plastik melalui peraturan gubernur. Gede Robi tidak sendiri dalam mengampanyekan isu ancaman plastik. Tiza Mafira, seorang aktivis dan pengacara muda dari Jakarta, hadir sebagai bintang utama selanjutnya. Pada bagian kedua, Tiza melakukan aksi pembersihan pantai bersama anak-anak dan
komunitas-komunitas yang berada di Jakarta. Tiza juga berkampanye tentang plastik dan
memberikan informasi terkait pawai yang diadakan di Jakarta pada 21 Juli 2019 kepada partisipan acara bersih-bersih pantai itu.


Kembali ke Gede Robi, sesampainya di Gresik, ia bertemu dengan Prigi Arisandi, ahli biologi dan penjaga sungai dari Jawa Timur, untuk menjalankan misi besar. Sebelum pergi, Prigi mengajak Gede Robi pergi ke sungai dan mengambil sampel limbah plastik yang terdapat di sungai. Di sana mereka mendapatkan mikroplastik serta serat-serat plastik di batuan sungai. Setelah itu mereka, membeli ikan bandeng lalu membedah ikan untuk diteliti. Hasil penelitian menunjukan bahwa bandeng yang dibeli Gede Robi dan Prigi di pasar mengandung mikroplastik. Lebih jauh dari itu, mikroplastik pun dapat ditemukan pada feses dari hasil memakan bandeng itu.Setelah selesai eksperimen, Gede Robi dan Prigi melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta, Bogor, dan Jakarta. Karena perjalanan cukup jauh serta memakan waktu, mereka beberapa kali singgah untuk istirahat, berkampanye terkait plastik, dan melakukan mobile lab. Contohnya ketika di Yogyakarta. Mereka beristirahat sembari mencari 100 sampel feses untuk diteliti apakah ada kandungan mikroplastik atau tidak. Setelah tiba di Jakarta, aksi yang mereka galang lewat media sosial ternyata berhasil mengumpulkan ribuan orang. Terlihat Menteri Kelautan dan Perikanan saat itu, Susi Pujiastuti, berada di barisan depan bersama Gede Robi, Tiza, dan Prigi. Gede Robi dan Prigi kemudian menyumbang sampah plastik yang mereka dapatkan selama perjalanan ke Jakarta. Pada aksi tersebut, selain melakukan kampanye bebas plastik, dilakukan juga orasi dan konser hiburan. Ketika aksi pawai itu berlangsung, Prigi, Gede Robi, dan Tiza mengganti plastik yang dibawa oleh pengunjung dengan totebag.

Fakta Menarik di Balik Film

Film Pulau Plastik (2021) memiliki kemiripan konteks dengan film A Plastic Ocean (2016). Kedua film sama-sama ingin memberi pengetahuan serta kesadaran kepada manusia terhadap bahaya sampah plastik. Dari film, penonton dapat mengetahui bahwa Indonesia telah menjadi target pembuangan sampah negara-negara maju yang mengklaim diri mereka berhasil mengelola sampah. Lewat penelitian Gede Robi serta Prigi pun, penonton disadarkan bahwa sampah plastik mengandung mikroplastik tidak terurai. Mikroplastik itu kemudian masuk ke rantai makanan masyarakat.


Pesan Film Ini


Film Pulau Plastik memiliki pesan mendalam yaitu pentingnya kesadaran akan limbah plastik. Film ini juga mengajak masyarakat berbagi ragam solusi dalam mengurangi penggunaan sampah plastik sekali pakai. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah meningkatkan kesadaran pihak industri/perusahaan untuk mendesain ulang produk mereka dengan tidak menggunakan lagi material plastik sekali pakai.

“Film Pulau Plastik menyampaikan pesan moral yang menggugah kesadaran masyarakat terhadap bahaya plastik bagi manusia,” ucap Wali Kota Bogor, Bima Arya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *