Oleh: Bayu Teguh
Per 3 November 2020 total kasus positif Covid-19 mencapai 422 ribu orang dengan total kasus positif aktif adalah 61 ribu orang dan kenaikan mencapai 2.973 orang. Angka ini masih tinggi jika dibandingkan dengan negara tetangga yaitu Thailand dan Singapura dengan kenaikan total kasus positif per tanggal yang sama kurang dari 10 orang. Namun, kehidupan bukan hanya tentang saling membandingkan mana yang baik dan yang buruk karena dunia kala ini memang sedang tidak baik-baik saja. Semua orang tanpa terkecuali berlomba-lomba saling mengeluh dan saling klaim kalau dirinya lah yang paling menderita. Pandemi Covid-19 yang melanda seluruh bumi membuat masyarakat seakan-akan dikurung dan diberi pelajaran oleh alam bahwa seharusnya sesama makhluk ciptaan Tuhan harus saling menghargai. Pada dasarnya manusia sedang ditegur oleh Sang Pencipta bahwa kita memang bukanlah segalanya. Terlepas dari banyak yang percaya bahwa ini konspirasi atau bukan, manusia memang harus melihat sisi lain dari kejadian ini. Semua sektor kehidupan tanpa terkecuali mendapatkan dampak yang buruk dari pandemi Covid-19. Dari sektor ekonomi, dilansir dari www.kompas.com, sangat jelas bahwa defisit anggaran pada kuartal III adalah Rp 500,5 triliun dan pada kuartal sebelumnya pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai minus 5,07%. Tidak ada yang tidak menderita dari sisi ekonomi, mulai dari individu, UMKM, dan perusahaan besar pasti terdampak dari kejadian ini. Di sektor sosial dan budaya, pekerja seni seakan mati suri. Contoh nyatanya adalah wisatawan Bali yang anjlok hingga 81% pada bulan September lalu. Di sektor pendidikan, menteri pendidikan dan kebudayaan RI, Nadiem Makariem, menerbitkan Permendikbud no 719/P/2020 mengenai pelaksanaan kurikulum pada kondisi khusus yaitu pelaksanaan pendidikan jarak jauh dan penyesuaian pelaksanaan pembelajaran pada masa adaptasi kebiasaan baru.
Fakta-fakta lainnya juga menggambarkan bahwa tidak ada manusia yang tidak mengalami dampak dari pandemi Covid-19. Dikutip dari laman tirto.id bahwa studi yang dilakukan Jill Newby dari South Wales University mengungkapkan bahwa krisis mental karena pandemi meningkat sebesar 22%. Bekerja dan belajar dari rumah membuat kita tersadar bahwa terkadang rumah bukan tempat yang harus selalu disinggahi. Banyak kasus seperti stres, depresi, dan quarter life crisis dialami pada kalangan milenial. Anak-anak kecil merasakan cultural lag ketika mereka melakukan pembelajaran online dan juga orang tua khususnya ibu juga harus berusaha ekstra untuk mengajar dan mendidik anak-anaknya untuk belajar dari rumah. Padahal tidak semua ibu menjadi ibu rumah tangga, ada yang bertani, ada yang mengajar, ada yang berkarir, dan bahkan ada yang menjadi orang tua tunggal. Kemudian, media yang berlomba-lomba memberitakan Covid-19 justru memberikan ketakutan pada masyarakat. Pengangguran akibat PHK massal dengan alasan dipekerjakan dari rumah membuat para pekerja semakin khawatir akan nasibnya. Warung-warung makan pinggir jalan yang dirazia dan disemprot dengan water cannon membuat para pedagang cilik ini takut dan malu karena seakan-akan tidak mempunyai harga diri walaupun dengan alasan kebaikan bersama.
Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang kuat, homo homoni lupus seperti yang diisyaratkan oleh Thomas Hobbes bahwa nafsu yang paling kuat dari manusia adalah mempertahankan diri. Namun, manusia juga makhluk yang lembut, mempunyai empati, dan penuh kasih sayang. Pandemi Covid-19 membuat setiap manusia menjadi pahlawan untuk dirinya sendiri dan untuk sesamanya. Berjuang untuk melawan mental breakdown, insecurity, stres,danrasa takut. Manusia merupakan mahkluk yang kuat, buktinya kita selalu bisa melewati setiap masalah yang ada. Bukan hanya dokter saja yang dicap sebagai pahlawan kemanusiaan tetapi kita sebagai manusia itu sendiri yang merupakan pahlawan sesungguhnya. Setiap tindakan mempunyai alasan sendiri, kita tidak bisa menilai buruk orang yang keluar dari rumah karena dengan itu ekonomi akan tumbuh. Kita juga harus berjuang bersama dengan para front liner agar musibah ini dapat diatasi secara cepat. Yang hanya kita bisa lakukan adalah berjuang untuk diri kita sendiri dan membantu orang lain agar bersama-sama menghadapi situasi ini. Hari Pahlawan tidak hanya pada sepuluh November saja, tetapi pada apa-apa saja yang kita perjuangkan setiap hari untuk kebaikan. Oleh karena itu, semangat Hari Pahlawan membuat kita sadar bahwa sejatinya kita adalah pahlawan diri kita sendiri.

