Tangisan Demokrasi Pasca ‘Dirty Vote’ : Seruan Aksi Kamisan Jangan Diam, Jangan Diam Lawan!

UPGRIS (22/02) Pemuda Semarang melakukan aksi demonstrasi dan diskusi sebagai respon atas kondisi politik serta demokrasi di negeri ini. Mereka melakukan kajian terkait permasalahan yang dirasa perlu dituntaskan melalui “Gerakan Aksi Kamisan” yang dilaksanakan  di Universitas PGRI Semarang. 

Dalam penyambutan acara ini, peserta dari berbagai lapisan masyarakat, tidak hanya terbatas pada kalangan mahasiswa, turut berpartisipasi secara sukarela dengan memberikan orasi dan membacakan puisi mengenai pandangan mereka terhadap bobroknya sistem demokrasi yang sedang kita alami. 

Perwujudan aksi kamisan tidak hanya sekadar demonstrasi menuntut pemerintah dengan penampilan berduka dan simbolisasi membawa payung sembari melontarkan tuntutan dan orasi. Aksi kamisan  mendesak pemerintah yang dari waktu ke waktu dinilai semakin arogan dalam menyikapi pelanggaran HAM yang ada. 

Adib Saifin Nu’man (22), seorang anggota dari tim penyelenggara aksi kamisan, mengungkapkan bahwa mereka telah melakukan serangkaian roadshow di berbagai kampus untuk memperkenalkan aksi kamisan kepada akademisi di Semarang. Pada aksi kamisan minggu ini, fokusnya lebih tertuju pada pembahasan dari film ‘Dirty Vote’ yang menggambarkan praktik-praktik tidak etis yang dilakukan oleh para penguasa selama pemilu terakhir. “Melalui kegiatan ini, kami berharap dapat mengumpulkan berbagai elemen masyarakat di Semarang, guna bersatu dalam upaya merebut kembali demokrasi yang saat ini sedang terancam”. Nu’man juga menambahkan bahwa intisari dari film ‘Dirty Vote’ yang mereka tunjukkan merupakan upaya untuk memberikan fakta-fakta yang menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan kerusakan demokrasi.

Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Diponegoro, Indriani Putri Anjelita (21), juga mengungkapkan keresahannya terhadap politik Indonesia merujuk pada korban tragedi 1998. “Aku manusia dan karena aku manusia aku ada disini, aku punya hati. Aku tidak mau menjual diriku kepada politik,” ujarnya. Dia juga mengecam kecenderungan generasi saat ini yang lebih mempercayai influencer daripada mengembangkan pemikiran kritis, terutama sebagai generasi Z. “Sebagai masyarakat, kita tidak boleh berdiam diri, terutama ketika fakta-fakta sudah begitu jelas, terlebih lagi setelah film ‘Dirty Vote’ dipublikasikan,” tambahnya. Indri berharap bahwa melalui aksi Kamisan, mahasiswa dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam mempertajam daya nalar kritis.

Melalui aksi-aksi seperti diskusi, demonstrasi, dan orasi, para peserta dan penyelenggara berusaha untuk menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap praktik-praktik yang dianggap tidak senonoh dalam politik serta mendesak pemerintah untuk bertindak lebih tegas dalam menangani pelanggaran HAM. Partisipasi dari berbagai kalangan, termasuk mahasiswa, relawan, dan aktivis hak asasi manusia, menunjukkan adanya keinginan bersama untuk mengubah dan memperbaiki sistem yang dinilai tidak adil dan korup. Melalui semangat juang dan kesadaran akan pentingnya pemikiran kritis, diharapkan masyarakat, terutama generasi muda, dapat menjadi agen perubahan yang mampu mengatasi tantangan-tantangan dalam membangun demokrasi yang lebih baik di Indonesia.

Reporter : Andini, Laela, dan Rifqy

Penulis : Rifqy

Editor : Sukma, Teby

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *