The Stage V sebagai Momentum Kebangkitan Teater Buih

Reporter: Yusuf, Yunita

Pertunjukan Teater “The Stage V” oleh Teater Buih

FEB (26/9) – Telah diselenggarakan pertunjukan teater bertajuk The Stage V di Dome FEB Undip oleh UKM-F Teater Buih. Pertunjukan tersebut merupakan program kerja tahunan dari Teater Buih, dan untuk tahun ini Kebangkitan “Jangan Menangis Indonesiaku, Bangkitlah Indonesiaku” diangkat sebagai tema.

Kebangkitan Indonesia dan Teater Buih

Disampaikan oleh Ketua Panitia dalam wawancaranya bahwa pemilihan tema tersebut bisa dibilang karena ketidaksengajaan. Tema tersebut dipilih karena melihat bagaimana kondisi Indonesia akhir-akhir ini sehingga tercetuslah tema kebangkitan. Selain menggambarkan kebangkitan Indonesia, arti tema tersebut adalah menggambarkan kabangkitan dari Teater Buih itu sendiri dimana mereka berharap dengan dimulainya pertunjukan ini mereka dapat eksis kembali di kampus. Pertunjukan tersebut juga merupakan ajang pengenalan Teater Buih kepada para mahasiswa baru agar merka tertarik bergabung dengan Teater Buih. “Tema The Stage V ini diangkat karena momentumnya pas dengan kondisi negeri saat ini serta untuk menunjukan bahwa UKM-F Teater Buih ini ada dan kami akan berusaha untuk bangkit dan eksis di FEB,” tutur ketua pelaksana The Stage V.

Seni Menyindir Elit Politik

Pertunjukan dimulai dengan pembacaan puisi karya Khairil Anwar yang berjudul Karawang-Bekasi. Pembacaan puisi tersebut dimaksudkan untuk menggambarkan kondisi Indonesia akhir-akhir ini yang sedang tidak baik-baik saja serta sebagai pengantar sebelum memasuki pertunjukan. Tampilan pertama adalah pertunjukan monolog yang mengisahkan seorang budak di Negeri Jiran, dimana budak tersebut tidak dimanusiakan layaknya manusia tapi justru diperlakukan seperti binatang serta tidak mendapatkan hak-haknya sama sekali. Tampilan tersebut dimaksudkan untuk menyindir aparat penegak hukum yang tidak bisa melindungi hak-hak pribadi atau individu serta hukum saat ini yang cenderung bersifat  tumpul ke atas dan tajam ke bawah.

Pertunjukan yang kedua dari tim Teater Buih merupakan suatu tamparan keras bagi para elit politik dan para koruptor. Dalam pertunjukan tersebut dipertontonkan secara jelas bagaimana kebusukan dari para elit politik yang merampas hak-hak rakyat demi memenuhi kebahagiaan dan kepuasan pribadinya. Di situ juga muncul tokoh Marsinah dan Munir yang merupakan aktivis HAM yang memperjuangkan hak-hak rakyat tetapi justru terbunuh dan kasusnya tidak menemui penyeesaian hingga sekarang.

The Stage V sebagai Pemantik Sikap Kritis

Untuk lebih mencairkan suasana pertunjukan tersebut diselingi dengan yang penampilan akustik dari beberapa ormawa di FEB. Setelah semua tampil maka acara ditutup dengan pembacaan puisi, sehingga penampilan teater tersebut berakhir dengan klimaks. Harapan dari panitia penyelenggara adalah The Stage V ini dapat menjadi pemantik bagi para mahasiswa untuk lebih peka terhadap kondisi Indonesia sekarang ini. Serta dengan acara ini diharapkan warga FEB dapat lebih membuka matanya bahwa seni itu luas dan seni juga dapat dijadikan ajang untuk menyalurkan aspirasi dan menyampaikan kritik terhadap pemerintah. “The Stage V ini sudah bagus, kita dapat menikmati seni pertunjukan sekaligus tau isu-isu terkait masalah politik dan hak asasi manusia,” ujar Dewi, salah satu penonton.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *